
My Bastard Boss
Bab 2
Gadis itu membuka matanya dengan perlahan, dia berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang sangat menusuk netra coklat itu. Ketika dia berusaha menggerakkan kaki, Nayra merasakan perih di area sensitifnya.
“Akh!” pekiknya dengan keras.
Dia berusaha duduk di tengah kasur meski dengan menahan rasa perih di sekujur tubuh terlebih pusat intinya. Nayra menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya dan betapa terkejut dia, saat menyadari jika tubuhnya tampil polos dan tidak berbalut apa-apa, dan gilanya dia melihat bercak darah persis di bawah paha.
“A-apa yang terjadi?” tanyanya entah pada siapa karena hanya dia sendiri yang berada di dalam kamar yang sangat luas ini.
Dia mulai berusaha mengingat kejadian tadi malam. Terakhir dia sedang berbincang dengan Chrisyan kekasihnya selama tiga tahun sejak pertama kali masuk sekolah menengah atas. Dia ingat betul jika tadi malam mereka sedang berada di party acara perpisahan sekolah dan Chris mengajaknya ke sebuah tempat yang sangat indah.
Dia ingat sekali Chris membawanya ke sebuah tempat di pinggir kolam renang. Tempat yang sangat luas dan besar dengan musik yang mengalun merdu. Dia masih ingat ketika Chris mengajaknya untuk minum di meja kecil yang dihiasi dengan banyak bunga mawar merah yang sangat dia sukai. Chris memberikan dia minuman kesukaannya, Lemon Tea karena ingin merayakan hari jadi mereka yang ketiga tahun.
Namun setelah Nayra meneguk minumannya beberapa kali, dia merasakan ada sebuah gelenyar aneh dalam dirinya. Dia mulai merasa panas dan tidak terkendali, bahkan dia ingin sekali mencium bibir tipis Chris tapi kekasihnya itu menahan dan malah mengulur waktu. Sekujur tubuhnya terasa berkeringat menahan perasaan bergelora yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Ingin sekali Nayra menolak gejolak dalam tubuhnya, tapi entah apa yang membuat dia malah memeluk Chris dengan tiba-tiba dan malah menggesekkan pipi di dada bidang kekasihnya itu.
“Sabar sayang, aku punya kejutan untukmu.” Nayra tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Chris, dia hanya terlihat pasrah saat tangan lembut dan kekar itu mengikatkan selembar kain di kepalanya dan menutupi penglihatannya.
“Chris aku kenapa? Tubuhku panas sekali.” Nayra mulai merengek berusaha menggapai Chris agar bisa menyentuhnya sekarang juga karena ini benar-benar menyiksa dia.
“Iya sayang, tahan sebentar ya. Kamu akan mendapatkannya nanti.” Dia mengecup pipi Nayra sekali lalu menuntunnya entah kemana, Nayra tidak tahu. Yang dia mau sekarang, gelenyar aneh di tubuhnya bisa hilang secepatnya.
“Kamu tunggu disini ya, aku akan kembali.”
“Chris mau kemana?”
“Sebentar Nayra.”
Tiba-tiba dia merasa sepasang tangan mulai meraba punggungnya dengan lembut lalu menjalar ke bagian perut hingga orang itu memutar tubuh Nayra menghadapnya, sebuah jari mengusap pelan bibir mungilnya dan perlahan mengecupnya dengan lembut hingga perlahan menjadi sedikit kasar dan menuntun bahkan orang itu menekan tengkuk Nayra untuk lebih memperdalam ciuman mereka.
Bukan, ini bukan Chris karena bau parfumnya sangat berbeda dan tadi Chris pun berpamitan untuk keluar sebentar. Lalu siapa orang yang kini berusaha menyentuhnya. Apakah Chris menjualnya pada orang asing. Tapi kenapa, apa alasannya. Bukankah tadi Chris mengatakan jika dia sangat mencintai Nayra.
Lelaki itu mulai mencumbuinya dan tangannya perlahan menurunkan resleting gaun merah mudahnya. Dia sadar jika dirinya sudah setengah telanjang, meski dia berusaha untuk terus memberontak tapi gelenyar aneh dalam tubuhnya terlalu menguasai dia. perlahan dia mulai hanyut mengikuti gelombang gairah yang disalurkan oleh lelaki asing yang tidak dia kenal itu. Entahlah, dia benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.
Entah berapa kali pria itu melakukannya, bahkan dia tidak mengijinkan Nayra untuk membuka penutup matanya. Pria itu tidak bersuara sama sekali, yang Nayra dengar hanyalah desahan-desahan panas yang semakin membakar gairahnya. Hingga akhirnya Nayra mendengar orang menggeram keras dan dia merasakan semburan hangat menjalar di dalam rahimnya. Perlahan mata Nayra mulai tertutup dia terlalu lelah dan tidak sanggup walau hanya menggerakkan tubuhnya.
