Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Fated Girl

My Fated Girl

Ranaya Arabella Raharja nekat meninggalkan rumah demi menghindari perjodohan. Namun, hidupnya berubah drastis saat sang ayah mencabut semua fasilitas mewah miliknya. Tanpa tabungan dan tempat berteduh, Rana terjepit dalam kesulitan. Di tengah keputusasaan, Aiden Saka Bumi yang merupakan atasannya menawarkan tempat tinggal. Meski Aiden sangat menyebalkan, Rana harus memilih antara harga diri atau tawaran sang bos yang menegaskan bahwa tidak ada hal gratis di dunia ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Rana enggak mau, yah. C'mon, ini bukan jaman siti nurbaya yang main jodoh-jodohan"

Rana menatap tidak terima Pramono, yang duduk santai di sofa memandang anaknya yang berdiri. Ayahnya tiba-tiba mengatur perjodohan dengan anak rekan bisnisnya seenaknya. Dan ia tidak suka masalah percintaannya diikut campuri.

"Nak, usia ayah sudah tua. Lagipula kamu itu sekarang sudah 24 tahun, dan tahun depan sudah 25 tahun—"

"Kenapa memangnya kalau tahun depan Rana berusia 25 tahun? Aku tahu alasan ayah menikahkan aku untuk merger perusahaan kan, bukan masalah umur?"

Pramono menghela nafas, anaknya itu mirip sekali dengan istrinya yang keras kepala. Dan tebakan putrinya juga dirinya tidak bisa mengelak, itu memang kenyataannya.

"Kalau ayah tetap maksa aku untuk melakukan perjodohan dengan lelaki yang tidak aku kenal. Maka siap-siap ayah akan kehilangan aku. Aku akan pergi dari rumah ini" ucap Rana dengan berani.

"Kamu yakin?"

Dahi Pramono mengernyit, meragukan jawaban anaknya.

"Iya. Kenapa enggak? Toh yang dipikirkan ayah selama ini cuma perusahaan" ketus Rana.

Lama Pramono terdiam, kemudian dalam satu tarikan nafas, "Baiklah"

Kini gantian Rana yang bingung jawaban ayahnya. "Baiklah apa? Ayah tidak jadi melanjutkan perjodohan konyol ini?" Tanya Rana mati-matian menahan diri untuk tidak mengulum senyum.

"Bukan—"

"—maksud ayah, baiklah jika kamu menolak perjodohan ini. Kamu bisa pergi dari rumah ini" koreksi Pramono tenang.

Rana menganga tidak percaya. Ia terkejut dengan jawaban tidak terduga ayahnya. Rana terkekeh, ia tidak salah dengar kan?

"Ayah serius?" tanya Rana membulatkan matanya.

"Loh bukannya itu yang barusan kamu bilang kan? Lagipula, ayah yakin kamu tetap memilih melanjutkan perjodohan ini, karena ayah tahu kamu tidak bisa hidup tanpa kemewahan dan nama besar ayah"

Mata Rana membelalak tidak terima mendengar tuduhan ayahnya yang dilayangkan padanya.

"Jadi ayah meragukanku? Oke! Kalau gitu aku pergi malam ini juga!" putus Rana kesal menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Hal itu pun tidak luput dari penglihatan Pramono yang masih setia duduk di sofa tanpa berniat merubah posisinya.

Tidak lama, Rana kembali turun kebawah membawa koper berukuran cukup besar, yang dibawanya dengan kesusahan dan berhenti dihadapan ayahnya.

"Ini kan yang ayah mau?"

"Itu kemauan kamu sendiri, nak"

Rana mencebik, kemudian pamit "Aku pergi. Jangan coba-coba cari aku! Kecuali kalau ayah berniat membatalkan perjodohan ini!"

"Memangnya kamu bisa hidup tanpa semua ini?" tanya Pramono enteng.

"Bisa!"

Tangan Rana meraih kopernya dan menariknya perlahan. Baru beberapa langkah Rana terhenti saat Pramono memanggilnya.

"Rana"

Rana berbalik menatap ayahnya yang kini berdiri "Kenapa? Ayah berubah pikiran?"

"Bukan—"

"ATM, kartu kredit, kartu debit dan kunci mobil kamu, itu semua yang ayah berikan. Ayah sita seluruh fasilitas itu" papar Pramono menyodorkan tangannya menunggu anaknya memberikan apa yang ia sebutkan barusan.

Pegangan Rana pada kopernya terlepas. Lemas. Apa?! Seluruh fasilitas nya diambil?

"Yah!" seru Rana tidak terima

"Kenapa? Kali ini kamu yang berubah pikiran?"

