Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MyEnemy MyHusband

MyEnemy MyHusband

Anna dan Rasya telah terjebak dalam perseteruan sengit sejak masa SMA akibat sebuah insiden masa lalu. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali saat duduk di bangku kuliah. Di tengah dinamika pertemuan tersebut, sebuah kejutan besar menanti. Kedua orang tua mereka tiba-tiba mengumumkan rencana perjodohan yang menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Kini, dua musuh bebuyutan ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa lawan mereka akan menjadi pasangan hidup.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3: Ancaman dan Kegelisahan

Anna duduk di bangku taman sekolah, menatap kosong ke depan. Suara riuh teman-teman yang bercanda dan bersenda gurau di sekitar kantin terasa begitu jauh. Pikirannya terganggu oleh perasaan cemas yang mendalam, yang semakin mengganggu sejak pagi tadi. Sebuah amplop hitam tergeletak di atas meja, dan di dalamnya, sebuah surat yang membuat perasaan Anna terhimpit.

Ia membuka amplop itu dengan tangan gemetar, menarik surat yang terlipat rapi di dalamnya. Di balik surat itu, sebuah foto terjatuh. Foto itu memperlihatkan dirinya-Anna-di depan sekolah dengan tatapan serius, mengenakan jaket hitam yang biasa ia pakai. Itu bukan foto biasa. Itu foto yang diambil diam-diam, dalam keadaan yang tidak pernah ia sadari. Namun, itu bukan yang membuat Anna terperangah. Yang lebih menakutkan adalah isi surat tersebut.

_"Aku tahu siapa kamu sebenarnya, Anna. Jangan coba-coba sembunyikan lagi identitasmu. Aku akan membuat semua orang tahu. Tunggu saatnya."_

Hatinya berdetak cepat, napasnya tercekat. Rasya. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya selain dia. Rasya yang terus mengganggu, yang mulai mencari tahu siapa dirinya, yang sudah tahu rahasianya. Anna merasa cemas, namun di sisi lain, kemarahan mulai tumbuh.

Anna melipat surat itu kembali, memasukkannya ke dalam amplop, dan menyimpannya dalam tas. Dia tidak ingin membiarkan siapa pun tahu bahwa ia sedang terguncang. Namun, rasa khawatir yang menggelayuti hatinya membuatnya sulit berkonsentrasi. Seharian di sekolah, pikirannya teralihkan oleh ancaman yang baru saja ia terima. Rasya sudah memulai langkahnya untuk mengungkapkannya. Ia tidak akan berhenti sampai semua orang tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Ketika bel tanda waktu istirahat berbunyi, Anna berdiri dari bangkunya, berjalan menuju lorong sekolah. Namun, saat ia melangkah menuju kelas, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh lengannya.

"Anna!" Suara Indah memanggilnya dengan lembut.

Anna menoleh, memaksakan senyum tipis. "Oh, hai, Indah."

Indah menatapnya dengan cermat. "Kamu kenapa? Tadi kamu kelihatan gak enak di kelas."

Anna menghindari tatapan Indah, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Gak apa-apa kok, cuma capek sedikit."

"Tapi kamu gak seperti biasanya," ujar Indah, ragu. "Kamu nggak tertarik ikut ngobrol sama Fira dan aku? Biasanya kan kita sering bareng."

Anna hanya mengangguk. "Mungkin nanti, ya. Aku ada banyak tugas."

Indah menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran, tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu Anna bukan tipe orang yang mudah menunjukkan kelemahan. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa pada sikapnya kali ini. Sesuatu yang membuat Indah merasa cemas.

---

Sejak hari itu, Anna merasa seperti ada bayangan gelap yang terus mengikutinya. Setiap kali ia melangkah, setiap kali ia berbicara, ia merasa seperti ada mata yang mengamatinya. Rasya telah mencium bau rahasianya, dan kini ia merasa seperti berada di ujung jurang, terjebak antara ancaman dan ketakutan.

Pulang sekolah, Anna langsung menuju kafe tempat ia biasa menghabiskan waktu setelah hari yang panjang. Kafe itu milik Tobi, yang sudah seperti teman baik baginya. Tobi yang dewasa, bijaksana, selalu memberinya nasihat yang menenangkan. Itu adalah tempat di mana Anna bisa melepaskan semua kekhawatirannya tanpa merasa harus menjaga citra.

