
Nafsu Besar Sang Dokter
Bab 3
Setelah kurang lebih lima menitan berciuman sambil bergesekan tubuh dan meraba-raba, mereka melepas bibir dengan napas yang terngah-engah dan memburu. Ronald mendaratkan ciumannya kali ini ke lehernya. Kemudian mulutnya merambat turun ke payudaranya, sebelumnya dibukanya terlebih dulu pengait bra yang terletak di depan agar lebih leluasa menikmati dadanya.
“Eemmhh aahhh aahh, Dokteeeer….,” desah Hanifah menikmati hisapan-hisapan liar sang dokter pada kedua buah dadanya yang terasa semakin keras dan panas.
Tangannya memeluk kepala yang rambutnya lebat dan hitam itu. Hanifah merasakan kedua putingnya semakin mengeras akibat rangsangan yang terus datang sejak tadi tanpa henti. Sambil menyusu, Ronald juga mengobok-obok vaginanya. Jari-jarinya masuk mengorek-ngorek liang senggama sang suster hingga membuat daerah itu semakin basah dan becek oleh lendir birahi.
“Han, saya masukin sekarang ya, udah gak tahan nih,” kata Ronald di dekat telinga Hanifah.
Hanifah hanya mengangguk. Dia tak mungkin lagi menolaknya karena dia sendiri sudah merasa kepalang tanggung, juga dia anggap memebrikan kegadisan yang selama ini dijaganya dengan baik, sebagai sebuah pengorbanan karis saja.
Hanifah berpikir semua dia lakukan dan relakan demi bisa mendapatkan kedudukan baik di rumah sakit ini. Lagian dokter yang memintanya pun tidak mengecewakan. Muda, gagah dan tampan. Andai pun suatu saat nanti ditakdirkan menjadi istri kedua atau ketiganya, tentu saja Hanifah tidak akan menolaknya.
“Ikhlas ya, Han?” tanya Ronald untuk lebih memastikan. Hanifah menjawabnya dengan senyuman kecil dan anggukan kepalanya.
Ronald tersenyum jahat dalam hati, sambil langsung menempelkan ujung kepala rudalnya ke mulut vagina gadis alim itu.
“Sssssst…” Terdengar desisan sensual dari mulut Hanifah ketika Ronald sedikit menekan pantatnya hingga rudalnya semakin dalam menerobas lobang vagina sang suster.
“Uuhh sempit banget Han, kamu bener-bener masih perawan ternyata,” erang Ronald sambil terus mendorong-dorongkan rudalnya secara perlahan. Tahu sangat tahu apa yang harus dilakukan saat memerawani seorang gadis.
“Uuuuuh, sakiiit Dooook!” walau sudah pasrah dan sudah tahu akan sakit, Hanifah tak urung juga mengerang kesakitan dan mencengkram kuat lengan Ronald setiap kali rudal itu terdorong masuk lebih dalam di vaginanya yang masih perawan.
Setelah beberapa kali tarik dorong akhirnya rudal itu tertancap seluruhnya dalam vagina suster itu. Darah perawan mengalir dari sana. “Uuuuuu, enak dan legit banget memek kamu Han. Kamu memang benar-benar masih perawan. Apa saja yang dilakukan pacar kamu selama ini, Han?” Komentar Ronald dalam berceracau.
Sebagai jawabannya Hanifah menarik wajah Ronald mendekat dan mencium bibirnya. Selain untuk meredam rasa sakit di vaginanya, dia juga tidak berniat menjawab pertanyaan itu. Ronald mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina sang gadis yang kini sudah tidak perawan lagi. Desahan tertahan terdengar dari mulut Hanifah yang sedang berciuman. Rasa sakit yang dideritanya berangsur-angsur bisa diatasinya.
Ronald memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin bertenaga. Dalam usainya yang masih relatif muda, stamina dan rudal sang dokter memang masih sangat bisa diandalkan. Masih sanggup membuat banyak wanita menggelinjang kenikmatan dan kelelahan.
Ronald sangat mahir dalam mengatur frekuensinya agar staminanya tetap stabil dan tidak cepat muncrat sebelum lawan mainnya benar-benar mendapat kepuasan maksimal.
Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya.
Hanifah pun semakin terbuai dan menikmati persetubuhan terlarangnya. Dia bahakn sudah melupakan semua prinsip hidupnya yang akan senantiasa menjaga kesuciannya sampai bertemu dengan lelaki yang benar-benar telah menjadi suaminya. Hanifah tidak menyangka persetubhan terlarangnya ternyata membawanya melayang tinggi ke tempat yang bahkan belum pernah dibayangankan sebelumnya.
