
Nafkah dua puluh ribu darisuamiku
Bab 3
"mas kamu kenapa masih mau menampung perempuan udik itu di sini sih? Bukankah dia tidak bisa memberi kamu anak! Seharusnya kamu usir saja wanita kampung itu dari sini," ujar Siska dengan bergelayutan manja di tangan Tio.
Tanpa malu kedua pasangan bukan mahrom itu memamerkan kemesraan di rumah Tio. Padahal tio sadar di sana masih ada zahra istri sahnya
"Jangan di usir kasihan Zahra kita usir mau pergi kemana? Rumahnya jauh dan aku yakin tidak memiliki uang kalau harus pulang kampung," ucap Tio
"Jelas saja tidak punya uang, uangnya yang kamu berikan dia gunakan untuk bersenang-senang dengan lelaki lain memang sih Zahra wanita tidak tahu bersyukur sudah di beri suami seperti kamu kenapa malah main belakang dengan ayus," ujar Tio dengan kesal.
Padahal di dalam hatinya Siska hanya ingin membuat tio marah dan, menceraikannya dia ingin menjadi wanita satu-satunya dan ingin memiliki apa pun yang tiopunya menceraikan dia apa pun yang terjadi," ujar Tio
Siska langsung cemberut dan merasa setelah apa yang di katakan oleh Tio. Dia hanya ingin menjadi satu-satunya kenapa Tio malah tidak mau menceraikan Zahra.
"Sudah jangan marah seperti itu, kita masih sering bersama dan kamu tetap jadi yang pertama untukku," gumamku
"Ada apa ini kalian bertengkar?" tanya buk Anti.
"Ibu tolong, bilangin anak ibu untuk menceraikan wanita tak berguna itu ngapain masih mau menampung Zahra di sini bukan kah lebih baik mas Tio menikahi siska? Bukankah Siska juga bisa memberi ibu cucu yang lucu," ujar Siska merayu buk anti
"Amit-amit sadar neng siska jangan mencoba untuk merusak rumah tangga orang lain," ucap buk Arul yang kebetulan lewat dan mendengar apa yang Siska katakan.
"Apa sih kamu ikut campur ajah urusan orang," tukas Bu Anti dengan judes
"Sabar Bu anti, Zahra lebih baik dari Siska jangan sampai buk anti menyesal karena sudah membuang berlian seperti Zahra hanya sampai memungut sesonggok sampah macam perempuan jalang itu," ujar Bu Arul
"Sudah-sudah buk jangan ikut campur masalah keluarga aku lebih baik Bu Arul pergi dari pada aku buat ibu kenapa-kenapa," seru Tio mengancam Bu Arul
"Dasar keluarga gila," ujar Bu Arul lalu pergi dari tempat itu
Mereka terdiam sesaat kemudian melanjutkan pembicaraan setelah yakin tidak ada tetangga yang mendengar
"Ayulah Bu, kasih tau mas Tio supaya cepat-cepat menceraikan, menantu ibu yang tidak berguna itu Siska gak mau lagi jadi Selingkuhan kalau mas Tio serius mas Tio segera menjelaskan hubungan ini," ujar Siska
Tio mengusap, wajahnya kasar dua wanita yang ada dalam hidupnya selalu membuat masalah. Siska yang selalu rewel dan zahra yang selalu salah dimatanya. Dua hal itu membuat tio semakin pusing.
"Kamu jangan, menyuruh tio menceraikan Zahra. Memangnya kamu mau bersih-bersih rumah ini? Selama masih ada zahra berada di rumah ini saya aman dari pekerjaan rumah dia masih. Berguna untuk jadi pembantu geratis di sini, kalau memang ingin menjadi istri tio mau tidak mau kamu menjadi istri kedua jadi jangan harap mengusir Zahra dan menjadikan pembantu," ujar Bu Arul
Zahra mendengar ucapan ketiga manusia berhati iblis itu diam-diam air mata Zahra meluruh.
"Aku harus membuktikan pada mereka bahwa aku tak seburuk itu mereka hanya manfaatkan kebaikan yang aku miliki," monolog Zahra dalam hati
Kemudian Zahra masuk ke kamarnya dan mencari ponsel yang di sita Tio setelah Zahra menemukannya Zahra mencoba menghubungi teman yang sudah lama tak berkabar.
