Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Iceberg

My Iceberg

Prana Guntara adalah suami yang kaku dan otoriter. Tanpa ampun, ia mengusir istrinya, Ganistra Yunata, atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Ganistra pergi membawa rahasia kehamilan yang belum terungkap. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sosok Prana kini tampak berubah, ia menjadi sangat protektif dan terobsesi untuk memiliki Ganistra lagi. Ia bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya untuk kedua kali.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ganis tidak begitu memikirkan kata-kata Mila soal Direktur Utama itu. Baginya yang penting, ia bekerja dengan sangat baik. Bisa menuangkan ide kreatifnya, sesuai dengan yang diinginkan oleh kliennya.

Sudah beberapa kali ia survey ke lapangan. Kadang di temani Mila, untuk mencari mebel yang sesuai dengan konsep gambarnya.

"Mil, sepertinya barang-barang mebel di sini lebih tinggi harganya dibanding di Yogya. Aku punya teman di sana, dia pengrajin mebel yang hasil kerjanya bagus dan bisa dipercaya." katanya kepada Mila, setelah keluar dari toko mebel yang cukup besar. 

"Itu pasti, Nis. Aku sudah bekerja sama dengan beberapa pengrajin di daerah, dengan pikiran harganya lebih murah dan kita bisa pesan sesuai konsep kita. Namun, kadang terkendala sama waktu dan modal mereka yang tidak begitu memadai. Sehingga, kadang menghambat pekerjaan kita, karena barang yang kita inginkan belum tersedia tepat pada waktunya. Aku sudah mengalaminya beberapa kali. Jadi, aku lebih memilih ambil dari toko walau lebih mahal, tapi pasti." Mila menjelaskan.

"Oh, gitu ya?" renungnya.

"Akan tetapi, kamu boleh coba dulu menjalin kerjasama dengan temanmu itu. Kalau memang lancar, tentu saja tidak akan jadi masalah. Karena rata-rata pengrajin seperti mereka, hanya dikelola oleh perorangan, tapi ada juga yang yang sudah dikelola secara profesional. Aku akan rekomendasikan perusahaan mebel mana yang bisa kita ajak bekerjasama."

"Kamu memang temanku yang sangat baik. Terima kasih." Mila tersenyum. 

"Tapi aku juga suka melihat-lihat ke toko-toko mebel seperti ini loh. Hanya sekedar mencari inspirasi, untuk sekali-kali menyelipkan sesuatu yang beda di desain interiorku."

"Hmm ... boleh juga tuh, Mil. Kita sebagai seorang desainer, tentu punya kebebasan untuk menuangkan ide kreatif kita. Kalau bisa diterima oleh klien kita, tidak ada masalah, kan?"

"Tentu saja, Nis. Aku sering menyarankan kepada klien, untuk tidak terlalu terpaku pada model yang diinginkan mereka." keduanya tertawa bersama.

 "Yuk, kita cari makan, udah laper nih." Yang diangguki oleh Ganis, tanpa banyak kata lagi. 

Mereka tiba di kantor, setelah jam makan siang berakhir. 

Setiba di ruangan kerja, Aldy langsung berbicara pada Ganis. "Nis, di cari Felix tadi." 

Ganis mengerutkan keningnya. "Ada apa, ya?"

"Aku gak tahu, dia gak ngomong. Hanya suruh ke kantornya aja, bila kamu sudah datang."

"Baiklah, aku akan segera ke sana." 

"Mungkin Felix sudah kangen sama kamu, Nis. Karena sudah dua hari ini, kamu kelayapan terus di luar." canda Mila.

Ganis hanya melirik Mila yang lagi nyengir, lalu melangkah menuju ruangan CEO yang ada di lantai satu.

Setelah mengetuk pintu, ia mendengar suara Felix yang mempersilahkannya masuk.

Begitu pintu terbuka, Ganis melihat Felix langsung berdiri dari kursi kebesarannya. "Akhirnya kamu kembali juga. Bagamana jalan-jalannya, membuahkan hasil?" Felix selalu ramah padanya, wajahnya yang memang tampan selalu menarik dengan senyuman dan tatapannya yang simpatik.

"Aku berusaha mendengarkan pendapat dari Mila, yang lebih berpengalaman dalam hal ini. Toko-toko mebel itu juga menarik. Banyak model-model furniture-nya yang inspiratif, bisa diterapkan bila ingin menciptakan sebuah ruangan yang berbeda." ujar Ganis, sambil terus berjalan mendekati mejanya. Wajahnya yang cantik, tidak pudar karena kegiatannya di luar, tetap segar dan ernergik

"Kepalamu selalu punya ide yang bagus, ya? Aku melihatnya ditiap detail desain yang kamu buat." puji Felix, tak berusaha menyembunyikan rasa kagumnya.

Felix melangkah mendekatinya, Ganis tersenyum menanggapi omongannya itu. "Aku memang suka menata ruangan. Bukan hanya menjadikan ruangan itu indah, tetapi akan terasa nyaman dan aman bagi yang mendiaminya."

