
My Moonlight
Bab 2
Dengan langkah malas Cassie akhirnya mengikuti kemana Chandra menuju. Dia sungguh enggan lagi berkenalan dengan para siswa yang menurutnya mereka tidak selevel.
Sepatu sneaker hitam membungkus kakinya, kaos kaki hitam hingga lutut. Rok abu lima sentimeter di atas lutut. Seragam putih dengan jas hitam membungkus tubuhnya yang tampak ramping.
Lihatlah, Cassie tampak ogah- ogahan berdiri di depan sebuah kelas. Dia tidak peduli ke mana masuk, yang pasti perasaannya sedang kesal. Jika bisa mendengar hati seseorang, suara hati Cassie mungkin penuh umpatan.
“Cassie, masuklah,” ujar Pak Chandra dari arah sebuah kelas yang akan menjadi tempat Cassie menghabiskan harinya.
Dia menurut tanpa kata. Bola matanya bergerak jengah, sungguh meremehkan tempat itu yang baginya tak selevel meskipun sang ibu bilang bahwa sekolah itu masuk jajaran elit. Peduli amat dengan itu. Cassie hanya merasa begitu kesal dan marah akan suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan.
“Baiklah anak- anak. Kalian akan dapat teman baru. Silakan Cassie, masuklah dan perkenalkan dirimu.” Pak Chandra mempersilahkan Cassie untuk masuk dan memperkenalkan dirinya.
Kakinya melangkah memasuki ruang kelas itu. Anak- anak yang ada di sana semula tampak hening mendengarkan wali kelas mereka yang membawa kabar.
Reaksi mereka beragam begitu Cassie masuk ke kelas 11- 2B.
“Woah!” Riuh mereka berseru melihat penampilan teman baru mereka yang di luar dugaan.
“Flexi!” Seseorang bahkan takjub.
“Gila bener ini. Edan!” seru yang lain saling bersahutan melihat penampilan Cassie yang sungguh di luar dugaan.
Pak Chandra hanya bisa mengusap tengkuknya, begitu juga guru yang sedang mengajar. Komentar dan keriuhan di kelas itu menyambut Cassie tapi cewek itu justru tidak peduli.
Adalah salah satu siswi yang duduk di tengah jajaran bangku. Matanya membulat ketika mengenali sosok itu.
“Silakan Cassie, perkenalkan dirimu,” ujar Chandra setelah menenangkan para siswa di kelas.
Tapi Cassie tetap diam, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan hingga tatapannya tertuju pada sesetangan yang terangkat. Satu sudut bibirnya terangkat ketika mengenali sosok itu.
“Yeah, I’m Cassie.” Cukup singkat dan jelas.
Cassie melempar pandangan pada Chandra memberitahu dengan tatapan bahwa dia sudah melaksanakan perintahnya untuk memperkenalkan diri.
“Ah, baiklah. Semoga kalian bisa berteman dengan Cassie. Cassie, kamu bisa duduk di sana,” tunjuk Chandra pada sebuah bangku kosong.
Tanpa mengatakan apapun, Cassie melenggang santai bak di atas catwalk tak mempedulikan tatapan demi tatapan yang dilemparkan para siswa di kelas itu. Bagaimana dia tidak menjadi pusat perhatian bahkan sekaligus gunjingan para siswi penggosip di ujung kelas. Rambut warna warni itu cukup menarik perhatian. Gila memang. Bagaimana mungkin seorang siswa dengan rambut seperti itu? Ugh! Sungguh melanggar aturan.
“Ah. Cassie ini pindahan dari Amerika, jadi mohon dimaklumi anak-anak dan tolong jaga ketertiban kelas,” pesan Candra setelah tersadar dari tertegun dengan sikap Cassie yang begitu mengejutkan.
Rupanya Chanda hanya bersikap biasa saja seolah sudah biasa menghadapi spesies siswa baru macam Cassie, tapi ternyata dia hanya menunjukan itu di depan Siska yang tampak penuh harap putrinya tetap sekolah di sana. Dia bergidik melihat keangkuhan yang ditunjukan Cassie. Menggelengkan kepalanya lalu pamit pada guru pengajar di jam pertama itu. Kedua lelaki yang berprofesi sama itu tampak saling tatap, sang guru pengajar, Pak Arman merasa keberatan saat Chanda hendak pergi.
“Tolong titip sebentar,” pesannya.
Tapi Pak Arman menggeleng. Melihat kedatangan Cassie saja tadi jantungnya cukup berdegup kencang seolah melihat sesuatu. Chandra meyakinkan Pak Arman lalu keluar.
