Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Husband Ex-GIGOLO

My Husband Ex-GIGOLO

Fadly, pemuda yang terusir, beralih profesi menjadi gigolo setelah bertemu Sandra. Namun, hidupnya kian rumit saat ia menghamili Saraswati dan jatuh cinta pada Soraya, mahasiswi yang ternyata putri Dahlia, cinta pertamanya. Di tengah kemelut asmara, Fadly mewarisi 90 persen saham ayahnya, Tuan Surya Adjie. Kini ia harus memilih: bangkit memimpin perusahaan besar tersebut atau tetap menjadi pecundang selamanya. Sebuah dilema antara harga diri dan amanah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu Saraswati duduk sendirian di meja bundar paling depan, menatap panggung dengan cahaya kemerahan. Kedua matanya sedari tadi terjerat pada sosok lelaki tampan yang kini sedang menyanyikan lagu bernuansa Jazz.

Lelaki berpenampilan kasual yang mengenakan jaket kulit coklat itu, duduk di atas kursi tinggi sambil memegang mic. Wajah maskulin selaras dengan gema bariton yang mencuri telinga seluruh pengunjung di bar ini. Sesekali lelaki itu membelah rambutnya yang gondrong dengan sebelah tangan.

Tampan, itu yang ada di kepala semua yang hadir menonton nya.

Tatapan lelaki itu berkali-kali menemukannya. Meredup sayu, tiap kali ia tersipu malu akibat senyuman kelewat manis yang dalam sekejap melumpuhkan hatinya. Saraswati yakin bukan sekadar kebetulan tatapan mereka berkali-kali bertabrakan, hanya karena ia duduk di meja paling depan.

Tidak pernah Saraswati sangka, akan menemukan lelaki yang begitu menarik di bar rekomendasi salah seorang kenalannya. Sepulang kerja di Jumat malam, ia hanya berniat melepas penat dengan sepiring pasta dan segelas bir di atas meja. Siapa sangka, di bar yang tidak terlalu ramai pengunjung ini ia mendapatkan penampilan panggung mengesankan dari lelaki yang tampak begitu sensual.

Saraswati sebenarnya tidak begitu menyukai musik.

Tetapi akhir-akhir ini ia mencoba mendengarkan demi menyamakan selera dengan beberapa kolega bisnisnya. Namun suara dalam dan berat penyanyi dengan penampilan unggul di atas panggung, membuat musik yang sedang dimainkan begitu menyatu dengan telinganya.

Lebih tepatnya, menyatu dengan kedua matanya.

Entahlah. Mungkin lelaki itu memang atraktif dan terlanjur memikat sehingga apa saja yang dilakukan terlihat bagus-bagus saja. Mungkin juga karena lelaki manis itu mengenakan jaket merah yang selaras dengan pencahayaan panggung.

Riuh tepuk tangan menjadi penutup dari lagu yang baru saja selesai dibawakan. Lelaki itu dan personil band lainnya turun dari panggung, hanya menyisakan seorang pianis yang bertahan memainkan instrumen.

Lelaki itu mendekat sambil mengurai senyuman yang membuat jantung Saraswati berdetak lebih kencang.

“Sendirian?” tanya lelaki jangkung yang sudah berdiri di depan mejanya.

“Seperti yang kamu lihat, saya sendirian.” Saraswati tidak menerima pertanyaan basa-basi.

“Boleh... duduk?” Lelaki itu tersenyum sambil bersiap menarik kursi di hadapannya. Seperti sudah tahu akan jawabannya.

“Silahkan.”

Jawabannya membuat lelaki menawan yang terlanjur mencuri puja- pujinya itu tersenyum malu, kemudian duduk dengan manis di hadapannya.

“Saya Fadly .” Lelaki itu percaya diri memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. Mungkin agar terkesan tidak terlalu formal.

Saraswati mengamati lekat-lekat wajah Fadly yang menawan.

“Boleh saya tahu nama kamu?” Fadly bertanya dengan tatap antusias.

