
Never Ending Pleasure
Bab 2
“Panggil saja Derren. Lagipula aku tidak akan pernah mengajar lagi.”
Becca menoleh cepat, tatapan kagum saat menatap mansion besar di hadapannya segera terarah pada Derren. Kedua matanya sedikit memicing, menautkan alis tebalnya yang terbentuk alami. Pintu besar terbuka, membawanya pada istana pribadi milik Derren Lambert. “Kenapa kau tidak akan pernah mengajar lagi?”
Tatapan mata Derren tak terbaca, kilatannya terlihat penuh misteri saat pria itu menoleh pada Becca. “Sebut saja aku terlalu sibuk. Nah, Becca… karena aku tahu kau merasa tidak nyaman jika pulang ke rumahmu sendiri saat ini, aku mengizinkanmu untuk tinggal di sini sementara waktu.”
Becca jelas tidak mengerti dengan situasi yang saat ini sedang ia hadapi. Hari ini terlalu hectic baginya. Pada situasi normal, ia hanya perlu pulang pergi dari rumah ke kampus. Berusaha untuk tidak menonjol, dan mengendap cepat ke dalam rumah; berharap orang tuanya tidak menangkap sosoknya.
Ugh! Becca mengeryit dengan sebelah mata tertutup saat luka yang ada di perutnya mulai terasa menyiksa. Terlalu banyak bergerak bukanlah anjuran dokter saat memperbolehkannya pulang. Namun wanita itu dari tadi terus berjalan ke sana – kemari.
“Kenapa?” tanya Becca.
Derren meraih tangan Becca, menuntun wanita itu untuk duduk di sebuah sofa yang terletak di ruang tengah dengan interior super mewah. Suasana klasik yang tak akan pernah dimakan zaman seakan menyedotnya masuk ke dalam novel sastra yang pernah ia baca di perpustakaan kampus.
Selain itu, satu benda yang berhasil menarik perhatian Becca adalah lampu kristal gantung di atasnya yang terlihat besar dan megah. Saat ini ia merasa sedang berada di dunia yang berbeda, Becca bahkan merasa seperti tidak pantas berada di ruangan ini saat melirik bajunya yang terlalu sederhana.
“Anggaplah aku ingin balas budi pada dirimu karena telah menyelamatkan nyawaku. Dan karena luka di perutmu harus dirawat dengan baik, bukan? Kurasa orang tuamu lebih sibuk bertengkar.” Derren duduk di sebelah Becca, menatapnya penuh penasaran. “Katakan, kenapa kau terlihat ketakutan saat melihat mereka tadi?”
Becca menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa ia menceritakan kehidupannya yang berantakan pada pria yang ia sukai? Tidak, itu akan membuat nilai dirinya jadi jatuh. Becca tidak ingin terlihat lemah. “Siapa yang takut? Kau salah lihat.”
Sebelah mata Derren menyipit, menyadari kebohongan di bawah ucapan Becca. “Kau tidak lupa dengan gelar profesor yang melekat di diriku, bukan?”
Sial! Tentu saja Becca tidak bisa berbohong pada Derren. Pria itu adalah Profesor Psikologi yang selalu menjadi dosen tamu rutin di kampusnya, setidaknya sampai tahun lalu. Indikator kebohongan adalah julukan lain bagi Derren selain pria tampan kaya raya penuh pesona.
Karena memikirkan hal itu, Becca menjadi mulai teralihkan dengan fakta bahwa Derren adalah sosok pria yang jenius. Bagaimana bisa dia meraih gelar profesor di umur semuda ini, dan masih sukses menjadi CEO perusahaan besar? It's like, apa pun bisa dilakukan pria itu.
“Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Derren lagi.
Becca tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Masalahnya sekarang adalah, ia termasuk tipe orang yang cenderung berucap dulu sebelum memikirkannya. “Apakah otakmu tidak lelah memikirkan semua hal yang ada pada dirimu?”
Derren menautkan kedua alisnya. “Apa maksudmu?”
Becca membenarkan posisi duduknya. Wajahnya terlihat lebih antusias dari sebelumnya. “Kau bisa mendapatkan gelar profesor, sementara kau juga seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Bagaimana bisa? I mean, apa yang kau lakukan untuk bisa membagi otakmu untuk melakukan semua hal itu dalam satu waktu?”
Derren terkekeh, semakin menatap Becca intens dan tanpa sadar telah sedikit mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Becca. Jujur saja, ia terus terkejut dengan apa yang telah diucapkan oleh Becca. “Kenapa kau seakan mengetahui semua hal yang ada pada diriku?”
Becca tersentak, menyadari bahwa dirinya telah melanggar batas lagi. Umpatan kasar menggema di pikirannya. Selain bodoh telah melompat begitu saja di tengah-tengah preman yang membawa pisau, ia juga mulai menyadari bahwa dirinya terlalu bodoh untuk menahan mulutnya agar tidak bicara yang seharusnya tidak diucapkan. Saat ini, dia terdengar seperti seorang maniak yang telah memata-matai Derren.
