Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Angel Baby Is Werewolf

My Angel Baby Is Werewolf

Fiona Megan Olaf hanyalah mahasiswi biasa yang kerap menjadi korban perundungan. Namun, hidupnya berubah total di usia dua puluh tahun setelah pertemuannya dengan seekor serigala misterius. Kejadian tersebut mengungkap identitas aslinya sebagai keturunan werewolf. Sambil belajar menguasai kekuatan barunya, mampukah Fiona membalas dendam atas segala penindasan masa lalu dan memenangkan hati pria idamannya? Sebuah perjalanan takdir dan cinta dimulai.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mata Cecyl dan Fiona bergulir  cepat menatap kedatangan serigala yang begitu cepat berlari ke arah mereka. Binatang itu lari dengan cepat dan sekarang sudah ada di hadapan mereka.

Baik Cecyl dan Fiona sama-sama gemetar tubuhnya. Mereka saling tatap dalam ketakutan. Selama ini mereka tak pernah bertemu binatang buas seperti ini, mereka hanya melihatnya dari televisi saja. Mereka juga baru tahu rupanya di sekitar hutan sini ada serigala.

"Fiona, aku takut. Apakah serigala itu kelaparan? Kenapa dia melihatku dengan mata kelaparan?" Cecyl bicara dengan suara parau. Sungguh, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat ini dia merasa sendi di kakinya lumpuh, tak bisa digerakkan.

Fiona sebenarnya juga takut, sama seperti Cecyl. Dia tak pernah berhadapan secara langsung dengan binatang buas seperti ini, apalagi binatang haus darah kelaparan ini. Tapi bila dia mengikuti ketakutannya  mungkin hidup mereka akan berakhir di sini. Sedangkan dia masih ingin melanjutkan hidup, masih ingin setidaknya melanjutkan studinya sampai selesai, masih ingin merasakan bekerja juga membalas budi ibu panti yang selama ini membesarkannya. Bila hidupnya berakhir sekarang, bahkan dia pun tak akan bisa menyatakan perasaannya pada Garth. Setidaknya dia tak mau mati dengan mengubur  cintanya yang sudah lama terpendam.

"Cecyl, tenang jangan takut. Kita lari bersama dalam hitungan ketiga," jawab Fiona tenang, meski dalam hati sana dia kalut. Sebenarnya dia juga tak yakin bisa kabur dari serigala itu.

"Fiona, kakiku terasa berat untuk diayun. Aku mungkin tak bisa berlari. Kamu pergi saja dulu, tinggalkan aku di sini." Cecyl bukan berlagak sok pahlawan, dia tak mau saja memberatkan Fiona. Dia tak mau mereka berdua mati nahas di sini. Setidaknya salah satu dari mereka harus kembali meski dia harus mengorbankan diri. Dia sudah ikhlas bila dirinya yang mati. Dia sudah merasakan semua kebaikan penghuni panti asuhan. Mungkin ini saatnya baginya untuk membalas kebaikan, dengan mengorbankan nyawa.

"Cecyl, lelucon apa yang kamu dengungkan ini? Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri di sini. Kita berangkat bersama, kembali pun kita juga harus bersama. Selain itu kita adalah keluarga, aku tak mungkin meninggalkan keluargaku di sini." Fiona terlihat tenang meski jauh di dalam dasar lubuk hatinya bergemuruh hebat.

Fiona kemudian putar otak mencari cara untuk mengusir pergi serigala yang kini kembali memperlihatkan semua gigi taringnya yang tajam, liur binatang itu bahkan menetes menatap mereka berdua bergantian. Apakah dirinya benar-benar akan berakhir di sini? Tidak! Dia tak mau itu terjadi.

Fiona baru ingat dalam tas yang di bawanya saat ini dia menyimpan sebuah cutter untuk menajamkan alat tulis yang tumpul. Dia tak pernah menggunakan rautan pensil untuk mempertajamnya.

