Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MyEnemy MyHusband

MyEnemy MyHusband

Anna dan Rasya telah terjebak dalam perseteruan sengit sejak masa SMA akibat sebuah insiden masa lalu. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali saat duduk di bangku kuliah. Di tengah dinamika pertemuan tersebut, sebuah kejutan besar menanti. Kedua orang tua mereka tiba-tiba mengumumkan rencana perjodohan yang menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Kini, dua musuh bebuyutan ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa lawan mereka akan menjadi pasangan hidup.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab 1: Konflik Dimulai

Hari itu cuaca cukup cerah. Matahari masih menggantung rendah di langit biru, memancarkan sinar yang hangat di lapangan sekolah. Anak-anak berlarian, beberapa kelompok berdiri berbincang, sementara yang lain sibuk dengan aktivitas mereka. Namun, di antara keramaian itu, ada sesuatu yang membuat suasana menjadi lebih tegang.

Anna berjalan di trotoar dekat lapangan, bersama Indah dan Fira. Mereka baru saja keluar dari kelas dan menuju kantin. Anna melangkah dengan tenang, meskipun hatinya terasa sedikit gelisah. Sejak pagi, ia merasa ada sesuatu yang aneh di udara, seolah-olah ada yang akan terjadi. Indah dan Fira berjalan di sampingnya, tertawa dan bercanda, seolah tak ada yang mengganggu.

Tiba-tiba, sebuah suara yang familiar mengusik perhatian mereka. Rasya, anak konglomerat yang selalu punya masalah, berdiri di tengah lapangan dengan beberapa temannya. Mereka sedang mengerumuni seorang siswa baru yang tampak ketakutan. Mata siswa itu yang lelah dan bingung membuat Anna berhenti sejenak. Rasya tengah tertawa, mengejek siswa itu dengan suara keras.

"Hei, apa-apaan kamu?" Rasya menghardik. "Kenapa malah ngumpul sama anak-anak lemah kayak mereka? Jangan-jangan kamu juga takut sama kita, ya?" Rasya tertawa sombong, matanya tajam seperti pisau. Teman-temannya pun ikut tertawa, membuat suasana semakin mencekam.

Anna menatap tajam. Rasya memang selalu begitu-menunjukkan kekuasaan dengan cara mengintimidasi orang lain yang lebih lemah darinya. Bukan pertama kalinya Rasya berbuat begitu, dan Anna sudah muak melihatnya.

"Rasya, hentikan!" Tiba-tiba, suara Fira yang biasanya tenang, terdengar keras. Semua mata menoleh. Anna bisa melihat Fira menggenggam erat tasnya, wajahnya terlihat marah.

Tapi Rasya tidak peduli. "Apa? Kamu mau jadi pahlawan, Fira?" Rasya mendekat, menantang. "Kau pikir bisa menghentikan aku?"

Indah yang berada di sebelah Anna langsung merapat, dan Anna merasakan ketegangan mulai merambat di tubuhnya. Rasya bukan tipe orang yang bisa diajak bicara baik-baik, dan Anna tahu bahwa dia harus turun tangan.

"Jangan ganggu dia," kata Anna, suaranya tenang namun penuh tekad. "Jangan lagi bikin masalah dengan orang yang tak ada urusan denganmu."

Rasya berbalik, menatap Anna dengan pandangan yang penuh kebencian. "Oh, jadi kamu mau ikut campur, ya?" katanya dengan nada meremehkan. "Sama seperti yang lain, kamu juga bakal jadi korban berikutnya."

Tanpa menunggu lama, Rasya melangkah maju dan menatap Anna dengan tajam. "Aku gak suka orang-orang yang sok pahlawan. Aku akan ajarin kamu, Anna." Rasya menantang, hampir bisa mendengar deru nafasnya yang kasar. Tanpa pikir panjang, Rasya melangkah maju dengan tangan terkepal.

Anna tidak mundur. Dia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk menunjukkan siapa dirinya. Tanpa ragu, ia menghadapi Rasya dengan sikap yang tenang, seolah sudah sering berada dalam situasi seperti ini.

