
My Possessive Sugar Daddy
Bab 2
Fahira yang terkejut dengan suara klakson itu, langsung menoleh ke arah suara tersebut. Hingga, gadis itu jatuh tak sadarkan diri, saat mobil SUV berwarna hitam itu, hampir menabrak tubuhnya.
“Hah? Kenapa dia? Apa dia pingsan? Perasaan ... aku tidak menabraknya?” gumam pria tampan, si pengendara mobil tersebut. “Ck! Merepotkan saja!” gerutunya.
Ia lalu turun dari mobil, dan dengan segera menggendong tubuh Fahira, lalu membaringkannya di jok mobil penumpang. Setelah Fahira di dalam, pria itu kembali duduk di tempatnya dengan bajunya yang basah kuyup.
“Aish! Gara-gara gadis itu, bajuku jadi basah begini. Benar-benar merepotkan!” gerutunya, sambil menancap gas meninggalkan tempat itu.
Tak lama, mobil yang dikendarai si pria tampan itu pun, memasuki sebuah rumah mewah yang berada di komplek perumahan elit. Di mana, yang tinggal di komplek itu, hanya kalangan tertentu saja, yang memiliki kekayaan fantastis. Dan salah satunya adalah; Fatih Al Malik.
Fatih adalah pemilik sekaligus CEO dari salah satu perusahaan textile yang cukup besar. Dan nama Fatih pun, cukup dikenal di kalangan pebisnis. Khususnya, di bidang bisnis textile. Karena kehebatan Fatih dalam mengelola bisnis, hingga perusahaan itu, semakin berkembang setelah berada dalam pimpinannya, yang sebelumnya dipimpin mendiang ayahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan garasi, Fatih langsung turun. Dan seketika itu juga, membuat 2 orang bodyguard yang siap mengawalnya sampai ke pintu masuk pun, mengerutkan kening mereka. Mereka terlihat heran, melihat majikannya basah kuyup. Bagaimana bisa? Bukankah majikannya itu sedia payung di dalam mobilnya, untuk persiapan jika dia harus turun dari mobil dalam keadaan sedang hujan? Tapi, kenapa hari ini pulang basah kuyup? Apa mungkin, payungnya rusak?. Namun tiba-tiba, lamunan mereka buyar, saat mendengar perintah Fatih.
“Turunkan gadis itu, dan bawa ke kamarku!”
Sesaat, mereka terdiam. Tak mengerti dengan maksud Fatih. Gadis? Gadis yang mana? Begitu pertanyaan di benak mereka.
“Hey! Kenapa kalian malah bengong seperti orang bodoh? Cepat turunkan gadis di mobilku, dan bawa dia ke kamarku!” titahnya lagi, sedikit kesal. Lalu melenggang pergi dari hadapan kedua bodyguardnya itu.
Setelah mendapat perintah yang kedua, mereka berdua pun baru mengerti. Dengan segera mereka melakukan tugas yang baru saja diperintahkan oleh Fatih. Salah satu dari mereka, masuk ke dalam mobil. Lalu menggendong Fahira keluar dari mobil itu, dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Fatih, langsung pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
“Sepertinya aku baru melihat gadis ini?” gumam pria yang menggendong Fahira.
“Ya, aku juga baru melihatnya. Mungkin gadis ini mainan baru Tuan Fatih,” katanya.
“Tentu saja. Apalagi?” timpalnya. “Tapi, penampilan gadis ini sederhana. Biasanya mainan Tuan Fatih itu wanita-wanita berkelas, bukan gadis sederhana seperti ini, ‘kan?” herannya.
“Kau benar juga. Ah sudahlah, kita tidak ada urusan. Yang penting kita bawa gadis ini ke kamar Tuan Fatih, dan tugas kita selesai.”
Si pria yang menggendong Fahira pun, mengangguk.
Sesampainya di kamar Fatih. Pria itu tak langsung membaringkan Fahira di kasur. Karena baju Fahira yang masih basah. Sehingga mereka memilih menunggu Fatih.
“Bajunya basah. Siapa yang akan menggantikan baju gadis ini? Apakah Tuan Fatih?” tanya si pria satunya.
“Entahlah.”
Sementara di gubuk, Marni tampak mencemaskan Fahira. Karena putrinya itu tak kunjung pulang. Wanita itu sangat gelisah, berulangkali ia menoleh ke arah pintu, berharap sang putri datang. Namun, setelah cukup lama, Fahira tak kunjung pulang.
“Fahira, kamu ke mana, Nak? Kenapa belum kembali juga?”