Senyuman Saraswati lepas begitu saja. Lelaki bernama Fadly yang duduk di hadapannya bahkan hanya mengenakan kaos dan celana jeans, yang dipadu dengan jaket merah. Tetapi entah mengapa bisa terlihat begitu seksi. Apa karena kulit kecoklatan dan rambut sedikit gondrong yang luar biasa enak dilihat?

Ditambah, Fadly luar biasa sopan. Apa karena malam ini ia masih mengenakan pakaian kantoran sehingga Fadly akhirnya bersikap lebih formal?

“Saraswati . Panggil aja Saraswati ,” jawab Saraswati tanpa ragu meski selama ini ia lebih sering dipanggil Saras. Tetapi entah mengapa untuk lelaki tampan asing berwajah manis ini ia membuat pengecualian.

“saras asli orang Jakarta?” Fadly bertanya penuh minat.

“Iya. Kamu?”

“Saya asli Jogja. Jawa tulen.” Fadly lagi-lagi memamerkan senyuman manisnya.

Saraswati mengulum senyuman kagum sambil diam-diam memuji dalam hati, mas-mas Jawa memang bukan maen!

“Boleh saya temenin ngobrol? Kalau Saras mau. Saya sudah nggak ada panggung lagi.”

Mana bisa Saraswati menolak mas-mas Jawa dengan daya pikat yang kelewat manis ini? Fadly seperti diproduksi dari pabrik gula. Tidak. Saraswati meralat pemikirannya barusan.

Saraswati bertekad ia harus berhati-hati pada lelaki jenis gula Jawa seperti Fadly , atau hatinya akan terbebani oleh harapan pada pesona yang sulit dimentahkan oleh perempuan mana pun. Terlebih sepasang mata elang dan hidung mancung yang membuat Saraswati diam-diam semakin memuji pesona otentik khas jawa di hadapannya.

“Suara kamu bagus. ,” puji Saraswati terus terang.

“Seksi ya?” tanya Fadly dengan kerlingan menggoda.

Saraswati tidak bisa tidak tertawa. Tidak bisa tidak sedikit gugup. Sebaliknya, Fadly tidak sedetik pun terlihat salah tingkah. Fadly seperti begitu yakin dengan apa yang dikatakan juga dilakukan.

Iya. Seksi. Saraswati hanya mampu menjawab di dalam hati.

“Saya biasa nyanyi di sini setiap Selasa dan Jumat.” Kedua mata Fadly menemukan tatapannya. Ada sesuatu di sana, seperti percikan yang mengisyaratkan ketertarikan. Jadi apakah ini petunjuk bahwa ia bisa menemukan Fadly di sini setiap hari Selasa dan Jumat?

Fadly mengangkat sebelah tangan sambil memanggil waiters yang melintas. Menyapa dengan candaan karena sepertinya sudah akrab, lalu memesan minuman beralkohol. Dari jenis minuman yang dipesan, Saraswati menduga pemuda di hadapannya juga seorang peminum.

“Nggak keberatan kan kalau saya ngerokok?” tanya Fadly sambil mengeluarkan sekotak rokok dan korek api. Fadly sungguh tahu, jika tidak memerlukan jawabannya.

Lelaki seperti ini, sungguh idamannya. Tidak kelewat hati-hati bersikap di depan wanita. Percaya diri bersikap apa adanya. Sedikit memimpin. Lelaki yang terlalu baik, memang kadang gagal tampil menarik di mata wanita sepertinya.

“Silahkan.” Saraswati menjawab santai.

Pemantik dinyalakan. Bibir seksi menghembuskan asap beberapa kali.

Saraswati tenggelam dalam pemandangan yang entah kenapa terasa sangat lelaki. Wajah, sikap, suara, intonasi, bahkan tatapan, juga senyuman pabrik gula Fadly , semuanya terasa lekat dengan aura jantan.

Mas-mas Jawa emang manis. Sejenak Saraswati menunduk malu demi menyembunyikan senyuman samar di wajah.

“Temenin saya minum mau?” Fadly menatap lekat kedua matanya.

Saraswati hanya menjawab dengan senyuman. Tentu saja ia mau. Ia rasa minum sedikit tidak akan membuatnya mabuk, meski tadi ia sudah menghabiskan bir dengan kadar alkohol yang rendah. Saraswati pikir tidak ada salahnya sesekali minum dengan lelaki setampan Fadly , mumpung suasana hatinya sedang bagus dan ia ingin bersantai menikmati malam.