Dia lebih suka menggunakan cutter daripada rautan pensil. Dan sepertinya itu bisa digunakan sekarang. Setidaknya bisa untuk melindungi diri dalam keterbatasan waktu.

"Cecyl, saat nanti aku menancapkan cutter pada serigala itu, paksa kakimu dengan kekuatan penuh untuk pergi dari sini bersamaku. Kita pergi sejauh mungkin dari sini, paham?"

"Fiona kamu ..." Suara Cecyl gemetar. Dia tak yakin dengan rencana Fiona. Cutter kecil apakah bisa merobohkan  serigala besar di hadapan mereka?

"Percayalah padaku Cecyl, kita bisa pergi dari sini dengan selamat." Fiona kembali meyakinkan Cecyl setelah melihat keraguan di mata wanita itu.

Cecyl mengangguk paham. Dia pun berdoa dalam hati, semoga rencana Fiona kali ini berhasil, meski hatinya masih diliputi ketakutan mencekam.

Fiona mulai menghitung, setelah mengeluarkan cutter dari dalam tas. Dalam hitungan ketiga, pada saat serigala itu kembali mendekat dengan bola mata kuning yang bersinar terang menakutkan, dia memberikan aba-aba.

"Cecyl kamu lari duluan, sekarang!"

Cecyl tersentak kaget, bukankah Fiona bilang mereka akan kabur bersama tapi kenapa dia meminta dirinya pergi dulu? Ini tidak seperti dengan rencana yang disampaikan Fiona tadi. Dia juga tidak mau pergi meninggalkan temannya, tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berada. "Fiona, tidak. Aku tidak bisa pergi tanpamu."

"Cecyl, kamu harus percaya padaku. Selama ini apa aku pernah bohong padamu? Aku akan menyusulmu dengan selamat. Cepat, pergi sekarang!" Nada bicara Fiona terdengar meninggi.

Dengan terpaksa, Cecyl pun mencoba untuk mengangkat kakinya yang berat dengan susah payah, akhirnya dia bisa berlari dari sana dalam ketakutan yang belum hilang.

Sekepergian Cecyl, Fiona beralih menatap serigala besar berbulu abu-abu yang kembali bergerak mendekat padanya. Fiona maju, mengikis sejenak rasa takut yang masih merayap di hati sembari menodongkan cutter ke arah serigala.

"Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba datang ke arah kami. Benarkah kamu menginginkan darah kami? Kurasa kamu salah mencari mangsa bila benar kamu lapar. Darah ataupun daging kami tidak terasa segar seperti yang lain karena kami hanya menutrisinya dengan makanan seadanya untuk bertahan hidup." Keadaan di panti asuhan memang seperti itu. Jarang sekali Fiona dan yang lain makan enak.

Entah, serigala tadi mengerti perkataan Fiona atau tidak, binatang itu berhenti melangkah. Namun beberapa detik kemudian kembali bergerak dan menyerang Fiona, mengangkat cakar tajamnya, mengayun cepat hingga menyentuh tangan Fiona, meninggalkan jejak di sana.

Fiona berdesis merasakan kuku tajam mengoyak kulit tangannya. Perih, dan kini darahnya menetes. Sembari menahan rasa nyeri, dia bertekad setidaknya harus melukai serigala itu sama seperti yang dilakukan padanya. Darah harus dibalas dengan darah. Dia pun secepat kilat mengayun cutter di tangan kemudian menancapkan ke kepala serigala yang akan menggigit tangannya.

Terdengar suara lolongan seperti kesakitan. Fiona pun segera kabur secepat mungkin sebelum serigala itu kembali mengejar. Dia melihat serigala itu tidak tumbang, hanya berjalan tertatih saja. Mungkin hanya waktu saja bagi serigala itu untuk kembali bergerak  setelah merasakan sedikit sakit yang disebabkannya.

