
My Husband Ex-GIGOLO
Bab 3
Bradoz nama band-nya saat ini, sudah berdiri selama lima tahun dan cukup dikenal di kalangan pecinta musik pop koplo meski hanya membawakan lagu-lagu penyanyi lain.
Bradoz juga sudah punya nama di restoran, dan kafe, yang berimbas pada semakin seringnya job berdatangan. Ia sendiri merupakan personil yang bergabung paling akhir dan sudah menjadi vokalis tetap Bradoz selama tiga tahun sejak saat masih duduk di bangku kuliah.
Semua ini berawal dari perpanjangan kontrak dengan Tante Sandra pemilik Cafe.
Sepertinya, tante yang satu itu sudah kelewat bucin dengannya, sehingga menyetujui kenaikan tarif sebanyak 70%℅.
Fadly benar-benar merasa hidupnya sedang berada di atas angin. Kembali teringat, bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sandra delapan bulan yang lalu.
Tetapi jika masih dianugerahi wajah tampan dengan fitur sangat lelaki seperti rahang tegas dan tatapan elang, tidak apa-apa juga kan menggunakannya untuk sesuatu yang menguntungkan? Terutama jika otak agak-agak kosong dan modal terbesar dalam kehidupan hanya wajah yang tampan juga kelamin yang ehm, besar.
Oh satu lagi. Keras maksimal.
Setuju!
Fadly sekali lagi menatap penampilannya di depan cermin toilet.
Fadly Surya, mahasiswa tingkat akhir. Hobi menyenangkan wanita.
Fadly tersenyum sendirian.
Manis banget. Fadly diam-diam memuji senyuman menawan dari wajahnya sendiri.
Dengan sepenuh kagum ia menatap pantulan bayangannya sendiri.
Pemilik wajah menawan ini, baru saja berulang tahun yang ke-25, tepat satu minggu setelah wisuda. Fadly memang sempat menunda kuliah dan juga telat lulus. Intinya, tidak terlalu niat mengejar target akademis.
Tahun pertama lulus SMA, ia memilih menghabiskan malam dengan tampil dari panggung ke panggung demi mengejar cuan yang kini terasa begitu receh. Bersama teman-teman band-nya, ia kerap mengisi acara di kafe, pub, bar, juga kelab malam.
Tentu saja karena wajahnya tampan dan suaranya lumayan, ia didaulat mengisi posisi vokalis meski juga sangat mahir bermain piano.
Sampai saat ini ia setia bertahan dengan hobi yang sekaligus menjadi pekerjaan sampingannya, meski jenis musik yang diusung sudah berbeda. Fadly bersama band-nya yang sekarang hanya membawakan musik pop koplo. Bersama band-nya saat ini, Fadly sudah sering mendapatkan job untuk mengisi acara di kafe, hotel, wedding event, hingga acara perusahaan.
Awalnya hasil dari bermain musik memang tidak seberapa, apalagi harus dibagi sama rata sejumlah personil band. Tidak cukup untuk hidup enak dan nyaman di Jakarta.
Akan tetapi saat ini, Fadly bisa mengantongi antara delapan hingga lima belas juta dalam sebulan hanya dari bermain band.
Jika saja ia bermain dalam band yang mengusung lagu-lagu top 40, Fadly yakin penghasilannya bisa lebih banyak lagi. Akan tetapi, Fadly sudah terlanjur jatuh cinta pada musik pop koplo dan hanya ingin memainkan jenis musik ini. Ia tidak begitu ambisi mengejar uang receh dari bermain band, karena sudah mendapatkan nominal yang berkali-kali lipat lebih besar dari hasil menjual diri kepada tante-tante kaya.
Fadly cukup puas terhadap berapa pun nominal uang yang ia dapatkan dari bermain musik.
Meskipun demikian, Fadly belum rela untuk meninggalkan profesi utamanya sebagai pemuas wanita.
Perjalanan karirnya sebagai pemuas wanita berawal ketika di suatu malam ia mabuk setelah mengisi acara soft launching di sebuah bar. Setelah menuruni panggung, ia berada satu meja dengan wanita pemilik bar yang malam itu bersikap sangat baik kepadanya.
Wanita yang sudah tampak tidak muda lagi itu menjamu teman-teman band-nya dengan minuman paling mahal. Tiba-tiba ia ditinggalkan berdua saja dengan wanita berwajah oriental yang sedari tadi tampak tertarik hanya mengobrol dengannya.
