Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Possessive CEO

My Possessive CEO

Sinta adalah gadis malang yang berulang kali nyaris menjadi korban pelecehan seksual. Beruntung, Biru yang merupakan seorang CEO muda selalu muncul untuk menyelamatkannya. Meski awalnya hanya kebetulan, Biru ternyata telah jatuh hati sejak pandangan pertama. Namun, Sinta justru merasa sangat takut untuk memulai hubungan asmara karena trauma masa lalu yang menghantuinya. Akankah kegigihan Biru mampu meluluhkan hati Sinta yang penuh luka? Simak kisah romansa dewasa ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Jangan deket-deket, Pak!" larang Sinta berjalan mundur, bosnya menyeringai dan Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya, jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang, tak bisa berpikir jernih karena takut.

Bosnya terus mendekat sampai Sinta hampir terjerembab ke tumpukan pakaian-pakaian yang baru datang, belum diberi bandrol harga.

"Kamu mau nggak jadi istri simpenan saya? saya udah lama pengen jadiin kamu pacar tapi kamu menghindar terus, Sin. Ayolah, mau ya? Apapun saya kasih, dan jangan panggil saya pak lagi, kita kan cuma beda sepuluh tahun aja, Sin," ucap pria yang tiba-tiba menampakkan belangnya ketika mereka sedang berdua saja di gudang ... lebih tepatnya si bos yang menyusulnya ke gudang. Ia terus mendekat sampai Sinta terpojok ke belakang rak.

"Stop, Pak! Jangan deket-deket saya! saya peringatkan Bapak!" Kedua tangan Sinta terulur ke depan, bosnya ingin menciumnya. Sinta mendorong kasar tubuh gempal berisi yang berdiri di depannya, pria itu dengan cepat mendekat lagi menyingkirkan tangan Sinta, memegang dagu gadis manis yang tak lain adalah karyawati tokonya.

"Jadi istri saya itu enak, Sin. Nggak perlu capek-capek kerja, kamu saya jatah lima juta sebulan, di luar biaya kuliah, kamu tetep mau nolak?" ujarnya congkak, ia membuka kancing kemejanya. Sinta menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Saya perkasa loh, Sin. Dari pada cowok-cowok di luar sana yang belum tentu bisa buat kamu merasakan nikmat dunia." Bosnya berucap sambil terkekeh pelan, ia sudah bertelanjang dada sekarang. Bosnya berniat melucuti pakaian Sinta.

"Stop, Pak. Inget istri bapak, Bapak gila apa?!" teriak Sinta terus mendorong tubuh kekar yang mengungkungnya.

"Udahlah, istri saya nggak akan tau. Fokus ke kita aja, Sin. Nanti kamu minta berapa aja saya kasih, Sin. Apa kamu masih perawan sampai kamu menolak keras?" Bosnya menarik diri, memberi ruang Sinta untuk menjawab.

"Bukan urusan Bapak!" bentak Sinta sinis.

Bosnya tersenyum, juga mengangguk-angguk ... maju selangkah lagi, ia dengan santai melepas ikat pinggangnya sambil terus saja menatap Sinta, karyawatinya ketar-ketir ingin berteriak.

"Bapak gila ya?!" Sinta menutup matanya dengan satu telapak tangannya.

"Iya, Sin. Saya tergila-gila sama kamu, hehehe."

'Dasar gila!' maki Sinta dalam hati. 'gimana caranya kabur, Ya Tuhan tolooong ...."

Tok Tok Tok!

Ketukan dipintu gudang sontak membuat keduanya menoleh.

"Sin! Kamu di dalem? Lama banget sih ngambil plastiknya? buruan, Sin!"

Hening, Sinta ingin berteriak menjawab namun bosnya lebih dulu membekas mulutnya.

Dok Dok ... Dok Dok Dok

Ketukan pelan kini menjadi gedoran memburu.

Teman kerja Sinta menggedor-gedor keras pintu gudang, kesempatan Sinta untuk kabur, pikirnya.

Bosnya melepas tangannya dan menyuruhnya diam, Sinta berlagak menurut dengan mengangguk-angguk. Sekarang bosnya sibuk memelorotkan celananya kini, Sinta melesat kabur, namun tangan bosnya sigap meraih tangan kiri Sinta.

"Aduuh! Lepasin, Pak atau saya teriak! Bapak nggak takut?!" ancam Sinta geram. Ia tak habis pikir kenapa bosnya bisa nekat begitu.

"Sin! Cepetan!" teriak Sari yang tak tahu keadaan di dalam gudang.

"Iya, Sar!" balas Sinta setengah berteriak.

"Udahlah, Sin biarin aja. Biar saya yang urus kalau ada yang marahin kamu, ya ... Ayo, sekarang aja, Sin, tanggung joni saya udah tegak."

Sinta menatam tajam penuh ancaman ke arah bosnya, tapi bosnya sama sekali tak takut malah tertawa. Dasar gila!

