Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nafkah Batin Yang Tak Tertunaikan

Nafkah Batin Yang Tak Tertunaikan

Bagi Soraya, pernikahan merupakan ikatan suci yang seharusnya hanya terjadi sekali seumur hidupnya. Namun, fondasi rumah tangganya kini mulai goyah akibat adanya misteri besar yang disembunyikan oleh sang suami. Kejujuran di antara mereka pun dipertanyakan saat satu per satu keanehan muncul. Rahasia gelap apakah yang sebenarnya disimpan rapat oleh Kang Yana dari istrinya? Sanggupkah komitmen Soraya bertahan di tengah badai ketidakpastian ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Tak kudapati Kang Yana di sofa ruang tamu. Kemana kamu Kang? apa kembali ke tempat persembunyian? Dimana kamu menyembunyikan wanita itu?? Aku menerka-nerka.

Kulempar bolu susu dan umbi diatas meja. maaf Kang, Aku nggak bisa menghormati laki-laki sepertimu .

"Kenapa makanannya dilempar? apa kamu tidak suka?" Suara Kang Yana yang tiba-tiba berdiri dibelakangku begitu mengagetkan. Entah darimana datangnya sosok pria berbadan tinggi itu. Sorot matanya seperti ingin memarahiku, tapi tertahan.

Aku hanya menggeleng menjawabnya.

Marahi saja aku Kang!!

Ingin sekali ku remas mukanya yang pura-pura polos itu.

Aku yang berniat belajar mencintai, Kini dengan serta merta Kang Yana mengahancurkan harapan itu.

Kutarik nafas sedalam mungkin. Dan menghembuskannya perlahan. Kusodorkan foto yang ditemukan tadi.

"Foto siapa ini Kang?"

Kang Yana tak menghiraukanku. Dia Malah asyik dengan ponsel digenggamannya.

"Foto siapa ini?" Kuulang lagi pertanyaan dengan nada menekan.

Mendengar penuturanku, Kang Yana melirik dan mengambil foto itu dari tanganku dengan santai. Aku yakin Kang Yana mengenal wanita itu, meski tertutup niqab.

"Tidak tahu Neng, memangnya foto siapa itu?" Kang Yana mengembalikan foto itu padaku. Lantas, dia duduk dan membuka kotak bolu susu yang kulempar tadi.

Hebat sekali kamu Kang, membalikkan pertanyaan itu padaku.

"Sini duduk! biar Aa suapin." Kang Yana mengalihkan pembicaraan.

Makin kesal aku dibuatnya. Seharusnya langsung kupentung saja kepalanya biar tahu rasa.

"Yakin, tidak mengenal wanita dalam foto ini?" Interogasiku belum selesai. Berharap Kang Yana mau mengakui keberadaan wanita itu.

"Kalau ini?" Kutunjukkan niqab tepat lima sentimeter dari hidung mancungnya.

"Kenapa sih Neng, nanya yang aneh-aneh gini? Ada-ada aja ah." Dia masih terlihat santai. Bahkan dia malah menarik tanganku hingga tubuhku menimpa tubuhnya. Kini aku berada dipelukan Kang Yana. Erat begitu erat pelukannya.

Mata kami beradu. Kurasakan nafasnya kian memburu. Begitupun yang kurasakan. Seandainya tidak ada foto dan niqab, tidak ada kamar tersembunyi. Aku ingin membalas pelukannya dan takkan kulepaskan.

Ku merasakan nafasnya kembang kempis, dia menarik wajahku hingga bibirku terpaut dengan bibirnya.

Namun, aku tak ingin lagi berdiam tanpa jawaban. Segera kutarik tubuhku dari pelukannya, hingga nyaris terjatuh.

"Jawab jujur A! Neng Mohon jawab sejujur-jujurnya siapa wanita itu? Apakah dia istri pertama, atau istri keduamu?" Aku berusaha berbicara pelan. Namun Kang Yana tetap bergeming.

"Jawab!!! Aku menemukan kedua benda ini didalam mobilmu." Akhirnya aku berteriak dihadapan Kang Yana.

Namun, lagi-lagi bukan jawaban yang kudapat. Kang Yana malah menghamburkan bolu susunya kelantai.