“Kau tak menyadari kalau kau sangat terkenal di kampus? Aku mendengar banyak rumor mengenaimu,” jawab Becca cepat.
Hal itu bukan kebohongan. Teman-temannya di kampus memang sering bergosip banyak hal, salah satunya adalah tentang Derren Lambert. Dan tentu saja ia sebagai tersangka utama yang menyukai Derren, mengumpulkan informasi itu dengan senang hati.
“Begitukah?” Derren menyeringai. “Cukup menyenangkan saat mengetahui tentang diriku yang digosipkan para anak muda seperti kalian. Tapi, jangan mengalihkan pembicaraan lagi, Rebecca. Kau tahu harus menjawab pertanyaanku tadi.”
Becca menghela napas. Bersamaan dengan itu, ia merasa lega saat Derren menarik tubuhnya; memberi ruang bagi Becca untuk menata lagi ritme jantungnya yang hampir meledak.
Sementara kabar buruknya adalah, tidak ada jalan keluar lagi bagi Becca untuk saat ini. “Pertama, panggil saja Becca. Aku tidak terbiasa dipanggil Rebecca.”
Derren menyeringai, apa pun yang ia inginkan selama ini akan selalu ia dapatkan. Termasuk hal ini. “Got it, yang kedua?”
“Well…” Ada jeda sedikit sebelum Becca melanjutkan. “…mereka mengadopsiku saat aku masih kecil. Awalnya kami baik-baik saja, sampai beberapa tahun terakhir tiba-tiba mereka sering bertengkar. Bahkan Dad jadi sering memukul Mom. Setiap bertengkar, mereka selalu mengatakan kalau aku adalah anak pembawa sial. Mom yang awalnya selalu melindungiku, sekarang jadi ikut menyalahkan dan membenciku. Beberapa kali aku harus mengurung diri di kamar karena takut menjadi sasaran saat mereka bertengkar. Kurasa mereka ingin bercerai, tapi terhalang karena aku ada di tengah-tengah mereka.”
Untuk hal itu Becca bisa dengan mudah menceritakannya, tapi tidak dengan ayah angkatnya yang beberapa bulan terakhir mulai memukulnya. Jika ia menceritakan hal itu juga pada Derren, runtuh semua harga dirinya.
Derren kembali melihat pundak Becca yang mulai gemetar lagi. Secara naluri, ia menepuk pelan pundak Becca untuk menenangkannya. “Tinggal saja di sini kalau kau mau. Tidak perlu pulang ke sana.”
Becca mendongak, menatap heran pada Derren. Tak cukup dengan semua hal yang telah ia alami hari ini, masih saja ditambah dengan perkataan konyol dari seorang pria yang ia sukai? Really? “Jangan bercanda. Kita bahkan baru saling berinteraksi hari ini,” ujar Becca.
Sekalipun Becca menyukainya, tapi sikap Derren itu saat ini membuatnya tidak nyaman. Bagaimana bisa pria yang bisa dibilang baru mengenalnya langsung menawarkan tempat tinggal?
“Aku hanya ingin membalas budi pada orang yang telah menyelamatkan nyawaku.” Derren mendengkus pelan. “Memangnya apa yang kau pikirkan.”
Becca tersentak, menyadari pikiran konyol yang sempat ia pikirkan. Memalukan! Bisa-bisanya cara berpikirnya bisa serendah itu. Bodoh! “Nothing, memang apa yang aku pikirkan?”
Derren menyeringai. Ia merasa gemas pada sikap Becca yang menurutnya sangat lucu. Sedetik kemudian, ia kembali tersadar. Sikapnya sendiri terlihat sangat bebeda dengan biasanya. Selama bertahun-tahun ia merasa tidak ingin dekat dengan wanita mana pun, tapi entah kenapa saat ini ia seperti tersedot pada pesona Becca. Namun apakah wajar jika secepat ini?
“So, kau menerima tawaranku?” Derren bertanya sekali lagi.
Becca mulai bimbang, harga dirinya merasa tertantang oleh tawaran dari pria yang ia sukai. Jika ia mengatakan iya, pasti ia akan bisa bebas memandang wajah tampan itu setiap hari. Namun jika ia menolaknya, apakah ia telah melewatkan kesempatan emas dalam hidupnya? “Kurasa… lebih baik aku pulang saja. Aku tidak ingin berhutang budi padamu.”
Derren menatap dalam pada Becca. Rahangnya mengetat, seiring dengan desiran yang menyebar cepat dari dada. Penolakan itu membuatnya menjadi lebih tertantang. Pesona seorang Becca tidak main-main. “Hutang budi? Akan impas jika kau menjadi asisten pribadiku. Aku bisa membayarmu, dan membiayai kuliahmu, tapi ada satu syarat…”
Insting Becca mulai mengeluarkan alarm bahaya. Ia tahu arti tatapan mata dari Derren yang saat ini seakan sedang menguliti dirinya. Seharusnya, Becca tahu kalau otak seorang pria akan selalu didominasi dengan pikiran seperti itu.
“…jadilah wanitaku, maka aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik. All pleasure to you.”
Anda Mungkin Juga Suka





