
My Crazy Boss
Bab 3
Ketika sang mentari pagi menyapa dengan sinar hangatnya melalui tirai tipis di jendela kamar tidur Winy, alarm ponselnya berbunyi. Sudah pukul 06.00 WIB dan dia harus bersiap-siap sebelum masuk kerja hari pertama.
Sebuah lagu Crazy in Love dari Beyonce memulai harinya. Wanita blasteran Korea-Indonesia itu mandi di bawah shower sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan heboh. "Ooo ... oo ... oo ... oo! Crazy crazy I'm crazy in love!" Winy menyanyi dengan suaranya yang pas-pasan ala artis kamar mandi.
Setelah selesai mandi, dia mengenakan bathrobe dan memilih baju kantornya. Sebuah kemeja sutra lengan puff warna biru langit dan rok sepan yang tidak terlalu pendek warna putih yang Winy pilih sebagai outfitnya pagi ini. Dia akan memadukannya dengan scarf pelangi dengan aksen bros berbentuk pita warna keemasan.
Winy membedaki wajah mulusnya lalu memakai maskara agar bulu matanya tampak lentik dan juga membubuhkan liptint beraroma strawbery warna rossy pink di bibir seksinya yang sedikit tebal. Rambut panjangnya dia ikat model ekor kuda agar tidak ribet bila harus mengerjakan banyak pekerjaan di kantor.
Akhirnya setelah sesi dandan usai, Winy mengenakan sepatu high heels 12 cm warna putih yang senada dengan rok sepannya. Kemudian ia keluar dari kamar tidurnya menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama Lionel.
"Kakakku yang seksi, sarapan paginya sudah siap. Sandwich cheese smoked beef spesial buatan Chef Lionel Kim," ujar bocah remaja dengan seragam putih abu-abu itu menghidangkan sepiring sandwich yang tampak menggugah selera di hadapan Winy.
"Thank you, Chef! Kumakan ya ...," balas Winy lalu mengangkat sandwich itu dengan tangannya ke mulutnya untuk digigit. "Mmm ... yummy, Boy!" pujinya seraya mengunyah sandwich.
Seusai sarapan pagi bersama, kedua kakak beradik itu pun berpisah tujuan. Lionel berangkat sekolah dengan sepeda motor Vario miliknya, Winy berangkat kerja yang berbeda arah dari lokasi sekolah adiknya dengan mobil sedan Ayla putihnya yang sedikit ringsek karena menabrak Porsche kemarin siang.
Jarak antara rumahnya dengan kantor tempat kerja barunya sekitar satu jam dengan mobil pribadi sudah ditambah waktu macet jalanan kota Jakarta. Akhirnya mobil itu pun sampai di parkiran basement PT Everlasting Global International.
Dulu papa Winy juga memiliki perusahaan serupa ini, sayangnya perusahaan papanya kolaps karena persaingan bisnis dengan kompetitornya yang konon kabarnya menggunakan cara kotor. Karena kebangkrutan usahanya di Indonesia, papa Winy terserang stroke dan dibawa pulang ke Korea Selatan oleh mama Winy agar lebih tenang menjalani hidup sederhana di kampung halaman papanya.
Sedangkan, Winy yang baru saja lulus dari studi S2 di Australia belum bisa menangani perusahaan papanya sehingga perusahaan itu dilikuidasi untuk menutup utang bank. Sisa uangnya digunakan Winy dan Lionel untuk bertahan hidup sederhana di Jakarta.
Dengan langkah anggun, Winy masuk ke lift untuk naik bersama karyawan-karyawan perusahaan itu. Dia harus menemui calon bos barunya di lantai 30 yang juga menjadi lantai teratas gedung pencakar langit itu. Pak Jofran Kesuma memberikan instruksi lengkap untuknya melalui pesan W A kemarin siang.
Nama bos barunya itu Bapak Alexander Aimes, beliau tidak suka wanita bodoh dan pemalu. Harus selalu menjawab 'ya' untuk semua perintah dari bosnya itu. Pakaian kantor tidak boleh mengenakan celana panjang, harus rok di atas lutut tingginya, harus selalu wangi dan tidak berbau ketiak atau berbau mulut yang tak sedap.
Sebetulnya Winy agak stres ketika membaca pesan instruksi dari Pak Jofran Kesuma kemarin. Namun, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan ini sangat menggiurkan 30 juta sebulan. Jadi Winy pun setuju membubuhkan tanda tangan di kontrak kerjanya yang dikirim via aplikasi hello sign kemarin siang juga.