Hingga dia bangun dengan tubuh yang dipenuhi kissmark dan perih di area sensitifnya. Seluruh tubuhnya sakit dan remuk. Nayra meraung keras menangisi dan menyesali tindakannya yang sudah mempercayai Chris dan malah berakhir tragis seperti ini.
Dia bukan gadis murahan, dia hanya gadis polos dan lugu. Rambutnya yang selalu di kepang dan kacamata persegi yang menghiasi matanya benar-benar menggambarkan seperti apa dirinya. Nayra tidak pernah mau melakukan hal tabu ini, tapi dia terjatuh ke lubang yang kelam karena ulah kekasih yang paling dia cintai dan puja itu.
Semuanya hilang, semuanya lenyap dan hancur hanya satu malam. Nayra tidak menyangka mendapatkan nasib seburuk ini.
Dia berusaha bangun dari kasur besar itu dan berjalan tertatih menuju kamar mandi dengan selimut tebal yang menggulung tubuh polosnya. Nayra terduduk di bawah shower dan membiarkan air mengguyur tubuhnya. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri karena sudah tidak berhasil menjaga kesuciannya lagi, dia benar-benar benci akan dirinya sendiri.
“Chrisyan sialan! Aku membencimu!” pekiknya dengan keras di tengah guyuran air shower yang menyamarkan suara tangisannya.
Apa yang harus dia lakukan sekarang, apa yang harus dia katakan kepada Ayahnya yang otoriter itu. Apa ada orang yang akan mempercayainya jika dia di jebak. Tidak, pasti tidak akan ada yang mempercayainya.
Nayra Ayudia, gadis polos dan lugu itu perlahan menekan bel rumah bertingkat dua itu dengan penuh ketakutan. Semalaman dia tidak pulang, pasti Ayah dan Ibunya akan mencecar dia dengan berbagai pertanyaan.
Pintu terbuka lebar dan terlihatlah seorang gadis remaja perempuan yang usianya tidak terpaut jauh darinya sedang berdiri di depan pintu sambil menatapnya dengan bingung.
“Kak Nay, Kakak kemana aja? Semalaman kami semua mencari kakak. Kenapa Kakak gak kasih kabar?” Nayra bingung harus memberikan jawaban apa.
“Kakak sakit? Kok wajahnya pucat?”
“Aku gak apa-apa Len. Papah dan Mamah di dalam?” Hal yang paling dia takuti, jika sampai Papanya memarahi dia.
“Iya. Ada Kak Ben juga. Untung kakak cepat pulang, karena kak Ben mau berangkat.” Ah, dia baru ingat jika hari ini Kakak tersayangnya itu akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.
Belum sempat Nayra menjawab ucapan Alen adik perempuannya, suara baritton dari dalam rumah mengintruksinya dengan penuh peringatan.
“Darimana saja kau Nayra!” Muncullah pria berwajah beringas dengan kumis yang tidak terlalu tebal. Pria yang ternyata Papanya itu menatap dia dengan tajam dan penuh intimidasi.
“Pa. Papah.”
“Pagi-pagi begini baru pulang! Kau sudah pintar keluyuran ya!” Dia menghardik dengan keras dan tidak peduli dengan keadaan Nayra yang sudah terlihat lemas.
“Papah sudah, jangan marah-marah. Dengarkan penjelasan Nayra dulu.” Wanita yang setia di sampingnya itu berusaha untuk menenangkan dia, “Nayra kamu darimana sayang? Apa kamu lupa jika hari ini Kak Ben akan berangkat? Dia tidak mau berangkat sebelum kamu pulang.”
“Iya Mah maafin Nayra. Tadi malam acara perpisahannya cukup lama, jadi Nayra menginap di rumah Caca. Ponsel Nayra juga mati, jadi gak sempat mengabari Mamah. Maafin Nayra Mah.” Dia menunduk sedih, sebenarnya ingin sekali Nayra menangis meraung sekarang. Tapi dia sama saja menyerahkan diri kepada singa jika sampai dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Nah loh. Papah dengarkan, Nayra tidak mungkin berbuat yang macam-macam. Jangan menuduh anak sendiri yang bukan-bukan.” Dia memperingati suaminya yang masih saja tidak mengubah air mukanya.
“Sudah sayang, ayo kita masuk. Temui kakakmu, dia sudah menunggumu sejak tadi.” Nayra mengangguk patuh dan melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar.
Mungkin hari ini dia selamat, tapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini nanti.
***
Anda Mungkin Juga Suka





