
My Sweetheart is Nerd?
Bab 3
Shaquille masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Adiknya, seorang Shenia Ereshva Madia putri Airlangga mencari cowok culun bernama Rafka, padahal banyak yang mengejar adiknya itu. Tapi tidak ada yang diberi perhatian khusus oleh Shenia, dan sekarang justru Shenia yang perhatian dengan Rafka.
"Apa dek? Lo serius cari Rafka?" Shaquille masih melongo.
"Iya, Lo budek ya bang apa congek?" Shenia kesal.
Seketika Shaquille menoyor kepala adiknya, bisa-bisanya dia masih bercanda sedangkan kakaknya sudah melongo tak karuan.
"Ngapain Lo cari dia?"Shaquille penasaran, dia bahkan beringsut agar lebih dekat dengan sang adik.
Tapi bukannya mendapatkan jawaban, Shenia malah lekas menutup wajahnya dengan jas almamater. "Kepo!" Shenia menutup matanya, pura-pura tidur!
Shaquille menyerah, tidak ada yang bisa 'menjinakkan' adiknya itu kecuali sang mama. Meski sudah dengan berbagai cara, jika Shenia tidak ingin melakukan sesuatu maka ia akan tetap begitu.
Malam harinya, di sisi lain Rafka masih sibuk dengan buku-bukunya. Minggu depan ada olimpiade matematika dan dia sudah biasa mengikutinya tapi juga tidak akan ceroboh dengan tidak belajar.
"Rafka, ayo turun nak makan dulu!' Zoya, ibunda Rafka masuk ke kamar putranya.
"Bentar mam, tanggung satu bab lagi," jawab Rafka lembut diiringi dengan senyuman tipis.
Zoya mendecik pelan, kemudian dia mendekat pada sang putra dan mengusap punggungnya perlahan.
"Makan dulu ya, nanti langsung disambung deh belajarnya. Nanti kamu bisa sakit kalau melewatkan makan nak." Zoya tetap tidak mau kalah.
Rafka akhirnya mengalah, dia menghela nafas. "Iya mah," jawabnya sembari menutup bukunya, tidak lupa dia juga melepas kacamatanya dan meletakkan benda yang membingkai matanya itu di atas meja.
Apa yang dilakukan Rafka itu tak luput dari pandangan Zoya yang masih berdiri di sampingnya.
"Mama lebih suka kalo kamu gini Ka" Zoya menatap lekat putranya itu.
"Mata aku kan sakit mam kalo baca nggak pake kacamata." Rafka berusaha memberi alasan yang masuk akal, toh memang begitu pula adanya.
Mata Rafka minus, karena terlalu banyak membaca buku dan belajar. Pantas jika dia memakai kacamata, lagipula penampilannya yang seperti itu juga tak terlalu buruk.
"Tapi nggak perlu dipake terus juga, lagian kenapa sih kamu suka banget dandan culun gitu nak?" Zoya tidak habis pikir putra nya itu berubah begitu drastis. Dia kehilangan kepercayaan diri nya dan jadilah seperti sekarang.
"Nggak apa, nyaman aja kaya gini mah." Rafka menjawabnya dengan penuh makna kemudian melangkah pergi, dia sudah paham mama nya itu pasti akan menanyakan kenapa ia lebih suka seperti ini sekarang.
Di ruang makan Aira, sudah duduk menunggu mereka. Wajahnya cemberut karena Rafka sangat lama belajar. Akibatnya anak kecil itu harus menunggu lama untuk makan. Padahal dia sangat lapar.
"Kakak lama banget!" Aira menarik lengan Rafka untuk segera duduk.
"Tadi habis belajar dek." Rafka tenang, sesekali ia mengelus pucuk kepala Aira penuh sayang.
"Tapi kan aku lapar, kakak malah lama," sungut Aira tidak terima. Dia sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Lengkap dengan bibirnya yang mengerucut lucu.
"Iya-iya maaf ya." Rafka bertingkah seolah menjewer kedua telinganya sendiri sambil nyengir lebar. Harap-harap dengan begitu gadis kecil didepannya dapat luluh.
