Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mundur Setelah Dipoligami

Mundur Setelah Dipoligami

Hampir satu dekade membina rumah tangga, Khanza Almira harus menghadapi kenyataan pahit saat Bram Radita menduakan cintanya. Sang suami diam-diam menikahi perempuan yang jauh lebih muda tanpa izinnya. Merasa hancur melihat kemesraan mereka, Khanza memutuskan untuk mundur dan meminta cerai demi harga dirinya. Kini, setelah perpisahan terjadi, akankah takdir membawa mereka kembali bersama atau justru menjadi akhir selamanya bagi kisah mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Aku tidak sudi memakan makanan pemberianmu dengan wanita itu, mas."

"Aku benci!"ujarnya penuh amarah saat mengatakannya.

Dia benci, dan dia belum bisa menerima poligami ini. Dia teramat kecewa dengan suaminya yang berkhianat.

Dan sesaat setelah Bik Marni pergi membuang makanan pemberian Bram, kini Khanza memilih pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia langsung menutup rapat pintunya dan menguncinya dari dalam.

Tidak ingin diganggu. Dia ingin sendiri menenangkan perasaannya.

***

Malam semakin larut....

Sesuai janjinya tadi, Bram pergi ke kamar Khanza setelah melihat Luna tertidur pulas di kasurnya.

Tak ingin membangunkan siapapun, Bram langsung mendorong pintu kamar Khanza. Namun yang terjadi, pintu kamar tersebut justru dalam keadaan terkunci dari dalam.

Mengetuknya pelan, berharap Khanza mendengar dan belum tidur. Satu kali ketukan, tak ada reaksi apapun dari dalam. Bahkan sampai ke empat kalinya, semua masih sama tak ada sahutan apapun.

Capek berdiri di sana dan merasa Khanza tak akan membukakan pintu untuknya, Bram berinisiatif untuk membobol pintu kamar tersebut.

Mencongkelnya dengan obeng, alat seadanya yang ia dapatkan di laci dekat kamar Khanza.

Seperempat jam mengotak-atik pintu kamar tersebut, akhirnya Bram berhasil juga. Perasaan lega ia rasakan sekarang.

Mengembalikan kembali obeng pada tempatnya, Bram dibuat terkejut saat akan mendorong pintunya. Ternyata, sama sekali belum bisa dibuka.

Sepertinya, Khanza emang sengaja menautkan paku atas pintu dan bawah. Hingga pintu susah untuk dibuka. Dan Bram yakin itu.

Marah dan kesal yang Bram rasakan sekarang. Wajahnya bahkan memerah karena menahan kesal.

Tak ingin berlarut dalam amarah, Bram memutuskan untuk pergi. Tak juga ke kamar Luna, Bram justru pergi ke kamar kosong yang tak dipakai. Tapi masih bersih dan layak. Tidur di sana, dengan perasaan menahan kesal.

***

Pagi telah menyapa.....

Bram kaget saat menuruni anak tangga terakhir tak melihat Khanza ada di meja makan. Hanya Luna yang sudah stanby di sana.

Bram kira, Khanza sudah ada di dapur menyiapkan sarapan untuknya. Ternyata tidak. Karena sebelum ia ke sana, Bram menyempatkan diri melihat kamar Khanza yang kosong dan sudah tertata rapi.

Melihat ke sana kemari, dia tak melihat Khanza maupun bik Marni di sana. Tak ingin bertanya pada Luna, Bram memilih diam. Walau rasa penasarannya, sudah sampai di ubun-ubun.

"Hai, mas?"sapa manja Luna dengan manja.

"Hai? Gimana semalam? Tidak ada masalah 'kan?"tanya Bram basa-basi berjalan mendekat.

"Sama sekali tidak ada, mas. Semua aman,"jawab Luna tersenyum lebar.

"Syukurlah."lega Bram.

Duduk di kursi samping Luna, Bram melihat sajian makanan di depannya. Kembali di amati satu persatu, ternyata tidak ada masakan Khanza satupun di sana.