"Jangan berlebihan! Aa gak suka kamu tidak sopan sama suami! Asal Neng tau Aa tidak pernah kenal wanita itu!" Wajah teduh itu kini berubah seperti singa yang ingin menerkamku. Matanya melotot tepat didepan wajahku.

"Berarti benar Aa memiliki istri lebih dari satu, dua atau tiga?" Teriakku sambil menahan air yang mulai menerobos kelopak mata.

Tangan kananya melayang keudara, dan berehenti tepat di samping pipiku.

"Pukul aku! Pukul!" Teriakku.

"Jangan mencoba membangunkan macan yang sedang tidur." Kang Yana mengakhiri kalimatnya. Tangannya mengepal dan berlalu meninggalkanku.

Ah, berarti semua dugaanku benar, kalau tidak, kenapa Kang Yana menghindar dari pertanyaan-pertanyaanku? Kenapa dia harus marah?

Aku semakin geram saat netraku menangkap Kang Yana memasuki kamar ketiga sambil membantingkan pintu.

Allah, Apa aku salah bertanya dan ingin meminta penjelasan? lalu kepada siapa aku harus bertanya selain pada Kang Yana? Jelas-jelas semua bukti ada. Masih saja mengelak.

***

Hingga pukul tiga pagi, mataku masih terjaga, Kang Yana pun masih berada dikamar ketiga. Sungguh keterlaluan, tak terlihat rasa bersalahnya sedikitpun. Aku yang harus menghampiri? Ogah, tak ada dalam kamusku orang yang tak bersalah meminta maaf pada orang yang bersalah.

Dan malam ini, nggak perlu kutunaikan kewajibanku padanyanya. Sudah terlanjur jijik, ketika mengingat suara desahan itu. Akupun akan terpaksa jika harus melakukannya dengan Kang Yana.

"Pelan, pelan dong, nanti sakit!" Suara itu kini terdengar jelas di ponselku. Ya, suara berasal dari kamar tersembunyi. Akhirnya alat penyadap itu berfungsi.

Tapi, kali ini aku malas harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri seperti dimimpi tadi. Aku tak sanggup jika nanti hatiku benar benar hancur menyaksikan adegan hot dua sejoli itu. Kali ini cukup tahu saja, tahu bagaimana kelakuan asli Kang Yana dibelakangku. Sementara akan kusimpan semua rekaman ini sebagai bukti.

Tak tahan berlama-lama didalam rumah penuh rahasia ini, aku segera membereskan pakaian kedalam tas. Tak perlu membawa banyak. Cukup untuk ganti beberapa hari, sebelum menemukan alasan untuk pulang kerumah ibu dan bapak. Aku tak mau mereka terbebani lagi dengan masalahku. Baru saja mereka meredamnya. Masalah emak-emak yang selalu berceloteh tentangku. Aku tak mau mengembalikan beban itu pada mereka.

Selesai memasukkan pakaian, aku bergegas berjalan keluar kamar. Tiba-tiba diambang pintu, aku berpapasan dengan Kang Yana.

"Neng?"

Aku tak menjawabnya. Langkahku tetap mengayun melewatinya yang berdiri didepanku.

"Mau kemana?" Dia menarik tangan kiriku.

"Lepaskan!"

"Tidak!"

"Lepas!" Teriakku lagi.

"Jawab mau kemana?" Teriaknya menarikku. Lagi-lagi tubuhku sangat dekat dengannya.

"Apa pedulimu?" Sekuat tenaga kulepaskan cengkeraman tangannya dan berjalan cepat keluar rumah.

Neng, tunggu! Aa bisa jelasin Neng, maaf semalam Aa khilaf." Kang Yana membuntutiku.

"Tidak, biarkan aku pergi kalau Akang masih tidak mau mengaku." Aku terus berjalan lebih cepat dan ingin berlari.

"Kalau Akang masih tidak mau mengaku, biarkan aku pergi." Aku terus berjalan lebih cepat dan sedikit berlari.

Mengabaikannya yang sedang berusaha menarik tanganku, adalah cara terbaik menghindar dari semua emosi yang mulai membara. Aku segera masuk kedalam taksi online yang sudah dipesan satu jam yang lalu.