“Selain nge-band, kamu sibuk apa?” Saraswati tertarik tahu lebih jauh.

“Saya di sini tiap Selasa sama Jumat. Selain hari itu, di tempat lain.” Fadly memiringkan kepala sedikit.

“Ah I see... kamu pemusik.”

“Pengamen,” ralat Fadly .

Saraswati menenggak bir-nya. Benar dugaannya. Lelaki di hadapannya tidak berprofesi sebagai pegawai kantoran, seperti kenalannya yang lain. Melihat Fadly yang tampil dengan rambut semi gondrong, sepertinya lelaki itu memang pekerja seni. Kedua mata Saraswati baru saja menangkap tindikan dengan anting di salah satu daun telinga Fadly .

“Cia pasti pingin santai habis pulang kerja, tapi jadinya keterusan di sini.” Fadly menebak sebelum menenggak minuman yang baru saja datang.

“Keliatan ya?”

“Kirain nungguin saya.” Fadly melirik piringnya yang telah kosong juga gelas bir-nya yang juga nyaris kosong.

Tawa kecil Saraswati berderai. Sial. Ia ketahuan. Memang nyatanya keberadaan Fadly yang membuatnya betah berlama-lama di sini.

Mereka tenggelam dalam obrolan santai. Saraswati menceritakan profesinya sebagai pengusaha retail dan eksportir dan hobinya nongkrong santai sepulang kerja. Fadly juga bercerita mengenai pekerjaannya sebagai pengamen yang kerap manggung dari satu tempat ke tempat lain. Selain itu Fadly menceritakan jenis alat musik apa saja yang dikuasai dengan baik, membuat Saraswati tenggelam dalam topik yang sama sekali berbeda dengan dunianya.

Malam beranjak kian larut. Fadly menambah pesanan minuman, dan Saraswati bertahan ikut minum.

Kepala Saraswati sudah bertambah berat. Entah sejak kapan jemari mereka sudah saling tertaut di atas meja. Mereka menertawakan banyak hal. Di depan kasir Fadly bersikap gentle dengan mengeluarkan dompet, berniat membayar total tagihan.

Tawa Saraswati berderai saat lelaki itu mengeluarkan kartu tanda penduduk.

“Eh keliru.” Cengiran Fadly mengembang lebar. Saraswati menggelayut manja pada lengan Fadly . Ia melihat deretan kartu di dompet Fadly . Meski sedikit mabuk, kedua matanya jeli melihat kartu kredit platinum berlogo bank ternama di dompet Fadly .

Apa? Apa pengamen ini kaya raya? Saraswati sekali lagi melirik wajah Fadly yang memilih memberikan kartu lain kepada kasir.

Tentu saja Saraswati tahu, kartu kredit jenis platinum hanya diberikan kepada mereka yang berpenghasilan besar setiap bulannya. Di bank tempatnya bekerja dulu sebelum ia memutuskan menjadi seorang pengusaha kartu kredit platinum hanya bisa diberikan kepada nasabah yang berpenghasilan minimal seratus juta per bulan. Tentu saja fasilitas yang diberikan sungguh setara dengan gaya hidup nasabah. Di antaranya nasabah bisa menikmati berbagai layanan bertaraf internasional seperti luxury golf club, bon appetite club, visa platinum club, juga executive lounge di berbagai airport tanah air.

“Mau lanjut ke mana?” tanya Fadly saat ia berjalan sempoyongan di samping lelaki itu, yang dengan sigap menyangga tubuhnya agar tidak jatuh.

Saraswati menatap hotel di seberang jalan.

Persetan itu hotel check on cek out gairahnya sedari tadi sudah memuncak. Saraswati hanya ingin segera berdua-duaan di dalam kamar dengan Fadly . Seolah sudah saling tahu maksud masing-masing, mereka menyeberangi jalanan yang sepi dengan derai tawa.

