
My Absurd Ning
Bab 3
Keyna mengetuk pintu yang nampak sedikit terbuka sambil mengucap salam. 2 orang santri yang berada di dalam kamar asrama tersebut pun menoleh ke arah pintu sambil menjawab salam.
"Ning Keyna... Silahkan masuk Ning." Kata mereka mempersilahkan. Dan keduanya pun masuk.
"Kamar kalian kan kosong 1 kasur tuh, jadi saya bawa penempat baru buat kasur yang kosong. Kenalin ini Zora temen baru kalian." Kedua santriwati itu menatap ke arah Zora dengan tatapan senang.
"MasyaAllah. Salam kenal ya saya Ifah."
"Saya Maudy."
Zora tersenyum dan mengangguk ke arah mereka. Zora merasa cukup senang karena teman sekamarnya ternyata ramah dan nampak menerimanya dengan baik.
Keyna menatap ke arah Zora dan mengelus pundaknya. "Kamu baik-baik disini ya Ra."
"Insyaallah Key." kedua teman barunya menatap ke arah Zora aneh. Menyadari sebuah kesalahan dalam pemanggilan Keyna, Zora pun berdekhem pelan.
"Maksudnya Ning." ulangnya membenarkan.
"Yaudah saya balik dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian Keyna, kedua teman asrama Zora mulai mengajak Zora berbincang-bincang. Mereka menanyai asal Zora dan alasan Zora masuk ke pesantren ini.
Zora yang memang memiliki sifat ramah pun menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka dengan baik, tapi pastinya ada beberapa yang Ia tutup tutupi.
Ternyata teman sekamarnya ini asik juga. Zora tak menyangka jika akan mendapatkan teman yang sefrekuensi dengannya.
Tapi sebenarnya tetap saja Zora tak suka dengan tempat ini. Ia lebih suka rumahnya.
"Ngomong-ngomong aku perhatiin muka kamu agak mirip sama Ustadzah Almi tau istrinya Ustadz Ares pengajar disini. Kamu sodaraan ya sama mereka?" Celetuk Ifah.
Zora menelan ludah mendengar itu, ternyata mereka berdua mengenal Mamah nya juga. Bisa gawat kalo sampe mereka tau. Karena memang wajah Zora benar-benar mirip dengan Almi dari mata sedikit sipit, hidung yang tak terlalu mancung, dan bibir tipisnya.
"Ee__ itu gue___"
Allahuakbar....
Allahuakbar....
"Alhamdulillah." ucap ketiganya. Sebenarnya Zora mengucap hamdalah setengahnya karena bersyukur tak jadi menjawab pertanyaan Ifah.
"Ayo kita wudhu dan bersiap-siap sholat Ashar ke masjid." Ajak Ifah.
Maudy dan Zora mengangguk lalu ketiganya pun bergantian mengambil air berwudhu.
Walaupun ponpes al-anam salafi tapi bisa di bilang ponpes ini lumayan elit karena masuk ke ponpes ini lumayan mahal bayarnya. Jadi kualitas toiletnya pun berbeda karena di sini sudah di sediakan masing-masing toilet di setiap kamar asrama termasuk kamar Zora sekarang.
Kapasitas di setiap kamar pun tak banyak. Maksimalnya 5 orang dan minimalnya 2 orang pada 1 kamar. Sebenarnya jika di pikir-pikir lagi pondok Al-anam itu enak. Tidak perlu mengantri saat ingin ke toilet, dan tak desak-desakan saat tidur.
Tapi modelan seperti Zora mah tetap saja tak betah dan jika ada pilihan lebih memilih pulang karena menurutnya di rumah lebih enak.
Ketiga gadis itupun telah sampai di masjid dan bersiap-siap untuk memulai sholat berjamaah dengan para santri yang lain.
Imam pun takbir dan diikuti yang lain. Sejenak Zora terdiam mendengar suara sang Imam. Rasa-rasa Ia seperti tak asing dengan suara ini.
Zora mengedipkan matanya dan membuang isi pikiran yang membuat sholatnya tak khusyuk. Ia pun kembali fokus dan mendengarkan setiap bacaan imam selama sholat berlangsung sampai salam.
Mereka semua pun saling bersalam-salaman setelah selesai sholat. Zora pun mengikuti juga agar tak malu-maluin.