Rana mendengus kasar, bukan Rana namanya jika menyerah semudah itu. Ia kemudian merogoh tas selempangnya mengambil kunci dan dompetnya. Membukanya, mengambil kartu kehidupannya kedepan, rencananya. Dan memberikan barang-barang tersebut pada Pramono dengan enggan.

Pramono yang menerima sembari berujar "Kamu masih yakin dengan keputusan kamu? Engga menyesal?"

"Enggak. Rana pergi!"

Setelah mengatakan itu, Rana benar-benar melenggang pergi meninggalkan ruang tamu menuju keluar tanpa menoleh kebelakang. Ia kesal bukan main malam ini.

Sedangkan Pramono yang ditinggalkan sedirian menatap kepergian sang putri, menggelengkan kepalanya kemudian menghela nafasnya pasrah.

Pramono berjalan memasuki kamarnya dan duduk dipinggiran ranjang, mengambil sebuah figura foto disana. Wajah istrinya yang sedang tersenyum begitu teduh membuat hatinya menghangat.

"Anak kita benar-benar seperti kamu, sayang. Keras kepala. Dina, aku sangat rindu padamu"

🍀🍀🍀

Pukul 08.30 malam, Rana menggeret kopernya berwarna silver dengan kesal. Ia tidak tahu sekarang tujuannya kemana. Ia tidak memiliki apartment, uang hasil kerjanya selama dua tahun ini ia gunakan untuk bersenang-senang. Rana mendengus, seharusnya ia sedikit menyisihkan uang hasil kerjanya untuk ditabung, tidak untuk dipakai semuanya. Ah, sudahlah nasi telah menjadi bubur. Tapi, ayahnya juga sangat menyebalkan. Apa itu perjodohan? Dikamusnya, menikah itu hanya dengan orang yang ia cintai dan balik mencintainya, bukan karena bisnis dan perjodohan. Klise sekali.

Melewati jalanan yang sepi dimalam hari dengan berjalan kaki, baru pertama kali Rana lakukan dalam hidup. Ia sudah mendial beberapa nomor temannya karena Rana tidak memiliki banyak teman, apalagi yang masih sendiri. Rana bisa saja meminta bantuan pada Anna, tetapi sahabatnya itu sudah menikah sekarang. Jadi tidak mungkin ia mengerecoki sahabatnya dimalam hari. Dan Wanda, perempuan itu sedang pulang kampung. Dua teman kuliah yang ia hubungi juga satu tidak mengangkatnya, satunya sedang ada acara di rumah nya. Sehingga ia membatalkan niatnya untuk sekedar menebeng menginap semalam dirumah keduanya. Teman kerja yang dekat dengannya, rata-rata sudah menikah, jadi ia enggan untuk meminta bantuan. Ck! Bagaimana nasibnya malam ini?

Rana masih terus berjalan melewati trotoar dengan cahaya yang remang-remang. Ayahnya benar-benar jahat mengambil mobil dan segala macam isi di dompetnya. Dan membiarkan dirinya lontang lantung tidak jelas seperti ini. Apakah ia akan menjadi gelandangan mulai malam ini? Memikirkan itu saja membuat Rana bergidik ngeri.

Langkah Rana terhenti, sebuah ide terlintas dipikirannya. Ia tersenyum dengan ide brilian yang barusan masuk dalam otak cantiknya. Kantor. Sepertinya, bermalam dikantor bukanlah sesuatu yang buruk.

Rana menyetop sebuah taxi untuk mempercepatnya sampai di kantor. Tidak apa-apalah uang semata wayangnya, penunggu dompet ia relakan untuk naik taxi malam ini. Karena jika berjalan, jarak kantor dari rumahnya lumayan jauh. Ia bisa sampai tengah malam nanti jika harus berjalan kaki.

Rana menghembuskan nafas lega, melihat kondisi kantor dalam kondisi sepi. Setidaknya itu memudahkan ia menyelinap.

Rana melangkah perlahan, memastikan bahwa pos satpam tidak ada orang. Namun salah, bersamaan Rana mengecek bersamaan pula dirinya terpergok oleh sang satpam.

"Loh neng Rana, malam-malam begini mau ngapain?"

Rana meringis dalam hati, ia gugup, niat hati ingin diam-diam masuk. Tetapi malah ketahuan.

Rana berusaha memutar otak mencari alasan yang masuk akal hingga ia diperbolehkan masuk.

"Oh ini pak, barang saya ada yang ketinggalan dikantor dan itu barang penting. Besok kantor kan libur, jadi saya ingin mengambilnya sekarang" alibi Rana.

Sang satpam mengangguk, ber'oh'ria. Rana berusaha tersenyum kemudian pamit, namun langkahnya kembali tertahan tertahan saat satpam tersebut bersuara.