"Jalan Mang!" Kuluruskan pandangan kearah sopir, tanpa menghiraukan Kang Yana yang menggedor-gedor jendela mobil.

"Oke Teh."

Kusandarkan tubuhku pada jok mobil. Rahasia Kang Yana sudah terkuak, tapi pertanyaan tentang siapa wanita-wanita itu masih terngiang dikepalaku.

Dua puluh menit sampai di rumah Shena sahabatku.

"Kamu baik-baik saja?" Tanya Shena yang sudah menunggu didepan rumah.

Aku menjawabnya dengan senyum. Meski kutahu Shena pasti faham apa yang kurasakan saat ini. Shenalah sahabat yang selalu mendukungku dalam keadaan apapun. Jadi aku memilih untuk menginap dirumahnya untuk sementara waktu.

"Masuk yuk!" Shena menggandengku.

"Duduk dulu, tenangkan dirimu!" Shena memberiku segelas teh hangat.

"Kamu yakin suamimu punya wanita lain Sor?"

Ku mengangguk penuh keyakinan, sambil menyeruput teh bikinannya.

"Kamu melihatnya?" Tanyanya lagi, menatapku seperti khawatir.

Aku menggeleng. "Tapi aku punya bukti yang kuat. Ini bukti yang kutemukan di dalam Mobil Kang Yana." Ku jemberengkan niqab merah yang masih sedikit tercium wangi parfum wanita. Lalu, kusodorkan foto wanita bercadar itu pada Shena. Shena ikut mengamati.

"Dan...ini hasil rekaman dari alat penyadap yang kusimpan dikamar rahasia itu Shen."

Segera kubuka ponsel dan memutar suara desahan-desahan itu. Agak risih memutarnya didepan Shena, karena Shena belum menikah. segera kumatikan rekaman itu sebelum Shena mendengarnya lebih lama.

"Sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan bukti-bukti ini?" Tanyanya lagi.

Kutarik nafas perlahan, ku hembuskan dengan kasar. "Mungkin...aku akan menggugat cerai Kang Yana."

" Kamu yakin?" Shena memegang kedua tanganku. Ada rasa iba yang terlihat dari sorot matanya. Mungkin dia juga merasa kasihan padaku. Melihat nasibku yang begitu menyedihkan.

"Aku yakin. Tak masalah jika aku harus jomblo seumur hidup, daripada aku tersiksa batin harus membagi rasa cinta...Ah, maksdku berbagi suami."

"Kamu mulai mencintainya?"

Aku pun menyandarkan kepalaku pada bahunya. Sekali lagi, wanita mana yang tak mencintai suaminya sendiri apalagi lelaki itu adalah lelaki tampan, mapan dan impian semua wanita. Hanya saja, Ah, aku harus cepat-cepat melupakan rasa yang mulai tumbuh ini.

"Tidak Shena, aku tidak mencintainya. Aku cuman nghak mau mengecewakan ibu dan bapak shen."

" Justru kalau kamu menggugat cerai, pasti ibu dan bapak sakit hati Sora!"

Perkataan Shena ada benarnya. Tapi bukannya orang tua lebih sakit hati, jika melihat anaknya menderita tersakiti oleh orang lain?

"Yaudah kamu istirahat dulu. Biar besok kita pikirkan jalan keluarnnya bagaimana. Dua hari ini kebelakang, sepertinya kamu selalu begadang, aku kira kamu begadang melayani suamimu.."

Hahahh..Shena malah menertawaiku.

" Gak lucu.!" Ku manyunkan mulutku pada Shaila.

"Lagian nikah ko buru-buru, udah sih lah bairin. Memang cowok cuman dia aja yang tampan?"

"Tapi akunya yang udahh terlalu tua oneng.." Kulemparkan bantal kecil pada Shena. Rasanya sedikit terhibur berada deidekat Shena.

***

Sudah pukul delapan pagi, aku berusaha memejamkan mata, dari setelah salat subuh. Tapi tetap saja suara-suara desahan itu menggelitik telingaku. Membuat pikiranku selalu travelling jauh.

Tiba-tiba ponsel yang masih kugenggam bergetar agak lama.

Kukerutkan kening. Nomor yang tak dikenal. Ini kali kedua ada nomor asing menerorku.

