Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nathan & Aubree

Nathan & Aubree

Bagi Aubree, Nathan adalah segalanya sejak pandangan pertama. Namun, Nathan masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu dan duka patah hati yang mendalam. Meski cintanya terus bertepuk sebelah tangan dan sering menghadapi penolakan pahit, Aubree enggan menyerah begitu saja. Ia memilih terus berjuang demi meluluhkan hati pria tersebut. Akankah kegigihan Aubree mampu meruntuhkan benteng pertahanan Nathan atau justru ia akan terus terabaikan dalam hubungan yang rumit ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Lihat aku, Nathan. Kau yakin tidak mau menikah denganku? Tidakkah kau tertarik dengan tubuhku?”

Suara Aubree berbisik sensual di telinga Nathan. Berusaha menggoda pria yang ada di hadapannya. Tatapan Aubree tak lepas menatap manik mata Nathan seolah dirinya telah tenggelam dalam keindahan manik mata pria itu. Degup jantungnya berpacu begitu keras. Seakan melompat dari tempatnya. Jarak Aubree dan Nathan begitu dekat dan intim. Bahkan rasanya Aubree tak ingin menghentikan hari ini. Anggap saja dia gadis yang tak waras. Aubree tak peduli. Selagi Nathan ada didekatnya maka apa pun akan Aubree lakukan.

Nathan mengembuskan napas kasar mendengar ucapan gila sosok gadis di hadapannya. Sejenak, Nathan terdiam menatap lekat-lekat manik mata hijau Aubree. Sebenarnya gadis di hadapannya ini memiliki paras yang cantik. Nathan tak akan menampik akan hal itu. Manik mata hijau yang indah. Rambut pirang tergerai panjang. Wajah cantik, mulus tanpa noda sedikit pun di wajahnya. Bahkan ketika kulit Nathan tanpa sengaja menyentuh kulit gadis ini—dia merasakan kulit gadis yang ada di hadapannya ini begitu lembut seperti bayi yang baru dilahirkan. Hanya saya semua kelebihan dari sosok gadis di hadapannya ini tertutupi dengan sifat gilanya. Well, Nathan masih cukup waras untuk memilih seorang gadis yang akan mendampinginya. Dia tak mungkin memilih gadis gila ini.

“Jika kau butuh psikiater, aku akan memberikan salah satu psikiater terbaik untuk mengobati gangguan kejiwaanmu,” tukas Nathan penuh dengan penekanan. Sorot matanya kian menajam, dam penuh peringatan pada Aubree.

Senyuman anggun di wajah Aubree terlukis. Gadis itu sedikit mendongakan wajahnya. Jaraknya dengan Nathan sangat dekat. Bahkan bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Nathan. Hidung mancung mereka saling bersentuhan. Manik mata hijau Aubree menatap sensual tatapan tajam dari manik mata cokelat Nathan.

“Aku tidak membutuhkan psikiater, Nathan. Yang aku butuhkan adalah dirimu,” bisik Aubree sensual di depan bibir Nathan.

Nathan menggeram penuh emosi. Detik selanjutnya, Nathan menjauh dari Aubree. “Kau memang sudah gila! Terlalu lama aku di sini, aku bisa tidak waras sepertimu!” tukasnya yang hendak melangkah. Namun, gerak Aubree begitu cepat. Gadis itu segera mengambil ponsel Nathan dari saku milik pria itu. Lalu …

“Apa kau bisa pergi dari sini tanpa ponselmu, Tuan Nathan Lucero Afford?” Suara Aubree dengan nada yang menggoda bercampur menantang. Kini gadis itu menunjukan ponsel Nathan.

Nathan langsung membalikan tubuhnya mendengar ucapan Aubree. Refleks, dia terkejut kala ponsel miliknya ada di tangan Aubree. Nathan tak menyadari Aubree mengambil ponselnya saku celananya.

Nathan berdecak kesal. “Kembalikan ponselku!”