Setelah selesai memanjatkan doa, para santri pun keluar masjid untuk kembali melakukan aktivitas sore mereka. Begitu pula dengan Zora, Ifah, dan Maudy.
"Masyaallah sore-sore ada pangeran Arab." Gumam Ifah sambil memperhatikan seorang laki-laki berkokoh putih yang sedang memakai sendal jepit nya.
"Istighfar Ifah." Peringat Maudy. Ifah pun langsung tersadar dan beristrigfar.
Zora yang penasaran pun menoleh ke arah laki-laki yang sedang Ifah perhatikan itu. Dan tara.... Hanya sepupunya😔.
Saat Zora mengedarkan pandangannya, ternyata bukan hanya Ifah saja yang sedang memperhatikan sepupunya itu, tapi semua santriwati yang berada di sekitar pun nampaknya curi-curi pandang juga.
Zora berdecak malas. Menurutnya mereka semua alay! Kaya baru ngeliat cowok ganteng aja. Padahal menurutnya sepupunya itu biasa-biasa aja tuh tidak seganteng itu.
"Itu siapa?" Tanya Zora pura-pura tak tau agar aktingnya kerasa natural.
"Ooh itu Gus Emir anaknya Kyai Razka. Semua santriwati rata-rata suka sama dia. Selain dia ganteng dia juga berprestasi. Tapi sayangnya dia dingin banget." Jelas Maudy.
"Iya bener banget. Padahal pengen gitu kan ngomong sama Gus Emir, eh dianya malah dingin banget. Sekalinya ngomong paling....." Ifah menghentikan cerocosannya dan menatap langit mengingat.
"Paling apa?." Tanya Zora.
"Waktu itu Gus Emir manggil nama Ifah. Ifah seneng banget sampe cenat cenut nih ati. Tapi.... Ternyata Gus Emir Cuma ngabsen murid." Ifah cemberut dengan wajah di buat-buat.
"Hhhhhh." Tawa Zora dan Maudy.
"Perasaan dia b aja, kenapa si pada suka sama dia." Acuh Zora.
Ifah dan Maudy saling memandang dan mengerjap. Baru kali ini mereka menemukan seorang santriwati yang tidak menyukai Emir. Apalagi Zora terkesan baru, biasanya santriwati barulah yang masih anget-angetnya.
"Kamu gak terpesona sama Dia Ra?" Tanya Ifah sambil menangkup wajah teman barunya itu.
"Enggak! Apaan si." Zora berdecak dan memutar bola matanya malas seraya menyingkirkan tangan Ifah dari wajahnya.
"Wih VIP Dy." Kata Ifah terkagum-kagum karena baru satu biji ini ada seorang santriwati yang tidak suka dengan Emir.
"Sambutlah tamu VIP kita Zoraaa." Kata Maudy dan keduanya berhormat bak sedang menyambut Putri kerajaan.
"Jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng." Ifah membuat sound dengan mulutnya seolah musik penyambutan.
"Iiih kalian apaan si." Zora menyudahkan ke freak-an kedua temannya itu.
Ia pikir Maudy normal, ternyata sama saja seperti Ifah. Pantas saja mereka bestie.
"Ayo balik ke kamar." Ajak Zora dengan kesal seraya menarik tangan kedua temannya.
****
Pagi ini adalah pagi pertama Zora berada di ponpes Al-anam. Dan pagi ini juga pertama kalinya Ia masuk di sekolah barunya.
Dengan rasa malas Zora berjalan memasuki koridor Madrasah Aliyah tempatnya nanti menuntut ilmu. Beberapa santri yang berada di sekitar, nampak memandangnya dengan tatapan aneh.
Jelas saja, lihatlah hijab yang Zora kenakan sekarang. Ujungnya di sampirkan ke bahu, anak rambutnya terlihat kemana-mana, tidak memakai ciput pula. Berbeda dengan para santriwati yang lain, hijab mereka cukup panjang dan menutup dada serta, merekapun menggunakan ciput agar anak rambutnya tak keluar.
'Mereka kenapa si liatin Gue kaya gitu? Gak pernah liat orang cantik ya?' Batin Zora dengan bola mata terputar.