"Kalau begitu, aku akan memperkenalkanmu pada sang penilai paling kritis. Setiap detail tidak akan luput dari mata tajamnya." Ganis membulatkan matanya. 

"Maksudnya?"

"Pak Direktur Utama kita, sudah pulang dari tugas luarnya. Aku akan memperkenalkannya padamu." Ganis hanya menaikan sudut bibirnya. Siapa takut? Batinnya.

"Aku akan mengantarkanmu ke ruangannya." ajak Felix pelan. Berjalan mendahului, yang diikuti oleh Ganis tanpa keraguan.

Gedung perusahaan ini, hanya terdiri dari tiga lantai. Terus terang, Ganis belum begitu mengenal ruangan kerja yang lainnya, selain ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Sementara lantai tiga yang ditujunya sekarang, belum pernah sekalipun diinjaknya. 

 Felix membawanya kesebuah ruangan, yang dirasa Ganis memiliki aura yang berbeda dari ruangan yang lainnya. Sebuah aura dingin, dari interiornya yang bernuansa hitam putih.  Ornamen yang ada di sekitarnya, nampak elegan. Mungkin AC ruangan ini yang terlalu dingin, pikirnya.

Mereka melewati meja sekretaris yang cantik, Felix hanya mengangguk sambil tersenyum padanya. Tangannya mengetuk pintu besar dari kayu yang berat, tanpa menunggu jawaban dari dalam, Felix membukanya sendiri.

"Masuklah, Nis. Aku ingatkan jangan terlalu terpaku pada penampilannya, ya? Dia tidak akan menggigitmu." Masih dengan nada guraunya. Felix belum sadar, kalau orang yang ada di belakang punggungnya itu, sudah memucat seperti mayat hidup.

Ya, Ganis sudah melihat orang yang ada di balik meja bertuliskan 'Direktur Utama' itu. Prana Guntara. Yang tiada lain adalah, orang yang paling ingin dihindarinya selama ini. Suami yang telah dengan kejam, mengusir dirinya tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Tuduhan yang sudah dilontarkan, tidak main-main. 'Istri yang berselingkuh!' suatu tuduhan yang tanpa dasar, menurut Ganis.

Ingin saja Ganis membalikkan badannya, berlari menghindari laki-laki itu. Namun, terlanjur Prana melihat kehadirannya.

Ekspresi terkejut ditunjukkan bukan hanya oleh Ganis, hal yang sama juga terlihat di wajahnya yang dingin.  Candaan Felix tidak berpengaruh sama sekali, pada keduanya.

Apakah kamu baik-baik saja, Nis? Wajahmu pucat sekali." tanya Felix khawatir. Tangannya menyentuh wajah Ganis, yang masih terpaku diam seperti patung. 

Mengapa Prana ada di perusahaan ini? Bukankah aturan pemerintah tidak memperbolehkan orang militer ikut terlibat dalam bisnis apapun?

Apakah Prana melepas kemiliterannya? Rentetan pertanyaan muncul di kepala Ganis yang sama sekali tidak habis pikir. Ia sangat tahu, Prana sangat mencintai karier militernya itu dengan sepenuh hati dan jiwa raganya. Namun, kenapa ia malah jadi Direktur Utama di perusahaan ini?

"Nis." Felix kembali memanggil namanya. Tangannya menepuk-nepuk lembut pipinya yang masih pucat.

Ganis baru sadar, otaknya kembali waras. Ia melihat Felix, kulit wajahnya yang halus mulai berwarna lagi.  

Bagaimana pun, ia harus menghadapinya. Ia bertekad, bahwa tidak mau lagi diperlakukan dengan sewenang-wenang, oleh laki-laki yang tidak punya hati ini.

Matanya perlahan berapi, lalu masuk melewati Felix yang masih tampak kebingungan.

Raut Prana sudah kembali ke semula, wajah terkejutnya sudah hilang. Dia menatap Ganis yang berjalan mendekati ke arah meja kerjanya.

Tubuh perempuan itu tidak ada perubahan. Bentuknya tetap bagus, tetap ramping. Rambutnya yang hitam, lebih panjang dari terakhir dia melihatnya.

Rasa marah itu masih ada, tapi mengapa dia tidak bisa melupakannya? Wanita penghianat ini, malah terlihat semakin menawan. Sialan! umpatnya dalam hati.

"Fe, tolong siapkan. Setengah jam lagi, kita akan mengadakan rapat bersama Divisi Site Engineer." katanya langsung. Saat melihat sahabatnya itu mengikuti Ganis memasuki ruangan kantornya.

"Dadakan? belum tentu mereka siap." dalih Felix.

"Siap gak siap, rapat tetap diadakan." kata Prana tegas, tidak mau dibantah. Tatapannya sangat dingin.

"Ok, siap!" Felix tidak berani membantah, segera akan keluar lagi dari ruangan.