Ronald semakin kencang menyodokkan rudalnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme.
“Malam masih panjang, Dok. Jangan buru-buru, biar saya yang gerak sekarang,” kata gadis perawat itu tanpa malu-malu lagi. Dan beberapa film porno yang pernah diam-siam dia tonton pun kembali terputar, seolah memberikan tutorial untuk berbuat hal yang sama agar bisa memberikan service terbaiknya pada sang dokter.
Ronald tersenyum mendengar permintaan Hanifah. Mereka pun bertukar posisi, Ronald tiduran telentang dan Hanifah menaiki rudalnya. Batang itu digenggam dan diarahkan ke vaginanya. Hanifah lalu menurunkan tubuhnya dan desahan terdengar dari mulutnya bersamaan dengan rudal yang terbenam dalam vaginanya.
Mata Ronald membeliak saat rudalnya terjepit di antara dinding kemaluan Hanifah yang sempit. Sang suster pun mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kedua tangannya saling genggam dengan Ronald untuk menjaga keseimbangan.
“Sssshhh aaaa aahh, Dokteeer Ronaaald, uuuuh enaaak banget kontolmu, Dooook, aaaah saya sangaaaat sukaaaa ssst!” lenguh Hanifah tanpa kontrol.
Ronald agak kaget mendengar uapan Hanifah. Tak menyangka ternyata suster muda nan terkesan alim itu cukup berisik saat sedang merasakan kenikmatan bersetubuhan. Bahkan lebih berisik dari wanita manapaun saat pertama disetubuhinya, termasuk Belinda, istrinya.
Hanifah terus mengerang dan melenguh tanpa henti sambil menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh Ronald engan penuh gairah. Tangannya meraih ujung roknya lalu ditariknya ke atas seragam yang berupa terusan itu hingga terlepas dari tubuhnya. Seragam itu dijatuhkannya di lantai sebelah ranjang, tidak lupa dilepaskannya bra yang masih menyangkut di tubuhnya sehingga kini tubuhnya telanjang bulat terekspos dengan jelas.
Dokter Ronald makin terbelalak, tak menduga gadis perawan ini jauh lebih berani dari perawan manapun yang pernah disetubuhinya. Namun terlepas dari semua itu, Ronald terkesima dengan Hanifah yang memiliki tubuh sempurna. Buah dadanya montok dan proporsional, perutnya rata dan kencang, pahanya juga indah dan mulus, sebuah puisi kuno melukiskannya sebagai kecantikan yang sanggup merobohkan kota dan meruntuhkan negari.
Kembali Hanifah dan dokter jaga itu memacu tubuhnya dalam posisi woman on top. Hanifah demikian liar menaik-turunkan tubuhnya di atas rudal Ronald, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat rudal itu menggesek dinding vagina dan klitorisnya.
“Ayo manis, goyang terus, enak banget… kamu ternayata sangat liar dan binal,” kata Ronald sambil meremasi payudara gadis itu.
“Aaaah lontol Pak Dokter pun sangat nikmaaaaat… “ Hanfah yang merasa kepalang tanggung terus meladeninya. Wajahnya bersemu merah karena terangsang berat, kian membuat gairah Ronald melambung. Dia menarik kepalanya ke bawah agar dapat mencium bibirnya.
“Aaaaaaaah Dokteeeer Ronaaaal saaah saya keluaaaar….” Akhirnya Hanifah tidak tahan lagi, dia telah mencapai orgasmenya. mulutnya terus mengeluarkan desahan panjang dan erangan-erangan kenikmatan.
Ronald yang juga sudah dekat puncaknya mempercepat hentakan pinggulnya ke atas sambil meremasi payudara Hanifah lebih kencang. Dia pun merasakan cairan hangat meredam rudalnya dan otot-otot vagina suster alim itu meremas-remasnya sehingga tanpa dapat ditahan lagi spermanya tertumpah di dalam dan membanjir.
Setelah klimaksnya selesai tubuh Hanifah melemas dan tergolek di atas tubuh dokter msum itu.
“Terima kasih ya, Han untuk keperawan memekmu yang sangat nikmat ini,” ucap Ronald sambil tersenyum puas.
“Sama-sama, Dok. Terima kasi juga atas pengalaman pertamanya,” balas Hanifah.