Fix! Khanza benar-benar marah padanya. Menghela napasnya berat, Bram berusaha tetap tenang. Walaupun dalam pikirannya sudah dipenuhi dengan nama Khanza serta keberadaannya yang entah dimana.

Melihat Bram, Luna berkata, "Mas Bram, kenapa?"tanyanya saat melihat kegelisahan suaminya.

"Tidak."

"Saya hanya khawatir dengan masakan ini. Takut kamu tidak menerimanya."jawabnya berbohong.

"Makanan di meja ini enak semua, mas. Luna pasti akan menyukainya,"balas Luna tersenyum tipis.

"Kamu serius?"tanya Bram pura-pura terkejut.

"Iya,"jawab Luna mengangguk.

"Ayo kita makan!"ajak Bram.

"Em... Mas?"

"Iya?"tanya Bram.

"Mbak Khanza pergi lhoh, sama Bik Marni barusan."ungkapnya.

"Pergi?"

"Iya. Tapi Luna tidak tahu perginya kemana."ucapnya cari perhatian.

Bram terdiam sedikit berpikir. 'Pergi pagi-pagi. Apa dia pergi ke makam?' ucap Bram bertanya-tanya dalam hati.

"Kenapa, mas? Mbak Khanza tidak izin sama mas, Bram?"tanya Luna ingin jadi kompor.

"Dia izin semalam. Saya yang lupa. Katanya pergi ke pasar cari bubur ayam kesukaannya."jawab Bram berbohong.

"Oh."

"Udah ayo makan! Keburu saya terlambat."titah Bram mengalihkan pembicaraan.

Luna mengangguk mengikuti maunya Bram. Walaupun terkadang, keinginan Bram bertolak belakang dengan keinginan dan sifat kepribadiannya.

Tapi semua itu dia lakukan hanya ingin terlihat baik di depan Bram. Demi kelancaran rencana dan tercapainya tujuan utama mereka.

Sementara Bram, tidak bisa makan enak dan tenang pagi ini. Dia terus kepikiran Khanza. Apalagi sejak semalam, dia tak bertemu Khanza sama sekali. Membuatnya kangen dengan istri pertamanya.

Walaupun dia sekarang berstatus memiliki dua istri, tetap Khanza yang ia cintai. Bukan siapapun termasuk Luna. Hanya Khanza yang setiap saat ingin dilihatnya, bukan yang lain.

"Apakah dia salah mengambil keputusan ini? Tapi kalau tidak, .... Ah semua gara-gara tua bangka itu!" geram Bram berkata di dalam hati.

*

"Mas tidak sedang marahan sama mbak Khanza, 'kan?"tanya Luna disela-sela makanannya.

"Tidak."

"Luna pikir, kalian sedang marahan. Mbak Khanza pergi, mas Bram tidak tahu."ucapnya.

"Kami baik-baik saja. Bahkan semalam, kami tidur bersama."jawab Bram terpaksa berbohong.

"Oh gitu? Syukurlah, jika semuanya baik-baik saja,"balas Luna terpaksa tersenyum.

"Ya."

"Oh ya? Siang nanti, saya tidak bisa pulang begitupun dengan malam."ujar Bram.

"Kenapa emangnya, mas?"tanyanya.

"Hari ini banyak pertemuan dengan para klien. Begitupun dengan malam nanti."jawab Bram.

"Jangan menungguku! Makanlah saat jam makan tiba."ucap Bram berpesan.

"Baik, mas."jawab Luna dengan perasaan kecewa.

"Tidak apa-apa, 'kan?"tanya Bram pura-pura perhatian.

"Tidak apa-apa, mas. Semoga kerjanya hari ini lancar."jawab Luna.

"Amin. Terimakasih."balas Bram.

Meletakkan sendok makannya, Bram berkata, "Saya berangkat dulu, ya. Hati-hati di rumah."

"Jika ada apa-apa, hubungi saja."sambung Bram berpesan.

"Dan, jaga calon anak kita baik-baik."lanjutnya memaksakan tersenyum.

"Pasti, mas. Hati-hati di jalan, ya."