Ibu mana yang bisa tenang, di saat anaknya pergi tak tau ke mana, dan lama belum juga kembali. Tak terkecuali Marni, yang begitu mengkhawatirkan putri semata wayangnya.
Tak berapa lama, Fatih yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian pun, datang.
“Kenapa kau masih menggendong gadis itu? Apa kau suka padanya?” celetuknya, sedikit mengernyit.
“Ah? Tidak, Tuan. Pakaian gadis ini basah. Jadi, saya tidak berani membaringkannya di ranjang,” jawab si bodyguard.
“Astaga, aku lupa. Tolong panggil Bi Mar, biar dia yang ganti pakaian gadis itu,” titah Fatih.
“Baik, Tuan.” Salah satu bodyguard, mengangguk. Lalu pergi dari sana, untuk memanggil Bi Mar.
“Tolong baringkan dia di atas karpet,” pinta Fatih.
Si bodyguard mengangguk, dan bergegas membaringkan Fahira di atas karpet permadani. Sedangkan Fatih, pergi mengambil pakaian untuk Fahira. Tak berselang lama, Bi Mar dan si bodyguard, datang.
“Bi, tolong gantikan bajunya,” pinta Fatih, sambil memberikan pakaiannya pada ART-nya itu.
“Baik, Tuan.” Bi Mar mengangguk, lalu mengambil pakaian itu dari tangan Fatih.
“Kalian berdua, boleh pergi,” ujar Fatih, pada kedua bodyguardnya.
Mereka sedikit membungkuk, lalu pergi.
Selama Bi Mar mengganti pakaian Fahira, Fatih pergi ke sudut lain. Tidak mungkin, dia melihat tubuh polos gadis yang tak dikenalnya itu. Sambil menunggu Bi Mar selesai, Fatih mengecek ponselnya. Siapa tahu ada pesan penting yang masuk dan belum sempat ia buka. Baru beberapa detik jarinya bermain-main di layar ponselnya, Ricko yang merupakan asprinya, menghubunginya. Fatih pun, segera menerima panggilan dari asprinya itu. “Ada apa?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Tuan, setengah jam lagi kita akan pergi menghadiri undangan makan malam dari Tuan Carlos,” tutur Ricko.
“Ah ya, aku sampai lupa!” Fatih menepuk dahinya. “Tapi sepertinya, aku tidak bisa pergi. Tolong kau saja yang urus semuanya,” pintanya, dengan enteng.
“Tapi, Tuan—“
“Sudah, bilang saja aku ada urusan penting yang mendadak, sehingga tidak bisa hadir,” katanya, memberi saran.
“Baiklah, Tuan.”
“Hey, kenapa suaramu tiba-tiba mengecil? Kau keberatan?”
“Hah? Ti-tidak, Tuan. Mana mungkin saya keberatan. Saya akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan,” katanya.
“Itu bagus. Memang harusnya seperti itu. Ya sudah, lakukanlah tugasmu!” Fatih langsung menekan ikon telepon berwarna merah di layar ponselnya.
Sudah hal biasa bagi Fatih, yang sering tiba-tiba membatalkan undangan atau apapun itu yang menurutnya tidak terlalu penting. Dan semuanya, ia serahkan pada Ricko. Sebagai asisten pribadi, Ricko hanya bisa menuruti perintah Fatih. Meskipun seringkali ia mendapat marah dari klien Fatih. Dan Fatih, tak perduli dengan penderitaan asprinya itu.
“Tuan, saya sudah selesai mengganti pakaian gadis itu,” ujar Bi Mar, sedikit membungkuk.
“Baiklah, terimakasih. Bi Mar boleh pergi,” katanya.
“Baik, Tuan.” Wanita paruh baya itu pun, keluar dari kamar Fatih.
Sang pria tampan, bangkit dari duduknya, lalu menghampiri gadis yang masih terbaring belum sadarkan diri di atas karpet permadani. Ia lalu berjongkok di sebelah Fahira, sambil memandangi wajah manis sang gadis. Seraya bergumam, “Gadis aneh yang menyusahkan.” Fatih lalu mengangkat tubuh Fahira, bermaksud untuk memindahkan gadis itu ke ranjang.
Namun, belum ia sampai, Fahira tiba-tiba membuka matanya dan langsung berteriak kencang, “Aaaaaaaa!” Dan suara Fahira, hampir membuat Fatih menjatuhkan gadis itu. Fatih mempercepat langkahnya, dan menjatuhkan tubuh gadis itu, ke atas kasur dengan sedikit kasar.
“Si-siapa, kau?”
Anda Mungkin Juga Suka





