
My Fated Girl
Bab 2
Aiden memijat keningnya, kepalanya terasa pening melihat berkas-berkas kerja sama dihadapannya sejak tadi. Memang setelah tuannya menikah—Alarik, hampir setengah dari pekerjaan lelaki itu ia yang ambil alih. Bahkan ia yang awalnya hanya seorang asisten Alarik merangkap menjadi wakil CEO karena cara kerjanya selama ini yang begitu berdedikasi untuk perusahaan bahkan untuk Alarik.
Aiden mengecek arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pantas saja tubuhnya terasa lelah, ternyata sudah empat jam ia terlalu fokus pada tumpukan kertas dihadapannya, dan bahkan ia melewatkan jam makan malam.
Aiden membereskan meja kerjanya, memilih menyudahi kegiatannya. Ia ingin segera pulang menginstirahatkan diri, dengan tidur lebih cepat. Padahal malam ini merupakan malam minggu, yang biasa digunakan para muda-mudi seperti dirinya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, namun sayangnya Aiden bukanlah tipe lelaki yang suka membuang waktunya demi hal yang tidak penting, menurutnya. Hidupnya terlalu datar untuk pria berusia dua puluh delapan tahun.
Aiden masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Pulang saat kondisi kantor sudah sepi seperti saat ini adalah hal yang biasa Aiden lakukan, sehingga ia tidak perlu mengecek kondisi kantor lagi karena dapat ia yakini bahwa dirinya lah orang terakhir yang akan pulang, atasannya— Alarik, tidak mungkin lembur. Lelaki itu terlalu mencintai istrinya, sehingga tidak akan meninggalkan sang istri dalam waktu yang lama.
Waktu terus bergulir. Tingg.. denting suara lift berbunyi menandakan lift telah sampai dan terbuka. Saat terbuka, Aiden rada terkejut yang berhasil ia sembunyikan melihat seorang gadis berdiri di hadapannya dengan sebuah koper dalam genggaman gadis itu.
"P-pak Aiden"
Sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang terkejut, bahkan gadis dihadapannya itu juga sama seperti dirinya, namun wajah terkejutnya begitu ketara.
Dahi Aiden mengernyit sebentar, koper? Untuk apa gadis itu membawa koper ke kantor malam-malam.
"Kamu ngapain disini?" tanya Aiden membuka suara.
Dapat Aiden lihat gadis didepannya itu terlihat gugup. Aiden bukan tidak tahu gadis itu, Rana. Gadis ceroboh yang langganan masuk ke ruangannya, juga sahabat istri Alarik. Aiden masih ingat ketika dirinya melihat Rana pada saat pernikahan Alarik— sahabatnya.
"Em— mau ambil barang yang tertinggal pak"
Aiden mengangguk, seolah percaya. "Kenapa tidak masuk?" tanya Aiden, tidak bergerak sedikitpun untuk keluar.
"Oh iya"
Rana masuk kedalam lift, diam menunggu Aiden yang tidak merubah posisinya sama sekali. Rana mendongak pada Aiden yang berdiri disampingnya dengan tubuh yang lebih tinggi darinya.
"Bapak— tidak keluar?" tanya Rana ragu-ragu.
"Tidak."
Rana menelan ludahnya susah payah. Kenapa jadi begini? Jika seperti ini, ia tidak mungkin langsung menekan tombol menuju rooftop, alhasil ia menekan tombol menuju lantai tiga, divisinya. Rana kembali menoleh pada Aiden.
"Bapak ingin ke lantai berapa?"
"Sama"
"Ya?"
"Saya hanya ingin memastikan masih ada karyawan tidak di kantor"
Rana memejamkan matanya kesal. Kenapa disaat seperti ini, ia harus bertemu dengan pria menyebalkan seperti ini.
Tingg..
Pintu lift terbuka. Dengan langkah berat Rana keluar dari lift diikuti oleh Aiden. Rana berbalik menghadap Aiden dibelakangnya.
"Sepertinya sudah tidak ada karyawan di divisi saya pak, bapak bisa pulang sekarang" ucap Rana hati-hati.
Aiden masih diam, bergeming ditempatnya dan kini beralih memandang Rana. "Kalau begitu cepat ambil barangmu yang katanya tertinggal"
Mampus!
Harus apa ini dirinya sekarang?
"Kenapa diam? Bukannya jika kamu masih disini itu artinya masih ada karyawan"
Tak melawan, Rana kembali berbalik dan melangkah masuk menuju kubikelnya tidak lupa dengan menggeret kopernya. Hal itu tidak luput dari pandangan Aiden yang terus mengawasi gerak-gerik Rana.
Rana terus merutuk dalam hati, sekarang otaknya blank. Tidak tahu harus bagaimana? Bos nya itu malah terus menungguinya. Ia terus berpura-pura mencari barang yang teringgal dengan membuka laci-laci meja di kubikelnya, sengaja juga memperlama supaya Aiden tidak sabar terus meninggalkannya sendirian. Namun naas, lima belas menit berlalu lelaki it uterus berdiri di pintu masuk divisinya sembari melipat kedua tangannya.