Karena tak kunjung dilepaskan maka Sinta menginjak kaki bosnya hingga bosnya mengaduh dan melepaskan tangan Sinta. Karyawatinya berlari menuju pintu langsung berniat membuka pintu yang terkunci, untungnya kuncinya masih tertancap dilubang kunci. Tangan Sinta gemetaran membuatnya susah memutar kunci.

Si bos masih sibuk mengenakan kembali pakaiannya yang ia tanggalkan. Sinta gelisah, ia terus memeriksa ke belakang takut bosnya menyergap dari belakang, sepuluh detik kemudian Sinta berhasil keluar, bosnya belum muncul. Sinta bisa bernapas lega, ia berjalan cepat diikuti Sari yang kesal.

"Sin, mana kantongnya?" tanya Sari sambil cemberut, mengulurkan tangannya.

"Gue keluar, Sar. Sorry lo ambil sendiri di gudang," balas Sinta mengacuhkan Sari, ia berlalu menuju loker karyawan.

"What? Lo kesambet setan apaan sih, Sin?"

Sinta masuk ke ruangan karyawati, ia melepas kaos kerjanya, namun ia masih memakai tanktop. Ia memakai hoodienya lalu mengambil tasnya buru-buru.

"Maksudnya lo bolos ya? Sin-"

"Gue keluar, gue mau cari kerjaan lain aja, bye, Sar, sampek ketemu di luar sana." Sinta menyambar helm dan keluar tergesa-gesa.

"Sin ... Sin!" pekik Sari sambil berlari mengejar Sinta yang keluar dari toko, namun ia urungkan karena diteriaki pembeli. Ia lantas tak enak hati dan pergi ke gudang untuk mengambil kantong plastik, belum ia masuk ke dalam sana ia berpapasan dengan bosnya yang keluar dari gudang.

Sari hanya menunduk dan berlalu begitu saja tapi dalam batinnya bertanya-tanya, ada apa gerangan.

'Kenapa si bos keluar dari gudang? Jangan-jangan ... Jangan-jangan Sinta diapa-apain?'

"Sari!" panggil si bos menggelegar.

Ia tersadar lalu menyambar kantong plastik lalu kembali menuju meja kasir. Dengan napas memburu, ia mendekat ke kasir.

"I-iya, Pak."

"Ini kenapa pelanggan kamu biarin nunggu lama?"

'Bukannya elo yang ngunciin Sinta di gudang, pake nyalahin gue lagi!' batin Sari kesal, melirik bosnya.

"Sa-saya ngambil kantong plas-"

Bosnya menyambar kantong plastik dan membungkus pakaian milik pelanggannya, semenit kemudian tersenyum ramah dan mengulurkan uang kembalian pada si pelanggan.

"Terima kasih," ucap bosnya ramah.

Sari berniat pergi dari kasir, namun si bos sudah lebih dulu bertanya padanya.

"Sar, Sinta ke mana? toilet?" tanya si bos dengan santainya.

"Emm-anu ... Pak, anu-"

"Apa sih ngomong tuh yang jelas, ini masih jam 7 loh, Sar. Sinta ke mana?"

"Itu-Pak, Sinta katanya keluar," jawab Sari takut-takut, memainkan jemarinya gugup.

'Aduh, gimana nih kalo gue yang kena' batin Sari ingin mengumpat saking kesalnya terjebak dalam situasi tak mengenakkan.

"Apa?!" Si bos keluar dari meja kasir. "Harusnya kamu bilang dong, dia katanya pergi ke mana?"

"Katanya bukan keluar ke mana gitu, Pak, tapi resign." Nada bicara Sari merendah.

"Apa? Dia bilang gitu sama kamu? Wah wah wah, nggak bener ini. Sinta kenapa juga main out-out aja, heran," gerutunya sambil masuk ke dalam ruangan kecil yang ia sebut ruang kerjanya. Si bos terlihat panik, Sari melihat keningnya berkeringat padahal ditoko sudah terpasang AC.

Kini Sari cemas, entah ia mencemaskan apa, mencemaskan temannya atau dirinya sendiri.

Krieet.

Pintu dibuka muncullah bosnya dari dalam ruangan kerjanya lalu berlalu begitu saja melewati Sari yang mondar mandir dibalik meja kasir.

"Pak, mau ke mana?" tanya Sari gugup.

"Bukan urusan kamu, nanti tutup seperti biasanya, bawa kuncinya."

Si bos tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu atau dikejar sesuatu, namun Sari enggan mengurusinya, ia memilih untuk tak menghiraukannya sesuai perintah bosnya.

***

Motor yang dikendarai Sinta tiba-tiba dihadang oleh mobil yang langsung berhenti di jalan depannya. Mau tak mau Sinta mengerem laju motornya dari pada harus ganti rugi jika ada kerusakan yang disebabkan olehnya. Sinta yang moodnya sudah hancur karena bosnya, bukan ... tepatnya mantan bosnya seperempat jam lalu kini tambah kesal karena pengguna jalan yang menghadangnya. Ia mematikan mesin motor dan turun, melepas helmnya dan siap memukulkannya ke pemilik mobil itu.

