
My Angel Baby Is Werewolf
Bab 2
Fiona meratapi nasibnya setelah diperlakukan semena-mena oleh teman kampusnya. Kini tak hanya rambutnya yang kotor tapi bajunya juga kotor oleh sampah. Tak hanya kotor, baunya pun tak sedap. Ada noda di bajunya kini.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Fiona mulai sadar, keluar dari kesedihan dan tak mau terus larut dalam situasi ini. Dia menyeka sisa air matanya yang masih menggenang dengan jari telunjuknya.
Rasa sedih masih menyelimuti hati Fiona. Sebenarnya apa salahnya sampai dia dibully oleh temannya seperti ini? Padahal dia tak pernah mengganggu siapapun yang ada di kampus ini. Apakah karena dia anak panti asuhan ataukah karena wajahnya? Dia sendiri juga tak menginginkan berstatus seperti itu. Dia juga tak menginginkan mempunyai wajah penuh jerawat seperti ini. Tapi apakah semua itu bisa ditolaknya? Tidak! Semua itu harus diterimanya meski dia sendiri kerap kali protes dengan keadaannya ini.
Fiona berdiri di depan cermin besar dalam toilet. Dia mengambil tisu untuk membersihkan kotoran yang ada pada bajunya. Terlihat dirinya begitu menyedihkan dalam pantulan cermin yang dia lihat. Tampilan dirinya sekarang begitu memilukan. Rambutnya masih lengket meski sudah dia bersihkan. Noda baju juga masih terlihat jelas meski sudah berulang kali dia bersihkan dengan sabun. Sungguh, dirinya tampak berantakan sekali.
Tak lama setelahnya Fiona keluar dari toilet setelah selesai membersihkan diri, meski belum maksimal. Dalam perjalanan kembali ke kelas, dia berpapasan dan bertemu dengan mahasiswa lainnya di kampus.
"Fiona, ada apa dengan rambutmu? Rambutmu itu basah dan lengket. Apa kamu habis tersiram lem?" tanya seorang mahasiswi dengan tawa merendahkan.
Fiona hanya menatap tanpa kata pada hinaan temannya tadi, lalu menunduk dengan menulikan telinga. Hinaan itu terlalu sakit bila didengarkan, maka lebih baik dia tidak mendengarkan hal semacam itu. Lagipula dia sudah biasa mendapatkan cemoohan seperti itu.
Mahasiswi lain yang melihat kembali bicara. "Baju kamu kotor, Fiona. Apa kamu tak punya baju ganti dan memakainya berulang kali sampai dekil begitu?"
"Tidak," jawab Fiona karena benar-benar tak tahan lagi dipermalukan seperti ini di depan yang lain. Dia menatap mahasiswi yang mengoloknya.
Mahasiswi itu masih menatap Fiona dengan tatapan merendahkan. Karena Fiona berani menjawab, mahasiswi itu mendadak berhenti di depan Fiona persis.
Langkah Fiona terhenti paksa. Bila terus berjalan dia akan menabrak mahasiswi tadi. Jantungnya berdegup kencang kala satu tangan mahasiswa itu memegang pucuk dagunya lalu meremasnya.
Fiona gemetar. Dia takut saja pada temannya ini, apa yang mau dia lakukan padanya? Dari yang terjadi sebelumnya, dia dirundung oleh siapa saja. Bukan kata-kata menyakitkan hati saja yang didapatkan tapi juga kekerasan fisik yang dia terima.
"Berani kamu ya, membalas ucapanku? Bila kamu berani berkata lagi maka aku akan plester bibir kamu," ucapnya sembari menekan kasar bibir Fiona.
Fiona tak berani bersuara lagi dan hanya menggeleng dengan tubuh gemetar. Namun rupanya mahasiswi tadi mendorong tubuh Fiona hingga membentur dinding. Dia sampai berdesis menahan nyeri di punggung karena dorongan keras tadi. Beruntung, temannya tadi segera pergi meninggalkan dirinya.
Dengan menahan nyeri di punggung, Fiona kembali berjalan. Namun, mahasiswi lain yang berpapasan kembali menghampirinya.
"Ada sesuatu yang bau di sekitar sini, dari mana bau itu berasal? Apa itu berasal dari kamu ya Fiona?" ucapnya lalu menarik lengan baju Fiona dan menghirup, lalu menghempas kasar tubuh Fiona.
"Kamu bau sekali. Ini mirip dengan bau sampah busuk di tong sampah."
"Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak bau sampah."
Mahasiswi lain yang melintas melihat itu kemudian mengunci pandangan pada Fiona. Tak sedikit dari mereka yang menghujat penampilannya.
"Lihat itu Fiona, kasihan dia. Kenapa hari ini dia bau sampah?"
"Mungkin saja dia memang habis memulung sampah, jadi tubuhnya bau sampah."
