
Musuhku Bankir Crazy Rich
Bab 2
Bicara tentang kredit pinjaman adalah latihan yang menguras tenaga. Sebuah pengingat tempat Indra dan keluarganya memulai: selokan.
Ketika waktu istirahat makan siang akhirnya tiba, dia memutuskan untuk menangani satu klien lagi sebelum keluar dari ruang kerja Revano Ernadi yang sangat kecil.
Indra meraih telepon.
"Tahan semua panggilan," perintahnya kepada sekretaris di ujung sana. Tanpa menunggu jawaban, dia menutup telepon, perhatiannya tertuju pada pintu kantor yang terbuka.
Ketika klien berikutnya melangkah masuk, dia ... membeku. Dia tidak tahu mengapa udara terhempas keluar dari paru-parunya. Tidak tahu mengapa suhu di ruangan itu naik beberapa derajat hingga dia menarik kerah bajunya untuk bisa bernapas.
Dia telah berkencan dengan begitu banyak wanita cantik sehingga butuh lebih dari sekadar penampilan untuk menarik perhatiannya.
Tidak dengan wanita ini.
Segala hal tentangnya menarik perhatian. Dari rambut merah bergelombang yang menjuntai di bahunya hingga kakinya yang jenjang. Dan cara dia berjalan.
Langkahnya anggun bak penari Serimpi, kepalanya terangkat tinggi dan bahunya tertekuk ke belakang.
Ketika mata mereka bertemu, Indra tiba-tiba menyadari bahwa dia mengenali wanita tersebut. Mengenalnya dari suatu tempat, tetapi tidak dapat mengingatnya. Tidak mungkin dia pernah tidur dengannya atau berkencan dengannya. Dia akan ingat meniduri wanita secantik ini. Dan kalau dia pernah melakukan sesuatu yang lebih serius dengannya, dia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Mata wanita itu membelalak seolah-olah dia juga mengenali Indra. Tapi dia cukup cepat menenangkan diri untuk mengulurkan tangannya.
"Hai. Saya Elaine... Tanjung."
Dia memiringkan kepalanya. "Anda Indra Suryajaya."
Indra bangkit untuk meraih tangan Elaine yang mungil.
Meremasnya. Tidak ingin melepaskannya.
Elaine tidak mengenakan cincin kawin.
Tanpa berpikir, ibu jari Indra menyentuh kulit wanita itu, dan tiba-tiba dia menarik tangannya kembali. Segala bentuk kontak romantis dengan klien tidak dapat dibenarkan, tidak peduli seberapa senangnya dia menyentuh wanita itu.
"Ya. Bagaimana Anda mengenal saya?"
Elaine tersenyum. Bibirnya yang merah muda penuh mengalihkan perhatiannya. Mulutnya yang menggoda membuat jantung Indra berdegup kencang ketika senyum di bibir yang menggoda itu melebar.
"Semua orang di Ibu Kota tahu siapa Anda. Saya hanya tidak menyangka Anda akan menjadi petugas kredit saya."
Wanita itu tertawa. Itu adalah suara napas dan gugup yang ingin didengar Indra lagi dan lagi.
Reaksinya terhadap wanita itu membuat Indra bingung. Tiba-tiba tergila-gila bukanlah gayanya. Seluruh hidupnya berpusat pada pekerjaan dan ambisinya. Dia menjadwalkan pertemuan dengan wanita, dan kalau dia tidak dapat meluangkan waktu, dia memutuskan hubungan sebelum si wanita salah paham. Wanita bukanlah prioritas baginya, namun, saat ini dia akan melakukan apa saja untuk mengajak wanita di hadapannya untuk santap malam.
"Saya menggantikan Revano hari ini. Silakan duduk." Dia menunjuk ke kursi di sisi lain meja sebelum dia sendiri duduk. "Saya kenal Anda dari suatu tempat, bukan?"
Elaine duduk dan menyilangkan kakinya. Dia memiliki keanggunan seorang penari balet, tetapi juga memancarkan daya tarik yang berlebihan untuk menjadi seorang balerina. Sejujurnya, dia lebih mirip bintang film daripada yang lainnya.
"Saya rasa tidak. Kecuali Anda tahu tentang rancangan saya-"
"Apa yang Anda rancang?" tanyanya.
Elaine menundukkan mata hijaunya yang menawan, seolah-olah pertanyaan itu membuatnya malu karena suatu alasan.
"Oh, kebanyakan pakaian." Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari binder yang baru pertama kali dilihat Indra.
