
My Little Promise
Bab 2
"Om miskin yah, kalau ndak ada, ndak papa kok, Alika masih banyak hadiah dari tetangga. Nih liat om," ucap Alika dengan muka sombong menunjukan saku depannya perutnya lalu ingin memperlihatkan banyak premen, uang dan jepitan kecil.
Varo yang sedari tadi syok langsung syok lagi sampe memegang jantung nya. Pikirannya masih tertuju dengan ucapan om miskin yah, om miskin yah. Mana ada dia miskin liat rumahnya pun megah bak istana. Siapa yang tidak tau Alvaro Aldebara pemuda yang memiliki perusahaan Bara Crop yang sudah berkembang pesat dari luar negeri, laki-laki terkaya se-Asia. Di mana letak miskinnya? Para bawahan yang pasti mendengarnya menangis mendengar ucapan bocah enam tahun itu. Baru saja lima menit ia di depan Alika sudah membuatnya serangan jantung.
"Alika udah diam gak sopan," tegur Rena yang sedari tadi berusaha menahan malunya karena tingkah anaknya itu.
Diana yang sedari tadi tertawa langsung menghentikan tawanya lalu berbisik pelan ke arah suaminya
"Sabar yah mas," bisik Diana pelan sesekali terkekeh kecil.
"Om mau paha."
Alika dengan lugunya sambil menunjukan paha ayam di sisi Varo. Varo yang Mendengar suara Alika menjadi kaku.
Varo memberikan Alika dua paha ayam seketika mata Alika berbinar melihat dua paha ayam besaran di hadapannya, lalu Alika mengucapkam terima kasih sambil mengecup pipi Varo, Varo yang merasakan kecupan dari Alika tertegun hatinya langsung menghangat. Rena dan Diana yang melihatnya pun tertawa lalu berbincang ria.
Alika yang sedang memakan paha ayam sesekali berceloteh ke arah Teddy Bearnya lalu terkekeh kecil. Tiba-tiba
Brakk!
Prang!
Akhhh!!
Terdengar suara pecahan dari atas kamar mereka yang sedari tadi asik memakan pun berhenti. Varo dan Diana buru-buru berlari tergesa-gesa berlari ke arah tangga. Alika yang terkejut memegangi jantungnya Rena yang melihat Anaknya pun mencoba menenangkan. Setelah tenang Alika berkata.
"Mom di atas ada yang ribut. Alika pengen liat," rengek ke arah suara teriakan tadi.
Rena yang bingung pun terdiam lalu ia memangku Alika menuju ke arah tangga. Rena khawatir dengan teman baru nya itu. Sesampainya di atas suara teriakan dan pukulan semakin jelas terdengar.
"Don't come near Dad, El can't control yourself. Sorry Mother El hurt Daddy, Akhhh!"
"Stop Al! "
"BUANG PISAUNYA SEKARANG! "
Prang!
Rena yang mendengar pecahan merasa khawatir ia bergegas membuka pintu bercat hitam tersebut. Alika yang melihat seorang anak lakilaki dengan belumuran darah dikeningnya lalu memegang pisau kecil ditangannya. Alika bingung lalu Alika turun dari pangkuan mommy nya yang sedari dari tidak bergerak ia segera berlari kecil sambil membawa Teddy Bearnya lalu Alika berjongkok dan mengambil pisau kecil yang sedari tadi dalam gengaman anak lakilaki itu. Rena, Diana, dan Varo syok dengan Alika yang merebut pisau dengan polosnya.
"Alika buang sayang. Itu bahaya. Kemari!" teriak Rena yang syok melihat tindakan anaknya. Alika yang mendengar teriak mommy nya pun tersenyum menenangkan. Alika mengerucutkan bibirnya lalu Alika berucap.
"Kamu kenapa pegang pisau bahaya tau, kata mommy Alika, anak kecil ndak boleh pegang pisau. Itu yang merah di situ pewarna makanan yah," ucap Alika dengan wajah polosnya sambil menunjukan kening yang di lumuri oleh darah.
Laki-laki itu pun mendongak karena mendengar suara anak perempuan.
Dia Axel memandang seorang anak perempuan dengan datar
"Kamu siapa," ucap Axel dingin. Alika yang mendengar 'pun bingung lalu membisikan kearah TeddyBearnya lalu menganggukan kepala tiga kali tingkah Alika tak luput dari mereka semua yang berada di sana.
"Nama ku Alika, umulku baru enam tahun. ndah seminggu aku ulang tahun lohh, kalau mau kasih hadiah ndak usah, udah banyak Alika dapet dari tante-tante tadi. Nih liat Buanyak kan. Kamu mau," ucap Alika panjang lebar sambil memberikan premen dari saku kodok nya. Axel yang sedari tadi melihat tingkah menggemaskan Alika pun berubah tatapan yang dari tadi tajam menjadi lembut lalu mengusap surai panjang Alika dengan lembut lalu berbisik pelan.
"I Found You," ucap Axel lalu kegelapan menyelimutinya. Alika yang mendengar ucapan anak lakil-laki itu bingung lalu dengan lugunya menganggukan kepalanya tiga kali.