"Itu Zora tuh." Dari kejauhan nampak Ifah dan Maudy sedang berjalan ingin menghampiri Zora.
"Astaghfirullah tuh anak kenapa pake kerudungnya gitu amat." Ifah menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala melihat penampilan Zora.
"Eh tunggu." Maudy menghentikan langkah Ifah. Mereka berdua pun menghentikan jalan dan memperhatikan seseorang yang sedang otw menghampiri Zora.
Zora yang awalnya sedang berjalan santai tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat seorang laki-laki berbadan tinggi berdiri di depannya.
Ia menggeser langkah ke kanan untuk melewatinya tetapi laki-laki itu ikut bergeser ke kanan menghalangi nya lagi. Ia bergeser ke kiri dia pun mengikuti juga.
"Apa si?" Ketusnya mendongak ke arah laki-laki itu menatapnya sebal.
'Kak Emir?' Batin Zora terkejut menyadari bahwa yang menghalangi jalannya ternyata Emir sepupunya.
"Bisa di benerin gak hijabnya." Ucap Emir dingin tanpa menatap wajah Zora.
"Ini udah bener kok." balas gadis itu sambil memegang-megang hijabnya.
"Kalo kaya gitu aurat kamu masih keliatan." Zora memutar bola matanya malas. Ia hampir akan pergi melewati Emir tetapi, Emir dengan cepat menghalangi langkahnya lagi.
"Benarkan atau hukuman?" Ancamnya dengan pandangan masih kedepan tanpa menatap Zora.
Zora sekilas menatap wajah datar Emir dan berdecak sebal.
"Ck, ribet banget si lo. Iya-iya Zora benerin." Zora pun berlalu pergi ke arah toilet untuk membenarkan hijabnya.
Emir menatap punggung Zora sekilas dan geleng-geleng kepala. Ia pun akhirnya melanjutkan jalan kembali.
Interaksi keduanya tentu saja tak luput dari perhatian para santri terutama santriwati. Mereka semua nampak berbisik-bisik membicarakan Zora dan Emir.
Ifah dan Maudy di sudut sana nampak saling memandang dengan mata melotot. Mereka panik karena Zora baru saja mendapat teguran langsung dari Emir.
Karena Biasanya jika ada santriwati yang melanggar, Emir tak pernah menegur langsung melainkan mengadukan sang santriwati kepada ustadzah, dan ustadzah lah yang nantinya akan memberikan teguran.
Keduanya pun berlari kecil menuju toilet untuk menyusul Zora. Sesampainya di toilet, merekapun akhirnya dapat menemukan Zora yang nampak sedang menggerutu kesal sambil merapihkan hijabnya.
"Ra, lain kali yang bener kalo pake kerudung. Sampe di tegur gitu sama Gus Emir." Peringat Ifah.
"Iya iya." Balas Zora dengan malas.
"Btw ini gimana sih? Gue gak biasa pake kerudung yang rempong-rempong panjang kaya kalian." Ifah dan Maudy geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zora.
"Yaudah sini tak pasangin." Inisiatif Maudy.
Maudy pun mendekati Zora dan membantunya membenarkan hijab. Mula-mula Ia melepas hijab yang Zora kenakan terlebih dahulu untuk Ia bentuk ulang agar lebar.
Setelahnya Maudy pun merapihkan rambut Zora terlebih dahulu agar tak keluar karena Zora tak mengenakan ciput. Setelah itu barulah Maudy memasangkan hijab segiempat itu di kepala Zora seperti yang seharusnya.
"Nah, ginikan rapih." Puji Maudy dan di angguki oleh Ifah.
"Lain kali kamu tuh pake ciput biar rambut kamu gak keluar-keluar." saran Ifah.
"Yaudah yuk ke kelas." Ajak Maudy.
"Kalian kelas apa btw?" Tanya Zora.
"Kita kelas 12 IPA-3." Zora menatap mereka tajam.
"Lah? Kita gak sekelas dong."
"Kamu masuk kelas berapa emang?"
"12 IPS-1."
"Yaaaah." Ketiganya saling memandang dan cemberut sedih.
"Tapi istirahat nanti bareng ya."
"Okeh."