"Ah, siap sih?" Kusentuh gambar telepon berwarna hijau mencoba menerima panggilan itu.

"Assalamualaikum, punten ieu leres sareng istrina Ustadz Yana?" Suara seorang laki-laki dengan nafas tersenggal-senggal.

"Iya betul." Aku menjawab singkat.

"Apa?" Aku terkaget mendengar penuturan dari telepon, bahwa Kang Yana mengalami kecelakaan di jalan Eor dan masuk jurang.

Tuhan, ujian apalagi yang kau trehkan dalam skenario kehidupanku? Meski aku benci sama Kang Yana tapi bagaimanapun dia telah menjadi suamiku, aku harus pergi melihat keadaan Kang Yana.

Aku tak ingin merepotkan Shena lagi. Dia masih tertidur pulas. Aku tak mungkin membangunkannya.

Kuputuskan untuk pergi sendiri. Secepat kilat ku pesan taksi Budiman yang sudah menjadi langganan.

Setelah Sepuluh menit menunggu, taksi pun datang. segera aku masuk dan duduk di jok penumpang. Dengan kecepatan tinggi taksi neluncur membawaku menuju Rumah Sakit tempat Kang Yana dilarikan.

Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya sampai. Rumah Sakit Dewi Husada, terpampang jelas didepan bangunan.

"Kang Yana" Gumamku. Entah rasa sedih atau kasihan yang saat ini bergemuruh dalam dada. Kubuang nafas kasar, lalu turun dari mobil. Bergegas aku masuk dan mengahampiri meja Front Office.

Langkahku mengayun setengah berlari, setelah mendapatkan nomor kamar Kang Yana. Kakiku bergetar ketika melihat dua orang polisi sedang berada didepan kamar.

"Mohon maaf bu, apa ibu keluarganya? Tanya polisi itu.

"I-iyapak saya istrinya." Nafasku tersenggal-senggal.

"Ini barang-barang yang dapat kami selamatkan. Kami akan segera menyelidiki penyebab kecelakaan tunggal yang menimpa Pak Yana. Sementara kewajiban kami menyampaikan pada keluarga sudah selesai."

"Jika penyelidikkan sudah selesai, tolong hubungi saya secepatnya ya pak. ."

"Baik bu, itu sudah merupakan kewajiban kami." Kedua polisi itu berlalu dari rumah sakit.

Sungguh tak percaya apa yang terjadi. Kang yana terkulai lemah diruang rawat inap. Apa aku terlalu jahat mencurigainya memiliki wanita selain aku. Ah, entahlah bukan saatnya memikirkan hal itu.

Kuhampiri Kang Yana. Kutatap wajahnya yang masih terlihat tampan, tapi kepalanya sudah dibaluti perban. Ingin sekali kupegang tangannya dan mengecup keningnya. Tapi, semua itu hanyalah keinginan hati yang mencinta. Ada rasa benci yang lebih besar dari itu. Hingga hatiku merasa puas melihat Kang Yana terkulai lemah.

"Hmmh...Kemana istri-istri rahasiamu Kang?"

"Ini balasan setimpal untuk orang yang berani membohongiku." Puas, aku puas tertawa dalam hati. Allah, apa aku termasuk orang jahat menertawakan suami sendiri?..

Kudengar suara pintu terbuka. Seorang dokter didampingi dua orang suster menghampiriku.

"Pasien sudah melalui kritisnya. Namun, ada benturan dikepala sehingga mengakibatkan pembekuan darah sebelah kiri sehingga harus dilakukan tindakan operasi." Tutur dokter itu dengan jelas.

"Lakukan yang terbaik dok!"

"Baik kalau begitu, nanti saya buatkan surat persetujuan operasinya. Ibu bisa langsung keruangan saya." Setelah selesai menjelaskan, dokter itu meninggalkan kamar. Namun salah satu suster masih berdiam dan menghampiriku.

"Oia bu, untuk satu pasien lagi, apakah ibu juga penanggng jawabnya?" Tanya suster itu.

"Satu pasien?"Tanya hatiku.

" Emm berapa orang sus korban kecelakaannya tadi?"

"Setahu saya dua bu tadi yang dilarikan kesini."

