
My Little Promise
Bab 3
Rena berjalan ke arah parkiran dengan menggandeng tangan Alika. Ia dari tadi mencari-cari mobil Alan. Lalu Rena melihat mobil hitam Alan sedang di parkiran sebelah kanan, ia bergegas ke arah mobil tersebut. Rena segera mengetok kaca jendela mobil. Setelah pintu mobil dibuka Rena memasuki Alika di kursi belakang lalu memakaikannya sabuk pengaman kepada anaknya setelah itu ia menutupi pintu mobil.
Rena membukakan pintu mobil dan duduk ke arah kursi depan sebelah kiri berada di dekat suaminya. Rena langsung menyalimi tangan suaminya itu.
"Mas, ayo jalan," perintah Rena kepada suaminya. Alan menangguk.
Di perjalanan Alika tak henti hentinya berceloteh dengan Teddy Bearnya sambil menunjukan ke arah langit malam yang terlihat dari jendela sesekali ia menghitung jumlah bintang. Alika yang menghitung bintang 'pun berhenti ketika melihat pasar malam dari kejauhan.
"Daddy berhenti!" teriak Alika.
Tapi Alan tidak menghentikan mobilnya itu. Rena tidak mendengar ucapan Alika karena Dia tertidur. Alika yang melihat mobil masih berjalan pun berteriak panik karena pasar malam yang di lihatnya mulai tak terlihat. Segera Alika melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi di pasang oleh mommy nya.
"Dad Berhenti, Alika mau liat pasar malam." lagi Alika sambil mengoyangkan bahu Allan sambil terisak pelan.
"DAD BERHENTI!" teriak Alika menguncangkan bahu Alan dengan kencang.
Rena yang sedari tertidur pun terbangun mendengar teriakan Alika. Alan yang sedang menyetir 'pun hilang kendali karena bahunya di goncangkan oleh Alika.
Seketika Alan langsung menginjak rem mobil lalu menghasilkan suara nyaring dari ban mobil.
Cekittttt
Plak!
"DASAR ANAK SIALAN. BISA DIAM GAK.! HAMPIR SAJA KITA KECELAKAAN!"
*****
Mereka berempat atau bisa dikatakan bertiga karena Rey tidak ikutan. Rey sedari tadi hanya mendengarkan musik sambil bermain dengan hpnya. Bram, Atlas, dan Ellan yang tercyduk memperhatikan Ansen langsung salah tingkah. Rey yang melihat mereka bertiga hanya acuh lalu menghampiri meja Ansen. Sudah kepalang kepergok toh. Bram, Atlas, dan Ellan yang melihat Rey menghampiri Ansen segera mengikuti dari belakang Rey.
Ansen yang melihat mereka berempat menghampiri mejanya segera memandang mereka dengan tatapan tajamnya.
"Mau apa kalian kemari?" tanya Ansen dengan tatapan datarnya. Tingkah Ansen tak luput dari Rena dan Alika, tapi Rena hanya acuh itu bukan urusannya, Rena hanya mendengarkan saja. Sedangkan Alika langsung meniru gaya Ansen yang semula tatapan polos berubah dengan tatapan datar yang dibuatnya
"Mau apa kalian kemali," tiru Alika, menirukan suara Ansen. Mereka yang berada di meja pun melongo. Bram ingin menjitak gemas Alika karena bukannya takut ia malah ingin mencekik karena saking gemasnya tapi ia tahan bisa berabe berurusan dengan polisi.
"Bisa bicit juga nih anak. Tahan Bram jangan sampai lo bunuh tuh bocah," gumam Bram pelan. Tapi bisa di dengar oleh Ansen karena pendengar Ansen yang tajam. Seketika Ansen menatap Bram tajam.
"Sudah, jangan pada ribut. Kalian temannya Ansen yah. Silahkan duduk," ucap Rena yang sedari tadi hanya mendengarkan. Mereka berempat duduk di kursi yang kosong. Lalu memperkenalkan diri mereka kepada Rena.
"Tante ini siapanya Ansen?" tanya Atlas memulai pembicaraan lalu dengan tak tau malunya melahap nasi goreng yang berada di depan. Enak. Ansen yang melihat mendelik.
"Saya tetangga barunya nak Ansen." Jawab Rena.