"Wanita seperti dia kenapa kuliah di sini? Pantasnya dia jadi pemulung saja. Setidaknya dia menghasilkan uang daripada di sini menghabiskan uang untuk bayar kuliah."
Perkataan mereka terdengar pedas di telinga dan kembali menyayat hati Fiona. Tapi sekali lagi dia hanya bisa menatap saja banyak pasang mata yang merendahkan dirinya ini satu per satu. Meski dadanya dihimpit sesak, namun dia berusaha untuk tegar dan tak memasukkan perkataan mereka dalam hati.
Dari arah kejauhan sana di depan sebuah kantin, sepasang mata mengawasi apa yang baru saja terjadi ini, seorang pria menatap intens. "Dia ... bukankah dia wanita yang tadi menyapaku di jalan? Siapa tadi namanya? Aku lupa. Dia kembali di-bully," gumam pria dengan wajah nyaris sempurna.
Di samping pria itu ada seorang pria yang kemudian ikut berkomentar. "Garth, kamu perhatian pada mahasiswi di kampus ini? Apa jangan-jangan kamu tertarik padanya? Tapi kenapa harus dia? Banyak wanita lain yang cantik."
"Bisa saja kamu bercanda denganku. Mana mungkin aku tertarik padanya? Aku hanya iba saja." Garth merasa kasihan melihat Fiona di bully. Dia pun berniat untuk membantunya.
Baru saja Garth keluar dari kantin, tak sengaja Fiona menyapukan pandangan padanya. Tatapan mereka bertemu. Tentu Fiona merasa malu dilihat oleh pria yang disukainya dalam keadaan terhina begini. Dia pun cepat mengambil langkah seribu agar Garth tak lagi melihatnya dalam keadaan buruk. Dia hanya mau Garth melihatnya dalam kondisi baik.
Tepat di saat Fiona pergi, Garth datang. "Sayang sekali, dia sudah pergi."
Garth menyapukan pandangan ke sekitar untuk mencari keberadaan Fiona, namun dia tak menemukan keberadaan wanita itu dengan banyaknya mahasiswa yang berlalu-lalang di jalanan.
Garth memutuskan untuk kembali ke kantin di mana temannya menunggu. Tak ada yang tahu sebenarnya Fiona masih ada di sana tak jauh dari tempat Garth datang tadi. Fiona bersembunyi di balik sebuah pintu. Dia mengintip ke luar. Setelah memastikan Garth tak ada di sana, barulah dia kembali berjalan.
***
Terdengar suara pintu kamar rumah ditutup.
Fiona menaruh tas ke meja belajar yang ada dalam kamar. Setelahnya dia duduk dengan membanting tubuhnya kasar ke ranjang. Rasa lelah dan sedih terlihat bersamaan. Dia lelah karena setiap hari harus menghadapi olokan dari temannya di kampus. Sedih karena dia merasa tak ada yang menolong dirinya keluar dari penderitaannya. Bisa dibilang dia juga tak punya teman di kampus. Di kelas pun biasanya dia selalu duduk sendiri. Seandainya dia punya ayah dan ibu pasti dia akan mengadu dan berbagi segala sedihnya dengan mereka, sayang tak ada. Tapi status sebagai anak yatim piatu tak membuat anak panti diam, mereka akan menghibur Fiona bila dia bersedih seperti ini.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
Fiona yang menunduk meratapi nasib kemudian menatap lurus ke arah pintu. "Masuk saja, aku tak mengunci kamar."
Terdengar suara pintu dibuka. Terlihat seorang gadis berambut sebahu, berusia di bawah Fiona, masuk.
"Cecyl, ada apa?" tanya Fiona.
Cecyl seorang gadis yang duduk di bangku SMA. Kamar tidurnya bersebelahan dengan kamar tidur Fiona. Mereka berdua dekat. Sering mereka berdua berbagi masalah bila sedang terkena sebuah masalah.
"Fiona ada apa denganmu? Kamu seperti bersedih?" tanyanya setelah melihat wajah sendu Fiona.
"Tidak, aku hanya lelah tak ada masalah. Ada apa kamu mencariku?"
"Ibu panti meminta kita untuk belanja keperluan natal, lampu hias dan pernak-pernik lainnya," terangnya singkat.
"Kita pergi saja sekarang bila begitu." Fiona menegakkan tubuh. Dia kemudian keluar dari kamar bersama Cecyl.
Dua wanita itu kemudian menuju ke toko pernak-pernik dengan berjalan kaki. Tempatnya agak jauh dari panti asuhan tapi mereka menikmati perjalanan ini. Di tengah jalan, tiba-tiba ada ada seekor serigala yang berlari ke arah mereka dari seberang jalan, tepatnya sebuah hutan yang ada di persimpangan jalan.
Akh! Fiona dan Cecyl menjerit bersamaan melihat binatang berbulu abu-abu itu memperlihatkan gigi taring tajamnya.
Anda Mungkin Juga Suka