"Yaudah Gue duluan ya." pamit Zora seraya berlalu pergi keluar toilet menuju kelasnya yang berlawanan arah dengan arah kelas kedua sahabat barunya itu.
Tak lama kemudian Zora pun sampai di depan pintu kelasnya. Ia pun masuk dan mengucap salam. Ternyata belum ada guru di kelas itu. Ia pun duduk asal di bangku yang kosong.
Beberapa siswa yang ada di kelas nampak memperhatikannya dengan sinis. Hal itu sontak membuatnya menjadi risih dan tak nyaman.
Tiba-tiba 2 orang gadis menghampirinya sambil tersenyum miring.
"Santriwati baru ya?" Tanyanya dengan wajah meremehkan.
"Iya." Balas Zora ketus. Entah kenapa Ia merasa tak suka dengan dua orang gadis di depannya yang nampak dari wajahnya mereka adalah seorang pembully.
"Ngesok banget si!" Ledeknya kepada Zora.
"Santriwati baru tapi udah berani ngelakuin pelanggaran sampe-sampe di tegur sama Gus Emir." Zora hanya diam tak menanggapi. Atau mungkin belum.
"Inget ya! Kamu gak usah sok cantik di depan Gus Emir. Kamu itu Cuma santriwati baru gak usah ke geeran hanya gara-gara Gus Emir memperhatikan kamu." Zora berdecak dan menatap sinis ke arah 2 gadis itu.
"A___" Zora hampir saja mengeluarkan sentakannya, tapi tiba-tiba matanya tak sengaja menatap ke arah jendela dan mendapati seorang guru yang hendak masuk ke kelas.
Ia faham dengan adegan ini. Jika di film-film pasti situasi ini akan di manfaatkan oleh gadis pembully untuk memfitnah orang yang terbully. Tapi, karena ini dunia oren jadi, tak akan Ia biarkan seorang bandar munafik yang akan menang.
Zora tersenyum miring menatap 2 orang gadis itu ia membuat keduanya bingung. Zora menunduk dan berpura-pura terisak.
"Kalian berdua kenapa si fitnah-fitnah saya sembarangan hiks... Padahal saya santriwati baru. Saya gak tau apa-apa tapi, kalian tega-tega nya ngefitnah saya kaya gini." Zora melirik sekilas ke arah pintu dan pas kaki sang Ustadz nampak melangkah masuk.
"Idih apaan si gak usah lebay nangis-nangis segala! Dasar cewek caper!" Zora menunduk dan tersenyum smirk. Yes masuk jebakan.
"Leha, Dara!" Keduanya saling memandang dan melotot terkejut mendengar suara Ustadz memanggil mereka.
"Mati kita Dar." Bisik Leha.
"Kalian ngapain? Ngebully lagi?" Sang Ustadz pun mendekat ke arah Leha dan Dara sambil menatap mereka tajam.
Zora menatap ke arah sang Ustadz dan ternyata ustadz itu adalah surprise... Papahnya nya sendiri yang kebetulan hari ini jadwalnya mengejar. Mampus termampus mampus mereka berdua.
"E__enggak Ustadz, kita lagi kenalan aja." Sangkal Dara.
"Kenalan dengan metode marah-marah dan mengata-ngatai seperti tadi?" Dara dan Leha menunduk bungkam tak berani menjawab.
"Ikut saya!." Respati keluar kelas kembali.
Dara dan Leha menatap tajam ke arah Zora. Seolah mengatakan awas kamu! Sedangkan Zora yang di tatap hanya tersenyum dengan elegan😎 sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
Setelah keduanya keluar mengikuti Respati, Zora mengedarkan pandangannya ke arah teman-teman sekelasnya yang lain.
Mereka nampak terdiam sambil memperhatikan Zora. Entah kenapa Zora menjadi takut. Takut mereka akan membencinya karena telah membuat 2 orang gadis tadi mendapat masalah dengan sang Ustadz.
"Woooooooo." Salah seorang siswa berteriak heboh sambil bertepuk tangan dan diikuti yang lain juga hingga kelas menjadi riuh.
Melihat kehebohan kelas yang secara tiba-tiba tentu saja membuat Zora merasa aneh dan bingung. Ia pikir mereka memihak pada ke 2 gadis tadi, ternyata mereka malah senang karena kedua gadis tadi terkena masalah.