Begitu tiba, Anna melangkah masuk dengan cepat, menyapa Tobi yang tengah sibuk meracik minuman di balik bar.

"Anna," sapa Tobi dengan senyum khasnya. "Lo kelihatan capek banget."

Anna hanya mengangguk, duduk di kursi bar dengan tangan terlipat di atas meja. "Punya waktu sebentar?"

Tobi menatapnya, membaca raut wajahnya yang cemas. "Tentu, lo kelihatan ada yang gak beres. Mau cerita?"

Anna menunduk, mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara. "Rasya mulai tahu sesuatu tentang aku, Tobi. Tentang siapa aku sebenarnya."

Tobi berhenti sejenak, menatap Anna dengan serius. "Lo yakin? Rasya itu gak bisa dianggap remeh. Lo gak bisa cuma diam aja."

"Aku gak tahu harus ngapain," jawab Anna dengan nada frustrasi. "Aku sudah berusaha menjaga semuanya tetap tersembunyi, tapi dia... dia menemukan sesuatu. Foto, surat, dan-" Anna menggigit bibir bawahnya, "-ancaman."

Tobi menghela napas, merapikan beberapa peralatan. "Lo harus siap dengan konsekuensinya. Gak ada yang bisa sembunyiin selamanya. Tapi yang penting, jangan biarkan rasa takut itu menguasai lo. Lo harus kendaliin situasi ini."

Anna menatap Tobi, sedikit lega dengan kata-katanya, namun kekhawatirannya tidak kunjung hilang. "Aku cuma... nggak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya."

"Lo ambil langkah duluan," Tobi menjawab, sambil menyodorkan secangkir kopi. "Buat dia tahu, siapa yang sebenarnya punya kekuatan di sini."

Anna memandangi kopi itu, berusaha mencerna nasihat Tobi. Mungkin itu benar. Mungkin sudah waktunya ia berhenti bersembunyi. Rasya tidak akan berhenti mencari tahu, dan mungkin, inilah waktunya untuk mengungkapkan siapa dirinya. Namun, perasaan itu tetap ada-kegelisahan yang tidak mudah diabaikan.

---

Esok harinya, Anna merasa lebih tertekan dari sebelumnya. Setiap langkah di sekolah terasa lebih berat. Rasya tidak mengganggunya secara langsung, tetapi Anna tahu betul bahwa dia mengawasinya. Di kantin, saat Anna sedang duduk bersama Indah dan Fira, matanya bisa merasakan tatapan Rasya yang menusuk dari kejauhan.

"Lo kelihatan gak enak, Anna," kata Fira dengan nada khawatir. "Kenapa? Apa ada yang terjadi?"

Anna memaksakan senyum, mencoba menenangkan teman-temannya. "Gak ada apa-apa kok. Mungkin cuma stres aja."

Namun, Indah tidak percaya begitu saja. "Kamu gak bohong, kan?" tanya Indah pelan, hampir tidak terdengar. "Lo pasti ada yang lo sembunyikan. Lo gak biasa kayak gini."

Anna menarik napas dalam-dalam, menatap mereka satu per satu. "Aku... aku cuma butuh waktu buat diri aku sendiri," jawabnya, matanya menghindar dari pandangan Indah dan Fira. "Semua akan baik-baik aja."

Fira tidak yakin, tapi dia memilih untuk diam. Indah masih merasa ada yang tidak beres, namun dia tahu bahwa Anna akan membuka diri jika dia benar-benar siap.

Namun, di dalam hati Anna, rasa cemas terus membayangi. Rasya semakin dekat dengan rahasianya. Anna tahu bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Dalam beberapa hari ke depan, rasanya waktu akan menentukan apa yang harus ia lakukan.

Dan mungkin, waktunya sudah dekat. Rasya tidak akan berhenti sampai ia tahu siapa sebenarnya Anna. Dan saat itu tiba, Anna harus siap menghadapi semuanya.

