Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Tsundere King

My Tsundere King

Kehidupan Ratu Gifara berubah sejak masuk kelas 11. Gadis berusia 16 tahun ini terjebak dalam perselisihan harian dengan Raja, pemuda dingin bermata hitam yang hanya bersikap sinis kepadanya. Keduanya sama-sama keras kepala dan enggan mengalah hingga kelulusan tiba. Namun, Ratu tidak menyadari adanya perjanjian rahasia antara orang tuanya dengan pihak lain. Di sisi lain, Raja yang bermulut pedas ternyata menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 1

Awal semester setelah libur dua minggu lamanya, akhirnya aku kembali bersekolah seperti biasa. Sebelumnya, perkenalkan nama aku, Ratu Gifara yang sudah menginjak kelas 11 Tata Boga di sekolah SMK Tunas Nusantara, Jawa Tengah. Alasan memilih jurusan Tata Boga, aku hanya ikut fealing saja, bukan kemauan orang tua atau pun hanya ikut teman-teman. Sekolahku swasta dan masih baru, jadi jurusan di sini hanya ada dua, yakni Tata Boga dan Pemasaran ( Marketing ).

Angkatan kelas aku sekarang hanya berjumlah sepuluh orang, sedikit ya? Maklum, sekolahnya masih anget, guys. Belum se-terkenal sekolah lain di daerah aku ini. Untuk kelas sebelah dari jurusan Pemasaran, mereka berjumlah paling banyak yakni 25 orang. Meskipun terbilang baru, alumni sekolah aku ternyata pada sukses-sukses sampai bekerja di Malaysia. Ini yang aku bikin tertarik dari SMK Tunas Nusantara. Guru yang humble kepada muridnya, walau ada segelintir terkenal killer. 

Untuk kegiatan eskul selepas pulang sekolah, ada osis, kemudian voli setiap hari senin dan kamis. Basket di hari rabu, dan eskul pramuka wajib pada hari jum'at.

"Aku lupa enggak bawa topi. Gimana dong ini?" Senin. Hari sakral oleh sebagian siswa SMK Tunas Nusantara. Bahkan wakil ketua osis sekolah ini terkenal dingin, cuek, dan emosional. Tapi tidak untuk ketua osis yang friendly serta ramah.

Lusi, sahabat dekatku awal MOS dulu berdecak kasar. Kami berdua berdiri di depan kelas menunggu anak osis memberi arahan siswa dari kelas sepuluh hingga dua belas untuk mengikuti upacara bendera yang wajib diikuti.

"Elo yang teledor. Bisa-bisanya lupa bawa topi di hari mencekam ini?!" Aku mengerucutkan bibir mungil, mendengar ocehan Lusi. 

Ya, kami berdua selalu sebut hari senin adalah paling mencekam dari pada hari lainnya. Selain harus memakai atribut lengkap, anak osis pun semuanya pada galak-galak kecuali satu atau dua yang masih waras, ups.

"Hari pertama enggak mungkin upacara Ratu, kamu tenang aja." Suara Izzu melangkah keluar dari kelas, kemudian memasukkan kedua tangannya di saku celana seraya bersender pada daun pintu.

"Kalau upacara?" Aku mendengus saat Eka--bendahara kelas yang terkenal centil ikut menimpali.

Di sebelahku, Lusi tengah menahan tawa melihat kekesalan dan kegelisahanku pada waktu bersamaan.

Teman kelasku pada keluar kelas, melihat kondisi lapangan yang dipenuhi oleh peserta didik baru kelas 10. Yap, aku juga mengira yang upacara hanya anak didik baru, ya, semoga saja, batinku berharap.

"Murid sekarang lumayan banyak, ya?" celetuk Beni, "ada cecan juga, lumayan bisa gue gebet." Aku memutar kedua bola mata malas. Dasar buaya darat.

"Kuy lah, jadi PMR dadakan. Siapa tau ada adek kelas yang pingsan melihat ketampanan gue," imbuh Riki mengajak Beni.