"Masih belum ketemu?"
Pergerakan Rana terhenti, Ia berdiri dari semula yang berjongkok menatap Aiden, kini melangkah ke arahnya, tentu saja membuat Rana gelagapan.
"Em.. sepertinya saya yang lupa meletakkan barang itu dimana"
"Memangnya barang apa?"
Nah. Barang apa? Bahkan Rana sendiri aja tidak tahu. Itukan tadi hanya sebuah alibinya.
"Ponsel" ucap Rana tanpa pikir panjang. Padahal ponselnya saat ini ada di tasnya.
Dahi Aiden mengernyit, seperti meragukan jawaban Rana. Dan keraguan Aiden berhasil terjawab tak lama dari Rana mengatakannya, ponsel perempuan itu berbunyi.
'waktunya tidur.. waktunya tidur..'
Rana menunduk, memejamkan matanya. Ia mengginggit bibir dalamnya, malu, merutuki kebodohannya kembali. Dengan cepat ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya, dan mematikan alarmnya. Alarm yang biasa ia set setiap malam untuk mengingatkannya tidur jika ia ke asyikan menonton film atau marathon drama. Maklum saja, ia tidak memiliki kekasih untuk sekedar mengingatkan dirinya tidur.
"Lalu itu apa?" tanya Aiden datar.
"Ma-af pak, saya lupa" ringis Rana, setelah ketahuan berbohong.
"Jika tidak ada barang lagi yang tertinggal. Lebih baik ayo turun sekarang"
Rana yang awalnya ingin menolak menjadi tidak berani mendapat tatapan tajam dari Aiden akhirnya menurut. Keduanya memasuki lift menuju lantai bawah. Tidak ada percakapan selama di dalam lift, Rana pun enggan untuk membuka mulut.
Lift terbuka, Aiden keluar lebih dulu dan berjalan meninggalkan Rana. Sebenarnya kesempatan seperti ini bisa Rana manfaatkan untuk kabur menekan tombol lift kembali, namun sayangnya Aiden kembali menoleh.
"Kenapa masih disitu?"
"Eh iya pak"
Rana melangkah mengekori Aiden yang berada didepannya dengan perasaan dongkol, juga bingung akan bermalam dimana ia malam ini. Uang satu-satunya sudah habis untuk membayar taxi. Mengatakan akan menginap dikantor dipastikan dilarang, apalagi besok adalah hari libur. Rana terus melangkah tidak memperhatikan Aiden yang berhenti, membuatnya menabrak punggung kokoh lelaki itu.
"Aw"
Aiden berbalik memandang Rana yang tengah mengusap keningnya.
"Jalan itu pakai mata"
"Jalan itu pakai kaki, pak" koreksi Rana kesal.
Aiden menghela nafas, memandang sekitar parkiran yang telah sepi dan hanya mendapati mobilnya saja yang terpakir. Lantas mengapa perempuan itu sejak tadi mengikutinya.
"Kamu ngapain ngikutin saya?"
Rana yang tersadar mendongak, dan menoleh ke kanan dan kekiri, ternyata dirinya sekarang sudah di parkiran mobil. Akibat melamun membuatnya menjadi tidak menyadari bahwa ia mengikuti bos nya.
"Siapa yang ikutin bapak, saya kebablasan. Saya mau ke pos satpam"
"Kamu tidak membawa mobil?"
Rana menggeleng, ya memang itu kenyataannya. Ia tidak ingin kembali berbohong dan berakhir ketahuan seperti adegan ponsel tadi.
"Ya sudah, permisi pak" pamit Rana yang melenggang begitu saja tanpa menunggu jawaban menuju pos satpam, lebih tepatnya gerbang keluar.
Aiden yang menatap punggung Rana yang sudah menjauh, ia memilih masuk kedalam mobilnya dan bergegas meninggalkan pelataran kantornya dengan kecepatan sedang.
🍀🍀🍀
Rana yang sudah keluar dari kantornya, melangkah tidak tentu arah. Sepertinya menghubungi sahabatnya— Anna, merupakan pilihan terakhirnya. Rana mencoba men-dial nomor sahabatnya. Tersambung, tetapi tidak diangkat. Sepertinya sahabatnya itu sudah tidur, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ada sekitar tiga kali Rana mencoba menghubungi nomor sahabatnya, tetapi berakhir nihil.
Tanpa sepengetahuan Rana, sebuah mobil SUV berwarna putih mendekati dirinya dan membunyikan klakson yang membuat Rana berjengkit kaget sembari mengelus dadanya.
"Astagfirullahaladzim" sebutnya reflek dan menoleh, memastikan siapa pemilik mobil tersebut.