Saraswati hanya ingin merasakan kehangatan lelaki menawan yang baru saja ditemuinya malam ini. Sungguh penasaran sejauh apa Fadly mampu membuatnya terseret dalam arus pesona. Sudah lama Saraswati tidak merasakan hal seperti ini dan malam ini Saraswati hanya ingin membebaskan dirinya. Saraswati pikir, tidak ada salahnya bersenang-senang dengan lelaki teramat menarik seperti Fadly .

“Mmmhh... Fadly ... “ Saraswati merengek kecil saat di dalam kamar dengan pencahayaan remang, kejantanan Fadly membuat kewanitaannya terasa sesak.

Sudah sangat becek di bawah sana. Fadly malam ini membuat kewanitaannya yang sudah lama kering berdenyut berkali-kali. Cara lelaki itu melakukan pemanasan sungguh sesuai dengan imajinasi setiap kaum hawa di muka Bumi.

Tidak terburu-buru, sabar, dan terlihat luar biasa ikhlas. Dalam sekejap hatinya merasa nyaman, karena Fadly membuatnya yang sudah absen bercinta selama dua tahun tidak merasa bersalah.

Saraswati kerap merasa tidak enak jika membuat lelaki menunggu lebih lama lagi saat sudah berada di puncak gairah. Namun Fadly , antusias menyentuh setiap inchi tubuhnya seperti mainan baru.

Seperti dugaannya, Fadly memang benar-benar jantan. Segala yang ada pada diri lelaki itu tidak ada yang tidak jantan. Ia dilecut gairah saat melihat kulit langsat Fadly bersanding dengan kulit putih pucatnya. Ia tenggelam dalam rengkuhan lengan Fadly .

Saraswati memekik kecil, berkali-kali saat irama pergerakan Fadly membuat tubuhnya berguncang. Napas Fadly bau alkohol, begitu juga napasnya. Tetapi mereka tidak bisa berhenti melumat bibir satu sama lain.

Kepalang nikmat, Fadly membawa rasa itu datang lagi. Membuat rintihannya lepas berkali-kali.

“Hmmh Fadly ! Oh Fadly ! Iyaa iyaaa!” Saraswati tak kuasa menahan bibirnya saat kejantanan Fadly yang tengah mengaduk-aduk liang kewanitaannya berhasil membawanya pada geliat kenikmatan yang kian menebal. Seluruh rasa malunya luntur saat bibirnya yang berisik membuat gerakan Fadly makin mengencang.

Saraswati memekik tertahan saat tubuhnya melenting saking tidak tahannya terhadap rasa yang menerjang hebat. Saraswati hanya bisa meringis saat jerat tatapan Fadly menemukannya. Tatapan yang seolah mengatakan aku akan melakukan apa saja untukmu. Lumatan panas di bibir seolah tegas menyatakan saat ini kamu milikku.

Tempaan dahsyat Fadly memanjakan titik ternikmatnya berkali-kali. Membuat Saraswati menjadi semakin basah dan hilang berkali-kali dalam ledakan kenikmatan.

Ia mengerang panjang di pelukan Fadly . Kedua tangannya kembali menjambak kuat-kuat rambut Fadly yang tadi sudah ia buat berantakan.

Sial. Laki-laki ini hebat. Rasanya sungguh terbayarkan sia-sia mengering sendiri selama satu tahun. Fadly bahkan belum tampak lelah, malah tersenyum tipis penuh kebanggaan. Seolah yang tadi itu belum apa-apa.

“Mmmm.... “ Saraswati menggumam malu-malu. Sungguh tidak menolak jika diberi lagi, meski badan sudah lemas.

Fadly memagut pelan bibirnya, berciuman kecil, seolah masih bisa sabar.

“Fadly .... kamu ganteng banget. Jantan banget... “ Kedua tangan Saraswati menangkap gemas wajah Fadly , seolah tidak lagi malu memuji dewa seks-nya malam ini.

Fadly tersenyum dan kembali bergerak.

“Owh Fadly ..... “

Suara dengkuran membuat Saraswati mendecih kesal.

Dengan berat hati ia membuka mata dan kelewat kaget saat menemukan lelaki asing di sampingnya.

Hah?