“Tidak … aku tidak akan mengembalikannya. Aku masih mau di sini bersama denganmu. Kau tidak boleh pergi.” Aubree langsung menyembunyikan ponselnya ke belakang tubuhnya.

Nathan menggeram kesal bercampur dengan umpatan di mulutnya. Dengan cepat, dia mendorong tubuh Aubree hingga terbentur ke dinding. Pria itu menghimpit tubuh Aubree dengan tubuhnya. Lalu Nathan segera merampas kembali ponsel miliknya yang ada di belakang tubuh gadis itu.

“Jangan lagi menggangguku,” desis Nathan penuh dengan peringatan. Pria itu langsung melangkah pergi meninggalkan Aubree di ruangan kosong dan gelap itu. Pun Aubree bergeming. Gadis itu melukiskan senyuman di wajahnya kala Nathan pergi darinya.

Hingga kemudian, sesuatu muncul dalam benak Aubree. Suatu ide yang luar biasa dan membuat Aubree tersenyun cerdik. Kini Aubree merapikan gaun di tubuhnya, dan melangkah dengan anggun meninggalkan ruangan itu.

Di pesta, Aubree melihat banyaknya para tamu undangan yang memenuhi tempat pesta undangan makan malam yang diadakan oleh keluarganya itu. Malam semakin larut. Namun, pesta semakin meriah. Rekan bisnis keluarganya terlihat banyak yang tengah menikmati minuman mereka dan tentu membahas bisnis yang cukup membosankan bagi Aubree.

Tatapan Aubree teralih pada Nathan yang tengah mengobrol dengan rekan bisnisnya. Seperti semesta telah mendukungnya. Ternyata Nathan masih ada di pesta. Hanya saja pria itu berusaha mencari celah menjauhi dirinya, dan bergabung dengan para tamu undangan lain. Detik selanjutnya, Aubree mengalihkan pandangannya pada seorang pelayan yang membawakan minuman. Aubree segera menjentikan jemarinya memanggil sang pelayan.

“Anda ingin minum apa, Nona?” tanya sang pelayan dengan sopan kala tiba di depan Aubree.

“Antarkan minuman untuk pria yang memakai jas berwarna navy di ujung kanan.” Aubree mengeluarkan sesuatu dalam dompetnya. Lalu dia menuangkan serbuk obat ke dalam wine yang khusus untuk Nathan.

“Nona ini—” Sang pelayan menggantung ucapannya kala melihat Aubree memasukan sesuatu di minuman itu. Tapi pelayan itu tidak berani berucap karena dia mengenal Aubree adalah anak dari bosnya.

“Cukup antar saja minuman ini ke pria itu,” tukas Aubree dengan nada yang tidak mau dibantah.

Sang pelayan mengangguk cepat. Menuruti permintaan Aubree. Lalu pelayan itu melangkah meninggalkan Aubree, dan menghampiri pada Nathan. Sedangkan Aubree terus melihat pelayan itu sampai memberikan minuman pada Nathan.

Hingga ketika Nathan telah menegak wine yang pelayan berikan; senyuman di wajah Aubree langsung terlukis. Aubree langsung mendekat pada Nathan.

“Nathan…” Aubree segera memeluk lengan Nathan kala terlihat jelas Nathan begitu pusing.

Nathan memijat pelipisnya kala merasakan sakit di kepalanya begitu menyerang. Bahkan Nathan tak menyadari kalau Aubree tengah memeluk lengannya.

“Ikut denganku, Nathan.” Aubree segera membawa Nathan menjauh. Sebelumnya, Aubree telah berpamitan pada tamu undangan yang tengah berbicara dengan Nathan tadi untuk membawa Nathan. Tentu tamu undangan itu tidak bisa melakukan apa pun. Karena memang pemilik dari pesta ini adalah keluarga Aubree.