Salah satu siswi tiba-tiba ada yang merangkul pundaknya.
"Wiiih Ukhti hebat banget bisa bikin mereka mati kutu kaya gitu. Kita semua disini emang sejujurnya udah enek sama tingkah sok queen mereka. Tapi Cuma Ukhti yang berani bikin mereka tersalahkan kaya gitu."
Zora tersenyum miring sambil terkekeh pelan. "Orang kaya gitu emang mesti di kasi pelajaran." kata Zora dan di angguki oleh gadis itu.
"Eh iya kenalin nama aku Via. Nama kamu siapa?"
"Gue Zora."
"Ooh. Salam kenal Zora." Zora tersenyum dan mengangguk.
"Minggir." Keduanya menoleh ke arah sumber suara dingin itu dan mendapati seorang laki-laki jangkung yang menatap mereka datar dan teduh.
Menurut Zora dia tampan, ralat sangat tampan. Kulitnya putih bersih, bibirnya ping tebal, bulu matanya lentik, bahkan hidungnya pun mancung. Ternyata bukan Zora saja yang mengagumi ketampanan laki-laki itu, tapi para siswi yang ada di kelas juga tengah curi-curi pandang memperhatikannya.
Via yang tadi telah di usir oleh laki-laki itupun buru-buru bangun dari bangku itu dan pergi kembali ke bangkunya. Sedangkan Zora hanya diam dan menatap laki-laki itu aneh.
Setelah Via pergi, laki-laki itupun duduk di bangku samping Zora tanpa berkata apapun dan langsung membuka buku untuk dibacanya. Menyingkirkannya pun tidak, tidak seperti Via tadi.
Zora celingukan mencari bangku yang kosong untuk di dudukinya selain bangku ini. Tapi, tak ada. Tak ada bangku yang kosong selain bangku tengah depan yang Ia tempati sekarang.
"Sory, temen sebangku lo gak sekolah ya maaf ya hari ini gue tempatin dulu bangkunya soalnya gak ada yang kosong." Zora menatap wajah laki-laki itu dari samping.
"Kosong kok. Santay aja." Balasnya tanpa menatap Zora dan masih fokus ke bukunya.
"Ini bangkunya kosong?" laki-laki itu berdekhem sebagai jawaban.
"Assalamualaikum." seorang guru masuk ke kelas itu.
"Waalaikumsalam." jawab para murid serentak dengan semangat.
Ternyata yang masuk kelas adalah Emir, pantas saja jawab salamnya seperti itu. Emir di perintahkan untuk menggantikan Respati mengajar karena Respati masih punya urusan dengan kedua gadis tadi.
Emir menatap ke arah bangku Zora dengan tatapan tak suka. "Zora, Raden. Kalian kenapa duduknya berdua seperti itu? Kan sudah ada barisan bangku antara siswa dan siswi."
"Bangkunya gak ada yang kosong lagi." jawab Zora dengan malas.
Emir mendekat ke arah bangku-bangku para muridnya dan memperhatikan satu-satu bangku yang mereka tempati.
Zora menggerakkan satu alisnya menatap Emir seolah menyatakan. Benarkan apa yang gue bilang?
Emir menghela nafas. Dan akhirnya membiarkan Zora duduk dengan laki-laki bernama Raden itu walaupun jujur hatinya sedikit dongkol
"Baik, silahkan berdo'a dulu sebelum memulai pelajaran."
***
Terlihat Zora sedang duduk sendirian di bangku kantin sambil sesekali menguap. Ia benar-benar bosan karena tak ada handphone yang bisa Ia mainkan. Juga tak ada teman yang menemaninya di kantin karena Ifah dan Maudy sedang kelas olahraga jadi istirahatnya tertunda.
Zora menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan dengan mata terpejam. Dan tak lama kemudian Ia pun terbawa ke alam mimpinya.
3 orang gadis mendekat ke arah meja kantin yang di tempati Zora dan mereka saling memandang dan tersenyum smirk.
Brak...
Salah satunya menggebrak meja cukup keras hingga membuat Zora yang sedang tertidur pun terbangun.
"Apaan si?" Sentak Zora merasa marah tidurnya terganggu.
"Ini tempat kita ngapain kamu duduk di sini?" Zora melebarkan matanya menatap mereka dengan ilfil.