"Oke, antar saya melihat pasiennya sus"

"Baik bu mari!"

Siapa pasien satunya lagi?

Perasaan tak enak tiba-tiba menjalar dalam tubuhku. Benar saja pasien itu adalah seorang wanita dengan pakaian lebar dengan warna merah yang sama seperti niqab itu.

Aku berjalan di belakang suster. Kupejamkan mata tak ingin melihat siapa pasien itu.

"Bu,"

"Oh,, emm, iya." Kuusap wajahku yang tak berkeringat. Aku harus menerima kenyataan kalau Kang Yana sedang bersama wanita ini ketika mengalami kecelakaan.

Kidekati pasien wanita yang terbaring itu. Saat ku mendekat dan mengamati pasien itu. Sepertinya wajah itu tak asing dimataku.

"Suci?" Gumamku.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat
8.3
Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya setelah sebuah insiden fatal merenggut kesucian gadis itu. Tiga tahun berlalu tanpa cinta, Rio justru memilih menikahi mantan kekasihnya, Clara. Ia membenci Sintia yang dianggapnya licik karena memanfaatkan hartanya demi biaya medis sang ibu. Rio bahkan menolak mengakui Dika sebagai putra kandungnya. Namun, dinamika rumah tangga mereka mulai bergejolak saat istri keduanya datang membawa sebuah perjanjian rahasia yang tak terduga.
Sampul Novel Hanya Menjadi Wanita Pengganti
9.8
Demi menjaga martabat keluarga setelah Naila kabur di hari pernikahan, Diandra Sahanaya alias Naya nekat menggantikan posisi adiknya untuk dinikahi Zayn. Meski Zayn menegaskan hanya mencintai Naila, Naya tetap berjuang memikat hati pria yang selama ini dipujanya itu. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh di hati Zayn, alasan tersembunyi di balik kepergian Naila terungkap. Akankah Zayn berpaling kembali pada Naila atau memilih mempertahankan Naya?
Sampul Novel Hasrat Agak Laen
9.7
Temukan narasi romansa modern yang unik dalam novel ini. Karya ini menyajikan perpaduan menarik antara realitas dan fiksi, di mana lebih dari separuh alurnya diangkat dari kisah nyata. Meski beberapa bagian dimodifikasi dan ditambah unsur imajinatif sebagai variasi, esensi ceritanya tetap terasa autentik. Persiapkan diri Anda untuk rangkaian peristiwa yang mungkin sulit dipercaya namun benar-benar bisa terjadi. Segera buktikan sendiri keunikan kisahnya sekarang juga.
Sampul Novel Kembalinya Istriku
8.0
Akibat krisis ekonomi dan musibah suami, Maharani terpaksa menjadi tulang punggung keluarga sebagai TKW di luar negeri. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan keji oleh Rudi yang menipunya. Penderitaan Rani kian memuncak saat putra tunggalnya meninggal dunia akibat kelalaian keluarga suaminya. Kini, didorong rasa sakit hati yang mendalam, Rani menyusun rencana besar untuk membalas dendam kepada mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel MINE
8.9
MINE
Hidup Ana berubah drastis setelah berselisih dengan pengusaha dingin yang menjadi pembicara di kampusnya. Meski kesal, Ana terpaksa terus berurusan dengan pria menyebalkan itu. Tanpa disadari, sosok tersebut adalah pria yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Perubahan sifat sang pria membuat Ana bimbang antara benci dan puja. Di tengah perasaan yang berkecamuk, hubungan mereka justru dihantam berbagai teror berbahaya. Mampukah mereka bertahan menghadapi ujian?
Sampul Novel Pacar Kedua dan Istri Rahasia
8.5
Pasca insiden maut, Rafka menyembunyikan Adiva di London tanpa sepengetahuan siapa pun. Meski menyadari hati istrinya milik pria lain, Rafka tetap setia melindungi. Namun, Adiva justru merencanakan pelarian demi membalas dendam pada masa lalunya. Ia menjebak saudara kembarnya, Agatha, untuk bertukar posisi agar bisa mengecoh pengawal Rafka. Saat Agatha terjebak di London, Adiva mencuri identitas saudarinya untuk kembali menemui sang ayah dan memulai aksi balas dendam.