"TING."
Pintu lift itu terbuka setelah hanya tersisa dirinya yang memilih tujuan lantai 30. Winy menguatkan tekadnya dan melangkah keluar dari lift menuju ke satu-satunya pintu ruangan yang ada di lantai itu. Sebuah meja kerja terletak di depan ruangan CEO yang dia duga adalah calon meja kerjanya sebagai sekretaris merangkap asisten pribadi Bapak Alexander Aimes.
"TOK TOK TOK."
"Come in!" jawab suara maskulin dari dalam ruangan CEO.
Winy pun membuka pintu ruangan di hadapannya lalu melangkah masuk dengan tenang. Ketika dia sudah berdiri di seberang meja bos barunya, matanya sontak membulat karena terkejut. Pria itu adalah pemilik mobil Porsche merah yang kemarin siang dia tabrak dari belakang.
Pria itu menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. "Terkejut, Nona Winona Kim? Perkenalkan ... saya adalah Alexander Aimes, bos barumu. Sepertinya kita memiliki beberapa urusan penting yang butuh untuk diselesaikan sesegera mungkin," ujar Alex dengan intonasi jelas perlahan yang bagi Winy cukup menggelisahkan.
"Ehh ... umm, Pak Alex, apa ini tentang kerusakan mobil Anda kemarin?" tanya Winy berdiri tak nyaman di hadapan meja bosnya.
"Salah satunya ... dan apa kamu juga ingat semalam bertemu lagi denganku? Lututmu yang liar itu menyakiti bagian pribadiku dengan kejam!" ungkit Alex dengan nada dingin dan setajam silet.
Winy berusaha mengingat-ingat kejadian semalam dan ia segera menutup mulutnya dengan tangan serta membelalakkan mata indahnya itu karena terkejut. 'Pria kurang ajar yang semalam grepe-grepe di diskotik itu apa DIA?!' jerit Winy dalam hatinya.
Mata Alex seolah memahami apa yang sedang berputar di otak wanita cantik itu. 'Got you, Little Ass!' batinnya senang.
"Saya butuh permintaan maaf yang tulus darimu, Nona Winona Kim. Harga diri saya sebagai lelaki ternodai semalam ... dan tersakiti, saya kuatir serangan fisik itu dapat menyebabkan impotensi," tutur Alex dengan hiperbolis mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan keningnya.
Rasanya Winy ingin memutar bola matanya, itu lebay, pikirnya. Semalam hanya wujud pembelaan dirinya saja sebagai wanita yang merasa terancam.
Bos barunya berdehem keras. "EHM!"
Senyum yang tampak tulus dengan mata bersinar ramah nampak dari wajah Winy. "Saya memohon maaf sebesar-besarnya dari dalam lubuk hati saya, Pak Alex!" ucapnya dengan jemari tangan tertaut di depan tubuhnya dan dia membungkukkan badannya sekali di hadapan Alexander Aimes.
"Di-ma-af-kan!" ucap Alex sepatah-sepatah. Dia lalu melanjutkan, "Mulai hari ini kamu tinggal di rumahku."
"Itu ... tidak mungkin, Pak," jawab Winy sedikit bengong.
"JANGAN KATAKAN TIDAK!" seru bos barunya dengan galak.
'Waduh kok galak ...,' batin Winy dengan hati mencelos. Dia lalu berkata, "Saya tidak bisa tinggal bersama Anda, Pak!"
"Kamu harus kerja jadi sekretaris merangkap asisten pribadiku sampai utang kamu lunas kalau nggak mau saya jebloskan ke penjara!" ancam Alex.
"Saya nggak mau, ini pemerasan namanya!" kelit Winy membalik badannya bergegas keluar ruangan CEO.
Dengan geram Alex mengejar Winy dan menangkap pinggangnya dari belakang. "Aku bukan penjual cabe di pasar, jadi jangan tawar-menawar denganku! Ingat ... di penjara banyak kecoa dan tikus, apa kamu mau membusuk di sana?"
"LEPASKAN!" teriak Winy sambil meronta liar di dekapan calon bosnya.
"Jangan mimpi!" desis Alex di telinga Winy sembari menyeringai seram. Dia meremas gundukan lembut di dada wanita itu.
Anda Mungkin Juga Suka





