
Musuhku Bankir Crazy Rich
Bab 3
Meski terdengar sombong, Indra tidak terkejut bahwa Elaine sedang menggodanya. Banyak wanita yang melakukannya. Cara Elaine menggoda itulah yang membuatnya terkesan.
Halus dan berkelas. Membuatnya menginginkan lebih.
"Kalau aku punya pemandu wisata secantik kamu, aku mungkin sudah mengunjungi Italia sejak dulu."
Elaine tersipu. "Mungkin suatu hari nanti..."
Kalau Indra tidak mengambil kembali kendali atas percakapan mereka, semuanya akan menjadi tidak profesional dengan sangat cepat.
"Pendidikanmu di Italia telah membantumu dengan baik. Kamu benar-benar mengerjakan pekerjaan rumahmu. Rencana bisnis lima tahunmu menyeluruh dan dipikirkan dengan matang. Sayangnya, skor kreditmu menjadi masalah."
Untuk pertama kalinya wajah Elaine menjadi muram. Dia merosot di kursinya.
"Mantan pacarku mengambil kartu kreditku, mengambil apa pun yang bisa dia dapatkan sampai batas limit, lalu pada dasarnya menghabiskan semuanya. Aku mencoba menyelesaikannya, tetapi itu hampir mustahil. Dan aku menolak untuk melunasi utang yang tidak kubuat."
Utang itu adalah masalah besar. Kalau Elaine memiliki skor kredit yang baik, perusahaannya memiliki peluang bagus untuk sukses. Tapi skor kredit seperti yang sekarang bukanlah sesuatu yang mungkin dapat diambil oleh SIB.
"Bairpun aku mengagumimu yang berpegang teguh pada prinsipmu, utang adalah sesuatu yang sulit dijual."
"Beberapa tahun ini memang sulit," kata Elaine lemah. Bayangan kesedihan menyelimuti matanya dan dia menunduk, menghindari tatapan Indra.
Membiarkan orang asing seperti dia memeriksa catatan keuangannya pasti sangat menyakitkan bagi Elaine.
Saat itulah Indra menyadari betapa rapuhnya Elaine setelah dia bergeser di tempat duduknya.
"Sudah hampir waktunya makan siang. Apakah kamu sudah makan siang?"
"Aku sudah makan," gumamnya. "Aku pergi ke warung dan membeli sup."
"Sup apa?" tanya Indra. "Makanan Italia?"
"Oh, tidak ada yang mewah." Elaine mendesah berat. "Hanya mi instan sup ayam dengan saus tomat. Aku menambahkan daun bayang untuk membumbuinya."
"Apa?"
Elaine tersentak, tetapi mengangkat wajahnya untuk menatap Indra.
"Maaf. Aku seharusnya tidak mengatakan-"
"Aku seharusnya tidak mencoba untuk mengorek," kata Indra buru-buru.
Keheningan yang terjadi setelahnya bagaikan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Sebuah kutukan atas keberuntungannya.
Terkadang, mudah untuk melupakan awal mula kehidupannya yang sederhana. Pada tingkat kesuksesan ini, masalah menjadi tampak sangat besar.
Menjadi penanggung jawab dana triliunan adalah jenis tekanan yang unik. Namun, harus menyiapkan makanan seakan-akan terdengar seperti sesuatu yang berasal dari novel era Victoria. Salah satu buku tentang anak yatim dan anak jalanan.
Elaine datang ke sini dengan penuh percaya diri. Begitu bersemangat tentang mimpinya. Sekarang, kekurangannya yang tiba-tiba membuatnya tampak lemah. Seolah-olah dia akan hancur kapan saja. Kalau dia akan menolak permintaan kredit Elaine, paling tidak yang bisa dia lakukan adalah menawarinya makan.
"Elaine," Indra memulai.
Dia menelan ludah, mendadak gugup.
"Bagaimana kalau kamu makan siang denganku?"
"Makan siang?" Elaine ternganga menatapnya. "Denganmu?"
Dengan siapa lagi kamu akan makan siang?
Elaine berusaha sekuat tenaga untuk tidak merasa ngeri, membuatnya sulit untuk berpikir jernih.
Makanan kedengarannya sangat nikmat saat ini. Dan makan bersamanya terdengar lebih nikmat lagi.
Karena sekitar sejuta alasan.
Elaine mengangguk.
"Tentu saja aku yang bayar. Dan kita bisa bicara lebih lanjut tentang pengajuan pinjamanmu," lanjut Indra.
Harga diri Elaine yang keras kepala, tidak suka bergantung pada siapa pun untuk mendapatkan uang. Tetapi ini adalah kesempatannya untuk mendekati Indra. Bertemu Indra Suryajaya adalah keberuntungan.