---

Hari itu berakhir dengan ketegangan yang semakin terasa. Ketika bel sekolah berbunyi, Anna mengumpulkan barang-barangnya dengan cepat. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, sebuah suara memanggilnya dari belakang.

"Anna."

Suara itu rasanya seperti dentuman keras dalam hati Anna. Rasya berdiri di ujung lorong, menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi marah atau kesal, justru ada senyum tipis yang mengancam.

"Jangan kemana-mana dulu," katanya dengan tenang. "Aku ingin bicara."

Anna membeku. Semua perasaan yang ia coba sembunyikan, semua ketakutannya, kembali muncul dengan lebih kuat dari sebelumnya. Tapi kali ini, ia tahu bahwa lari bukanlah pilihan.

"Lo mau ngomong apa?" Tanya Anna, suaranya terasa lebih rendah dari biasanya, tapi hatinya berdebar keras.

"Jangan khawatir," jawab Rasya, "Waktunya akan datang."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dipaksa Memberi Keturunan
8.1
Demi melunasi utang pengobatan ayahnya, Risa terpaksa menikahi Dhimas. Namun, suaminya itu menyimpan rahasia kelam dengan kepribadian ganda yang drastis di luar pengawasan ibunya. Risa pun terkejut saat mengetahui adanya wanita lain dalam hidup Dhimas. Di tengah tekanan mertua yang menuntutnya segera memberikan keturunan, Risa terjebak dalam pusaran konflik dan misteri. Mampukah ia bertahan dan mencari kebahagiaan di tengah pengkhianatan serta tuntutan keluarga ini?
Sampul Novel Cinta sang tuan muda
7.9
Kehidupan Joan berubah drastis saat ia menemukan sesosok bayi perempuan di depan pintu rumahnya pada suatu pagi. Bayi malang itu hanya berselimut kain tipis di dalam kardus, ditemani sepucuk surat permohonan maaf yang misterius. Kejadian tak terduga ini membuat Joan dirundung dilema besar. Haruskah ia membesarkan anak tersebut dengan tangannya sendiri, atau justru menyerahkannya ke panti asuhan demi masa depan sang bayi yang lebih terjamin?
Sampul Novel Dijodohin
8.0
Dunia ini tidak pernah memberikan apa pun secara cuma-cuma, termasuk dalam urusan hidup. Sayangnya, seorang gadis baru menyadari kenyataan pahit tersebut setelah semuanya terlambat. Ia telah terlanjur menggadaikan masa mudanya demi mengejar kebahagiaan yang bersifat sementara melalui sebuah ikatan perjodohan. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi dari pertukaran besar yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya di usia yang masih sangat belia.
Sampul Novel En-PD168
8.1
Lucas berkhianat dengan sahabatnya, Sarah, tepat di pesta bujang mereka. Saat dikonfrontasi, Lucas justru meremehkan rasa sakit hati tunangannya, sementara Sarah mengejek statusnya sebagai yatim piatu. Muak dengan perilaku kotor itu, sang wanita membuang cincin tunangannya dan pergi. Mereka mengira dia akan kembali memohon, namun mereka salah besar. Tiga hari kemudian, dia datang bersama ayahnya, pemimpin pasukan serigala yang membawa lima puluh ribu prajurit.
Sampul Novel Hayu
9.2
Hayu
Hayu awalnya yakin bahwa kriteria kolot seperti bibit, bebet, dan bobot sudah tidak relevan di era modern. Namun, realita pahit menghantamnya saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Sebagai sekretaris biasa, hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, kini berada di ujung tanduk. Hayu harus melewati serangkaian interogasi kaku dari ibu kekasihnya demi mempertahankan cinta mereka. Akankah perbedaan status sosial ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel I Win You
8.3
Vanilla terus menggoda Nick dengan tindakan provokatif yang memicu ketegangan intens di antara mereka. Meski Nick telah memperingatkan risiko dari permainan berbahaya ini, Vanilla justru semakin berani dalam memancing hasrat pria itu. Di tengah suasana yang semakin panas, Nick berusaha keras mengendalikan diri agar tidak kehilangan kendali. Namun, godaan Vanilla yang nakal dan penuh kemenangan membuat situasi kian tak terduga dalam hubungan dewasa yang penuh gairah ini.