"Fiona! Akhirnya kamu kembali!"  teriak Cecyl lega melihat Fiona. Tatapannya kemudian jatuh pada luka di tangan Fiona. "Tanganmu terluka."

"Ya, aku tak apa. Kita harus pergi secepatnya dari sini sebelum serigala itu kembali mengejar kita. Nanti aku bisa obati luka ini." Fiona tak mau mengulur waktu lebih lama lagi. Bisa - bisa serigala itu datang menyerang. Dia memegang tangan Cecyl erat, kemudian mengajaknya berlari secepat dan sejauh mungkin keluar dari tempat ini.

***

"Astaga! Fiona ada apa denganmu? Kenapa tanganmu berdarah?" pekik Ibu panti saat melihat Cecyl merawat luka di tangan Fiona.

Cecyl membersihkankan darah di tangan Fiona dengan alkohol yang tadi dibelinya di jalan pulang sebelum kembali ke panti asuhan. Dia juga membeli perban karena luka Fiona agak dalam.

Fiona belum menjawab. Wanita bermata jernih sebening air ini kembali berdesis menahan perih di tangan.

"Ibu, Fiona melindungiku di jalan ketika diserang serigala?" Cecyl yang menjelaskan.

Ibu panti panik seketika, lantas memeriksa luka Fiona. Menurutnya luka itu agak dalam dan perlu dirawat. Dia menyarankan Fiona untuk pergi memeriksakannya ke dokter,  namun Fiona menolak dan menyatakan itu baik-baik saja, hanya luka luar mungkin beberapa hari akan kering dan sembuh sendiri. Dia tak mau saja memberatkan ibu panti, mengingat banyaknya anak panti di sini yang harus diurus dan dirawat, bukan hanya dirinya saja.

Di kampus.

Fiona tetap masuk di pagi hari Meski harus mengenakan perban di tangan untuk menutup luka bekas cakaran serigala kemarin. Padahal ibu panti sudah menyarankan dia hari ini izin saja, tapi Fiona berkeras untuk masuk.

Di jalan menuju kelas dia bertemu dengan Garth yang juga akan masuk kelas. Kelas mereka beda lantai. Kelas Fiona ada di lantai satu  sedangkan kelas Garth ada di lantai dua.

Mata pria itu kemudian terkunci pada perban di tangan Fiona. "Hai, kamu ada apa dengan tanganmu?"

Fiona bukannya menjawab pertanyaan Garth, dia terkejut pada kedatangan pria itu juga perhatiannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PNG" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PNG
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus mengemban misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Alana Weston, relawan yang diculik teroris internasional. Namun, operasi rahasia ini berubah menjadi perjuangan hidup mati saat mereka terjebak di zona musuh yang berbahaya. Arya segera menyadari bahwa penculikan Alana bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik besar yang mengancam keselamatan mereka di tengah pelarian.
Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui dan sahabatnya bertekad membebaskan arwah penasaran yang terjebak di sekolah. Namun, kenyataan pahit menghantam saat Yui menyadari melalui mimpi bahwa korban pertama adalah teman dekatnya sendiri. Penyelidikan mereka mengungkap fakta kelam bahwa dalang di balik teror ini merupakan anggota keluarga mereka yang mencari keadilan atas masa lalu. Di tengah tekanan batin dan misteri yang mencekam, mampukah mereka mengakhiri kutukan ini selamanya?
Sampul Novel Kronik Takdir Terlama
8.1
Menjelajahi berbagai dimensi dan lini masa multiverse, sang protagonis berusaha tinggal bersama orang-orang tercintanya. Kehadiran mereka bukan sekadar sandaran emosional, melainkan menjadi sekutu terkuat untuk mengubah tatanan dunia. Dengan memahami masa lalu dan masa depan, ia berupaya memperbaiki takdir agar setiap tahun menjadi lebih baik. Perjalanan lintas ruang ini menjadi ajang pembuktian kekuatannya demi menghadapi peristiwa yang akan datang.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.