'Brengsek! Siapa sih yang cari gara-gara, pengen gue hajar kali nih orang!'

Sinta mendekat ke pintu kanan mobil, hendak memprotes namun si empunya keluar dengan girangnya terkekeh, Sinta terkejut dan tak habis pikir.

"Kamu mau ke mana sih, Sin? Kamu nggak bisa lari dari saya, kamu nggak bisa apa nurut gitu?" ujar si bos lembut.

Sinta diam, mengangkat helm dan siap untuk menghantamkannya ke muka bosnya yang cabul.

"Mau saya hajar?" tantang Sinta mencoba berani, namun siapa sangka bosnya malah merebut helm Sinta, dan menariknya agar mau masuk ke dalam mobilnya.

"Ayo, ikut saya aja, masuk ke dalam!"

"Nggak, saya nggak mau! Jangan maksa, Pak!" Sinta berusaha melepas cengkraman di pergelangan tangan kirinya, bosnya menyeretnya menuju ke jok samping kemudi.

"Toloooong! Gue mau diperkosaaa!" teriak Sinta lantang, si bos sedikit panik karena Sinta melawan dan berteriak kencang.

"Diem kamu, Sin. Jangan aneh-aneh!"

"Tolooong! Siapa aja lapor polisi toloong!"

Karena Sinta tak mau masuk ke dalam mobil dan bosnya memaksanya masuk dengan menyeret bagian depan hoodie Sinta, saking kuatnya tenaga si bos hoodie tersebut robek bagian depan, menampilkan tanktop Sinta.

Sinta berteriak semakin kencang sambil mencengkram hoodie yang sobek.

"Toloong!" pekiknya sambil berjongkok takut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Orang Ke 3 (Tak Kuasa Menolak Takdir Cinta)
8.6
Almira Mayangsari berjuang membesarkan dua keponakan tanpa berharap menemukan pria yang tulus. Takdir mempertemukannya dengan miliarder Bastian Navarell yang menyelamatkannya dari bahaya. Meski saling jatuh cinta, Almira memilih lari saat tahu Bastian telah beristri karena tak ingin jadi orang ketiga. Bastian yang terobsesi tidak menyadari bahwa Almira sebenarnya masih perawan. Akankah kebenaran ini menyatukan mereka dalam jalinan cinta yang elegan dan penuh haru?
Sampul Novel Aku Tidak Memberi Ampun: Mantan yang Berlutut
9.6
Grace Bennett menyaksikan pengkhianatan suaminya, Adrian Carter, yang berselingkuh di mobilnya sendiri. Bukannya menyesal, Adrian justru menghina pernikahan kontrak mereka. Grace pun membalas dengan tegas: membekukan bisnis miliaran dolarnya dan menceraikannya di depan publik. Meski Adrian berlutut memohon kesempatan kedua, Grace tetap pergi membawa putranya, Ethan. Ia melangkah maju dengan pria lain tanpa menoleh pada masa lalu yang telah tercemar.
Sampul Novel Asal kalian puas
9.3
Dalam kegelapan, seorang asisten rumah tangga terjebak dalam situasi mencekam saat Pak Karmin, Pak Darmaji, dan Pak Doyo mulai menjamah tubuhnya secara bergantian. Di tengah perlakuan liar yang membangkitkan gairah sekaligus rasa takut, sang majikan bernama Pak Arga justru merencanakan siasat jahat. Merasa tak puas dengan istrinya, ia berniat membawa pembantunya pergi ke tempat jauh untuk memuaskan nafsu pribadinya tanpa kecurigaan siapa pun. Akankah ia berhasil?
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Dosen Suamiku
9.8
Adara Adila Calista, mahasiswi berusia 22 tahun, terkejut saat mengetahui wasiat mendiang kakeknya. Ia harus menikah dengan cucu sahabat sang kakek, yang ternyata adalah Rafka Shaquile Zhafran, dosen yang selama ini sering membuatnya kesal. Rafka, seorang CEO muda berusia 24 tahun, menerima perjodohan ini demi kebahagiaan keluarga, meski ada ancaman kehilangan warisan. Bagaimana nasib pernikahan Adara dengan dosen yang ia benci dalam ikatan wasiat ini?
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira sangat antusias memulai karier sebagai sekretaris pengganti di perusahaan raksasa ibu kota. Namun, sebuah momen canggung terjadi saat ia memergoki bosnya, Edbert, bermesraan dengan sang istri, Merry. Alih-alih marah, Merry justru meminta Indira duduk dan mengajukan permohonan gila agar suaminya menikahi sekretaris itu. Edbert sangat terkejut mendengar ide poligami tersebut. Akankah Indira bersedia menjadi istri kedua demi memenuhi permintaan Merry?