
Never Ending Pleasure
Bab 3
Kedua mata hazel Becca membulat, menegaskan tentang rasa tidak terimanya yang mulai naik ke pusat logika. Ia memang menyukai pria yang sedang menatap buas di depannya itu, tapi tidak dalam alur seperti ini.
“Maafkan aku, Prof. Lambert. Ah, maksudku Derren. Aku… sepertinya, aku harus segera pulang!”
Becca berdiri cepat, di dalam pikirannya hanya terlintas tentang bagaimana caranya segera berlari dari tempat mewah ini.
“Tunggu!” Derren menarik tangan Becca, berdiri di depan wanita itu, sangat dekat. “Lukamu akan bertambah parah jika kau tidak bisa duduk dengan tenang, Becca.”
Tangan Derren terangkat, menggantung di sebelah kepala Becca. Mencoba untuk menelusup, tapi segera dihentikan karena akal sehatnya telah berhasil menampar sisi buas dalam dirinya yang telah lama ditahan.
Kaki Becca mundur satu langkah, menghindari tubuh proporsional dengan wangi musk yang sejujurnya selalu ia rindukan. Tidak! Harga dirinya tidak serendah itu.
Menjadi wanitanya? Dengan pengucapan nada yang seakan ingin memakannya bulat-bulat seperti itu? Yang benar saja!
“Terima kasih untuk niat baikmu, tapi aku bukan wanita seperti itu, Derren!” Becca menepis tangan Derren.
Sementara Derren menghela napas dalam-dalam. Membodohkan dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol hasratnya yang naik secara tiba-tiba. Sialan! Kenapa juga ia harus mengucapkan kalimat bodoh seperti itu pada Becca. Di mana letak alpha aura yang selama ini melekat di dirinya? Menyedihkan sekali ketika ia seakan menjelma dari seekor serigala menjadi anak husky yang menatap sedih pada Becca yang baru saja menghilang dari balik pintu.
***
Seharusnya saat ini telah aman. Biasanya, orang tuanya hanya akan bertengkar selama beberapa menit, selanjutnya saling diam sambil menunggu dirinya lewat untuk dijadikan sasaran pelampiasan amarah.
Becca menelan ludahnya susah payah. Dengan sangat hati-hati, ia membuka pintu, mengendap tanpa bersuara; berjingkat-jingkat layaknya pencuri kecil menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
“Rebecca Willson!” seru seorang pria bersuara berat dan serak.
Aliran darah Becca serasa berhenti mengalir. Tangannya mengepal, menyembunyikan gemetar yang tiba-tiba datang. Badan langsingnya berbalik kaku, menghadap pada Jhon Willson, ayah angkatnya. “Yes, Dad?”
Tanpa jawaban, Jhon Willson mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tamparan keras mendarat pada pipi Becca, menciptakan panas menyengat dan membuat telinganya berdenging kencang.
“Sudah kubilang pergi dari rumah ini!! dasar anak pembawa sial!!” Tak puas hanya dengan menampar, Jhon Willson mengayunkan tendangannya pada kaki Becca.
“Dad…” rintih Becca, luka di perutnya mulai terasa panas.
Jhon Willson semakin tak terkontrol. “Pergi!! Gara-gara kau, keluargaku berantakan!!”
Tangannya terangkat lagi, bersiap untuk melayangkan pukulannya lagi pada Becca yang telah bersimpuh di lantai, namun segera terhenti saat seseorang menangkap tangan itu dan memitingnya ke balakang, membuat Jhon Willson mengumpat sumpah serapah.
“Derren?” bisik Becca, sambil mengernyit dengan rahang mengetat karena menahan rasa teramat sakit di luka yang mulai merembes merah lagi.
“Kurang ajar! Lepaskan!!” sentak Jhon Willson, berusaha menatap Derren yang semakin menarik tangan pria itu sampai mengaduh kesakitan. “Sialan! Siapa kau?! Lepaskan!!”
Derren menyeringai, menampilkan tatapan tajamnya yang berhasil merenggut nyali Jhon Willson. Tak hanya sorot tajam, pria paruh baya tersebut seakan melihat sorot mata yang tak akan segan membunuh.
“Sungguh, aku sangat membenci seorang ayah yang seharusnya melindungi anaknya.” Suara berat Derren terdengar mematikan. “Tak peduli anak kandungmu atau bukan, bukankah perbuatanmu ini lebih biadab dari para anjing liar yang memangsa buruannya?”
“Siapa kau sebenarnya?!” Jhon Willson masih bersusah payah untuk melepas tangannya dari cengkeraman Derren.
“Aku?” seringai menghiasi wajah Derren. “Aku adalah wali Becca mulai saat ini. Semua hal yang berhubungan dengan Becca akan menjadi tanggung jawabku. Sekali lagi kau menyentuh wanitaku, aku tak akan segan-segan mengambil nyawamu yang tak berharga itu. mengerti?!”
Jhon Willson menggeram, merasa tak terima tapi tak bisa berkutik. Derren semakin mengencangkan tarikan di tangan pria paruh baya itu, sampai akhirnya benar-benar mengangguk dan mengatakan tak akan pernah mengganggu Becca lagi.