"Jangan coba-coba ganggu aku, Rasya," kata Anna dengan suara tegas, menatapnya tanpa takut. "Kamu gak tahu apa yang bisa terjadi kalau aku sudah kesal."

Seperti yang diduga, Rasya tidak menunggu lebih lama. Ia melemparkan pukulan pertama. Anna, yang sudah terbiasa dengan perkelahian, menghindar dengan gesit. Pukulan Rasya hanya mengenai udara. Rasya terhenti sejenak, tampak terkejut karena Anna mampu menghindar dengan mudah.

"Jangan harap kamu bisa menang lawan aku," kata Anna, sambil mempersiapkan diri.

Rasya marah. "Kau berani menantang aku?" Ia kembali menyerang, kali ini lebih cepat dan lebih agresif.

Namun, Anna sudah siap. Gerakan Rasya yang terburu-buru justru membawanya ke dalam jebakan. Dengan sigap, Anna mengelak lagi dan membalas dengan sebuah tendangan ke arah kaki Rasya. Rasya terhuyung mundur, hampir jatuh, tapi berhasil menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

"Jangan kira kamu bisa begitu saja mengalahkan aku," katanya dengan suara serak, matanya penuh amarah.

Anna hanya tersenyum sinis. "Mungkin kalau kamu belajar sedikit soal cara berkelahi, kamu gak bakal malu kayak gini."

Mendengar itu, Rasya semakin kesal. Ia mencoba menyerang lagi dengan pukulan bertubi-tubi. Kali ini, Anna lebih cepat. Dengan gerakan yang lebih lincah, ia memblokir pukulan Rasya dan bahkan berhasil menarik lengan Rasya untuk menjatuhkannya ke tanah. Seluruh lapangan terdiam sejenak, menyaksikan pertarungan yang tak terduga ini.

Rasya terjatuh dengan keras. Suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar desahan nafas Rasya yang ngos-ngosan di atas tanah.

Anna berdiri tegak, tidak menunjukkan rasa puas atau sombong. Ia hanya menatap Rasya yang kini terlihat sangat malu. Semua teman-teman Rasya yang sebelumnya menertawakan korban bullying kini terdiam. Mereka tahu, Rasya baru saja dipermalukan di depan umum oleh seorang gadis yang selama ini mereka anggap remeh.

Anna menatap Rasya yang masih terdiam di tanah. "Cukup, Rasya," katanya, suaranya tenang namun penuh kekuatan. "Kalau kamu masih berpikir bisa terus menerus seperti ini, kamu salah besar."

Rasya akhirnya bangkit dengan wajah merah padam. "Kamu akan menyesal, Anna!" katanya dengan suara yang penuh kebencian, sambil melirik teman-temannya. "Aku akan balas semua ini. Tunggu saja."

Anna hanya mengangkat bahu, seolah tidak terpengaruh dengan ancaman tersebut. "Kau sudah lama tersesat, Rasya," jawabnya. "Dan aku tidak akan biarkanmu merusak hidupku atau teman-temanku."

Dengan itu, Anna berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh Indah dan Fira yang masih ternganga melihat perkelahian itu. Mereka tahu bahwa ini baru permulaan dari masalah yang lebih besar. Rasya tidak akan berhenti begitu saja. Tapi untuk sekarang, mereka harus berfokus pada apa yang bisa mereka lakukan untuk menjaga satu sama lain.

Evan, yang sejak tadi hanya menyaksikan dari jauh, akhirnya menghampiri mereka. "Apa yang baru saja terjadi, Anna?" tanyanya, mengernyitkan dahi.

Anna menghela napas panjang, matanya tetap tajam. "Rasya itu terlalu banyak masalah. Kita cuma harus lebih berhati-hati ke depannya."

"Dia pasti nggak akan diam saja," kata Indah dengan khawatir.

"Dia akan balas dendam," tambah Fira, "Tapi kita bisa hadapi dia, kan?"

Anna hanya mengangguk, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Kita akan siap. Tapi kalau dia masih terus menggangu, kita akan buat dia sadar bahwa dia nggak bisa sembarangan."

