
Nafsu Besar Sang Dokter
Bab 2
Semakin lama Ronald semakin berani menggoda suster muda yang awalnya terkesan alim itu dengan guyonan-guyonan nakalnya. Hanifah sendiri hanya tersipu-sipu dengan obrolan mereka yang lumayan panas bahkan cenderung jorok itu. Namun dia juga sangat nyaman berdiskusi dengan dokter tampan rupawan itu.
Obrolan mereka bahkan sudah tak ada batas lagi, sepertinya mereka sudah sedikit melupakan kode etik hubungan kerja antara dokter dengan suster.
“Terus terang aja, sejak Hani datang, kok di sini jadinya lebih hanget ya,” kata Ronald sambil meletakkan tangannya di lutut Hanifah dan mengelusnya ke atas sambil menarik rok panjangnya hingga pahanya mulai sedikit tersingkap.
“Jangan gitu dong, Dok, mau saya gaplok apa ya?” Hanifah protes tapi kedua tangannya yang dilipat tetap di meja tanpa berusaha menepis tangan Ronald yang mulai kurang ajar.
“Ah, Hani, masa pegang gini aja gak boleh. Lagian di sini kan sepi gak ada siapa-siapa, dingin lagi,” timpal Ronald makin berani. Tangannya makin naik dan paha yang mulus itu pun semakin terlihat.
“Dok, saya marah nih! Lepasin gak? Dokter kan sudah punya istri, saya hitung sampai tiga ya!” sentak Hanifah dengan wajah yang menujukan kekesalannya. Matanya menatap wajah tampan Ronald yang tersenyum mesum.
“Jangan marah dong, Han. Mendingan kita seneng-seneng aja, ya?” sahut Ronald dengan sangat entengnya.
Sejurus kemudian dokter jaga itu dengan berani merangkul bahu Hanifah dan tangan satunya menyingkap rok di sisi yang lain. Hanifah tidak bergeming, tidak ada tanda-tanda penolakan walau wajahnya masih terlihat kesal, tegang dan marah.
Hanifah mulai menghitung dalam hati, namun Ronald malah makin kurang ajar, dan tangannya makin nakal menggerayangi pahanya. Hitungan sampai lima sudah berkahir, namun entah mengapa Hanifah tidak lantas beranjak pergi atau berteriak ketika kelakuan dokter mesum ini makin nakal dan kurang ajar.
Dokter Ronald yang sudah kerasukan nafsu itu menganggapnya apa yang ducapkan Hanifah hanyalah sandiwara untuk meninggikan harga dirinya, sehingga dia malah semakin bernafsu. Sebelum Hanifah berpura-pura berontak, Ronald sudah lebih dulu mendekapnya dan melumat bibir sang suster dengan sangat lembut namun cukup ganas.
”Hmm mmhh..” Hanifah berontak dan mendorong-dorong tubuh Ronald, berusaha lepas dari dekapannya namun tenaganya tak ada apa-apanya. Belum lagi Ronald juga mendekap dan terus menaikkan rokknya lebih tinggi lagi. Hanifah bahkan sudah bisa merasa hembusan angin malam menerpa paha mulusnya yang telah tersingkap. Jga tangan kekar sang dokter makin lembut mengelusinya hingga membuatnya terangsang.
“Aah jangan mmhh, Dook…” Hanifah berhasil melepaskan diri dari cumbuan Ronald tapi cuma sebentar.
Karena ruang geraknya terbatas, bibir mungil sang suster itu kembali menjadi santapan buas sang dokter. Lalu tangan Ronald mulai meremas-remas buah dada Hanifah yang masih tertutup pakaian dan jilbabnya. Ronald dapat merasakan kalau payudara suster muda ini masih sangat kencang dan padat, pertanda belum pernah dijamah lelaki lain. Sementara tangan satunya tetap mengelus paha sang suster mengalirkan setrum rangsangannya.
Hanifah terus meronta walau tidak terlalu keras, dan itu hanya menjadi sia-sia belakan, malah pakaian bawahnya semakin tersingkap dan jilbab perawatnya nyaris copot. Ronald melepaskan jaket cardigan pink Hanifah, sehingga tinggal baju seragam yang terlihat. Lama-lama perlawanan Hanifah melemah. Sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifnya benar-benar telah meruntuhkan segala pertahanan sang dara.
