Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel NURHAYATI

NURHAYATI

Warga Karang Pandan mendadak gempar akibat kemunculan sosok hantu perawat yang menghantui sebuah klinik setempat. Teror mistis ini menjadi buah bibir masyarakat karena kehadirannya yang sangat mencekam. Namun, di balik penampakan yang menakutkan tersebut, tersimpan sebuah rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat. Kini, misteri besar yang menyelimuti identitas sang perawat perlahan mulai terkuak dan mengancam ketenangan semua orang di sana.
Bab
Bagikan

Bab 3

Donita tidak ingin melewatkan semua hal yang terjadi di dalam ruangan itu. Dia ikut masuk ke dalam sebuah ruangan periksa yang dijadikan tempat membaringkan Jasmine yang pingsan lagi setelah berteriak-teriak tadi. Donita diperbolehkan masuk karena Donita diminta menyiapkan air putih dalam jumlah yang cukup banyak dan Dokter Emi, yang menjadi pemimpin di klinik itu, memperbolehkan Donita untuk ikut melihat semua kejadian di dalam ruangan itu.

Dokter Emi pun ikut masuk ke dalam ruangan itu, beliau menyalami seorang wanita sepuh yang duduk di tengah ruangan.

"Ustadzah Hasna?" sapa Dokter Emi ramah.

"Ya, Dok. Apa kabarnya, Dokter Emi? Semoga sehat, ya?" jawab wanita sepuh yang bernama Hasna.

Dokter Emi mengangguk.

"Insya Allah sehat, Ust," jawab Dokter Emi dan kemudian Dokter Emi menoleh ke belakang dan menyapa dua orang pria berambut panjang itu, "Ustadz Fadli, Ustadz Faza, sami sehat, njih? (semuanya sehat, ya?)" sapa dokter Emi.

"Insya Allah sehat, Dokter," jawab pria sepuh yang bernama Fadli. Mereka berbasa basi sebentar, sebelum kemudian Dokter Emi berpamitan keluar karena ada acara. Donita tersenyum, dia sekarang sudah tahu nama-nama pria berambut panjang itu. Yang tua namanya Fadli, yang muda bernama Faza, tetapi kemudian Donita mencebik karena teringat Faza sudah punya istri.

Donita masuk dan diminta duduk di bagian belakang beberapa santri akhwat yang duduk berbaris rapi sambil bertilawah. Donita melihat Hasna duduk di samping Jasmine. Hasna nampak begitu tenang membaca Al Quran dengan volume suara yang tidak terlalu keras. Dia sesekali memegang bahu atau ujung kepala Jasmine. Jasmine tidak memberikan reaksi apa-apa. Jasmine terbaring diam, seakan sedang tertidur lelap. Donita juga melihat Fadli, Faza dan dua pria lainnya sedang berdoa di atas gelas berisi air putih yang tadi disediakan Donita.

"Air ruqyahnya sudah siap?" tanya Hasna, dia menoleh ke Fadli dan Faza. Fadli mengangguk dan memberikan segelas air pada wanita sepuh itu.

"Hati-hati, Na," bisik Fadli. Hasna mengangguk. Dengan perlahan dia memercikkan air putih dalam gelas itu ke wajah Jasmine. Awalnya Jasmine nampak tetap tak bergerak, tetapi lama kelamaan tubuh Jasmine mulai menggeliat-geliat tak nyaman.

"Dia bohong, Na. Sejak tadi dia tidak tidur atau pingsan. Dia hanya pura-pura tidur karena takut padaku," kata Fadli. Dia maju ke depan mendekati Hasna. Seketika Jasmine bangun dan dia hendak berlari, untung Yasna sudah siap. Dia sudah berhasil memegang tangan Jasmine, bahkan sebelum Jasmine berdiri.

"Jangan, Ustadzah! Jangan! Aku tidak mau ketemu dengan Fadli lagi. Dia jahat!" teriak Jasmine. Dia akhirnya menyerah dan bersimpuh di belakang Hasna. Dia berusaha bersembunyi di belakang Hasna. Fadli tertawa. Dia semakin mendekati Jasmine, membuat Jasmine semakin histeris.

