
Nafkah Sulit Selingkuh Elit
Bab 2
Tias adalah tipe wanita yang tingkat kesabarannya memang luar biasa. Ia tidak pernah marah meski Azam secara tidak langsung mengabaikan tanggung jawab dan juga menyakiti hatinya dengan tidak mau peduli bagaimana perasaan Tias tinggal berdekatan dengan Ibu mertua yang ucapannya seringkali menyakitkan bagi telinga dan hatinya.
"Sabar aja, Dik. Ibu udah tua. Yang namanya orang tua, ya, begitu. Ibu nggak ada niatan untuk seperti itu, memang tata bahasanya aja yang kurang pas. Jangan di ambil hati dan dipikirkan, ya. Ditambah lagi sabarnya. Anak Ibu yang deket, kan, cuman aku."
Itu adalah jawaban dari Azam saat Tias mengadu soal ibunya yang selalu saja memandang dirinya sebelah mata.
Dari awal pernikahan memang Tias sudah di anak tirikan oleh ibu mertuanya itu, karena beliau merasa bahwa ia sudah merebut anak sulungnya darinya. Azam memang mempunyai tiga saudara, tapi hanya ia yang terlahir sebagai laki-laki dan menjadi tulang punggung ibunya selama beberapa tahun terakhir setelah kepergian sang Ayah. Setelah kepergian suaminya itulah Bu Ningsih selaku ibu kandung dari Azam semakin menunjukkan dan semakin kentara bahwa beliau tidak suka dengan dirinya. Entah apa alasan pastinya Tias tak begitu paham. Yang ia tahu, ibunya overprotective pada anak sulungnya karena merasa takut beliau di nomor duakan. Padahal kenyataan yang terjadi adalah selalu Tias yang di nomor duakan oleh Azam.
Dengan ditemani rengekan Hanifa yang terdengar beberapa kali dan berhenti dengan sendirinya, Tias berusaha semaksimal mungkin untuk cepat menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Bangun sebelum subuh nyatanya tak juga membuat pekerjaannya lebih cepat selesai.
"Tias!" Sebuah teriakan yang nyaris setiap hari ia dengar membuat wanita 35 tahun itu dengan sengaja tak menyahut teriakannya.
"Yas, ada gula nggak? Ibu minta dulu setengah kilo, ya. Sama sekalian ada bumbu dapur Ibu yang habis. Minta sedikit." Sekali lagi Bu Ningsih tidak mencari terlebih dahulu keberadaan menantunya itu di mana. Beliau langsung menuju dapur dan berteriak meminta sesuatu.
Momen seperti itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali dalam pernikahan Tias selama sembilan tahun ini, tapi sudah ratusan kali bahkan mungkin tidak terhitung lagi. Ia diam saja tidak menyahuti Ibu mertuanya bukan berarti mencoba untuk bersikap kurang ajar terhadapnya, tapi rasanya ia sudah lelah jika harus terus merespon ibunya yang sudah ia ketahui maksud dari kedatangannya ke rumahnya.
'Untuk apa izin minta ini itu jika mengambil sesuatu tanpa persetujuan dari pemiliknya. Kalaupun aku tidak memberikan izin, Ibu juga tetap akan mengambilnya, kan? Bahkan sebelum mengambilnya, Ibu masih sempat mencaci maki aku. Entah bagaimana aku memanggil wanita yang melahirkan suamiku itu. Dari semua sifat yang ada, sama sekali tidak ada baiknya.'
Tias menggerutu dalam hati seraya menjemur pakaian yang belum selesai ia jemur karena terhalang oleh rengekan Hanifa. Di saat dirinya selesai dan berbalik ke dalam rumah, ia dikejutkan dengan sosok Bu Ningsih yang berada di tengah pintu dengan membawa gula beserta bumbu dapur yang hanya direspon oleh hembusan napas kasar.
"Tias, kamu ngapain aja sih kerjaannya? Beresin rumah lah. Berantakan sekali ini, masih pagi udah berantakan nggak karuan," ujar Bu Ningsih seolah kesal.
"Tadi sudah aku beresin, Bu. Yang namanya punya anak kecil, ya, begitu. Ibu, kan, juga pernah ngurus anak kecil."
"Jawab aja kalau di kasih tahu. Makanya, bangunnya jangan siang-siang. Lagian punya anak banyak-banyak. Kayak orang kaya yang bisa bayar baby sitter aja," gerutu Bu Ningsih berlalu dari sana.
Anda Mungkin Juga Suka