Sementara itu, masih dengan gaya angkuh yang tak tahu tempat, Cassie menghampiri bangku kosong yang di sampingnya adalah cewek yang melambaikan tangan padanya tadi. Tatapan para penghuni kelas itu masih tertuju padanya. Bagaimana Cassie tidak menarik perhatian dengan rambut pelangi, tinik yang nyaris memenuhi telinga, serta kalung melilit lehernya. Cassie bahkan membuka dua kancing atasnya memberikan kesan yang sungguh luar bisa, gila!
Meskipun tampak canggung, Nanda, cewek yang melambaikan tangannya pada Cassie itu menyambut ramah seolah dia sudah kenal sejak lama. Cassie duduk di sampingnya dengan santai sama sekali tidak risih dengan hujaman tatapan menghina sekalipun.
“Baiklah anak- anak. Kita lanjutkan pelajarannya!” seru Pak Arman mencoba menarik perhatian semua murid di kelas itu untuk terarah kembali ke depan kelas, melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda karena kedatangan yang tak terduga itu.
Bisik-bisik dari ujung kelas masih berlangsung, mereka tampak memindai Cassie dari ujung kepala hingga kaki.
“Astaga. Kelas kita kedatangan Devil,” ujar mereka entah siapa yang mencetuskan itu. Tapi tampaknya dengan sengaja karena terdengar cukup keras di ruangan itu.
Kelas seketika tertawa menanggapi cetusan itu. Devil? Ugh. Ekstrim sekali untuk julukan murid baru yang bahkan lima menit saja belum lama.
“Diam!” sentak Pak Arman. “Kalian fokuslah untuk belajar. Jika ada yang bicara, silakan belajar di luar.” Ancamnya menegaskan.
Ruangan seketika hening. Meskipun sempat menunjukan sikap canggung Pak Arman termasuk salah satu guru yang ditakuti walaupun usianya masih terbilang muda, sekitar awal tiga puluhan.
“Kok bisa nyasar sini, Cas?” bisik Nanda pada Cassie yang duduk di sebelahnya. Dia mencondongkan setelah tubuhnya pada gadis angkuh yang masih mengangkat dagunya itu.
“Terpaksa,” balas Cassie.
Nanda mengangguk. Kembali mencondongkan tubuhnya untuk berbisik lagi, “Nanti kita bicara. Kamu ….” Ucapan Nanda terhenti dengan pandangan tertuju pada Cassie.
Seolah paham, gadis itu hanya mengangkat bahunya cuek. Dia pasti tahu Nanda akan menceramahinya.
Pelajaran usai dengan damai. Setelah Pak Arman keluar dari kelas, barulah mereka kembali riuh oleh ketakjuban yang terselip hujatan dari setiap sanjungan mereka. Terlebih geng penggosip yang memilih tempat duduk paling belakang.
“Wuhuu. Kelas kita bakal terkenal entar,” kata sesesiswa yang entah siapa.
“Benar. Astaga. gue ngeri guys!” timpal yang lain.
Tapi Cassie tetap mengangkat dagunya tak peduli, bahkan tatapan setajam belati bisa membungkam siapapun.
“Hai, Cassie, boleh kenalan? Ya boleh, dong, ya masa nggak.” Seorang siswa yang cukup terlihat urakan hanya dilihat dari tampilan saja membuat seisi kelas tertawa karena ulahnya menggoda Cassie.
“Hei, Gudy, lo nyingkir sana!” usir gadis yang bangkunya di depan Cassie.
Kelas itu berisik sekali, bahkan ada siswa dari kelas tetangga mengintip dari jendela demi melihat bidadari, ah tidak, jelmaan devil yang nyasar ke ruang kelas.
“Untung dia gak di kelas kita. Kelas 11- 2B itu memang phenomenal anaknya, pada urakan,” kata seseorang dari luar kelas ikut menggunjing kala menyaksikan keriuhan yang terjadi di kelas baru Cassie.
Seorang siswa dengan tatapan dingin dan raut datar itu tampak ikut memusatkan perhatiannya ke kelas yang dikerubungi semut siswa.
“Katanya ada murid baru pelangi,” kata temannya berbisik.
Hanya guliran bola matanya melirik sang teman yang tampak penasaran dengan kelas itu. Dia berjalan meninggalkan tempat itu untuk pergi ke ruang guru karena mendapat panggilan.
Sementara itu Cassie masih menjadi pusat perhatian di kelas barunya.
Anda Mungkin Juga Suka