"Itu kopernya ditinggal saja neng di pos, dan neng nya ambil saja barang yang tertinggal di kantor"

Rana tersenyum menggeleng, "Engga usah pak, justru barang saya yang tertinggal akan saya masukkan dalam koper"

Entah seperti mendapat angin segar, Rana berhasil berkilah dengan begitu lancar dan berakhir diizinkan masuk ke dalam kantor. Hanya masuk kantor saja, ia harus berusaha hingga panas dingin.

"Mari pak" pamit Rana yang dibalas anggukan.

Dengan segera Rana masuk kedalam kantor menuju lantai paling atas, rooftop. Sepertinya bermalam di rooftop bukan hal yang buruk. Rooftop di kantornya bukan seperti rooftop terbengkalai dan menyeramkan. Justru kebalikanya, yang terurus dengan sangat baik, dan biasa digunakan untuk para karyawan seperti dirinya untuk beristirahat sekedar minum kopi pada saat jam makan siang jika tidak keluar atau pergi ke kantin.

Rana menekan tombol lift. Ia mengernyit bingung, biasanya lift langsung terbuka jika tidak ada orang, tetapi kini terasa lama. Tidak ambil pusing, sembari menunggu ia mengawasi situasi sekitar yang sepi karena memang waktu bekerja sudah berakhir pada pukul lima sore tadi.

Pintu lift akhirnya terbuka, tubuh Rana mematung seketika melihat siapa yang ada di depannya saat ini, di dalam lift tersebut, sedang menatapnya datar.

"P-pak Aiden" pekik Rana pelan yang masih dapat didengar.

Rana tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya melihat pria itu masih dengan balutan jas, menatapnya kemudian beralih pada barang yang berada di samping Rana, kopernya. Genggaman di handle kopernya semakin mengencang, bahkan tubuhnya enggan untuk bergerak, sekedar maju masuk dalam lift. Kenapa hanya ditatap, tubuhnya menjadi panas dingin.

"Kamu— ngapain disini?"

🍀🍀🍀

TBC

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masuk Tiga Besar Daftar Orang Terkaya di Negara Ini
7.9
Dunia runtuh saat aku divonis tumor otak, tepat ketika suamiku, Ethan Wood, berselingkuh dengan manajernya. Menolak menutupi skandal mereka, aku memilih bercerai dan mengejar impian yang tertunda. Tanpa diduga, investasi impulsif dan galeri seniku sukses besar hingga hartaku melesat ke jajaran tiga orang terkaya di Preayork. Di tengah ejekan Ethan soal sisa umurku, keajaiban muncul: dokter menyatakan diagnosis tumor itu salah. Kini, aku siap berkuasa.
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)
9.7
Hidup Tasya mendadak berubah menjadi penuh gangguan sejak kehadiran Revan dalam kesehariannya. Sebagai CEO baru yang mengambil alih takhta kepemimpinan perusahaan dari sang ayah, Revan kerap bertindak menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya secara konstan. Hubungan profesional antara atasan dan bawahan ini pun diwarnai dengan berbagai momen menjengkelkan yang membuat Tasya sulit bernapas lega karena ulah bosnya yang terus mengejar dan mengganggunya.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
9.3
Dunia Keyla Valerie seketika runtuh saat ia memergoki pengkhianatan suaminya yang berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kehancuran hati dan keputusasaan yang mendalam, seorang pemuda tampan dengan gaya badboy tiba-tiba muncul di hadapannya. Tanpa ragu, pemuda kaya raya tersebut langsung mengklaim bahwa Keyla adalah calon istrinya. Bagaimana nasib Keyla selanjutnya menghadapi situasi tak terduga ini? Ikuti kisah selengkapnya sekarang.
Sampul Novel Don Juan
8.9
Don Juan adalah pria asal Italia yang memiliki segalanya, mulai dari paras tampan hingga kesuksesan finansial yang luar biasa. Baginya, wanita hanyalah objek sementara yang bisa dibuang setelah digunakan. Namun, hidup sang miliarder ini berubah total saat ia bertemu dengan seorang gadis misterius. Sosok ini berhasil menaklukkan hatinya yang dingin dan membuatnya berlutut dalam cinta. Siapakah perempuan yang mampu mengubah prinsip hidup Don Juan selamanya?
Sampul Novel Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby
8.0
Arina merupakan sosok gadis cerdas dan ambisius yang terjebak dalam pusaran dunia mafia setelah bertemu Alvaro. Sebagai pemimpin jaringan bisnis ilegal berpengaruh di kota, pria berusia awal 40-an tersebut terobsesi menjadikan Arina miliknya. Alvaro tidak ragu memanfaatkan kekayaan serta kekuasaannya demi mendapatkan apa yang diinginkan. Kini, kehidupan Arina berubah total saat dirinya dianggap sebagai permata berharga oleh sang penguasa gelap tersebut.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?