Si empu malah menolak mentah-mentah, "Adek kelas pingsan bukan ngelihat ketampanan elo bambang." Riki mengangkat kedua alis mengatakan 'terus apa dong'.

"Karena elo jelek dan burik." Tawa kami berenam mulai menguar, kala tampang Riki yang masam seperti buah markisa.

Memastikkan kelas 11 dan 12 ikut upacara atau tidak, Riki memanggil Raja dengan cara berteriak yang tentunya jadi pusat perhatian adek kelas.

"Riki yang teriak, aku malah nanggung malunya," cicitku di angguki Lusi, "temen siapa sih? Gue gak ada tuh punya temen kayak modelan dia," balas Lusi dengan pelan.

Raja turun dari atas podium setelah pamit undur diri. Ternyata lelaki berparas tampan namun mengerikan itu berjalan menghampiri teman sekelasnya, "Kenapa?" Aku beringsut mundur, memposisikan tubuh di belakang Lusi.

Entah kenapa aku selalu merasa takut berada di dekat Raja. Maka dari itu, sejak kelas 10, aku tidak pernah interaksi dengan lelaki itu.

"Sama yang lain aja, cerewetnya minta ampun. Giliran ada Raja, langsung berubah menciut kek kerupuk disiram air." Lusi kamp*et. Ngomongnya keras banget, sampai Raja harus meng-atensi netranya ke arah kami berdua.

"Siapa yang menciut?" tanya Raja sinis. Tapi, tatapannya itu lho, kenapa harus ke aku?

Tanpa aku sadari, Raja memperhatikanku dari atas sampai bawah. Setelah mengetahui sesuatu, Raja bersuara sebelum kembali ke lapangan bergabung bersama osis lainnya.

"Kelas 11 dan 12 ikut upacara juga, gue duluan," ujarnya buru-buru ke lapangan.

"Sial!" makiku keceplosan.

Aku merasakan tepukan pelan di puncak kepala yang terhalang oleh jilbab.

"Perempuan gak baik mengumpat," ucap Izzu tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih, "mau pakai topi aku dulu, biar enggak di hukum?" Kalau aku pakai topi Izzu, yang ada lelaki itu dong menggantikan hukumanku.

Lusi menyenggol bahu aku seraya bergumam, "Udah, ambil aja. Emang lo mau di hukum bersihin semua toilet atau nggak hormat ke tiang bendera selama dua jam?"

Dengan senyum kaku, aku menolak kebaikan Izzu. Mana tega biarin Izzu panas-panasan, sementara aku adem-ayem di kelas.

Upacara dibubarkan kecuali yang tidak memakai atribut lengkap serta siswa terlambat datang. Dari kelas 11, hanya dua orang perempuan saja yang tidak lengkap, yakni aku dan Devi kelas Pemasaran. Sisanya, laki-laki semua.

"Bagi yang telat, siap gerak?! Luruskan?" komando Raja si ketos galak dan kejam, "lurus?" 

"Kenapa atributnya tidak lengkap!" tanya Raja dari sebelah ujung kanan lebih dulu.

Hilang di rumah, sengaja tidak membawa, malas memakai dasi, dan berbagai alasan lainnya.

Kini, giliran aku yang akan ditanya oleh Raja, "Mau jadi kakak kelas yang sok, gak pakai dasi?" Wait? Kenapa pertanyaan untukku beda dari yang lainnya?

"Biar apa sih? Keren? Atau biar kelihatan sok cantiknya?" sambung Raja, di akhiri decakan sinis.

Ada masalah hidup apa sih Raja terhadapku? Kayak enak banget julitin aku di depan orang-orang? Mana matanya melotot sampai mau keluar dari tempatnya lagi.

"Jawab?! Punya mulut 'kan!!"

Aku sampai memejamkan mata mendengar bentakan Raja. Seumur hidup, baru kali ini aku dibentak, bahkan kedua orang tuaku saja tidak pernah membentakku.

"Untuk seluruhnya, siap gerak?" komando Raja, "kecuali Ratu, semuanya bisa kembali ke kelas masing-masing. Mengerti?!!"

"Siap mengerti!!"