"Kenapa, sih? Kapan kita pernah ketemu? Aku lupa, lo," kata Fadli. Dia duduk agak jauh dari Hasna.

Jasmine mencebik. Dia kemudian menunduk dan menggumam tak jelas.

"Mas Fadli sudah tua. Sudah tidak ganteng lagi. Pak Sapto pasti juga sudah sangat tua, ya?" tanya Jasmine. Fadli tertawa.

"Pak Sapto sudah lama meninggal. Kamu siapa? Aku tidak tahu siapa namamu, jadi aku tidak bisa memanggilmu, " tanya Fadli.

Jasmine mendongak. Wajahnya nampak merona malu, Fadli tidak bisa menahan tawanya, karena sepertinya Jasmine malu padanya, atau mungkin suka padanya. Fadli tersenyum, tetapi anehnya pandangan Jasmine tidak lagi mengarah pada Fadli, tetapi mengarah ke depan. Pandangan Jasmine juga nampak kosong, hampa dan agak sedikit marah.

Fadli dan Hasna berpandangan. Mereka berdua mengikuti arah pandangan Jasmine dan Fadli melihat Rosalina, menantunya. Fadli merasa agak takut dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Jasmine memandang Rosalina dengan agak marah seperti itu?

"Za! Suruh Rosalina pulang saja," kata Fadli. Dia takut kalau jin di dalam tubuh Jasmine hendak mencelakai Rosalina.

Jasmine menggeram, matanya berubah putih bagaikan susu, setitik warna hitam ada di tengah mata itu. Dia memandang Fadli dengan marah. Fadli seketika paham dengan siapa dia berhadapan. Dia ingat dengan mata seputih susu itu bisanya dimiliki oleh jin yang mewujud menjadi kuntilanak.

"Aku akan membunuh anak itu! Dia akan menjadi anak yang sakti dan membunuh banyak kaum kami. Aku tidak terima!" teriak Jasmine. Fadli mengerjapkan matanya beberapa kali, dia menyangka yang dimaksud Jasmine adalah Rosalina. Dia menengok ke arah Rosalina. Gerakan yang dilakukan Fadli hanya sekejap, tetapi semua keributan itu terjadi begitu rupa. Fadli tidak memahami apa yang terjadi, dia hanya melihat Faza menampar Jasmine --yang sudah berada di dekat Rosalina-- beberapa kali, orang-orang berusaha melerai Faza yang seperti lupa diri, setelah itu Fadli melihat Hasna mengajak Rosalina keluar dan dua orang ustadz langsung meruqyah Jasmine, sehingga membuat Jasmine berteriak-teriak histeris.

"Jangan suruh dia pergi! Aku harus mengambil bayinya! Aku harus membunuh bayinya!" Jasmine terus berteriak sambil berusaha melarikan diri.

Hati Fadli mencelos mendengar perkataan Jasmine. Oh, ternyata yang dimaksud Jasmine bukan Rosalina, tetapi ... tetapi calon cucu Fadli yang kesembilan. Fadli tersenyum. Tak heran Faza sampai marah dan menampar Jasmine berulang kali, rupanya Jasmine hendak mengambil calon anaknya.

"Fadli! Aku juga akan membunuhmu. Kalian semua adalah keluarga pembunuh!"

Fadli mengerutkan keningnya lagi. Dia tidak paham apa maksud Jasmine.

"Apa maksudmu?" tanya Fadli. Hasna mendekati Fadli.

"Jangan terpancing, Mas. Ingat, jin itu adalah pembohong nomor satu," bisik Hasna pada Fadli.