Pesona dan kepiawan Ronald dalam menakukan wanita sudah tidak diragukan lagi. Jangankan mereka yang sudah berpengalaman, bahkan sudah puluhan gadis alim nan polos berubah menjadi liar setelah mendapat sentuhannya. Ronald hanya bersiakap mesra dan sangat lembut pada Belinda, istri tercinanya. Kebuasan dan kebrutalan gairah seksualnya justru dilampiaskan pada wanita yang bukan istrinya.
Birahi Ronald sangat mudah bangkit bila bersama wanita lain. Apalagi jika suasananya sangat mendukung seperti malam ini. Hujan yang masih mengguyur dan dinginnya malam kian membuatnya lupa diri. Bulu kuduk Hanifah merinding merasakan sesuatu yang basah dan hangat di lehernya. Ronald sedang menjilati lehernya yang jenjang setelah jilbabnya berhasil disingkap sang dokter bernafsu besar itu.
“Doook, jangaaaan…” Hanifah mendesah, saat merasakan lidah sang dokter terus bergerak menyapu dengan sangat lembut dan intens pada lehernya, sehingga menyebabkan tubuhnya menggeliat nikmat secara sendirinya.
Mulut Hanifah yang tadinya tertutup rapat-rapat menolak lidah sang dokter pun mulai sedikit membuka. Lidah kasap sang dokter yang sudah kerasukan birahi tingkat tinggi itu pun langsung menyeruak masuk ke dalam mulut suster yang masih sedikit polos. Bayangan Hanifah yang pernah berciuman dengan pacarnya saat SMA, lambat laun membawanya untuk merespon dan melayani sang dokter. Hingga mereka pun kini saling berpagutan dengan penuh gairah.
Sementara itu Ronald yang pengalamannya jauh di atas awan, dngan mudahnya mulai melucuti kancing bajunya dari atas dan sekaligus mencopot jilbab Hanifah. Tangan perkasa sang dokter itu pun menyusup ke dalam cup bra sang suster. Dan begitu menemukan putingnya yang benar-benar masih kencang dan padat, dia langsung memain-mainkannya dengan dipilin lembut hingga keras menggemaskan.
Di tengah ketidak-berdayaannya melawan nafsu besar dokter mesum itu, Hanifah semakin pasrah membiarkan tubuhnya dijarah. Tangan Doketr Ronald menjelajah semakin dalam, dibelainya paha dalam gadis itu hingga menyentuh selangkangannya yang masih tertutup celana dalam. Sementara baju atasan Hanifah juga semakin melorot sehingga terlihatlah bra biru di baliknya.
”Kita ke dalam aja biar lebih enak,” bisik Ronald.
“Kamu emang kurang ajar, ya. Kita bisa dapet masalah kalau gak lepasin saya!“ Hanifah mendapat kesempatan untuk berontak dan memperingatkan dokter brengsek itu.
“Halag, sdahlah, Han. Kurang ajar- kurang ajar, tapi kan kamu suka juga ya? Gak mungkin ada masalah. Saat ini saya yang punya kuasa di rumah sakit ini!” Ronald mulai menujukan sisi arogannya. Padahal sebelumnya tak pernah dia bicara sesombong itu, walau kenyataannya memang benar, nasib semua tenaga kesehatan di rumah sakit baru itu memang ada di tangannya.
“Tapi, Dok,” Hanifah sedikit menurunkan emosinya. Dia sadar dengan posisinya di rumah sakit ini.
“Han, berseneng-seneng dikit kan gak papa? Dingin-dingin begini emang enaknya ditemenin cewek cantik kaya kamu, kok,” lanjut Ronald dengan rayuan gombalnya.
“Yu di dalam aja, biar gak kena masalah,” ajak Ronald sambil menuntun Suster Hanifah ke ruang periksa pasien tempat mereka berjaga.
Hanifah disuruh naik ke sebuah ranjang periksa yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien. Selanjutnya Ronald langsung menggerayangi tubuh Hanifah yang terduduk di ranjang itu.
Ronald menarik lepas celana dalam gadis itu hingga terlepas. Celana itu juga berwarna biru, satu stel dengan branya. Kemudian dia berlutut di lantai, ditatapnya kemaluan Suster Hanifah yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun terawat dengan baik dan tidak tidak melebat kemana-mana.
Hanifah dapat merasakan panasnya napas Ronald di daerah sensitifnya. Ronald mempreteli kancing baju atas Hanifah yang tersisa. Lalu bra itu disingkapnya ke atas. Kini terlihatlah payudara sang suster muda yang berukuran sebesar bakpao dengan putingnya berwarna coklat.