Perjalanan mereka ke kantin terasa berat, tapi lebih berat lagi yang menanti di depan. Rasya pasti akan melakukan sesuatu yang lebih buruk. Anna tahu itu. Dan dia tidak bisa mundur sekarang.

Begitu mereka memasuki kantin, Anna merasa ada yang aneh mengelilinginya, perasaan itu tidak bisa di abaikan. Rasya mungkin sudah pergi, tapi ancaman yang ia tinggalkan masih menggantung di udara. Anna menyandarkan punggungnya di dinding, matanya kosong.

Tidak lama kemudian, seseorang muncul di depan pintu kantin-seseorang yang tidak mereka duga.

Rasya kembali. Dan kali ini, dia membawa sesuatu yang lebih dari sekedar ancaman.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dipaksa Memberi Keturunan
8.1
Demi melunasi utang pengobatan ayahnya, Risa terpaksa menikahi Dhimas. Namun, suaminya itu menyimpan rahasia kelam dengan kepribadian ganda yang drastis di luar pengawasan ibunya. Risa pun terkejut saat mengetahui adanya wanita lain dalam hidup Dhimas. Di tengah tekanan mertua yang menuntutnya segera memberikan keturunan, Risa terjebak dalam pusaran konflik dan misteri. Mampukah ia bertahan dan mencari kebahagiaan di tengah pengkhianatan serta tuntutan keluarga ini?
Sampul Novel Cinta sang tuan muda
7.9
Kehidupan Joan berubah drastis saat ia menemukan sesosok bayi perempuan di depan pintu rumahnya pada suatu pagi. Bayi malang itu hanya berselimut kain tipis di dalam kardus, ditemani sepucuk surat permohonan maaf yang misterius. Kejadian tak terduga ini membuat Joan dirundung dilema besar. Haruskah ia membesarkan anak tersebut dengan tangannya sendiri, atau justru menyerahkannya ke panti asuhan demi masa depan sang bayi yang lebih terjamin?
Sampul Novel Dijodohin
8.0
Dunia ini tidak pernah memberikan apa pun secara cuma-cuma, termasuk dalam urusan hidup. Sayangnya, seorang gadis baru menyadari kenyataan pahit tersebut setelah semuanya terlambat. Ia telah terlanjur menggadaikan masa mudanya demi mengejar kebahagiaan yang bersifat sementara melalui sebuah ikatan perjodohan. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi dari pertukaran besar yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya di usia yang masih sangat belia.
Sampul Novel En-PD168
8.1
Lucas berkhianat dengan sahabatnya, Sarah, tepat di pesta bujang mereka. Saat dikonfrontasi, Lucas justru meremehkan rasa sakit hati tunangannya, sementara Sarah mengejek statusnya sebagai yatim piatu. Muak dengan perilaku kotor itu, sang wanita membuang cincin tunangannya dan pergi. Mereka mengira dia akan kembali memohon, namun mereka salah besar. Tiga hari kemudian, dia datang bersama ayahnya, pemimpin pasukan serigala yang membawa lima puluh ribu prajurit.
Sampul Novel Hayu
9.2
Hayu
Hayu awalnya yakin bahwa kriteria kolot seperti bibit, bebet, dan bobot sudah tidak relevan di era modern. Namun, realita pahit menghantamnya saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Sebagai sekretaris biasa, hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, kini berada di ujung tanduk. Hayu harus melewati serangkaian interogasi kaku dari ibu kekasihnya demi mempertahankan cinta mereka. Akankah perbedaan status sosial ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel I Win You
8.3
Vanilla terus menggoda Nick dengan tindakan provokatif yang memicu ketegangan intens di antara mereka. Meski Nick telah memperingatkan risiko dari permainan berbahaya ini, Vanilla justru semakin berani dalam memancing hasrat pria itu. Di tengah suasana yang semakin panas, Nick berusaha keras mengendalikan diri agar tidak kehilangan kendali. Namun, godaan Vanilla yang nakal dan penuh kemenangan membuat situasi kian tak terduga dalam hubungan dewasa yang penuh gairah ini.