Demi kesopanan Fadly bertahan menemani wanita pemilik bar, meski kepala sudah terasa berat dan bicara sudah melantur ke mana-mana. Seingat Fadly, keesokan harinya ia terbangun di kamar hotel yang terlihat luas dan mewah.
Fadly tentu saja tekejut. Memang bukan yang pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu. Beberapa gadis cantik di kampus, sudah silih berganti luluh di dalam pelukannya sampai pagi. Akan tetapi, baru kali itu ia bermalam dengan wanita yang sudah lumayan berumur.
"Wah Sayang, sudah bangun!" Wanita itu mencubit gemas ujung hidung mancungnya, sebelum menangkup kedua pipinya. "Kamu semalem mabuk, tapi pinter banget!"
Pinter? Saat itu Fadly dilanda bingung. Tante itu kok tahu kalau Fadly termasuk mahasiswa berprestasi.Bahkan nilai ujian semesternya bertaburan nilai A dan B.
"Pinter apa Tante?" Ia bertanya heran.
"Idih pura-pura bego!" Tante yang ia sudah lupa namanya itu mencubit gemas pinggangnya. "Karena semalem kamu bikin Tante happy, nih buat kamu!" Wanita itu menyodorkan uang sepuluh juta tepat di depan hidungnya.
"Wah, wah banyak banget Tante!" Fadly terperangah saat menggenggam uang sepuluh juta. Bahkan tangannya saat itu sedikit gemetaran saking tidak percayanya.
Sejak kapan mendapatkan uang jadi semudah ini? Pikir Fadly saat itu.
"Duh gemes banget!" Tante itu mencubit keras sebelah pipinya, sampai ia meringis kesakitan. "Bisa Tante tambahin kalau kamu mau!"
"Hah? Ditambahin?" Fadly menatap tak percaya sampai memiringkan kepala. Tunggu, apa ia masih mabuk? Fadly menampar sebelah pipinya sendiri.
Ternyata sakit.
Wanita itu tergelak melihat sikapnya, kemudian mencubit gemas ujung dagunya.
"Tante keburu ke airport, suami Tante udah mau landing. Telpon Tante ya?" Wanita itu meletakkan kartu nama di atas bantal.
Berawal dari penawaran menggiurkan itu, ia memilih menjalani profesi ini untuk membiayai masa depannya kelak.
Fadly sungguh tahu kapasitas dirinya.
Ia tidak pintar. Ia juga tidak pernah aktif dalam kegiatan kampus. Ia menjalani kuliah hanya demi selembar ijazah yang dulu ia kira akan membuatnya selamat dari nasib menjadi pengangguran.
Soal asmara pun tidak jauh beda.
Biaya mengencani seorang gadis cantik sama sekali tidak murah. Setidaknya ia harus keluar uang bensin dan uang makan, juga tetek bengek lainnya. Wajahnya tidak akan mampu bersaing dengan anak-anak orang kaya yang membawa mobil keren keluaran terbaru. Ini baru pacaran, belum melamar anak orang.
Jadi atas dasar itu, Fadly menerima tawaran Tante Agnes pengusaha kaya raya yang menjadi tante pertamanya.
Memasuki semester empat di kampus, ia sudah tidak mengejar para mahasiswi cantik. Siapa sangka, jauh-jauh kuliah di Jakarta, ia malah berakhir menjadi simpanan tante-tante kaya. Fadly, menyembunyikan rapat-rapat sisi kehidupannya yang satu ini dari semua orang.
Sesuai permintaan tante Michele, ia sudah tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan para gadis, di mana hal itu dulu selalu menjadi ciri khas-nya.
Berhembus gosip di fakultasnya, jika sesungguhnya ia telah patah hati. Mantan terakhir percaya diri menatap iba saat mereka bertemu di kampus. Beredar gosip menyedihkan, Fadly Surya trauma dengan perempuan hingga memilih jomblo. Fadly tidak peduli, yang penting nominal di rekeningnya mengalir deras.
Fadly teliti memperhatikan wajahnya sendiri di cermin.
Bagus. Fadly memiringkan wajahnya ke kanan lalu ke kiri. Berikutnya Fadly menatap kemeja putih sedikit longgar yang ia kenakan. Ujung lengan kemeja sengaja digulung sampai siku agar terlihat lebih santai. Tubuhnya kurus, jadi ia menghindari mengenakan kemeja slim fit. Meski bukan kurus yang sampai menampakkan tulang rusuk, tetap saja kemeja slim fit ala pegawai kantoran bukanlah seleranya. Meski begitu Fadly tetap menjaga tubuhnya agar tetap ideal dengan rajin fitnes dan berenang, juga jogging. Tentu saja meski pun tidak bertubuh atletis, ia harus tetap berusaha agar sedap dipandang. Setidaknya meskipun kurus, tubuhnya masih terlihat ideal.