"Saya membuat pakaian untuk wanita dan jas untuk pria."
"Membuatnya?" Indra mencondongkan tubuh ke depan, mengamati dengan penuh minat. "Anda juga membuat pakaian?"
"Ya," jawab Elaine mengangguk antusias. "Saya mendesainnya lalu menjahitnya-membuatnya."
"Sendiri? Anda tidak punya staf untuk membantu?"
"Belum." Elaine tersenyum getir. "Itulah sebabnya saya datang untuk mengajukan pinjaman. Saya ingin membeli toko dengan workshop. Dengan begitu, saya akan punya staf untuk membantu menjahit desain saya, membangun brand saya."
Indra memikirkan penjelasan Elaine sejenak, menyadari bahwa menjahit semua kreasinya sendiri pasti butuh ratusan jam.
"Mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri adalah komitmen yang besar."
"Ya, memang." Elaine menarik napas dalam-dalam. "Itulah sebabnya saya ingin punya toko sendiri dengan staf. Saat ini, butuh waktu lama untuk sendirian membuat pakaian, yang berarti saya tidak bisa menghasilkan uang sebanyak yang saya bisa kalau saya punya karyawan."
"Coba saya lihat aplikasi pinjaman Anda," kata Indra, tertarik dengan ide bisnis Elaine.
Elaine menyerahkan berkas aplikasi kepadanya dan dia memeriksa formulirnya. Ketika dia berhenti di pendapatannya, dia benar-benar merasa simpati. Situasinya mengingatkannya pada masa kecilnya ketika orang tuanya bangkrut. Tidak mungkin satu orang bisa bertahan hidup dengan pendapatan segitu.
Tidak kalau Elaine berharap ada atap di atas kepalanya dan makan tiga kali sehari.
Indra melirik sekilas. Gaun Elaine dibuat dengan sangat eapi dan tampak mahal. Dia menduga Elaine mungkin membuatnya sendiri, dan perhiasannya benar-benar tampak asli. Kalau dia tidak tahu lebih baik, dari sikap dan pakaiannya, dia akan menduga bahwa Elaine berasal dari keluarga kaya.
Namun, sepatunya adalah buktinya.
Indra bukan pakar tentang mode wanita, tetapi bahkan dia dapat melihat betapa lusuh dan usang sepatu Elaine. Banyak orang yang datang untuk meminjam uang mengenakan pakaian terbaik mereka agar tampak bertanggung jawab, bukan seperti siapa mereka yang sebenarnya. Putus asa.
Elaine mungkin melakukan hal yang sama. Mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya agar dia dapat datang ke SIB dan mengajukan permohonan kredit.
Dilihat dari seberapa banyak perhatian yang diberikannya untuk mengisi semua formulir pinjaman dengan benar, jelas bahwa Elaine sama bersemangatnya seperti Indra. Indra mengagumi ambisi itu.
Banyak orang kaya di dunianya yang puas hidup dari triliunan rupiah tanpa mencapai prestasi apa pun. Namun, di sinilah Elaine, mencoba mewujudkan mimpinya.
"Di sini tertulis bahwa Anda lahir di Prancis," katanya, masih memeriksa formulirnya.
"Ya. Negara yang indah."
Mata hijaunya berbinar dan dia menggenggam kedua tangannya dengan kegembiraan yang kentara. "Arsitekturnya sungguh menakjubkan. Dan makanannya." Elaine memejamkan mata dan mengeluarkan erangan kecil yang membuat denyut nadi Indra berpacu. "Benar-benar nikmat."
Ada sesuatu yang menular tentang dirinya. Sepertinya antusiasme Elaine yang mungkin menular padanya. Biasanya itu akan membuatnya waspada karena, sejujurnya, kesungguhan bukanlah sesuatu yang dia percayai di dunianya. Namun, Indra tidak dapat menahan diri untuk tidak terpesona olehnya. "Jadi, kamu ingat Prancis?"
"Yah, saya tidak mengingatnya waktu saya lahir," katanya sambil tertawa. "Tapi saya mengikuti program pertukaran pelajar ketika masuk sekolah desain dan itu luar biasa. Apakah kamu pernah ke sana?"
Tidak heran dia tampak seperti berasal dari keluarga kaya. Perjalanannya mungkin telah membuatnya menjadi warga dunia.
"Tidak, belum pernah," jawab Indra.
"Oh, kamu akan menyukainya. Dan para pria di sana sangat tampan. Kamu akan cocok di sana." Pipinya memerah ketika berbicara.
Anda Mungkin Juga Suka