Kini Aubree membawa Nathan ke dalam kamar, gadis itu langsung meletakan tubuh Nathan di ranjang empuk. Kesadaran Nathan sudah melemah. Tampak senyuman di wajah Aubree terlukis kala melihat Nathan yang tengah memejamkan matanya. Jika membuka mata; maka Nathan layaknya pahatan yang sempurna. Dan jika memejamkan mata, pria di depannya itu begitu menggoda.

Aubree duduk di tepi ranjang. Gadis itu mulai mencium rahang Nathan. Aroma parfume maskulin Nathan yang sukses membuatnya berdesir. Darah Aubree seakan mendidih kala merasakan jambang Nathan bersentuhan di pipi halusnya. Napas Nathan menerpa kulitnya seperti memberikan aliran listrik yang menimbulkan sensasi liar.

Dengan berani, Aubree membawa jemari lentiknya membuka satu persatu kancing kemeja Nathan. Dada bidang pria itu membuat Aubree begitu terbakar oleh api hasrat. Namun, tiba-tiba gerak Aubree terhenti kala pelupuk mata Nathan bergerak. Aubree tampak terkejut terutama kala Nathan membuka kedua matanya.

“N-Nathan … kau—”

Nathan yang baru saja membuka mata, dia merasakan sakit di kepalanya. Pria itu segera mengendarkan pandanganya kala matanya sudah terbuka. Seketika Nathan sedikit rerkejut melihat dirinya berada di sebuah kamar. Lalu dia menatap sosok gadis yang di depannya. Pun Nathan melihat kancing kemeja bagian atasnya sudah beberapa terbuka. Raut wajah Nathan berubah. Sorot matanya tampak menajam menunjukan kemarahan dalam dirinya.

“Apa yang kau lakukan, Aubree?” seru Nathan dengan nada tinggi, dan keras.

“A-Aku … tadi …” Aubree segera bangkit berdiri. Dia terpergok seperti sedang mencuri. Sial, ini sangat memalukan. Bahkan Aubree tidak mampu menyusun kata-kata di kepalanya.

Nathan melompat turun dari tempat tidur. Dia segera mengancingkan kemejanya. Kepalanya memang masih begitu pusing. Namun, Nathan mampu mengatasinya rasa sakit di kepalanya itu.

“Kau mau menjebakku, Aubree?” Suara Nathan berseru dengan nada penuh geraman kemarahan. Sorot matanya kian menajam. Bahkan terlihat seperti singa yang hendak membunuh.

“T-Tidak … aku tidak menjebakmu … tadi kau pingsan. Jadi aku membawamu ke sini saja.” Aubree membantah dengan cepat. Kepanikan melanda dirinya. Dalam hati Aubree mengumpati kebodohannya. Obat yang dia masukan ke dalam wine itu adalah obat yang membuat orang mabuk. Tapi kenapa Nathan masih sanggup membuka matanya?

“Dan kau pikir aku dengan bodohnya bisa kau tipu, Aubree Randall?” Nathan mencengkram dengan kasar kedua rahang Aubree.

“A-Aku tidak menipumu, Nathan. Kau memang pingsan tadi,” jawab Aubree sedikit merintih kala Nathan mencengkram rahangnya. Gadis itu menyanggah seraya mendongakan kepalanya menatap manik mata cokelat Nathan.

Nathan menggeram kala Aubree tidak mau mengaku. Tapi percuma saja. Gadis di depannya ini memang sudah gila. Jika dirinya memaksa bicara sama saja dengan dirinya sudah kehilangan akal sehatnya.

“Menjauhlah dariku! Jangan pernah kau munculkan wajahmu di depanku! Aku tidak mau melihatmu lagi!” Nathan melepas cengkraman tangannya di rahang Aubree. Dia langsung membalikan tubuhnya, dan hendak meninggalkan Aubree. Namun …

“Bagaimana mungkin aku menjauh dari calon suamiku sendiri, Tuan Nathan Lucero Afford?” Suara Aubree berseru dengan keras hingga membuat langkah Nathan terhenti.