Lho... lho, kenapa aku ditinggal sendiri? Enggak adil ini namanya, marahku yang tentunya dalam hati.

"Tanpa penghormatan, bubar barisan, jalan!" Semuanya beranjak pergi kecuali aku. Aku tidak berhenti menyebut nama hewan di kebun binatang, karena semua ini tidak adil bagiku. 

Aneh. Tentu saja aku tidak mengerti akan jalan pikiran Raja saat ini. Inginku tidak mau berurusan dengan Raja, karena sedari kelas 10 aku terus menghindari lelaki seram yang sayangnya tampan itu. Hello, apa tadi aku bilang, tampan? Sampai ayam beranak pun, aku tarik perkataanku barusan. Katanya wakil ketua osis, tapi memberi hukuman tidak adil sama sekali.

"Lo pilih hormat tiang bendera atau lari sepuluh keliling? Cepat jawab, gue mau urus anak peserta didik baru."

Mulai detik ini juga, aku mengibarkan aura permusuhan untuk Raja Fauzan Diktanu. Lelaki berparas tampan, namun berhati iblis itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
8.8
Pasca diceraikan suami pelit yang merendahkannya karena hanya lulusan SD, seorang wanita miskin dipaksa orang tuanya menikahi duda kaya raya. Pernikahan kedua tanpa cinta ini menjadi awal babak baru yang penuh tanda tanya. Sanggupkah ia menyembuhkan luka batin akibat hinaan mantan mertua dan membangun kebahagiaan bersama pria asing? Simak perjuangannya keluar dari derita demi menemukan cinta sejati dalam rumah tangga yang diawali keterpaksaan.
Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori, hingga merusak hubungan kami. Meski Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami mengubah segalanya. Jake panik dan menyalahkanku, bahkan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Saat dia melepaskan tanganku demi mengejar wanita itu, aku menyadari cinta ini telah usai. Tak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan di pesta pernikahan yang hampa ini.
Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, si tomboy dari klan ternama, dihukum menjadi Jamilah di Desa Pelem selama setahun. Ia harus menukar jaket kulitnya dengan kebaya sambil berjuang mengubah pola pikir kolot wanita desa tentang dominasi pria. Di sana, Alexa terlibat konflik sengit dengan Jenggala Buana Sagara, petani modern yang meremehkan kecerdasan gadis kota. Meski dituduh sebagai provokator, Alexa tetap teguh memperjuangkan kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan.
Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Rizal, seorang duda yang berprofesi sebagai operator data di sekolah swasta, mendambakan sosok istri yang tulus menerima dirinya beserta kedua buah hatinya. Saat ini, ia tengah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita yang usianya empat tahun lebih tua. Namun, perjalanan asmara mereka tidaklah mudah karena berbagai rintangan besar terus menghadang. Akankah Rizal mampu mempertahankan komitmennya dan memperjuangkan cinta sejatinya hingga akhir?
Sampul Novel GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
9.6
Cinta adalah mahasiswi pekerja keras yang berjuang demi kesembuhan neneknya. Tanpa disadari, kepolosannya dimanfaatkan oleh sang paman yang tega menjualnya demi uang. Di tengah kemalangan, ia bertemu pengusaha kaya yang jatuh hati dan melindunginya. Namun, hubungan mereka penuh rintangan, mulai dari persaingan bisnis yang kejam hingga gangguan keluarga besar sang nenek yang terus menyudutkan Cinta atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.
Sampul Novel HASRAT TERLARANG GIGOLO
8.1
Demi menghidupi tiga adik dan ibu yang sakit jiwa, Bagaskara nekad menjadi pria sewaan di usia 20 tahun. Pemuda ini terjebak dalam tawaran fantastis Arta Syakila, wanita kaya berumur 27 tahun yang bersedia membayar 500 juta hanya untuk satu malam. Meski Arta memiliki segalanya, alasan di balik keputusannya menyewa gigolo tetap misterius. Akankah Bagas bisa kembali hidup tenang, atau justru terjerat selamanya dalam rahasia kelam kehidupan sang miliarder?