'Santriwati disini kenapa si prik semua' batin Zora merasa tak nyaman dengan perlakuan santri-santri di sini.
"Ayo minggir!" Perintah gadis itu lagi.
Zora terbangun dari duduknya dan menatap sinis ketiga gadis itu. "Kalo Gue gak mau minggir mau apa lo?" Tantang Zora.
"Santriwati baru dia." Nia menuding Zora sambil menatap kedua temannya.
"Ngesok banget gila." Sahut Gina sambil memperhatikan Zora dengan wajah songongnya.
"Minggir atau lo mau cari masalah?" Zora terkekeh mendengar ancaman itu.
"Siapa takut." Zora tersenyum smirk menatap ketiganya.
Nia maju dan akan menjambak kerudung Zora. Tapi, Zora dengan sigap menarik tangan Nia dan memelintirnya kebelakang.
Nia nampak kesakitan dan mengerang meminta ampun. Seketika semua mata pengunjung kantin menatap ke arah mereka dengan tatapan terkejut.
"Maju lo semua!" Tantang Zora menatap kedua teman Nia.
Zora pun mendorong tubuh Nia dan melepaskan pelintiran nya.
Nampak kedua teman Nia hanya terdiam dengan ekspresi ketakutan.
"Zora!" Zora menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya dan cukup terkejut mendapati Emir di belakangnya.
"Ikut saya!" Perintah Emir dingin.
"Hhhh rasain tuh." Tawa ketiganya merasa menang karena hanya Zora yang akan kena hukuman dari Emir.
Emir menatap ke arah Nia dan kedua anteknya dengan sengit.
"Untuk kalian, sapu lapangan sampai bersih!" Setelah mengatakan itu, Emir pun pergi.
Ketiganya melotot terkejut, mereka pikir Emir tak melihat perbuatan mereka tadi dan hanya melihat Zora saja ketika hendak memukul Nia.
Sebelum pergi mengikuti Emir, Zora menjulurkan lidahnya ke arah 3 gadis itu sebagai ledekan kepuasannya. Nia menuding-nuding Zora dengan wajah garangnya.
"Saya tandain muka kamu." Gumam Nia kesal.
Sesampainya di ruang guru, Zora diminta untuk duduk di kursi depan meja berhadapan dengan Emir. Keduanya terdiam sesaat dengan Zora yang nampak santai.
"Hafalkan! Setor 3 hari sekali." Emir memberikan sebuah kertas foto copy an yang di dalamnya berisi tulisan ayat Al-Qur'an dan beberapa hadits.
"Apa? Hafalin ini? Banyak banget, lo gila ya?!" Marah Zora melihat kertas itu di penuhi dengan tulisan arab dan artinya.
"Tidak mau?" Emir menatap Zora dingin dan teduh.
"Ya gak lah!" Ketus Zora berkacak pinggang.
"Okeh, siapkan foto background biru 3x4 dua lembar." Perintah Emir dengan senyuman miringnya.
Zora terdiam merasa bingung dengan permintaan Emir barusan.
"Buat apa?"
Emir menggerakkan satu alisnya menatap Zora. "Memangnya biasanya buat apa?" Zora bersusah payah menelan ludah mendengar nada bicara Emir yang slowmotion.
Mata Zora seketika melotot mengingat fungsi umum dari benda itu.
'Biasanya buat persyaratan berkas nikah gak si?' Batinnya terkejut.
"Okeh Zora hafalin." Zora pun mengambil kertas itu dan pergi dari meja Emir dengan langkah cepat.
Emir terkekeh pelan dan geleng-geleng kepala melihat kepergian Zora. Sepertinya gadis itu sangat ketakutan akan di nikahkan dengannya.
Sebelumnya memang Respati sempat bercerita kepadanya alasan kenapa Zora mau di pondokan disini. Yaitu karena Respati memberikan 2 pilihan kepada Zora, antara masuk pondok dan menikah dengan Emir. Akhirnya Zora pun dengan berat hati memilih pilihan yang pertama.
Respati pun memberitahu bahwa Zora privasi identitasnya. Ia tak mau orang-orang tau bahwa dia seorang Ning.
Anda Mungkin Juga Suka





