
Nafkah Sulit Selingkuh Elit
Bab 3
Pekerjaan rumah tangga memang dianggap sebelah mata oleh kebanyakan kaum para laki-laki. Mereka selalu menganggap enteng pekerjaan ibu rumah tangga yang justru sebenarnya pekerjaan mereka tidak pernah ada habisnya. Pekerjaan bahkan sudah menanti dari mereka bangun pagi hingga ketemu pagi lagi. Ibu rumah tangga tidak boleh sakit, tidak boleh libur, apalagi cuti. Jangankan melakukan itu semua, untuk mengeluh saja rasanya bagi para suami tidak pantas. Mungkin memang tidak semua laki-laki seperti itu, tapi kebanyakan dari mereka banyak yang tidak menghargai istrinya sebagai ibu rumah tangga. Azam adalah salah satu contoh laki-laki itu.
"Kamu dari pagi ngapain aja sih, Dik? Setiap aku pulang tuh, masih aja ada yang berantakan kalo nggak gitu masih ada yang belum kamu kerjain. Kamu tahu, kan, aku nggak suka sama yang berantakan kayak gini. Kita udah bareng-bareng sembilan tahun. Kenapa kamu nggak berubah-berubah juga?" Sebuah keluhan di sore hari terdengar dari mulut Azam untuk istrinya.
"Mas, anak kita itu ada tiga. Aku ngerjain semuanya sendirian, kamu masih punya dua anak balita. Kalaupun aku beresin mainannya, pasti nanti juga diberantakin lagi. Namanya juga anak-anak. Kamu setiap weekend, kan, juga tahu sendiri bagaimana keadaan rumah. Salwa sama Hanifa aja tidur siangnya nggak barengan. Perkara mainan yang berantakan aja kamu selalu protes."
Azam menolehkan kepalanya ke arah di mana Tias sedang sibuk memasak untuk makan malam. Pria itu heran, kenapa akhir-akhir ini istrinya itu seringkali membantah setiap kali ucapannya. Seringkali memutar keadaan sehingga dirinya yang bersalah. Pria itu menjadi curiga bahwa istrinya itu sedang menyembunyikan simpanan. Biasanya seseorang yang awalnya menjadi sangat penurut dan selalu mengalah dalam setiap momen dan tiba-tiba berubah, itu artinya ia sudah merasa bahwa ia punya backingan ketika ditinggalkan oleh pasangannya. Yah, setidaknya itulah yang ada di pikiran Azam.
"Kamu akhir-akhir ini kok jadi jawab terus apa yang aku ucapin sih, Dik? Kamu punya selingkuhan, punya pacar kamu? Kamu merasa aman kalau sewaktu-waktu kamu ninggalin aku, kamu udah punya cadangan?"
Tias seketika mematikan kompornya yang menyala, membersihkan tangannya dengan air, lalu menyusul suaminya ke ruang tengah dan duduk di sebelahnya. Setelah memastikan bahwa ketiga anaknya sedang bermain di teras, Tias seketika berucap,
"Mas, kamu ini bicaranya ngelantur sekali. Kamu bicara kayak gitu mikir apa enggak? Didengar anak-anak gimana? Abi sudah cukup paham sama omongan orang dewasa, kamu jangan asal bicara seperti itu. Lagian kenapa kamu jadi nuduh aku yang nggak-nggak, sih? Emang waktu aku buat nyari pacar itu kapan kalau aku sibuk sama anak kamu?"
"Ya nyatanya lihat aja sekarang kamu berani sama aku."
"Astaghfirullahaladzim, Mas. Aku berani gimana, sih? Aku, kan, cuman jawab apa yang kamu ucapkan. Aku selama ini diam karena ya aku hargai kamu sebagai suami aku, tapi kamu terus-terusan mengeluhkan hal yang sama. Kamu, kan, juga lihat sendiri gimana keadaan rumah, kamu juga lihat bagaimana kerjaan aku kalau kamu lagi libur kerja, kan? Jadi aku itu nggak mudah Mas, ngurus rumah ngurus tiga anak, ngurus kamu. Belum lagi kalau aku banyak orderan."
"Kok kamu jadi ngeluh? Kok kamu jadi merasa kamu yang paling cape, aku juga cape seharian kerja di luar rumah. Kamu bikin suntuk aja, udah cape-cape dari kerja, rumah berantakan, kamu dikasih tahu ngelawan lagi, bikin mood aku rusak aja."
Anda Mungkin Juga Suka