****
"Benar juga ya lagi aku juga tak mau membersihkan rumah Bisa kasar tanganku yang cantik ini," ujar Siska sembari memandang tangannya yang lentik dan penuh dengan nail art dengan harga yang fantastis
"Makanya jangan usir saja kamu harus bisa manfaatkan manusia yang ada manfaatnya untukmu" ujar Bu Anti
"Ya sudah kalau gitu kamu pulanglah dulu Kalau kamu berada di sini terlalu lama tidak enak para tetangga," gumam Tio
"Tapi ingat ya mas aku mau hubungan kita memiliki kejelasan besok,"ujar Siska.
"Iya nanti malam akan aku pikirkan," ujar Tio
Kemudian, ulat bulu sosialita itu pergi dari rumah Tio. Siska selalu datang sendiri pulang sendiri, Siska mendapatkan banyak lirikan tak sedap dari sekitar rumah Tio
"Waduh sebentar lagi akan ada pelakor di desa sini, hati-hati semua. Suaminya di jaga takutnya kita di berikan nafkah dua puluh ribu Semanggu sekali, eh si pelakor malah di beri uang," ujar bu Arul dengan sangat keras.
Tentu saja Siska sangat paham jika apa yang di katakan Bu Arul bertujuan untuk dirinya, tetapi karena Siska sudah muka tembok. Maka dia tidak perduli dengan ucapan-ucapan seperti itu.
"Biarkan saja Bu kalau memang dia, ingin bersama dengan laki-laki itu tak tahu diri itu biarkan aku bisa menikah dengan Zahra," ujar Bu Arul
"Dasar buta! Seharusnya kamu tertarik dengan saya bukan
malah tertarik dengan wanita udik itu apa sih hebatnya dia," kata Siska sewot
Siska merasa, tersaingi karena Zahra mendapatkan Arul dan tio yang sukses sedangkan Siska. Harus merelakan hal paling berharga dalam dirinya untuk bisa mendapatkan tio.
"Yang buta itu laki-laki yang sudah memilih kamu jadi istrinya, kalau laki-laki yang memilih Zahra bukan buta tetapi sangat sadar dan beruntung sekali sayangnya tio malah lebih memilih bongkahan Batu kali macam kamu," ujar Bu Arul
Semua ibu-ibu itu tertawa terbahak-bahak mereka semua membenci dan jajarannya.
Tak ada wanita yang memiliki suami Suka ketika melihat wanita yang mencoba untuk merusak rumah tangga orang lain apa lagi jika rumah tangga itu memiliki pondasi seorang wanita yang sangat baik.
"Lihat saja kalau saya sudah sampai di sini Saya akan membuat Kalian menderita,"ujar Siska Kemudian meninggalkan kerumunan ibu-ibu itu.
"Silahkan saja kamu berani menyentuh salah satu dari kami, maka kami akan membuat kamu. Merasakan sakit yang belum kamu rasakan," ancam bu Setya. Membela ibu-ibu itu.
Akhirnya Siska pun, pergi begitu saja tanpa merasa malu dirinya telah mengompori Tio. Untuk menceraikan Zahra wanita udik itu.
Aku, tidak suka dengan Zahra wanita udik yang tidak memakai baju. Seksi dan hanya memakai baju tertutup, baju apa itu dan tidak memakai meuk up lagi dasar udik. Zahra di mataku tidak ada cantik cantiknya.
Kenapa juga Ayus dan Tio mau dengan Zahra wanita udik itu. Aku sungguh tidak suka melihat semua, orang selalu membelanya.
Apa sih hebatnya Zahra wanita kampungan, jelek udik, dan serba pakaian yang sangat tertutup.
Aku harus tetap mengompori Tio agar Tio menceraikan Zahra, karena aku ingin mengambil harta.
Zahra itu tidak cantik tapi mengapa dia bisa mendapatkan tio.
Aku akan menikah dengan tio, dan setelah itu menceraikannya. Habis itu aku ambil hartanya.
Anda Mungkin Juga Suka