"Aku tidak bohong! Aku masih ingat bagaimana Fadli dan Sapto menghancurkan rumah kami, sehingga banyak keluarga kami, teman dan tetangga kami yang mati. Padahal kami hanya ikut-ikutan, tetapi kalian marah betulan dan menghancurkan tempat tinggal kami," kata Jasmine sambil terisak. Fadli benar-benar bingung dan tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Jasmine. Dia mendekati Jasmine dan duduk di depan Jasmine.

"Di mana kita pernah bertemu, Ndhuk? Apa yang kamu lakukan hingga Pak Sapto marah padamu?" tanya Fadli perlahan.

Jasmine menunduk pelan.

"Di Tintrim. Waktu ada yang menculik ibunya Mas Fadli ...." Jasmine menjawab dengan suara yang sangat pelan, tetapi Fadli sudah mendengarnya. Fadli sudah terlanjur mendengarnya. Fadli terdiam. Matanya berkaca-kaca. Kenangan itu membanjiri dirinya.

Kenangan yang sangat sedih, ketika jin yang pernah dendam pada ibu Fadli, kemudian menculik ibunya dan kemudian membuat ibunya tak sadarkan diri selama hampir sebulan. Fadli masih ingat dengan jelas bagaimana dia dan Yusuf, kakaknya, bergantian menjaga ibu mereka yang sudah hampir meninggal.

Fadli tersenyum. Allah belum menakdirkan ibunya untuk meninggal saat itu. Guru Fadli yang bernama Sapto, berhasil menemukan sebab ibu Fadli tak sadarkan diri. Ternyata bibi Fadli sendiri yang membuat ibunya diculik oleh jin sembahannya dan bibi Fadli sendiri juga yang mengundang begitu banyak jin di dalam sebuah rumah kosong di tengah desa bernama Tintrim, untuk menjaga agar ibu Fadli tetap tak sadarkan diri.

Fadli mengusap air matanya. Waktu itu adalah saat terberat bagi Fadli, dan ketika harus mengingatnya lagi, Fadli pun masih tetap menitikkan air mata. Fadli memandang Jasmine lekat. Dia tersenyum.

"Kamu adalah salah satu jin yang selamat dari kemarahan Pak Sapto, Ndhuk? Kamu perempuan, kan? Siapa namamu?"

Jasmine kembali tersipu, membuat kesedihan Fadli agak sedikit terlupakan.

"Saya Banowati, Ustadz," jawab Jasmine malu-malu.

"Lalu kenapa kamu ada di tubuh wanita ini? Kenapa kamu mengganggunya?" tanya Fadli lagi. Jasmine mencebik.

"Aku tidak mengganggunya. Dia sendiri yang datang ke rumah Mbah Seturan di Lawang Gunung. Minta bekal agar selamat, sehat dan selalu dihormati di tempat yang baru ini. Lalu Mbah Seturan memasukkanku dan teman-temanku ke dalam tubuh wanita ini. Lalu ... ya, lalu dia marah karena dia terlalu sering sakit kepala gara-gara kami," jawab Jasmine dengan agak enggan, dan berusaha mengalihkan pandangan dari Fadli, sepertinya dia agak takut pada Fadli, "lalu ... lalu ... tadi datang wanita kecil itu. Aku dan temanku meminta wanita ini membunuh bayi dalam tubuh wanita kecil itu, tetapi dia tidak mau, sehingga kamu menghukumnya dan membuat semua orang tahu bahwa ada kami di dalam tubuhnya."

Fadli sangat terkejut ketika melihat Faza sudah berdiri dengan penuh kemarahan di sampingnya.

"Lalu kamu yang menarik rambutku tadi?" tanya Faza sambil mendelik ke arah Jasmine. Anehnya Jasmine tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia malah mengerjapkan matanya berulang kali, dan warna mata Jasmine berubah setiap dia mengerjapkan matanya. Fadli bergidik ketika melihat warna mata Jasmine berubah merah darah, tanpa ada warna lain di matanya. Jasmine pun berdiri di depan Faza dengan gagah berani. Dia menantang Faza.