"Siap."jawabnya Bram bangkit dari duduknya.

Mencium kening Luna sebentar, agar sandiwaranya tidak ketahuan. Pura-pura baik, agar Luna tidak curiga padanya.

Pergi dari rumah, Bram mengendarai kencang mobilnya ke tempat tujuan. Berharap, semoga aja Khanza masih ada di sana.

***

Di pemakaman. Ketegangan terjadi,......

"Apa karena ini kamu menghindar dan bahkan tidak memasak untukku?"

Suara serak nan dalam seorang pria yang sangat dikenali Khanza terdengar dibelakangnya. Masih diam, Khanza ingin mendengar kata-kata apalagi yang akan diucapkan.

"Apa kamu masih marah?"

"Apa penjelasanku kemarin tidak kamu dengar dengan baik?"tanya Bram bertubi.

"Jawab, dan jelaskan padaku?!"perintah Bram tegas sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

Pandangan lurus ke depan dengan rahang yang sedikit mengeras, membuat Khanza takut setelah tadi sempat melirik Bram sekilas.

"Khanza?"panggil Bram.

"Mas?"balas Khanza menoleh.

"Bicaralah padaku!"perintah Bram sedikit dingin.

"Jujur, Khanza masih kecewa."

"Khanza gak terima dengan perbuatan poligami ini, mas."jawabnya sedikit bergetar.

"Khanza,- ?"

"Tolong jangan paksa Khanza untuk bisa langsung menerima kenyataan ini, mas. Khanza gak bisa!"ucap Khanza memotong ucapan Bram.

Mata elang Bram seketika mengarah pada Khanza yang masih bersimpuh di depan makam ibunya.

"Khanza!"

***

Bersambung,....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel COMPLICATED LOVE
9.2
Dunia ini tidak pernah adil. Perbedaan kasta dan harta membuat kesenjangan sosial kian nyata, memaksa mereka yang miskin berjuang lebih keras hanya demi setitik harapan. Di tengah kerasnya takdir, Sean yang sombong menuntut Mira bersujud di kakinya demi sebuah pengampunan. Namun, hubungan mereka perlahan berubah menjadi ketergantungan yang rumit. Seperti angin yang menggerakkan kincir, Mira menjadi sosok krusial yang menentukan arah hidup Sean di masa depan.
Sampul Novel Cute Little Wife
9.2
Setelah menghabiskan malam yang penuh gairah bersama, Timmy dan Li Xiao Ke secara mengejutkan mendapatkan kemampuan supranatural yang misterius. Perubahan drastis ini menjadi ujian besar bagi hubungan mereka di dunia modern. Apakah kekuatan baru tersebut akan mengikat hati mereka lebih erat, atau justru menjadi pemicu kehancuran cinta yang baru saja bersemi? Ikuti lika-liku asmara penuh keajaiban ini saat mereka berjuang menghadapi konsekuensi yang tidak terduga.
Sampul Novel PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN  (Seni Untuk Merawat Luka)
8.3
Kisah cinta ini menguji sepasang kekasih yang mendamba bahagia, namun justru dihantam badai masa lalu yang kelam. Kekhawatiran yang mendalam memicu krisis kepercayaan dan dilema cinta segitiga yang rumit. Sang protagonis harus memilih antara bertahan demi harapan masa depan atau menyerah pada konsekuensi masa lalu. Baginya, cinta bukan sekadar memuja keindahan pasangan, melainkan seni merawat luka dan komitmen untuk terus melangkah maju bersama.
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris
8.9
Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Dua tahun berlalu sejak Sari tiada, Mas Duda menjalani hari-harinya sebagai guru SD dengan penuh kesederhanaan. Meski mencintai profesinya, pria berusia 35 tahun ini tak mampu menghalau rasa sepi yang kian menghimpit batinnya. Tekanan dari keluarga dan sahabat untuk mencari pendamping baru pun mulai berdatangan. Namun, di tengah kekosongan jiwa tersebut, ia masih didera keraguan dan belum sepenuhnya siap untuk membuka kembali pintu hatinya bagi cinta yang lain.