Aira tidak tahan dengan sikap Rafka itu, selalu ada hal yang membuat nya tidak bisa marah lama-lama dengannya. Kemudian Aira tersenyum dan menarik tangan Rafka agar tak lagi menjewer telinganya sendiri.
Di saat yang sama Zoya baru saja turun dari kamar Rafka. Wanita itu lekas menghampiri keduanya dan berkata lembut.
"Kalian makan ya, mama mau keluar dulu karena ada perlu sebentar. Aira jangan nakal ya, jangan ganggu kak Rafka!" titah Zoya dan diangguki oleh keduanya.
"Iya mama!" Aira mengangguk patuh.
"Mau aku antar ma?" Tawar Rafka penuh perhatian
"Nggak, mama bisa sendiri. Lagian mama sama supir kok." Zoya memberi tahu.
Setelah merasa cukup, wanita itu kembali berujar pelan. Apalagi saat melihat supir keluarga mereka sudah menunggu dia ambang pintu. Tanda bahwa mobil yang akan Zoya gunakan sudah siap.
"Ya udah mama pergi ya, kalian jaga rumah." Zoya melangkah pergi setelah mengusap puncak kepala Aira dan Rafka bergantian.
Saat tengah asik melahap makanannya, ponsel Rafka berkedip. Tanda ada notifikasi mendarat di benda pipih itu. Dengan segenap rasa penasaran, Rafka memeriksanya.
WhatsApp on
[+62823xxxxxxxxx]
[Hay, save nomor gue.]
Rafka mengerutkan keningnya, siapa yang menghubungi dia malam-malam?
[Ini siapa ya?] Rafka mengetikkan balasan
[Cewek paling cantik di Sekolah.]
Rafka tampak mengingat siapa yang dimaksud 'cewek paling cantik di Sekolah' karena menurutnya di SMA Manggala sudah terlalu banyak populasi cewek cantik, dia juga tidak pernah memperhatikan nya. Jadi dia tidak tahu apalagi mau cari tahu.
Rafka kembali mengirim pesan balasan. [Maaf aku nggak tau.]
[Ck ck. Ini gue, Shenia!]
Rafka membelalakkan matanya sempurna saat nama Shenia terpampang di layar ponsel miliknya.
[Oh iya, aku save kok Shen.]
Tak berselang lama ada balasan pesan lagi yang masuk, masih dari orang yang sama.
[Bagus, kalau gitu sampai jumpa besok!]
Rafka menghela nafasnya pelan, apa lagi ini. Hidupnya berasa diteror oleh Shenia. Semenjak bertemu dengan gadis itu hari-hari tenangnya mulai menghilang. Ada saja kelakuan absurd Shenia yang datang untuk hinggap dan membuatnya menghela nafas lelah.
Di pagi harinya, saat sinar matahari belum terbit sempurna Shenia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda. Dengan dua jepit yang ia selipkan di kepalanya, menambah kesan rapi dalam dirinya.
Eits, kalian jangan senang dulu!
Apa kalian pikir Shenia itu gadis baik-baik disekolah?
Shenia hanya rapi sebelum dan setelah sekolah saja, alias hanya di rumah. Untuk mengelabuhi orang tuanya, agar mereka tidak tahu kalau penampilan Shenia berubah urakan saat di sekolah.
Tapi ini juga bukan untuk ditiru, OKE?
Jam menunjukkan pukul 6.30 tapi Shenia sudah siap, rencananya ia akan masuk kelas seni terlebih dahulu sebelum jam pagi.
"Mama.. Shenia berangkat ya, mau ke kelas seni dulu!" teriak Shenia, karena mama nya sedang ada di kamar mandi.
"Iya.. berangkat sama pak Yoso ya?" jawab sang mama tak kalah teriak.
"Nggak, Shenia bisa sendiri. Bye!" Shenia langsung pergi, ia tidak mau diantar atau berangkat bersama kakaknya, terlalu repot menurutnya.