Tangan Ronald terus saja menggerayangi tubuh Hanifah, kadang diremasnya payudara atau pantatnya dengan keras sehingga memberi sensasi perih bercampur nikmat bagi gadis itu. Sedangkan Ronald sering menekan-nekan kepala gadis itu sehingga membuat Hanifah terkadang gelagapan.
‘Gila nih doketer, barbar banget sih,”’kata Hanifah dalam hati.
Walau kewalahan diperlakukan seperti ini, namun tanpa dapat disangkal Hanifah juga merasakan nikmat yang tak terkira. Tak lama kemudian Ronald menyorongkan rudalnya ke mulut Hanifah.
Hanifah kini bersimpuh di depan pria yang senjatanya mengarah padanya menuntut untuk diservis. Hanifah menggunakan tangan dan mulutnya bergantian melayani rudal itu hingga akhirnya rudal Ronald meledak lebih dulu ketika dia menghisapnya.
Sperma sang doketr langsung memenuhi mulut gadis itu, sebagian masuk ke kerongkongannya sebagian meleleh di bibir indah itu karena banyaknya.
“Han, hebat banget seponganmu dahsyat, saya jadi kesengsem loh sama kamu,” puji Ronald ketika beristirahat memulihkan tenaga.
“Sering-sering main ke sini ya, Suster Mesum,” goda Ronald.
“Siaaap Dokter mesumku,” balas Hanifah genit dan manja.
Seperti dugaan Ronald sebelumnya, Hanifah menjadi benar-benar ketagihan dengan persetubuhan liar dan terlarangnya itu. Bahkan Hanifah berani datang ke rumah dinas sementara Ronald, ketika sang dokter itu tidak ditemukannya di rumah sakit. Sepertinya sang suster sudah tak bisa tidur nyeyak lagi bila sehari saja tidak mendapatkan sodokan rudal sang dokter.
Ronald lelaki buas yang memiliki sedikit kelainan fantasi seksualnya, benar-benar memanfaatkan ketidak berdayaan sang suster yang sudah kerasukan syahwat hemaninya itu. Ronald menjadikan Hanifah sebagai budak seksnya. Tak jarang mereka melakukan persetubuhan di tempat yang semestinya. Ronald mengeksplore tubuh susternya itu di tempat-tempat terbuka walau tidak ada yang melihatnya.
Hanifah yang awalnya masih sangat polos dan lugu, benar-benar sangat menikmati sensasi-senasi gila yang disughkan sang dokter bernafsu besar itu, hingga tak sadar, jika sesungguhnya dia telah menjadi seorang wanita binal yang tidak risih mempertontonkan kemolekan tubuhnya pada semua mata jalang lelaki mata keranjang.
Hanifah justru merasa sangat bangga dan terangsang ketika ada lelaki yang menatapnya dengan sangat bergairah dan penuh nafsu, seolah akan menelannya hidup-hidup. Hanifah juga rela mengganti semua pakaiannya dengan yang berukuran ketat hingga menonjolkan setiap lekuk tubuhnya, walau secara sepintas masih tetap terturup.
Hanifah baru menyadari jika dirinya sudah benar-benar menjadi seorang busex ketika Dokter Ronald harus pindah tugas ke tempat lain. Dia benar-benar kelabakan dan tak berdaya menghadapi hantaman birahi liarnya yang seolah tak ada redanya.
Akhirnya Hanifah pun berbuat nekad. Dia mengajak Satpam rumah sakit ke kostannya untuk memuaskan shahwat hewaninya yang semakin ditahan semakin membuncah. Hanifah pun sudah tahu cara mendapatkan kepuasan dari lelaki lain yang berada di dekitarnya. Selain sesama perawat dia juga bisa mendapatkan dokter dan lain-lain. Hanifah baru sadar jika rudal Ronald, bukan yang terbaik.
Hanifah sama sekali tidak peduli dengan Ronald yang sudah pergi. Dia benar-benar sedang menikmati semua perubahan hidup dalam dirinya. Terlebih lagi setelah Dokter Ronald benar-benar menunaikan janjinya dengan baik.
Hari ini, Suster Hanifah resmi diangkat menjadi Suster Kepala. Tentu saja pengangkatan itu sempat mendatanngkan gelobang protes dari sesama suster yang sudah lebih dulu bertugas di sana. Namun Hanifah sama sekali tidak ambil pusaing.
“This is my dream! Terima kasih Dokter Ronald yang ganteng,” ucap Hanifah sambil menciumi amplop berisi Surat Keputusan Pengangkatan dirinya menjadi Suster Kepala.
Lantas bagaimana dengan Dokter Belinda, istrinya Dokter Ronald?
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





