Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mundur Setelah Dipoligami

Mundur Setelah Dipoligami

Hampir satu dekade membina rumah tangga, Khanza Almira harus menghadapi kenyataan pahit saat Bram Radita menduakan cintanya. Sang suami diam-diam menikahi perempuan yang jauh lebih muda tanpa izinnya. Merasa hancur melihat kemesraan mereka, Khanza memutuskan untuk mundur dan meminta cerai demi harga dirinya. Kini, setelah perpisahan terjadi, akankah takdir membawa mereka kembali bersama atau justru menjadi akhir selamanya bagi kisah mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tak terasa, malam telah menyapa. Khanza yang sudah mengetahui kebenaran tentang poligami yang dilakukan Bram dibelakangnya kini hanya bisa termenung pasrah, sedih saat mengingat semuanya.

Setelah berbicara empat mata tadi siang dengan Bram, kini Khanza memilih berdiam diri di kamar untuk sementara waktu. Yang biasanya di saat malam hari tiba dia selalu menyiapkan makan malam untuk Bram, kali ini sengaja tidak ia lakukan.

Hatinya masih sakit dan teramat kecewa dengan pernyataan yang tadi siang Bram ucapkan. Dia akui memang belun bisa memberikan keturunan untuk Bram. Tapi, dia juga tidak mandul.

Begitupun sebaliknya. Hanya saja, kehidupan dalam rumah tangga mereka memang belum dikaruniai seorang anak saja. Namun apalah daya, Bram tidak sabar akan hal itu.

Dan Khanza, tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Semua sudah terjadi, tak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Hanya bisa pasrah menerima takdir yang Bram lakukan saat ini.

Jika dia mampu bertahan, maka dia akan bertahan. Jika tidak bisa, jalan terakhir adalah PERPISAHAN.

***

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu terdengar. Khanza yang saat ini baru saja menyelesaikan ibadah shalat Isya' seketika diam sejenak di tempat. Sebab, dari dirinya tak ada keinginan untuk membuka pintu.

Namun setelah mendengar suara siapa dibalik pintu kamarnya, barulah Khanza bangkit dan bergegas ingin segera membukanya.

"Bibik?"sapanya setelah pintu terbuka.

"Ada apa, bibik?"sambungnya bertanya.

"Non, Khanza?"ucapnya pelan, langsung memeluk Khanza.

"Ada apa, bik? Bibik kenapa?"tanya Khanza sedikit bingung. Namun, dia tetap membalas pelukan bik Marni.

"Nona yang sabar, ya. Bibik sudah tahu semuanya. Bibik ikut prihatin, non."ucapnya.

"Maksudnya gimana, Bik?"tanya Khanza bingung.

"Bapak non, bapak. Bapak itu tidak bisa bersyukur memiliki wanita shalihah, cantik, masih muda seperti nona. Speak istri idaman, masih aja di duakan."ujarnya.

"Bapak memang kurang bersyukur, non."sambung bik Marni kesal sendiri.

Mengusap punggung wanita paruh baya itu, Khanza menjawab, "Khanza tidak apa-apa, bik. Khanza ikhlas menerimanya."jawabnya.

"Toh semua sudah terjadi, 'kan?"tanya Khanza, membuat bik Marni angguk kepala.

"Sekarang Khanza sadar, kalau mas Bram itu bukan sepenuhnya milik, Khanza."

"Tapi milik kedua orang tuanya dan pastinya milik, Allah SWT."sambung Khanza.

"Mungkin untuk sekarang ini, ujian yang kami terima adalah kesetiaan. Khanza minta do'anya, semoga Khanza tetap sehat serta diberi umur panjang."ucapnya.

"Pasti, non. Bibik selalu mendo'akan yang terbaik buat, nona."jawabnya.

"Tanpa non Khanza minta, bibik terus mendo'akan."sambungnya.

"Terimakasih bibik,"jawab Khanza tersenyum. Senyum yang hampir tak terlihat.

Melepas pelukannya, bik Marni berkata, "Dari tadi siang, nona tidak keluar kamar untuk makan. Sekarang, biar bibik ambilkan makan malam untuk nona, ya."ucapnya.

Tersenyum, Khanza berkata, "Kebetulan, Khanza sedang tidak pengen makan apa-apa, bik."jawabnya.

"Jangan menyiksa diri seperti ini, non. Nanti bisa sakit. Makan sedikit tidak apa-apa asal perut ke isi."ucap bik Marni menasehati.

"Sekarang non Khanza masuk, biar bibik bawa makanannya kemari!"sambungnya berkata.

"Eee,... Jangan!"cegah Khanza.

"Tidak apa-apa, non."

"Lagian, bapak juga sedang pergi sama selingkuhannya. Non Khanza tenang saja, rumah ini sepi gak ada orang."ungkapnya memberitahu.

"Pergi?"ulang Khanza bertanya.

"Iya. Katanya tadi si pelakor minta dibeliin roti apa gitu non, bibik lupa namanya."jawab bik Marni.

"Dia bukan pelakor, bik."ucap Khanza mengingatkan.