Diana dan Varo yang melihat anaknya pingsan segera membawa ke rumah sakit. Rena segera mengecek keadaan Alika, Alika yang melihat mommy nya berbicara kalau di baik-baik. Segera Rena membawa Alika kedalam pagkuannya lalu berlari menyusul Diana karena khawatir dengan Diana dan anak lakilaki itu.
******
Tiba di rumah sakit, Varo membawa Axel bersama Diana dan Alika yang berada di pangkuan Rena segera berlari tergesa-gesa ke arah ruang perawatan. Diana tak henti-hentinya merasa khawatir. Rena yang melihatnya dengan sigap memenangkan teman barunya itu.
"Dokter, Alex kembali," ucap Varo. Dokter yang sedari memeriska terkejut. Rena dan Alika yang mendengarkan pembicaraan mereka bingung. Sedangkan Diana langsung menangis.
"Apa tak mungkin, ini sudah dua bulan berlalu," kata Dokter Bian.
Bian Lecus. Dokter yang bekerja di keluarga Aldebara sejak dulu. Ia sudah tahu kecelakaan yang membuat Axel koma hingga satu tahun dan ketika Axel terbangun, Bian baru sadar jika Axel mempunyai Alter Ego yang bisa membangunkan kepribadian seperti Alex seorang yang sangat mencintai aroma darah bisa di sebut pyscopat. Ah iya begitu penasaran apakah Axel berbuat sesuatu hingga Alter Ego nya terbangun kembali.
Ting!
Ponsel dari saku Rena berbunyi. Ia segera menurunkan Alika dari pangkuan nya lalu berjalan keluar untuk melihat pesan dari Allan sekaligus mengabari suaminya itu, ia lupa mengabari Allan pasti suaminya itu sedang mencemaskan nya Ditempat Alika berjalan ke arah brangke untuk melihat lebih jelas anak laki-laki yang pingsan dari tadi.
'Euhh'
Axel yang sedari tadi pingsan mulai mengerjapkan matanya. Atensinya melihat Bunda dan Papahnya dan satu orang anak perempuan yang tidak ia dikenalinya.
"Bun, kepala Axel sakit," ringis Axel mengusap kepalanya pelan. Dokter Bian dengan sigap menopang kepala Axel ke arah bantal. Lalu Bian menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke tangan Axel, Alika yang melihat itu pun menghentikan.
"Om Dokter, ndak boleh suntik Dia, kasihan tar nangis lagi." Alika dengan polos sambil menarik jas putih Dokter itu. Bian yang mendengar suara pun menundukan kepalanya dan melihat anak perempuan dengan mata berkaca-kaca menarik jasnya.
Bian belum sadar jika anak perempuan itu sedari tadi berada di sana. karena tubuh kecil Alika gak kelihatan.
"Gak sakit kok, malah kaya digigit semut," jawab Dokter Bian sambil menyubit pelan pipi Alika.
Alika yang melihat suntik langsung bergidik ngeri ia tak mendengarkan suara dari dokter itu fokusnya sejak tadi ke arah jarum suntik. Mengerikan pikir Alika. Ia segera menutupkan kedua matanya dengan tangan sesekali melihat melalui celah-celah jari-jarinya. Empat orang yang melihat kelakuan Alika terkekeh kecil.
Rena yang sedari tadi sudah menghubungi Allan berjalan ke arah Alika yang sedang menutupi mata.
"Pak Varo dan Ibu Diana, bisa bicara sebentar di ruangan saya?" tanya Dokter Bian. Varo dan Diana hanya menganggukan lalu menitipkan anaknya kepada Rena.
"Aku Alika. Nama kamu siapa?" tanya Alika kepada Anak Lakilaki yang sedari tadi hanya diam dengan wajah datarnya.
Rena yang mendengar kan anaknya berbicara dengan Anak Diana tidak mendengarkan ia hanya diam.
"Axel." jawab Axel dengan suara pelan. Alika hanya menangguk tiga kali.
Dalam hati Axel apakah Alika lupa dengannya? Kenapa Alika tidak mengetahuinya.
"Lain kali ndak boleh pegang pisau lagi yah, kata Mommy bahaya," nasehat Alika lalu mengerejap pelan sambil menunjukan buah-buahan yang menggoda Alika yang sedari tadi ia lihat. Axel hanya menangguk dengan wajah bingung.
"Mau buah Apel?" tanya Axel lalu ia mengambil buah Apel dari nakas yang berada dekat di sisinya.
"Telima kasih ..."
"Akutuh dali tadi mau apel tapi tanganku ndak sampe. Ketinggian," jawab Alika sambil mengerucutkan bibir nya kebawah lalu memakan Apel dengan rakus. Rena yang melihatnya meringis malu. Bukan ketinggian tapi tubuh anaknya itu yang Kependekan.
Axel yang melihatnya pun terkekeh pelan. Sampai—
Varo dan Diana membuka pintu dengan keras lalu mendekap tubuh sangat anak lalu terisak pelan. Rena yang melihatnya pun penasaran tapi ia tidak punya hal untuk mencampuri urusan orang lain.
Rena membawa Alika berpamitan untuk pulang kepada mereka karena sudah malam. Diana yang melihatnya pun mengucapkan terimakasih pada Rena dan menawarkan suaminya untuk mengantar Rena dan Alika pulang. Tapi dengan halus Rena menolak karena suaminya sedang berada jalan untuk menjemputnya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