"Oke. Aku sangat menginginkannya. Terima kasih."
"Bagus."
Indra tersenyum padanya yang membuat jantung Elaine berdebar kencang. Reaksi tubuhnya terhadap Indra adalah hal terakhir yang dia butuhkan dalam misinya.
Indra bangkit, mengembalikan berkas aplikasinya, dan menuntunnya keluar dari ruang kredit.
Indra meletakkan tangannya yang berat di punggung bawah Elaine, membimbingnya keluar bank. Sentuhannya membakar kain gaun Elaine, bobot tangan Indra mengingatkannya bahwa sudah lama sekali dia tak melakukan kontak fisik dengan seorang pria.
Ya Tuhan, dia sudah overthinking tentang pertemuan ini. Seperti yang selalu dia lakukan.
Masa-masa mudanya yang penuh percaya diri sudah lama berlalu.
Ketika mereka sampai di bawah sinar matahari di luar, Indra menuntunnya ke sebuah Mercedes hitam yang ramping di tempat parkir eksekutif. Ketika Indra membantunya masuk ke jok kulit mewah di bagian dalam, Elaine mengamatinya dengan saksama. Tinggi, gelap, dan tampan bahkan tidak cukup untuk menggambarkannya. Elaine tidak bercanda ketika mengatakan bahwa Indra akan cocok jika dia mengunjungi Italia.
Dengan rambutnya yang hitam legam, kulit kecokelatan dan mata hijau yang tajam, dia tampak seperti model rumah mode di Milan.
Indra masuk ke kursi pengemudi di sampingnya dan menyalakan mesin. Napas Elaine tercekat di tenggorokannya ketika mereka meluncur dari area parkir keluar ke jalan.
Sudah lama sejak dia berada di dalam mobil semewah ini. Bahkan lebih lama lagi sejak dia menggoda pria setampan ini. Atau sekaya ini.
"Kita akan makan siang di restoran Italia," kata Indra, sambil mengemudikan mobil dengan santai di tengah kemacetan saat makan siang.
Indra tidak mengatakannya seolah-olah itu adalah saran. Dia mengatakannya seakan-akan dia benar-benar menguasai situasi. Dan, tentu saja, dia benar.
Dia seorang Suryajaya.
Dan Suryajaya selalu memegang kendali, pikir Elaine getir.
Yang membuatnya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan Indra darinya? Tidak mungkin Indra punya kebiasaan mengundang klien rendahan yang terlilit utang seperti dia untuk makan siang. Ini bukan isyarat dari kebaikan hatinya.
Indra adalah seorang Suryajaya. Semua orang tahu bahwa keluarga Suryajaya tidak punya hati.
Dia pasti punya semacam motif tersembunyi.
Kalau Indra tahu motif tersembunyi Elaine, dia tidak akan ragu untuk menghancurkannya. Sama seperti keluarga Suryajaya telah menghancurkan keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Sebelumnya di bank, Indra mengira dia mengenalinya dari suatu tempat. Itu hampir membuat Elaine kebingungan. Untungnya, Indra tidak tahu bahwa Elaine adalah seorang Kanigoro.
Dia hanya berharap tidak ada seorang pun di restoran itu yang mengenalinya.
***
"Aku tak berharap ini rasanya persis seperti yang asli." Indra membukakan pintu restoran untuknya. "L'italiano adalah restoran yang hebat, tetapi kamu mungkin dimanjakan dengan yang original sewaktu di Italia."
Elaine menyelinap masuk, sambil tersenyum penuh terima kasih. "Pasti melebih ekspektasiku?"
"Tidak mungkin." Indra mencondongkan tubuhnya cukup dekat sehingga Elaine bisa mencium aroma parfum maskulinnya. "Meskipun kamu mungkin dimanjakan oleh makanan di sana, aku ragu para lelaki itu tahu bagaimana cara mengimbangimu." Nada suara baritonnya yang dalam dan implikasi dari kata-katanya membuat Elaine menggigil.
Matanya terbelalak saat menyadari bahwa Indra benar-benar menggodanya.
Mungkin itulah satu-satunya motif Indra untuk mengundangnya makan siang.
"Butuh lelaki yang istimewa untuk mengimbangiku, Indra."
"Aku yakin."
L'italiano sangat mewah. Jenis restoran yang akan dikunjungi orang tuanya untuk beberapa acara kecilkecilan ketika Elaine masih sangat muda. Lampu gantung kristal di atas kepala dan mereka berjalan di lantai marmer putih yang berkilau. Semua dekorasinya berwarna putih bersih, dari kursi kayu yang dicat hingga tiang-tiang yang memberi tempat itu nuansa Italia kuno.
Anda Mungkin Juga Suka