“Uuuhh, Dook…” desah Hanifah ketika lidah Ronald mulai menelusuri gundukan buah dadanya itu. Lidah sang dokter bergerak liar menjilati seluruh payudara yang kencang dan padat itu tanpa ada yang terlewat.
Setelah basah semua, dikenyotnya daging kenyal itu, puting mungil itu digigitinya dengan gemas.
“Aah Dooook aaah ssssy…!” Tiba-tiba Hanifah melenguh panjang dan tubuhnya pun tersentak. Merasakan lidah panas sang dokter yang mulai menyapu bibir vaginanya lalu menyusup masuk ke dalamnya.
Hanifah gadis alim yang belum pernah melakukan aktovitas sejauh ini, sebenarnya merasa malu, marah dan jijik terpaksa harus melakukan ini. Namun rupanya libido yang telah dibakar Ronald, membuat sang suster melupakan perasaan itu. Mulut dan lidah Ronald kini merambat ke atas menciumi bibirnya. Sambil tangannya tetap menggerayangi payudaranya. Kemudian dokter itu kembali menghisap vagina Hanifah dengan sangat rakus..
Ronald makin membenamkan wajahnya di selangkangan Hanifah, lidahnya masuk makin dalam mengais-ngais liang kenikmatan suster muda itu hingga menyebabkan Hanifah kian menggelinjang dan mengapitkan kedua paha mulusnya pada kepala Dokter Ronald.
”Nah, sekarang tinggal kita mulai, Han,” kata Ronald membuka pakaiannya sendiri. sementara Hanifah masih tertegun antara percaya dan tidak dirinya bisa dengan semudah itu pasrah pada lelaki yang bukan siapa-siapanya. ‘Mungkinkah dokter ini menggunakan hipnotis atau pelet?’ tanya Hanifah dalam hatinya, bingung sendiri.
“Pokoknya malam ini saya bakal membuat kamu punya pengalaman indah yang tak akan bisa terlupakan, hehehe,” ucap Ronald penuh percaya diri. Dia sangat yakin jika Hanifah belum pernah dijamah terlalu jauh oleh lelaki manapun sebelumnya.
Hanifah yang merasa sudah dihipnotis itu, tertegun melihat pria gagah yang sudah telanjang bulat di hadapannya. Tubuh Ronald tampak kekar, rudalnya yang sudah menegang pun lumayan besar, bulu-bulu yang tidak terlalu lebat pun membuat Hanifah terbelalak. Ini benar-benar pengalaman pertamanya melihat lelaki dewasa telanjang bulat dalam keadaan horny. Hanifah ingin berontak namun lagi-lagi itu hanya ada dalam hatinya saja.
Ronald naik ke ranjang ke atas tubuh Hanifah. Wajah mereka saling bertatapan dalam jarak dekat. Ronald begitu mengagumi wajah cantik Hanifah, dengan bibir tipis yang merah merekah, hidung bangir, dan sepasang mata indah yang tampak sayu karena sedang menahan nafsu. “Dok, apa gak akan jadi masalah main di sini?” tanya Hanifah yang sesungguhnya dia sendiri merasakan jika itu ucapan bukan keluar dari mulutnya.
“Aaah, kamu masih saja meragukan posisi saya di rumah sakit ini. Siapapun yang berani mengganggu kita, bisa saya pecat sekarang juga! Kamu pun bisa saya naikkan jabatannya kalau mau nurut.” Ronald kembali menujukan arogansinya sambil langung melumat bibir gadis itu.
Hanifah yang mendapat janji surga, langsung memberikan perlawan maksimal. Mereka berciuman dengan penuh gairah, Hanifah yang sudah tersangsang berat itu pun berani melingkarkan tangannya memeluk tubuh sang lelaki yang akan menjadikan dirinya memiliki kedudukan pengting di rumah sakit ini kelak. Kedudukan yang tentu saja diidam-idamkan oleh semua suster.
Ronald yang sudah seminggu lamanya tidak menikmati kehangatan tubuh wanita, sebab tiga suster langganannya sedang palang merah secara bersamaan, begitu bernafsu berciuman dan menggerayangi tubuh Hanifah.
Mendapat kesempatan bercinta dengan perawan tentu saja tidak akan disia-siakannya. Dua suster sebelumnya, walau belum menikah namun sudah bukan perawan lagi. Dan bahkan justru merekalah yang awalnya meminta untuk ditiduri sang dokter, tentu saja mereka pun ingin mendapat perhatian lebih dari Dokter Ronald, demi karir dan masa depannya.
Anda Mungkin Juga Suka