Masalah kurus ini sebenarnya juga faktor keturunan. Dari dulu, tubuhnya hanya segini-segini saja dan tidak mudah gemuk.
Fadly memutuskan membuka tiga kancing kemeja paling atas, demi menambah daya tarik. Meski tidak berkulit putih pucat, dadanya teramat mulus dan selama ini Fadly percaya diri memamerkan kulit kuning sedikit kecoklatan miliknya. Kata para tante, kulitnya seksi.
Fadly kembali merapikan rambutnya. Untuk perkara merapikan rambut, ia bisa melakukannya berkali-kali. Rambutnya sedikit gondrong dengan poni yang nyaris menutupi kedua mata
Memang sengaja. Biar tante-tante penasaran.
Fadly mundur sejenak beberapa langkah demi melihat celana jins hitam ketat yang membungkus tungkai jenjangnya. Ujung kemejanya yang panjang telah menyelamatkan tonjolan di bagian depan celana yang sudah pasti tercetak jelas. Fadly mengecek kembali boots yang ia kenakan. Sedikit ber-hak dengan ujung runcing. Tingginya 180 cm, boots ini sudah pasti akan membuatnya lebih tinggi sedikit. Tidak apa-apa, wanita suka lelaki bertubuh jangkung.
Oke sudah ganteng. Fadly kembali menata sedikit rambut hitamnya dengan jemari tangan sambil mengamati wajah tampannya di cermin.
Kaca mata hitam ia sampirkan begitu saja di bagian depan kemeja, di antara kancing yang terbuka.
Fadly kembali duduk sendirian di salah satu meja lounge hotel berbintang, sambil menunggu menu pesanannya tiba. Fadly menyalakan sebatang rokok sambil mengecek ponselnya. Ibu jarinya menggaruk sedikit sebelah telinganya yang sedikit gatal, tepat di bagian anting-anting emas-nya.
Tidak ada kegiatan khusus selain hanya makan siang sambil tebar pesona sebelum malam nanti ia tampil menghibur pengunjung di tempat biasanya.
Fadly memutuskan tidak memperpanjang kontraknya dengan Tante Agatha yang mengajaknya tinggal dan hidup selama delapan bulan di Bali Ia beralasan tidak bisa meninggalkan band-nya selama itu. Mereka memilih mengakhiri kontrak secara baik-baik.
Meski terdengar menggiurkan, Fadly belum siap meninggalkan kehidupannya yang telah terbangun nyaman di Jakarta. Ia masih ingin bertemu dengan teman-temannya dan menyantap nasi goreng kambing langganan di tempat biasa. Memang hanya sesepele itu alasannya. Jadi siang itu Fadly kembali menebar jaring demi mencari calon tante baru.
"Ahaahahahhaa! Berondong lah yaa!" Suara gelak tawa dari meja di seberang sana menarik perhatian Fadly. Telinganya menangkap cepat kata berondong yang baru saja terlontar dari sekumpulan tante-tante yang tampak melempar pandangan ke arahnya.
Apa mereka semua menyadari kehadirannya yang sudah tentu tampak begitu janggal? Hanya sendirian melewatkan waktu di lounge yang sepi sambil plonga-plongo tidak jelas.
Fadly memberanikan menatap ke arah sana. Tiga orang tante-tante berpenampilan menarik tersenyum menatapnya. Senyuman Fadly mengembang malu-malu. Ia menggaruk sejenak hidung mancungnya dengan bantalan jemari.
Fadly sengaja menaikkan pergelangan kaki kiri, bertumpu pada lutut satunya sambil bersandar nyaman pada kursi. Berlagak kembali acuh memainkan ponsel, sebelum diam-diam melirik kembali. Satu tante paling cantik yang duduk di paling ujung, lagi-lagi tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arahnya.
Tante berwajah oriental dengan rambut hitam sebatas leher itu mengenakan dress elegan dengan riasan tipis tidak mencolok. Kedua mata elang Fadly dengan cepat menilai tas Chanel di atas meja si tante. Oke si tante lumayan kaya. Apa suaminya pengusaha? Fadly diam-diam mengamati targetnya dengan lebih teliti.
Sebentar, yang di sebelah tante itu memakai Hermes. Tapi tampak lebih tua seperti menjelang nenek-nenek.