Saraswati menatap linglung dirinya yang berada di dalam selimut yang sama dengan lelaki itu.

Tatapannya menerjang panik apa pun di dalam kamar yang tampak kelewat biasa saja.

Tunggu, seingatnya semalam ia menyantap pasta dan minum bir sambil menikmati live .

Lalu kenapa dengan dirinya saat ini? Apa ia berakhir di hotel esek-esek dengan seorang lelaki random? Saraswati luar biasa shock saat menemukan dirinya telanjang bulat di balik selimut.

Terperangah, Saraswati menatap sekali lagi wajah lelaki yang mendengkur di sampingnya. Perlahan muncul bayangan mas-mas jawa dengan senyuman pabrik gula yang mendatangi mejanya semalam.

Sial. Jadi mereka sampai sejauh ini? Saraswati menyesali kebodohannya yang mengambil tindakan ceroboh saat sedang mabuk. Sejujurnya, ia bahkan sedikit lupa bagaimana bisa sampai di hotel ini bersama.... eh siapa namanya?

Tunggu. Siapa namanya? Saraswati menatap sekali lagi wajah pemilik kelamin kelewat gagah yang membuatnya dilanda nikmat semalaman. Sial, yang Saraswati ingat hanya bagaimana bibirnya ternganga saat melihat kelamin lelaki gula jawa.

Aishh kelamin! Eh Gula Jawa!

Sungguh terlalu. Ia lupa namanya tapi ingat kelaminnya. Maksud Saraswati rasa kelaminnya.

Haduh! Saraswati menggigit bibir bawahnya sambil menahan cemas.

Tentu saja Saraswati tidak ingin membangunkan lelaki gula Jawa cendol dawet. Jadi dengan gerakan perlahan ia beringsut menuruni ranjang. Tanpa sengaja sebelah kakinya menginjak dompet yang tergeletak begitu saja di lantai.

Saraswati segera memungut dompet hitam berbahan kulit di bawah kakinya. Sekali lagi melirik wajah tampan lelaki gula Jawa yang masih mendengkur di atas ranjang.

Siapa namanya? Aku nggak boleh lupa. Saraswati segera membuka dompet di tangannya dan mencari KTP lelaki gula Jawa . Kedua matanya melebar saat menemukan KTP yang dimaksud.

Fadly Surya.

Saraswati membaca nama pejantan tangguh yang semalam menarik celana dalamnya dengan gigi. Masih terbayang bagaimana saat Fadly memanjakannya di bawah sana. Sejauh ini, yang terbaik.

Bagaimana lidahnya bermain di klitoris nya. Bagaimana penisnya menusuknya nikmat.

Kedua mata Saraswati membelalak lebar saat ia melihat tanggal lahir Fadly .

Apa? Dia sepuluh tahun dibawah ku..?

Saraswati menjatuhkan KTP Fadly begitu saja saat daya kejut bertegangan tinggi membuat punggungnya langsung menegak.

Ia secara sembrono bercinta dengan anak kemarin sore? Saraswati nyaris menangis saat menemukan KTM Fadly di dalam dompet.

Sial!

Sial!

Siaaaaaaaaaaal!

Jadi semalam ia bercinta dengan berondong berusia yang usia nya sepuluh tahun dibawahnya.

Sial! Saraswati berharap ia salah baca tetapi tidak ada yang salah dengan ketikan di KTP juga kedua matanya.

Jadi Fadly berondong? Bahkan jarak usia mereka terpaut jauh sepuluh tahun.

Kenapa Fadly semalam begitu gagah selayaknya laki-laki tiga puluh tahunan yang sudah berpengalaman dengan wanita? Saraswati juga merasa kesulitan menebak usia laki-laki karena sering menjumpai lelaki berpenampilan menarik yang ternyata awet muda.

Pembawaan diri dan segala hal yang ada pada Fadly bahkan sudah layak disandingkan dengan pria yang jauh lebih dewasa. Fadly sepertinya juga berpenghasilan seratus juta setiap bulannya.

Rasanya kelewat malu. Sungguh terasa kurang pantas.

