Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Tsundere King

My Tsundere King

Kehidupan Ratu Gifara berubah sejak masuk kelas 11. Gadis berusia 16 tahun ini terjebak dalam perselisihan harian dengan Raja, pemuda dingin bermata hitam yang hanya bersikap sinis kepadanya. Keduanya sama-sama keras kepala dan enggan mengalah hingga kelulusan tiba. Namun, Ratu tidak menyadari adanya perjanjian rahasia antara orang tuanya dengan pihak lain. Di sisi lain, Raja yang bermulut pedas ternyata menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Morning, bu Vanya yang cantik jelita, istrinya bapak Dika," sapa aku dengan ceria, ketika turun dari lantai dua.

"Manis banget ucapan kamu, Kak, pasti ada maunya," sahut ibuku tanpa menolehkan kepala kepadaku, sebab sibuk memasak sayur capcay dan menggoreng ikan mujaer kesukaan aku.

Aku menyengir polos menanggapi ibu negara tercinta.

"Nanti kamu naik bus ya, sayang. Ban motor kamu tiba-tiba bocor, setelah bapak cek tadi di garasi." Muka aku yang tadinya ceria, kini mem-poutkan bibir tanda malas harus berdesakan dengan penumpang lain di dalam bus.

"Bapak anterin kakak sampai depan gang," sembur ibu yang tau saja kalau aku ingin di antarkan bapak sampai sekolah, "jangan manja. Arah kantor bapak kamu berlawanan dengan sekolah Tunas Nusantara," imbuhnya terus memberi alasan, agar aku tetap naik bus.

Melirik bapak yang asik membaca koran ditemani teh hangat, aku meminta bantuan kepada beliau supaya mengantarkanku sampai sekolah lewat kode mata. Naas, bapak dan ibu hari ini begitu kompak. Sedari masuk SMK dulu, aku memang di ajarkan supaya mandiri. Motor kesayanganku bermasalah, maka solusinya, ya, naik bus, agar cepat sampai ke sekolahan. Tidak pernah tuh, bapak mengantarku sampai sekolah karena memang kantor beliau berlawanan arah.

"Sarapan dulu, biar kuat berdiri di dalam bus nanti."

Tanpa minat, aku mengambil nasi serta lauk pauk nya. Bahkan ikan mujaer nampak bikin ngiler itu, justru membuatku tidak berselera.

"Pulang dari kantor nanti, bapak akan belikan kebab kesukaan kamu," kata bapak usai menandaskan segelas air putihnya.

Mendengar jajanan favorite disebut oleh bapak, mataku bersinar seperti mendapat emas batangan 100 gram.

"Sama es boba nya juga ya, Pak?" Mendapat respon anggukan dari beliau, aku senangnya bukan main.

"Di kasih hati minta jantung." Bahkan, saking senangnya, aku tidak mempermasalahkan sindiran halus ibu barusan.

Seperti biasa saat motorku bermasalah, bapak memberhentikkan mobil putihnya di depan gang komplek. Menyalimi tangan beliau takdzim, aku mengucap salam dan mulai turun dari mobil.

Kaca jendela yang dibuka perlahan oleh bapak, mengurungkan niatku menyeberang jalan raya, "Hati-hati di jalan. Kalau bisa kamu harus dapat kursi kosong, jangan sampai berdiri sampai sekolahan." Jarak rumahku ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit, jadi selama itu pula aku berdiri bila tak mendapat kursi kosong.

"Siap kapten," ucapku memperagakkan hormat seraya tersenyum manis, "bapak pula hati-hati nyetir mobilnya. Enggak usah ngebut-ngebut, takut nabrak kawanan semut di jalanan." Bapak menggelengkan kepala mendengar ucapan putri semata wayangnya.

Dengan hati-hati, aku menengok ke kanan serta kiri melihat banyaknya kendaraan berseliweran. Bapak sudah pergi duluan usai membunyikan klakson untukku. Sekarang, giliran aku yang sedari tadi tidak menyeberang juga.

Huft

Sekarang hari apa sih? Mendadak banyak kendaraan lalu-lalang, dan sukses membuatku susah menyeberang. Menepuk kening saat mengetahui hari ini adalah sabtu, artinya para pekerja buruh maupun kantoran berangkat sepagi ini.

"Mau ke seberang sana, Dek?" Sibuk melihat kendaraan, aku di kejutkan oleh suara bapak-bapak yang sepertinya akan menyeberang juga.

Seraya tersenyum kaku aku pun menjawab 'iya', kepada beliau.