"Maaf, Nis. Aku harus segera melaksanakan tugasku." sesalnya, menghampiri Ganis sebelum pergi meninggalkannya sendirian.

Ganis hanya menganggukan kepalanya, tanda mengerti. Pikirnya, Prana memang sangat disegani oleh siapa saja, termasuk Felix yang sekarang ia tahu sebagai sahabat terdekatnya.

Felix sendiri sedikit merasa heran, melihat sikap Prana yang tidak terlihat seperti biasa. Dia menangkap ketegangan diwajahnya yang kaku. 

Felix belum sempat memperkenalkan Ganis padanya, sudah buru-buru terusir karena perintahnya. 

Sikap Ganis pun, membuatnya heran. Sakitkah Ganis? Kenapa tiba-tiba wajahnya memucat? Atau, Jangan-jangan mereka sudah saling mengenal? Tapi tidak mungkin, seorang Prana yang ia tahu laki-laki dingin dan tidak pernah tertarik pada wanita itu, mengenal Ganis.

Banyak pertanyaan muncul di kepala Felix, tapi banyak penyangkalan juga karena ia tidak percaya akan adanya hubungan antara Ganis dan Prana. 

Sepertinya, yang satu dari kutub utara dan yang satunya lagi dari kutub Selatan. Sungguh! Tidak mungkin.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Denish
9.6
Kejadian tak terduga menimpa seorang mahasiswi saat ia memergoki aksi panas dosennya di lorong kampus yang sepi. Pria itu adalah Heruon Danish, sosok pengajar tampan nan populer yang dikenal luas oleh seluruh mahasiswa. Bukannya merasa malu setelah tertangkap basah bersama mahasiswi lain, Danish justru mendekat dengan senyum sensual. Ia melontarkan tawaran provokatif yang menantang gadis itu untuk masuk ke dalam dunianya yang penuh gairah dewasa.
Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
9.1
Nadine terburu-buru menikah dengan pengusaha yang dikabarkan bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban mulai terjadi. Nadine memenangkan Porsche dan vila mewah secara tak terduga. Segala masalahnya tuntas berkat bantuan sang suami yang misterius. Semula ia tak curiga, hingga orang-orang memujinya karena bersuamikan pria kaya raya. Nadine akhirnya menyadari bahwa suaminya bukan orang biasa, melainkan seorang konglomerat ternama.
Sampul Novel Jerat Cinta Dosen Killer
9.3
Tujuh tahun kuliah tanpa kelulusan membuat Arum dijuluki mahasiswa abadi. Hidup tenangnya hancur saat Daffin Narendra, dosen muda bermulut tajam, ditunjuk menjadi pembimbing skripsinya. Arum terpaksa patuh demi menghindari ancaman DO yang nyata. Namun, situasi kian pelik ketika rumor skandal asmara mereka tersebar luas di kampus. Di tengah kekacauan itu, teror misterius dari masa lalu muncul mengancam nyawa mereka. Mampukah keduanya bertahan?
Sampul Novel Kehidupanku yang Cemerlang Setelah Perceraian
8.7
Tiga tahun menikah tanpa cinta, Becky diceraikan Rory Arsenio setelah difitnah menyebabkan keguguran Berline. Alih-alih tunduk memohon maaf, Becky memilih berpisah. Keluarga Arsenio terkejut saat tahu Becky adalah pewaris kaya raya, bukan wanita materialis. Rory yang kini terpesona mulai mengejarnya kembali, namun Becky telah berubah menjadi sosok mandiri yang sulit digapai. Di tengah upaya Rory menebus kesalahan, akankah Becky luluh atau memilih pria lain?
Sampul Novel KETUA OSIS
8.6
Budaya diskriminasi terhadap siswa beasiswa di sekolah elit Taruna Bangsa membuat Eva Nur Shafaah, sang ketua OSIS, kehilangan harga diri di mata murid lain. Hidupnya kian pelik saat ia berselisih dengan Artanabil Hibrizi, pemimpin geng Kompeni sekaligus cucu pemilik sekolah yang sangat berkuasa. Arta memaksa Eva menjadi babunya tanpa perlawanan. Di tengah hubungan toxic ini, ketulusan Eva diuji oleh sikap brengsek Arta dalam dinamika remaja yang keras.
Sampul Novel Pernikahan Terhimpit Rahasia
8.7
Setengah tahun menikah, Rowena harus menghadapi dinginnya sikap Cassian yang baru pulang bertugas. Tanpa keintiman maupun kasih sayang, hidupnya kian menderita akibat pengkhianatan dan ancaman dari iparnya. Saat mencoba mencari ketenangan, ia justru menyelamatkan seorang wanita tua di tepi jurang. Namun, ucapan misterius wanita itu menyeret Rowena ke dalam pusaran rahasia gelap yang jauh lebih mengerikan dan berbahaya daripada keretakan rumah tangganya sendiri.