Saraswati mengembalikan KTP Fadly ke dalam dompet yang ia letakkan di atas meja. Selanjutnya ia mulai mengenakan pakaiannya yang tercecer.

Ia harus segera pergi dan menganggap tidak pernah terjadi apa pun. Ia tidak ingin berurusan dengan Fadly lebih jauh lagi. Setampan apa pun, berondong bukan tipenya. Apalagi yang berjarak sepuluh tahun. Saraswati mengenakan heels-nya dan menyambar tas-nya, kemudian sekali lagi menatap Fadly . Langkahnya tertahan sejenak di ambang pintu yang sudah terbuka.

Semalam memang luar biasa indah, sebelum ia mendapati kenyataan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan (Sang ) CEO
9.1
Kevin Hadiwajaya, CEO sukses berjuluk monster berwajah malaikat, terobsesi menjadikan asisten pribadinya, Sarah Rania, miliknya seutuhnya. Namun, langkah Kevin terhalang oleh Hansen Rudolf, sahabat kecilnya yang juga mencintai Sarah dengan kelembutan. Di tengah persaingan sengit dua pria ini, Sarah terjebak dalam pertarungan emosi yang memilukan. Akankah ia bertahan dalam pelukan sang bos yang tegas, atau berpaling pada Hansen yang selalu menyapanya dengan kasih?
Sampul Novel Dari Pembantu Menjadi Ratu
8.2
Dengan tangan gemetar dan mata terpejam, Scarlett mencoba meraih celana yang dikenakan Ethan. Namun, suasana seketika pecah saat Scarlett berteriak kaget karena tak sengaja menyentuh sesuatu yang terasa sangat keras. Ethan pun tersentak mendengar jeritan nyaring yang memekakkan telinga tersebut. Dengan wajah yang merona merah karena malu sekaligus dilingkupi rasa takut, Scarlett menunjuk ke arah benda itu untuk menjelaskan penyebab kepanikannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Heal Me, Baby
8.1
Insiden ciuman tak sengaja membuat Sean Wilson, pria penderita fobia kuman, pingsan seketika. Keyra Minolia, mahasiswi pekerja keras yang menabraknya, dituntut ganti rugi terapi yang mahal. Karena miskin, Keyra terpaksa melunasi hutang dengan menjadi asisten rumah tangga Sean. Hidup mereka yang kontras pun beradu di bawah satu atap hingga orang tua Sean memergoki mereka dan memaksa keduanya menikah. Mampukah pernikahan ini menyembuhkan Sean dan menyatukan hati mereka?
Sampul Novel Istri Kontrak Mr Billionaire
8.6
Demi membiayai pengobatan sang ibu, Claudya terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan miliarder ternama asal Eropa. Namun, kehidupan barunya justru penuh penderitaan karena sang suami menjadikannya pelampiasan rasa sakit hati akibat ditinggalkan mantan kekasih. Meski raga dan jiwanya sempat terpikat, Claudya akhirnya memilih menyerah. Ia memutuskan untuk pergi menjauh demi mengakhiri segala kepedihan dalam hubungan yang tidak berlandaskan cinta tersebut.
Sampul Novel Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
8.0
Hidup Deana hancur setelah orang tuanya wafat. Kini, ia terdesak ancaman preman yang menagih utang besar keluarganya. Demi keselamatan nyawa, Deana nekat menjual kesuciannya kepada pria asing bernama Marvin. Namun, Marvin justru memberikan tawaran tak terduga yang bisa menghapus seluruh beban finansialnya. Deana diminta melahirkan seorang anak untuknya. Meski menjadi solusi instan, kesepakatan dingin ini justru menjadi awal dari masalah baru yang lebih rumit.
Sampul Novel Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya
9.5
Kebingungan melanda Arumi saat tak sengaja membaca pesan mertuanya di ponsel Akram. Elina, sang ibu mertua, memberikan ucapan selamat yang hangat atas kelahiran cucu pertama yang dianggapnya sangat cantik. Arumi merasa ada yang janggal karena anak mereka, Ayumi, seharusnya adalah cucu pertama di keluarga itu. Rahasia besar apa yang disembunyikan Akram darinya? Pesan misterius tersebut kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka yang semula tenang.