Dijalan Shenia melajukan motor sportnya pelan, jalan ibu kota belum terlalu ramai. Ia bisa sedikit santai menikmati udara pagi serta suasananya yang menyenangkan.
Tak lama matanya menyipit melihat seseorang yang tidak asing baginya sedang berjalan kaki menuju arah sekolah.
Tin tin tin!
Shenia menghentikan motornya, ia melepas helm yang dia pakai dan menoleh pada orang itu.
"Woy Lo! Ngapain jalan segala, yok bareng," ajaknya.
Yang diajak bicara hanya diam, dia masih berdiri mematung. Menatap tak percaya pada Shenia, si most wanted girl SMA Manggala yang mengajaknya berangkat bersama.
"Woy ayo bareng, Lo budek ya? Shenia sedikit berteriak. Apalagi saat gadis itu berbicara beberapa kendaraan bermotor lewat didekat mereka.
"Nggak Shen, makasih ini udah deket kok," tolak Rafka halus.
Ya, orang itu adalah Rafka.
Dia merasa akan menjadi masalah besar jika ia berangkat bersama Shenia nanti. Apa jadinya jika dia, si anak cupu disekolah malah berangkat bersama Shenia si most wanted girl?
"Gue nggak pernah diajarkan buat menerima penolakan, naik nggak Lo!" Shenia memaksa. Gadis itu juga lekas turun dari motornya.
"Eh tapi Lo yang bawa." Shenia menyerahkan kunci motornya pada Rafka yang masih mematung di tempatnya.
"Bisa kan?" Tanya Shenia memastikannya lagi.
Sementara itu Rafka tetap diam, tidak bereaksi sama sekali.
"Lo bisa bawa motor kan Rafka?" Shenia geram, dia menaruh kunci motornya ke tangan Rafka dan memaksa Rafka duduk didepan.
Kemudian dengan pasrah Rafka menuruti kemauan Shenia, dari pada telat kan?
Sesampainya di sekolah mereka berdua seperti makhluk asing saja, banyak yang menatapnya aneh.Rafka turun dan memberikan kunci motor Shenia dan gadis itu menerimanya dengan semangat.
"Makasih Shen." Rafka tersenyum sekilas, lalu hendak pergi.
Tapi lagi-lagi tak semudah itu Rafka melarikan diri dari seorang Shenia.
"Eh tunggu. Apaan Lo cuma gitu doang, anterin ke kelas gue yuk!" Shenia menghalangi langkah Rafka. Dia sudah merentangkan kedua tangannya dan berdiri didepan pemuda itu.
'Salah siapa Lo senyum manis banget ke gue. Nggak bisa Lo main kabur aja Rafka,' batin Shenia.
"Tapi Shen," ucapan Rafka tidak selesai karena Shenia lebih dulu menggandengnya.
Lagi-lagi Rafka hanya pasrah, dia tidak mau berurusan dengan Shenia lagi sebenarnya, tapi nasib berkata lain. Sampai di depan kelas seni Shenia meminta berhenti dan Rafka hanya mengangguk.
"Nanti Lo balik naik apa? Atau jangan-jangan jalan kaki lagi?" Tanya Shenia menyelidik.
"Iya." Rafka menjawab dengan singkat dan harapan dia tidak akan lagi berurusan dengan Shenia.
"Gue anterin, dan Lo nggak perlu nolak!" Shenia langsung berkata cepat, dia tahu Rafka pasti akan menolaknya.
"Tapi--"
"Nggak ada tapi tapian. Lo balik sama gue, titik!" Shenia lalu masuk ke kelas seni meninggalkan Rafka yang masih melongo mendengar perkataannya.
Shenia hanya tersenyum lebar, dia paham pasti Rafka tidak suka dengan sikapnya itu. Rafka pasti takut akan menerima bully lagi. Tapi menurut Shenia tidak akan ada yang berani menganggu siapa pun yang menjadi temannya. Apalagi si Rafka yang sudah ia patenkan sebagai 'CALON PACAR'
"Mulai sekarang Lo nggak akan bisa lari dari gue, Rafka!"
Anda Mungkin Juga Suka