"Ah, orang macam itu jangan dibela, non. Nanti ngelunjak."

"Jelas-jelas dia itu pelakor. Perebut suami orang."

"Mana ada perempuan baik yang mau dijadiin istri kedua, gak ada, non. Maka dari itu, pantaslah dia disebut si pelakor."kekeh bik Marni menjelaskan.

"Katanya mas Bram, bukan dia yang merayu. Tapi mas Bram sendiri yang justru menawarkan pernikahan pada dia."ungkap Khanza.

"Astaghfirullah. Bibik gak salah dengar ini, non?"kaget bik Marni membelalakkan matanya.

"Tidak. Mas Bram sendiri yang bicara semuanya pada Khanza tadi."jawabnya.

"Bagaimana bisa ini terjadi, non? Apa sedikitpun bapak tidak memikirkan perasaan non, Khanza?"tanyanya tak habis pikir.

Tersenyum, Khanza berkata, "Semua ada ditangan mas Bram dan takdir, bik."jawabnya.

"Aneh betul bapak kali ini, non. Bisa-bisanya menawarkan pernikahan jika di rumah saja, dia sudah memiliki istri?"

"Benar-benar aneh."geram bik Marni.

"Terlepas benar atau tidaknya, beliau mengatakan sendiri kalau semua ini terjadi karena beliau ingin segera memiliki momongan, Bik."

"Alhamdulillahnya, lewat istri kedua ini, do'a mas Bram diijabah. Wanita itu sedang mengandung empat bulan anak mas, Bram."ungkap Khanza.

"Bibik gak bisa berkata, non. Tega sekali pak Bram, ini. Padahal sudah jelas, jika non Khanza maupun bapak tidak mandul."

"Tapi kenapa, kenapa, ...... Ah sudahlah, non. Gak usah diteruskan! Bikin sakit tambah hati."ujarnya.

"Tapi bibik yakin, suatu saat bapak pasti menyesal dengan perbuatannya ini."

Tersenyum tipis, Khanza berkata, "Menyesal atau tidak, semua tergantung diri masing-masing, bik. Dan itu, ada di diri mas, Bram."ucapnya.

"Kasihan sekali kamu, nona."lirihnya.

"Padahal, kalian ini pasangan sempurna. Cantik dan tampan. Cuma sayangnya, memang belum dikasih momongan saja. Dan pak Bram, lelaki yang tidak sabaran."sambungnya pelan.

"Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Semoga Khanza ikhlas menerimanya."balasnya.

"Menurut bibik, emang bapak yang sangat keterlaluan kok, non. Tidak tahu bersyukur."ucapnya masih menyalahkan Bram.

"Tapi apapun yang terjadi, bibik akan terus dukung non, Khanza."

"Terimakasih ya, bik. Terimakasih untuk semua kebaikan bibik selama ini."ucap Khanza.

"Sama-sama, non."jawabnya.

Dengan tangan terbuka, Khanza dengan senang hati menganggap bik Marni seperti orang tua sendiri.

Karena sejak kecil, dia hanya hidup sebatang kara. Tinggal hanya dengan neneknya dan kini neneknya sudah meninggal setelah dua tahun pernikahannya dengan Bram.

Begitupun dengan orang tuanya, yang sudah lebih dulu pergi setelah kecelakaan saat dia masih kelas 1 SD.

"Nona yang sabar, ya. Bibik ambilkan makan untuk, nona."pamitnya.

"Kebetulan, bibik masak makanan kesukaan nona. Cumi balado."ungkapnya.

"Tidak usah repot antar kemari, bik. Biar Khanza sendiri yang ke meja makan."balasnya.

"Kebetulan, Khanza mau ke dapur buat ambil minum."

"Oh gitu? Syukurlah. Ayo, non!"jawabnya mengajak.

Sebenarnya Khanza tidak ingin makan malam. Perutnya belum terasa lapar sama sekali. Bawaannya juga malas tak berselera.

Tapi mendengar penuturan bik Marni yang sudah bersusah payah membuat lauk kesukaannya, membuatnya tak enak hati.

***

Di dalam mobil perjalanan pulang.

Luna bergelayut manja dibahu Bram yang sedang mengemudi. Dia sangat senang karena hari-harinya merasa selalu di manja oleh Bram. Walaupun, Bram sedikit kaku padanya.

Kadang baik kadang acuh dan tak jarang juga permintaannya selalu ada yang ditolak. Tapi tak membuat Luna putus asa. Dia terus mendekati Bram sampai Bram mau menerimanya dengan senang hati.

Padahal tanpa sepengetahuan Luna, Bram baik dan mengalah semua ada tujuannya. Bukan semata dia ingin dibodohi.

"Mas Bram, apa mbak Khanza masih belum nerima Luna jadi madunya?"tanyanya sok manja.

"Dia wanita baik. Saya yakin, dia bisa nerima kamu dengan senang hati."jawabnya berbohong.

"Syukurlah. Luna senang mendengarnya,"jawabnya tersenyum palsu.