"Barengan saja kalau gitu. Bahaya dek, sekarang jalanan lagi ramai-ramainya, takut adek kenapa-kenapa."

Akhirnya aku bisa sampai pula di halte, tempat pemberhentian bus maupun angkot berkat bapak-bapak tadi.

"Makasih, Pak, sudah membantu aku nyeberang jalan," ucapku setulus mungkin.

Mata beliau malah berkeliaran ke arah barat. Apa yang sedang dicari olehnya? Tukang bubur, nasi padang, atau tulisan nomor sedot wc yang ditempel pada tiang listrik? Sepertinya opsi pertama lebih baik daripada yang ketiga, batinku menahan tawa atas ke absurd-an yang aku buat sendiri.

"Sebenarnya ada pem-- " ucapan beliau terputus, dan itu membuat aku penasaran, "loh, kok enggak ada sih anak pemuda tadi?" cicit beliau yang sayangnya aku tidak dapat mendengar karena suara bising kendaraan di jalan.

Bus berhenti di depan halte, segera aku pamit pada beliau, "Aku duluan, Pak. Sekali lagi terima kasih." Ucapanku dibalas senyuman oleh beliau.

Seperti dugaan ibu, keadaan bus penuh dengan penumpang, dan tidak ada satu pun tersisa kursi yang kosong untukku. Alamat terus berdiri selama lima belas menit, keluhku dalam hati.

Baru saja bus akan jalan, sang kenek mengetuk kaca menggunakan koin, tanda ada penumpang yang akan naik. Aku berdiri anteng di tengah-tengah karena mendapat dorongan dari penumpang lain arah belakang. Tas aku biarkan di depan menghindari sesuatu yang akan terjadi. Seperti ponsel mendadak hilang maupun dompet yang isinya tidak seberapa, namun uang jajan selama sebulan akan lenyap seketika.

"Aduh!" ringisku mendapat senggolan keras di bahu ulah seseorang.

Melihat ke bawah, aku mendapati tali sepatuku yang terlepas sebelah. Dengan gerakan cepat, aku segera berjongkok membetulkan tali sepatu dengan benar.

Dug

Benda dari atas menghantam kepalaku sampai membuat aku pening karena ada yang keras di dalam tas tersebut. Tunggu. Sepertinya aku mengenali tas hitam ini? Memungut tas yang jatuh di depanku, aku segera bangkit dan bersiap mengeluarkan sumpah serapah untuknya.

Raja. Lelaki yang kemarin sudah aku tandai sebagai musuh karena berhasil membuat emosiku tertahan saat itu juga.

Melempar tas Raja masih dengan tatapan aura permusuhan. Rupanya lelaki itu memakai earphone, makanya aku berdecih pun tidak di dengar olehnya.

"Sok imut banget lo. Mata di sipitin, bukannya cantik, malah bikin gue enek." Aku terperangah atas ucapan pedas seperti bon cabe level sepuluh.

"Berhenti, Bang?" teriak Raja pada sang supir bus.

Ternyata sampai pun aku di depan sekolah tercinta. Karena terburu-buru akan turun, aku hampir saja terpeleset kalau tidak ada Raja di hadapanku. Astaga?! Kenapa lelaki iblis itu yang menolongku, bukannya pangeran berkuda putih?

Hush. Masih pagi udah nge-halu.

Tatapan tajam bagaikan tanos itu aku dapatkan selepas tangan Raja berhasil ku hempaskan.

"Sok imut, cerewet, ceroboh, kayaknya itu hobi lo sekarang? Atau lo sengaja modus biar gue pegang-pegang?" sembur Raja. Tak lupa dengusan sinis senantiasa terpatri kala ucapan itu berakhir.

Aku menganga shock dengan perubahan Raja yang sekarang. Emang aku akui, hampir seminggu ini Raja selalu sinis, menatapku tajam seolah ingin memakan mangsanya, bicara pedas, dan itu semua hanya kepadaku seorang. Yang lainnya tidak!! Bukankah itu terasa mengganjal?

Bel istirahat kedua telah berakhir dua menit yang lalu. Kelasku ramai meski penghuninya hanya berjumlah sepuluh orang. Daripada sepi ya 'kan, kayak kuburan?

"Ketua kelas panggil bu Juliana. Udah hampir sepuluh menit beliau gak dateng juga," suruh Titan, cowok kelas yang suka bicara ceplas-ceplos.

Dari bangku, aku melihat Raja yang duduknya tepat di depanku malah sibuk menulis rangkuman Tata Hidang, tidak menghiraukan ucapan Titan barusan. Aku menghela nafas berat. Jangan bilang aku yang harus menghadap ke ruang guru?