Bos nya, lagi. Ia menghela nafas kesal, lagi-lagi harus bertemu dengan Aiden. Lelaki itu tidak keluar dari mobilnya, ia hanya menurunkan kaca mobilnya dan berujar,
"Kamu pulang dengan berjalan kaki?"
'Tidak, aku terbang'. Ingin sekali Rana menyahutinya seperti itu, namun ia masih sayang nyawa, ia memilih tidak menjawab, dan kembali melihat ponselnya, harap-harap Anna mengiriminya pesan atau menelponnya kembali. Sayangnya, tidak ada notifikasi apapun yang masuk.
"Saya bertanya padamu"
Rana mendongak, menatap Aiden sekilas "Jawaban seperti apa yang bapak ingin dengar?" tanya Rana kesal. Bisa-bisanya disaat seperti ini, Aiden malah memberikan ia pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
"Ayo naik"
Rana kembali menatap Aiden, apakah ia tidak salah dengar?
"Saya bilang, ayo naik. Saya antar"
Rana terdiam sejenak, berpikir. Akhirnya menyetujui. Ia bisa berpikir nanti jika sudah di dalam mobil, setidaknya ia sekarang mendapat tumpangan gratis.
Setelah Rana masuk dan meletakkan kopernya dibagian tengah mobil, Aiden kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tidak ada yang memulai percakapan. Aiden yang fokus menyetir, Rana yang fokus berpikir kemana ia akan bermalam. Hingga..
"Rumahmu dimana?"
"Saya tidak pulang ke rumah"
"Lalu, kemana saya harus mengantarmu?"
"Tidak tahu" jawab Rana sekenanya, membuat Aiden mengerem mobilnya mendadak.
Aiden yang tadinya fokus pada jalanan, menoleh pada Rana yang berada disebelahnya.
"Saya sedang tidak bermain-main, cepat katakan dimana rumahmu"
Rana menghela nafas, lelah. Sudah ia katakan kan berulang kali bahwa ia tidak memiliki tujuan selain kantornya, yang sekarang malah terpergok oleh Aiden. Kini, ia tidak akan berbohong lagi pada lelaki disebelahnya itu yang notabennya, bos nya sendiri.
"Saya juga sedang tidak berminat untuk bermain-main, pak. Saya sudah lelah. Saya diusir dari rumah oleh ayah saya dan malam ini saya tidak tahu harus bermalam dimana" akunya yang tidak sepenuhnya benar, karena tidak ada pengusiran yang dilakukan ayahnya seperti yang dikatakannya, itu memang pure keinginannya sendiri.
"Kamu bisa menginap di hotel"
"Saya tidak memiliki uang sepeserpun karena semua fasilitas yang saya miliki disita oleh beliau" ucap Rana jujur.
Aiden terdiam sejenak, kemudian teringat sesuatu. "Oh, apakah karena itu kamu berada kantor malam-malam begini? Berencana menginap? Dan berpura-pura mengatakan pada saya bahwa ada barang yang tertinggal?" Tebak Aiden penuh selidik, yang langsung diangguki oleh Rana tanpa pembelaan. Rana terlalu lelah sekarang, ia hanya ingin segera tidur, mencharge energinya. Tidak peduli bosnya itu akan memarahinya setelah dirinya mengaku.
Memang ada larangan karyawan untuk menginap di kantor, bahkan kantor jarang melakukan lembur karena demi produktivitas kerja para karyawan keesokan harinya. Jadi, itulah mengapa Rana membuat alasan sedemikian rupa supaya dapat bermalam di kantor, hanya satu malam. Yang terpenting dirinya mendapat tempat untuk tidur, malam ini. Dan besoknya ia baru akan mencari tempat hunian sementara, itu rencana awalnya yang sekarang sudah gagal.
Aiden menyugar rambutnya kasar, menatap perempuan disebelahnya yang beberapa kali mengerjapkan mata, seperti mengantuk. Entah apa yang harus ia lakukan terhadap perempuan itu sekarang, membawanya ke hotel, tidak mungkin. Rana sendiri mengatakan ia tidak memiliki uang, Aiden juga tidak ingin bersusah-susah dengan membayarkan perempuan itu untuk bermalam di hotel, namun tiba-tiba saja ide gila terlintas diotaknya.
"Kamu boleh tinggal di apartment saya, jika mau"
Tidak tahu setan apa yang merasuki Aiden, hingga berani menawarkan Rana untuk tinggal di wilayah pribadinya yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun selain dirinya dan Alarik.
Rana yang sudah setengah sadar langsung menoleh "Ha?"
Jika tidak salah dengar tadi Aiden menawarkan tempat untuk dirinya tinggal, sontak saja ia tersenyum semangat mengangguk mau.
"Tapi ingat, tidak ada yang gratis di dunia ini"
🍀🍀🍀
TBC..
Anda Mungkin Juga Suka