Nathan bergeming. Pria itu masih memunggungi Aubree. Didetik selanjutnya, Nathan melihat Aubree dari sudut matanya dan memberikan tatapan dingin. “Otakku masih waras dalam memilih calon istri. Dan tentu itu bukan dirimu,” jawabnya seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan Aubree di kamar itu sendirian.

Aubree menatap punggung Nathan yang mulai lenyap dari pandangannya. Tampak senyuman di wajah Aubree terlukis. “Kita lihat saja nanti, Nathan. Kau atau aku yang benar.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Suamiku Karena Mantan Kekasihnya
7.8
Di pesta ulang tahun ke-60, kebahagiaanku hancur saat suami dan anak-anakku mengabaikanku demi Nina Sanders, sang mantan kekasih yang kembali. Selama empat puluh tahun aku berkorban, namun mereka justru menangis haru menyambut Nina yang kini menderita Alzheimer. Saat mereka memperlakukanku layaknya musuh di depan wanita itu, aku menyadari posisiku telah tergantikan. Dengan hati yang hancur, aku memilih menyebut diriku orang asing dan pergi meninggalkan mereka.
Sampul Novel CEO with Pole Dancer
7.9
Insiden sepele mengubah hidup Zia Zovanka selamanya saat ia menjadi target buruan Sagara Pratama. Amarah mendorong pria berkuasa itu untuk mengejar Zia, sang yatim piatu, hingga berhasil merenggut sesuatu yang paling berharga darinya. Meski Sagara dikenal dingin terhadap wanita, bayangan Zia justru terus menghantui pikirannya. Takdir mempertemukan mereka kembali saat Sagara tanpa sengaja menemukan Zia sedang menari di sebuah klub malam langganannya.
Sampul Novel Cerita Penggenjrotan
9.0
Kisah romansa modern ini secara khusus diperuntukkan bagi pembaca dewasa yang telah berusia delapan belas tahun ke atas. Mengingat muatan konten yang ada di dalamnya, sangat disarankan bagi mereka yang masih di bawah umur untuk tidak mencoba membaca cerita ini. Narasi yang disajikan fokus pada dinamika hubungan yang intens dengan peringatan keras mengenai batasan usia bagi audiensnya demi kenyamanan bersama dalam menikmati alur cerita yang sangat eksplisit.
Sampul Novel Cinta Tak Terhalang Usia
8.9
Khawatir dengan perubahan sikap anaknya yang sering melamun dan hilang nafsu makan, seorang orang tua menyadari bahwa sang anak sedang puber dan mengagumi sahabat dekatnya. Saat menceritakan hal ini, sang sahabat ternyata menghadapi situasi serupa karena anaknya sendiri menaruh hati pada orang tua tersebut. Demi masa depan anak-anak, mereka sepakat bekerja sama untuk saling membimbing anak sahabat masing-masing agar memahami esensi hubungan lawan jenis dengan benar.
Sampul Novel Kubalas Selingkuh Suamiku dengan Indah
9.2
Zivanna Yahya mencintai Rio Wibisono dengan ketulusan yang tak terhingga. Namun, Rio justru memintanya untuk tidak mencintai terlalu dalam demi menghindari luka. Di tengah kerumitan tersebut, muncul Gregory Abel yang tidak memedulikan batasan moral. Baginya, mencintai milik orang lain adalah sebuah dosa paling indah, dan ia bertekad untuk memiliki Zivanna sepenuhnya. Kisah ini terjebak dalam pengkhianatan dan obsesi yang mengancam kebahagiaan mereka semua.
Sampul Novel My Sweet Dangerous Logan
9.6
Annabella dan Logan Mason berasal dari latar belakang yang sangat kontras, namun takdir membawa mereka pada sebuah kesepakatan besar. Demi menyelamatkan keluarganya dari krisis keuangan, Annabella nekat mengajak sang miliarder untuk menjalani pernikahan kontrak. Meski awalnya didasari oleh kepentingan timbal balik, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Kini, keduanya terjebak dalam pusaran perasaan tulus yang sulit dihindari di tengah sandiwara tersebut.