"Wakil ketua kelas, panggil bu Juliana. Sekarang?!" Kalau Eka sudah bersuara, maka aku tidak bisa menolaknya. Repot, cuy kalau berdebat bareng Eka. Bukannya selesai-selesai, Eka akan terus mengoceh, karena hobi perempuan itu mengomel.

"Sabar bestie," semangat Lusi yang ternyata paham keadaan mood ku, "udah gih ke kantor sana. Nanti bu Juliana marah, waktu belajarnya terpotong." Dengan lesu, aku mulai bangkit dari tempat duduk.

Aku membuka pintu sekat kelas yang sengaja dibagi menjadi dua itu, sembari membawa selembar kertas pemberian bu Juliana.

Sengaja ku pukul papan tulis menggunakan penggaris kayu sebanyak tiga kali, agar atensi teman kelas sepenuhnya ke arahku.

"Mohon perhatiannya sebentar teman-teman." Semuanya menurut, kecuali Raja. Huh, lelaki itu lagi. Aku sungguh malas, karena harus menegurnya untuk berhenti mencatat.

Masa bodo dengan lelaki iblis itu, aku mulai membacakan kelompok praktek masak yang akan dilaksanakan minggu depan. Ternyata satu kelompok berisi dua orang, batinku sebelum membaca nama dari kelompok pertama.

Setibanya aku membaca kelompok empat, mataku membola tak percaya. Aku sekelompok dengan Raja? Bisa hancur se-isi bumi, karena aku nggak sudi sekelompok dengan iblis dan bermulut cabai itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu
8.8
Pasca diceraikan suami pelit yang merendahkannya karena hanya lulusan SD, seorang wanita miskin dipaksa orang tuanya menikahi duda kaya raya. Pernikahan kedua tanpa cinta ini menjadi awal babak baru yang penuh tanda tanya. Sanggupkah ia menyembuhkan luka batin akibat hinaan mantan mertua dan membangun kebahagiaan bersama pria asing? Simak perjuangannya keluar dari derita demi menemukan cinta sejati dalam rumah tangga yang diawali keterpaksaan.
Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori, hingga merusak hubungan kami. Meski Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami mengubah segalanya. Jake panik dan menyalahkanku, bahkan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Saat dia melepaskan tanganku demi mengejar wanita itu, aku menyadari cinta ini telah usai. Tak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan di pesta pernikahan yang hampa ini.
Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, si tomboy dari klan ternama, dihukum menjadi Jamilah di Desa Pelem selama setahun. Ia harus menukar jaket kulitnya dengan kebaya sambil berjuang mengubah pola pikir kolot wanita desa tentang dominasi pria. Di sana, Alexa terlibat konflik sengit dengan Jenggala Buana Sagara, petani modern yang meremehkan kecerdasan gadis kota. Meski dituduh sebagai provokator, Alexa tetap teguh memperjuangkan kemandirian ekonomi bagi kaum perempuan.
Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Rizal, seorang duda yang berprofesi sebagai operator data di sekolah swasta, mendambakan sosok istri yang tulus menerima dirinya beserta kedua buah hatinya. Saat ini, ia tengah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita yang usianya empat tahun lebih tua. Namun, perjalanan asmara mereka tidaklah mudah karena berbagai rintangan besar terus menghadang. Akankah Rizal mampu mempertahankan komitmennya dan memperjuangkan cinta sejatinya hingga akhir?
Sampul Novel GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
9.6
Cinta adalah mahasiswi pekerja keras yang berjuang demi kesembuhan neneknya. Tanpa disadari, kepolosannya dimanfaatkan oleh sang paman yang tega menjualnya demi uang. Di tengah kemalangan, ia bertemu pengusaha kaya yang jatuh hati dan melindunginya. Namun, hubungan mereka penuh rintangan, mulai dari persaingan bisnis yang kejam hingga gangguan keluarga besar sang nenek yang terus menyudutkan Cinta atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.
Sampul Novel HASRAT TERLARANG GIGOLO
8.1
Demi menghidupi tiga adik dan ibu yang sakit jiwa, Bagaskara nekad menjadi pria sewaan di usia 20 tahun. Pemuda ini terjebak dalam tawaran fantastis Arta Syakila, wanita kaya berumur 27 tahun yang bersedia membayar 500 juta hanya untuk satu malam. Meski Arta memiliki segalanya, alasan di balik keputusannya menyewa gigolo tetap misterius. Akankah Bagas bisa kembali hidup tenang, atau justru terjerat selamanya dalam rahasia kelam kehidupan sang miliarder?