“Good,” ucap Derren. “Kau tak akan menyesal karena telah menuruti ucapanku saat ini. Dan jika kau melanggar janjimu itu, bersiap-siaplah untuk menerima lebih dulu dariku!”
Derren melepas tangannya, mendorong tubuh Jhon Willson menjauh, dan membiarkan pria itu kabur. Saat ia menoleh pada Becca, wanita itu masih menatapnya ngeri. Sosok baru lagi yang ia temukan di diri pria yang ia sukai. Kali ini, ia tak bisa lari lagi. mungkinkah ia akan lebih aman jika bersama Derren Lambert?
Tak sempat menatap lebih dalam lagi, pandangan Becca telah menggelap. Ia pingsan di pelukan Derren.
“Becca, sudah kubilang untuk jadi wanitaku saja. sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Derren menggendong Becca, mendekapnya erat ke luar rumah. Mulai saat ini, tak ada lagi Rebecca Willson. Wanita cantik itu, telah menjadi seorang yang baru, Becca Lambert.
***
Hening.
Becca mengerjap pelan, merasakan beberapa tubuhnya yang nyeri saat ia mencoba untuk bergerak. Hei, apa yang ada di tangannya?
Jarum infus? Mungkinkah ia berada di rumah sakit? Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Tak mungkin ia berada di rumah sakit. Ruangan ini terlalu mewah untuk sebuah kamar rawat inap, bahkan VVIP sekalipun.
Ah, rahangnya sedikit sakit saat ia mencoba untuk membuka mulutnya. Tamparan ayah tirinya benar-benar penuh tenaga. Mungkinkah itu yang membuat kepalanya sekarang terasa berat?
“Kau sudah merasa lebih baik?”
Suara itu, Becca menoleh cepat. Derren Lambert tersenyum padanya. Mata birunya terlihat lebih terang dari tadi. Meskipun begitu, Becca masih menarik tubuhnya untuk mundur sedikit saat Derren memeriksa suhu tubuhnya.
“Sudah turun. Tadi kau demam saat kubawa ke sini,” ucap Derren, sambil menarik kursi sebelum diletakkan di sebelah ranjang Becca dan duduk di atasnya. “Karena kurasa kau akan lebih nyaman jika dirawat di sini, aku memanggil dokter pribadi yang biasa merawatku saat sakit. Katakan, apa yang kau rasakan saat ini?”
Orang gila mana yang menanyakan bagaimana perasaan Becca setelah semua hal yang ia lalui hari ini. Tentu saja ia merasa tidak baik-baik saja.
“Kenapa kau membawaku ke sini?” Pada akhirnya, Becca hanya menanyakan itu setelah puluhan pertanyaan telah coba ia rangkai dalam pikirannya.
Derren bersandar santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kekehan ringan terdengar, sementara kedua matanya menatap lembut pada Becca. “Lalu aku harus membiarkanmu mati di tangan ayah angkatmu itu? Kau bahkan telah diusir dari rumah. Atau… kau memiliki tujuan lain selain di sini?”
Becca terdiam. Tak perlu ditanyakan, jawabannya sudah jelas bahwa ia tak memiliki tempat lagi untuk dituju. Sejujurnya, ia tadi sempat berharap untuk mati saja sebelum Derren datang untuk membelanya.
“A-aku… bisa pergi ke mana saja. Aku bisa tidur di mana saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Becca menunduk, ia merasa tak nyaman saat kedua mata mereka beradu.
“Kalau begitu… tinggallah di sini. Kau bisa tidur di mana saja, kan?” Derren menyunggingkan sebelah senyumnya.
Tawaran yang menggiurkan, tapi bukankah itu sama saja Becca menjual dirinya sendiri pada pria di depannya saat ini? apakah itu tindakan yang wajar pada wanita seumurnya? Bahkan jika ia sudah berada di umur yang benar-benar dewasa, apakah hal seperti ini normal dilakukan?
“Aku tidak memiliki uang untuk membayar biaya sewa. Lagipula, jarak dari mansion ini ke kampus terlalu jauh. Aku kesulitan untuk mengejar bus kalau tinggal di sini.” Alasan yang masuk akal bagi manusia berpola pikir sederhana.
Derren mencondongkan badannya, menikmati setiap moment saat Becca berjingkat kaget tiap kali dirinya mendekat. “Kau tidak perlu membayar. Justru aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Termasuk akomodasi transportasi kemana pun kau pergi.”
Becca menatap gelisah pada Derren. Apakah ini artinya, ia terlepas dari kutukan keluarga angkatnya, tapi harus masuk ke kandang serigala?
Derren kembali bersandar, posisi yang sama seperti tadi. Sebelum berbicara, seringainya mengembang separuh di sisi kiri. “Kamar ini adalah milikmu, rumah ini bisa kau anggap rumah sendiri, sementara kau…” sorot biru Derren menembus pertahanan Becca. “…adalah milikku.”
Anda Mungkin Juga Suka