"Itu aku! Banowati tidak akan berani menyentuhmu!" teriak Jasmine. Bibir Jasmine berkedut beberapa kali. Dia tersenyum misterius.

"Kamu mengingatkanku pada kekasih Nurhayati yang memiliki rambut panjang, seperti dirimu ...." Tangan Jasmine terulur lagi, seakan hendak menyentuh rambut Faza. Faza mundur dengan wajah yang merah karena marah.

Jasmine tertawa panjang. Tawa yang sangat mengerikan. Fadli bergidik mendengar tawa itu.

"Diam!" teriak Faza, "siapa sebenarnya Nurhayati itu?" tanya Faza.

Jasmine terdiam dengan wajah merengut. Dia memandang Faza dengan terpaksa.

"Nurhayati adalah wanita malang yang dibunuh beramai-ramai malam itu ...."

****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dijodohkan Hantu
8.7
Erina, yatim piatu yang selamat dari tragedi kebakaran, memiliki kemampuan melihat hantu. Selama seminggu, sesosok arwah wanita terus menguntitnya demi sebuah permintaan ganjil: menghibur suaminya yang berduka. Meski sempat menolak, Erina akhirnya luluh dan menemui Eldrick Damiano. Pertemuan itu justru menumbuhkan benih cinta di hati Erina. Namun, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah hanya akan mencintai mendiang istrinya selamanya.
Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam Rhido kini membayangi pernikahan bahagianya dengan Lisda. Saat Lisda hamil, gangguan mistis misterius membuatnya kesakitan tiap kali berhubungan intim. Rhido yang berusaha setia terpaksa menahan diri hingga tugas kerja membawanya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di sana, godaan nafsu terus menguji imannya. Mampukah sang mantan bajingan ini menjaga kesetiaan, ataukah teror gaib masa lalunya akan menghancurkan nasib istri dan bayinya?
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
9.5
Kepergian Micail meninggalkan luka mendalam bagi Mecca, namun misteri hilangnya jasad sang kembaran justru membawanya ke ambang kegilaan. Ia tidak hanya harus bergelut dengan rasa duka yang hebat, tetapi juga obsesi untuk menemukan jenazah yang raib secara misterius tersebut. Teka-teki ini terus menghantui pikirannya, memaksa Mecca menelusuri jejak yang hilang demi ketenangan jiwa saudaranya yang telah tiada di tengah situasi yang kian mencekam.
Sampul Novel Kawin Kontrak dengan CEO Kejam
8.3
Penyiksaan yang tiada henti selalu terbayang di mata Elle, seorang Ayah yang seharusnya mengayomi malah sebaliknya dia dipaksa bekerja untuk mencari uang. Ayahnya semakin hari semakin gila. "Ayah, aku mohon hentikan!" isaknya sambil memohon. "Kamu menginginkan ini! Kamu seharusnya sudah menyiapkan uang yang aku butuhkan?!" "Ayah, hentikan! Sakit!" Elle seorang gadis berusia dua puluh dua tahun harus menanggung kehidupan yang pahit. Elle si gadis penari telanjang itulah profesinya saat ini. Kini ia bertekad untuk mengakhiri semua ini dia tidak ingin dijadikan budak lagi oleh Ayahnya, dia ingin keluar dari kehidupan yang kotor dia tidak ingin menjual tubuhnya lagi, malam ini adalah malam terakhir dia bekerja sebagai penari telanjang disebuah club.
Sampul Novel Monster Yang Bersamaku
7.9
Rein yakin telah menghabisi suaminya, Hary, dan berniat menyerahkan diri kepada Adrian, sahabat lamanya yang berprofesi sebagai polisi. Namun, situasi berubah mencekam saat seorang pria misterius muncul dan mengaku sebagai Hary. Meski wajahnya serupa, perangainya jauh lebih lembut dan penuh kasih sayang. Jika Hary asli sudah tewas, siapakah sosok asing yang kini mendekapnya? Apakah Rein terjebak delusi atau ada rahasia gelap yang sengaja disembunyikan pria itu?