"Luna sempat takut mbak Khanza tidak bisa nerima tapi justru menyerang, Luna."sambungnya.

"Itu tidak akan terjadi!"tegaskan Bram.

"Semoga aja begitu ya, mas."balasnya.

"Ya."

Kenyataannya, Luna sangat membenci istri sah Bram, Khanza. Bahkan dia emang berniat menyingkirkan Khanza dari pernikahannya.

Luna ingin jadi istri sah satu-satunya milik Bram. Dan,.... Pewaris tunggal semua harta kekayaan yang dimiliki Bram tersebut.

***

Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang untuk bertamu di rumah mereka. Bik Marni dan Khanza saling berpandangan.

Kemudian, "Biar bibik lihat dulu ya, non."pamitnya pergi.

Setelah dibuka, nampaklah wajah-wajah orang yang membuatnya kesal hari ini. Dialah Bram dan Luna. Namun karena tuntutan pekerjaan, membuat bik Marni harus profesional.

"Silahkan masuk pak Bram, nona."ucapnya beramah-tamah.

"Terimakasih, bibik?"balas Luna sok ramah.

"Khanza, ada?"sahut Bram bertanya.

"Ada, pak. Nona sedang makan."jawabnya.

Tidak berkata apapun, Bram langsung melangkah masuk menuju dapur. Bahkan, Luna hampir saja ia abaikan.

*

"Khanza?"panggil Bram lembut.

Tak menjawab, Khanza hanya menoleh sedikit untuk melihatnya. Tapi setelah dia merasakan kedatangan Luna, Khanza langsung menghadap lurus ke depan.

"Aku bawakan martabak telur untukmu,"ucap Bram meletakkan kantong kresek putih yang dibawanya di depan piring makan Khanza.

"Aku beli di Abang langganan kita."ucapnya memberitahu.

"Terimakasih."ucap Khanza datar.

"Aku tinggal ke kamar dulu, ya. Nanti agak malaman, aku pergi menemui mu."pungkasnya.

"Ya."

Setelah mendengar jawaban Khanza, Bram langsung mengajak Luna pergi ke kamar mereka.

Membuat Khanza semakin sakit hati dibuatnya. Apalagi, melihat Luna yang terus menempel di lengan Bram, membuatnya muak.

Kepergian keduanya, Khanza berkata, "Bibik, bawa pergi makanan ini!"perintahnya.

"Non Khanza tidak ingin memakannya?"

"Tidak!"

"Baik, non."jawab bik Marni patuh.

Meletakkan garpu dan sendoknya, Khanza, "Aku tidak sudi memakan makanan yang kau beli dengan wanita itu, mas. Aku tidak sudi!"gumamnya marah.

***

Bersambung,....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel COMPLICATED LOVE
9.2
Dunia ini tidak pernah adil. Perbedaan kasta dan harta membuat kesenjangan sosial kian nyata, memaksa mereka yang miskin berjuang lebih keras hanya demi setitik harapan. Di tengah kerasnya takdir, Sean yang sombong menuntut Mira bersujud di kakinya demi sebuah pengampunan. Namun, hubungan mereka perlahan berubah menjadi ketergantungan yang rumit. Seperti angin yang menggerakkan kincir, Mira menjadi sosok krusial yang menentukan arah hidup Sean di masa depan.
Sampul Novel Cute Little Wife
9.2
Setelah menghabiskan malam yang penuh gairah bersama, Timmy dan Li Xiao Ke secara mengejutkan mendapatkan kemampuan supranatural yang misterius. Perubahan drastis ini menjadi ujian besar bagi hubungan mereka di dunia modern. Apakah kekuatan baru tersebut akan mengikat hati mereka lebih erat, atau justru menjadi pemicu kehancuran cinta yang baru saja bersemi? Ikuti lika-liku asmara penuh keajaiban ini saat mereka berjuang menghadapi konsekuensi yang tidak terduga.
Sampul Novel PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN  (Seni Untuk Merawat Luka)
8.3
Kisah cinta ini menguji sepasang kekasih yang mendamba bahagia, namun justru dihantam badai masa lalu yang kelam. Kekhawatiran yang mendalam memicu krisis kepercayaan dan dilema cinta segitiga yang rumit. Sang protagonis harus memilih antara bertahan demi harapan masa depan atau menyerah pada konsekuensi masa lalu. Baginya, cinta bukan sekadar memuja keindahan pasangan, melainkan seni merawat luka dan komitmen untuk terus melangkah maju bersama.
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Dua tahun berlalu sejak Sari tiada, Mas Duda menjalani hari-harinya sebagai guru SD dengan penuh kesederhanaan. Meski mencintai profesinya, pria berusia 35 tahun ini tak mampu menghalau rasa sepi yang kian menghimpit batinnya. Tekanan dari keluarga dan sahabat untuk mencari pendamping baru pun mulai berdatangan. Namun, di tengah kekosongan jiwa tersebut, ia masih didera keraguan dan belum sepenuhnya siap untuk membuka kembali pintu hatinya bagi cinta yang lain.