No.
Fadly segera mengembalikan minat pada tante cantik incarannya. Secara sadar kembali mengurai senyuman sambil mempertahankan sikap malu-malu melirik si tante.
Si tante menjilat sejenak bibirnya sambil mengangkat gelas wine, lalu minum dengan lagak sedikit menggoda.
Fadly ikut mengangkat gelasnya, terang-terangan ke arah si tante kemudian menenggak minumannya sendiri tanpa melepaskan jerat matanya.
Sekilas si tante tertunduk malu, sebelum kembali menatapnya dengan berani.
Sudah dimulai.
Masih mempertahankan senyuman di wajah, Fadly mempersilahkan si tante agar pindah duduk ke hadapannya dengan lirikan mata yang disertai isyarat gerakan kepala.
Dahi si tante sedikit berkerut sambil memberi isyarat melalui lirikan mata, yang mengarah pada teman-teman satu mejanya.
Fadly membalas isyarat si tante dengan menunjukkan ponselnya, kemudian jemari membentuk telepon yang ditempelkan di telinga. Tidak lupa sebelah mata sengaja mengedip genit.
Si tante tersenyum lebih lebar kemudian bangkit sambil menyambar tas-nya di atas meja. Tatapan mereka saling mengunci sepersekian detik, sebelum si tante semakin menjauh. Fadly melihat wanita itu berjalan menuju toilet dan sempat mencuri pandang pada bokong yang masih kencang.
Fadly memiringkan kepala sedikit sambil menimang-nimang. Not bad, kemudian menerka-nerka apa sikap barusan tadi merupakan isyarat untuk menemui si tante di toilet wanita?
Bukan kan? Fadly sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Tidak. Ia bukan lelaki sekelas main di toilet. Apalagi ini toilet lounge hotel berbintang, bisa-bisa ia digrebek satpam hotel. Lagi pula, wanita terhormat lebih memilih bermain di kamar sekelas suites ketimbang di bilik toilet.
Wanita kaya raya cenderung lebih suka berlama-lama dimanjakan dengan suasana yang terbangun romantis. Berendam berdua, makan malam romantis di kamar hotel, dan bercengkerama sebelum masuk ke sesi yang sesungguhnya. Ia tidak hanya harus ahli menggoyangkan pinggulnya di atas ranjang, tetapi juga harus pandai memuja wanitanya. Segala sikapnya yang paling kecil sekali pun, harus mengisyaratkan pemujaan.
Fadly memutuskan menunggu. Wanita itu pasti akan mendatanginya jika memang benar-benar menaruh minat.
Fadly menoleh sejenak dan melihat tante cantik incarannya muncul dari toilet. Fadly segera kembali pada posisi semula, sengaja berlagak tidak menyadari bahwa tante itu akan melewatinya.
Suara heels menggema dari derap langkah anggun. Si tante melewati mejanya dan meninggalkan selembar tisu di atas meja. Aroma parfum ikut tertinggal. Fadly tersenyum melihat nomor si tante yang ditulis dengan lipstik.
Dalam hati diam-diam mengucap syukur, setelah satu minggu setia makan siang di lounge hotel, akhirnya ia kembali menjaring calon klien.
Selama ini Fadly memilih bekerja sendirian dalam menemukan kliennya. Ia terbiasa melakukannya dengan sangat rapi dan hati-hati. Bahkan teman-teman satu band-nya tidak tahu jika diam-diam ia menjalani profesi terselubung ini. Mereka hanya tahu ia selalu mendapatkan perhatian wanita. Tidak jarang ia menerima traktiran minum-minum dari para wanita yang terkesan akan penampilannya di atas panggung.
Dari sanalah ia sering mendapat permintaan untuk tampil di tempat lain, yang notabene juga menguntungkan teman-teman satu band-nya. Namun terkadang ia menyelipkan misi terselubung jika menemukan wanita potensial.
Cara paling aman adalah meninggalkan kartu namanya. Ia bukan pekerja formal, bukan juga pebisnis. Tetapi ia harus memiliki kartu nama. Ia hanya mencantumkan profesinya sebagai singer, sebatas itu saja. Kartu namanya juga tampak biasa saja, yang penting calon klien potensialnya tahu harus ke mana untuk menghubunginya. Jika saling tertarik, mereka akan kembali membuat janji di lain tempat tanpa harus diketahui oleh teman-teman satu band-nya sebagai pria cendol dawet gula Jawa.
Anda Mungkin Juga Suka