Mereka bertiga terkejut kecuali Rey karena fokusnya sekarang sedang melihat Alika yang memakan paha ayam sesekali Rey mengusap bibir Alika yang belepotan. Uhh, mengemas. Alika yang melihatnya mengucapkan terima kasih lalu atensinya memandang benda aneh yang terpasang di telinga Rey.
"Woh, tante yang namanya Rena yah. Ansen kalau di sekolah sering bicarain tante loh." Ellan sambil menurunkan sebelas alisnya dengan tatapan menggoda kepada Ansen.
"Iya. Oh ya. Ngomongin apa aja Ansen sama kamu?" Rena penasaran. Tapi dengan cepat Ansen mengalihkan pembicaraan.
"Kak Ley, itu apaan?" tanya Alika lalu menunjukan benda yang terpasang di telinga Rey. Rey tidak menjawab i langsung mencabut satu headset yang terpasang disebelah kirinya lalu memakainya ke arah Alika.
"Woah, ada musiknya," ujar Alika dengan wajah antusias sambil membuat mereka yang berada disana gemas sendiri. Sudah Bram dari tadi tidak bisa menahanya ia langsung mencubit dengan gemas pipi Alika. Alika yang melihat pipinya dicubit memasang wajah masam. Seketika mereka, Atlas, Ellan tertawa kencang sambil memukul kencang punggung Bram.
"Bram, Alika gak sudi Lo pegang Bro. Liat wajahnya anjayy ngakak sumpah," ucap Ellan di sela-sela tawanya. Rena hanya menggeleng kepala melihat tingkah mereka.
"Mom, Alika pengen benda ini," ucap Alika memasang kembali wajah cerianya. Rena yang mendengar meringis. Tidak masalah kalau Headset masalahnya yang menghubungkan headset dari HP masa ia harus membeli HP 'kan Alika masih kecil.
Seakan mengerti pikiran Rena, Rey langsung membukakan tas yang sedari tadi Ia bawa lalu memberikan headset berukuran kecil dengan salon kecil berukuran kotak yang ada musik otomatis tidak menghubungkan HP dari musik. Rey berniat untuk memberikan kepada Alika dari tadi ketika melihat antusias Alika toh ia sudah jarang memakainya.
Atlas yang melihat pun melongo Ia dari kemarin berusaha membujuk Rey untuk memberikan Headset itu kepadanya tapi Rey tidak mau malah ia dengan nekad mencurinya dan berakhir babak belur di tangan Rey. Sedangkan Ansen melihat nya hanya tersenyum kecil. Ia tau bahwa Rey sangat menyayangi anak kecil dari dulu sejak adik kecil Rey meninggal bersama kedua orang tuanya akibat kecelakaan beruntun tiga tahun lalu.
Rey segera membluetoothkan lagu anak-anak ke arah kotak yang berukuran kecil itu lalu menghapus lagu-lagu lamanya.
Rena yang melihat pemberian Rey kepada Alika mengucapkan terimakasih tak lupa Alika pun ikut berucap.
"Terima kasih kak Rey," ucap Alika seraya menyerahkan premen yang berada di saku depan perutnya. Rey hanya menangguk sambil mengambil tiga premen susu dari Alika.
"Ini namanya apaan kak?" tanya Alika sambil memasang kembali benda itu.
"Headset." Bukan Rey yang menjawab tapi Bram.
"Ohh, Hedet," ucap Alika dengan mengangguka kepala tanda mengerti.
"Bukan Hedet, H e a d s e t, Headset." Koreksi Bram dengan sabar.
"Heaset," ucap Alika lagi
"Bukan Alika bukan Heaset," gemas Bram dengan wajah putus asa
"He" Eja Bram lalu Alika meniruka ejaan Bram
"He"
"Ad"
"Add"
"Set"
"Sett"
"Headset"
"Hedeaset"
"Anjing!" umpat Bram kelepasan karena kesel
"Anjing," tiru Alika sambil menunjukan wajah Bram dengan wajah lugu.
Seketika mereka yang dari tadi menyasikan tingkah laku Bram langsung tertawa kencang.
"Hahhah anjing. Muka Lo Bram kaya Anjing, hahaha." Kompak Ellan dengan Atlas menunjukan wajah Bram yang masam.
"Sial."
Bersambung..
Anda Mungkin Juga Suka





