
Mundur Setelah Dipoligami
Bab 3
"Aku tidak sudi memakan makanan pemberianmu dengan wanita itu, mas."
"Aku benci!"ujarnya penuh amarah saat mengatakannya.
Dia benci, dan dia belum bisa menerima poligami ini. Dia teramat kecewa dengan suaminya yang berkhianat.
Dan sesaat setelah Bik Marni pergi membuang makanan pemberian Bram, kini Khanza memilih pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia langsung menutup rapat pintunya dan menguncinya dari dalam.
Tidak ingin diganggu. Dia ingin sendiri menenangkan perasaannya.
***
Malam semakin larut....
Sesuai janjinya tadi, Bram pergi ke kamar Khanza setelah melihat Luna tertidur pulas di kasurnya.
Tak ingin membangunkan siapapun, Bram langsung mendorong pintu kamar Khanza. Namun yang terjadi, pintu kamar tersebut justru dalam keadaan terkunci dari dalam.
Mengetuknya pelan, berharap Khanza mendengar dan belum tidur. Satu kali ketukan, tak ada reaksi apapun dari dalam. Bahkan sampai ke empat kalinya, semua masih sama tak ada sahutan apapun.
Capek berdiri di sana dan merasa Khanza tak akan membukakan pintu untuknya, Bram berinisiatif untuk membobol pintu kamar tersebut.
Mencongkelnya dengan obeng, alat seadanya yang ia dapatkan di laci dekat kamar Khanza.
Seperempat jam mengotak-atik pintu kamar tersebut, akhirnya Bram berhasil juga. Perasaan lega ia rasakan sekarang.
Mengembalikan kembali obeng pada tempatnya, Bram dibuat terkejut saat akan mendorong pintunya. Ternyata, sama sekali belum bisa dibuka.
Sepertinya, Khanza emang sengaja menautkan paku atas pintu dan bawah. Hingga pintu susah untuk dibuka. Dan Bram yakin itu.
Marah dan kesal yang Bram rasakan sekarang. Wajahnya bahkan memerah karena menahan kesal.
Tak ingin berlarut dalam amarah, Bram memutuskan untuk pergi. Tak juga ke kamar Luna, Bram justru pergi ke kamar kosong yang tak dipakai. Tapi masih bersih dan layak. Tidur di sana, dengan perasaan menahan kesal.
***
Pagi telah menyapa.....
Bram kaget saat menuruni anak tangga terakhir tak melihat Khanza ada di meja makan. Hanya Luna yang sudah stanby di sana.
Bram kira, Khanza sudah ada di dapur menyiapkan sarapan untuknya. Ternyata tidak. Karena sebelum ia ke sana, Bram menyempatkan diri melihat kamar Khanza yang kosong dan sudah tertata rapi.
Melihat ke sana kemari, dia tak melihat Khanza maupun bik Marni di sana. Tak ingin bertanya pada Luna, Bram memilih diam. Walau rasa penasarannya, sudah sampai di ubun-ubun.
"Hai, mas?"sapa manja Luna dengan manja.
"Hai? Gimana semalam? Tidak ada masalah 'kan?"tanya Bram basa-basi berjalan mendekat.
"Sama sekali tidak ada, mas. Semua aman,"jawab Luna tersenyum lebar.
"Syukurlah."lega Bram.
Duduk di kursi samping Luna, Bram melihat sajian makanan di depannya. Kembali di amati satu persatu, ternyata tidak ada masakan Khanza satupun di sana.
Fix! Khanza benar-benar marah padanya. Menghela napasnya berat, Bram berusaha tetap tenang. Walaupun dalam pikirannya sudah dipenuhi dengan nama Khanza serta keberadaannya yang entah dimana.
Melihat Bram, Luna berkata, "Mas Bram, kenapa?"tanyanya saat melihat kegelisahan suaminya.
"Tidak."
"Saya hanya khawatir dengan masakan ini. Takut kamu tidak menerimanya."jawabnya berbohong.
"Makanan di meja ini enak semua, mas. Luna pasti akan menyukainya,"balas Luna tersenyum tipis.
"Kamu serius?"tanya Bram pura-pura terkejut.
"Iya,"jawab Luna mengangguk.
"Ayo kita makan!"ajak Bram.
"Em... Mas?"
"Iya?"tanya Bram.
"Mbak Khanza pergi lhoh, sama Bik Marni barusan."ungkapnya.
"Pergi?"
"Iya. Tapi Luna tidak tahu perginya kemana."ucapnya cari perhatian.
Bram terdiam sedikit berpikir. 'Pergi pagi-pagi. Apa dia pergi ke makam?' ucap Bram bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa, mas? Mbak Khanza tidak izin sama mas, Bram?"tanya Luna ingin jadi kompor.
"Dia izin semalam. Saya yang lupa. Katanya pergi ke pasar cari bubur ayam kesukaannya."jawab Bram berbohong.
"Oh."
"Udah ayo makan! Keburu saya terlambat."titah Bram mengalihkan pembicaraan.
Luna mengangguk mengikuti maunya Bram. Walaupun terkadang, keinginan Bram bertolak belakang dengan keinginan dan sifat kepribadiannya.
Tapi semua itu dia lakukan hanya ingin terlihat baik di depan Bram. Demi kelancaran rencana dan tercapainya tujuan utama mereka.
Sementara Bram, tidak bisa makan enak dan tenang pagi ini. Dia terus kepikiran Khanza. Apalagi sejak semalam, dia tak bertemu Khanza sama sekali. Membuatnya kangen dengan istri pertamanya.
Walaupun dia sekarang berstatus memiliki dua istri, tetap Khanza yang ia cintai. Bukan siapapun termasuk Luna. Hanya Khanza yang setiap saat ingin dilihatnya, bukan yang lain.
"Apakah dia salah mengambil keputusan ini? Tapi kalau tidak, .... Ah semua gara-gara tua bangka itu!" geram Bram berkata di dalam hati.
*
"Mas tidak sedang marahan sama mbak Khanza, 'kan?"tanya Luna disela-sela makanannya.
"Tidak."
"Luna pikir, kalian sedang marahan. Mbak Khanza pergi, mas Bram tidak tahu."ucapnya.
"Kami baik-baik saja. Bahkan semalam, kami tidur bersama."jawab Bram terpaksa berbohong.
"Oh gitu? Syukurlah, jika semuanya baik-baik saja,"balas Luna terpaksa tersenyum.
"Ya."
"Oh ya? Siang nanti, saya tidak bisa pulang begitupun dengan malam."ujar Bram.
"Kenapa emangnya, mas?"tanyanya.
"Hari ini banyak pertemuan dengan para klien. Begitupun dengan malam nanti."jawab Bram.
"Jangan menungguku! Makanlah saat jam makan tiba."ucap Bram berpesan.
"Baik, mas."jawab Luna dengan perasaan kecewa.
"Tidak apa-apa, 'kan?"tanya Bram pura-pura perhatian.
"Tidak apa-apa, mas. Semoga kerjanya hari ini lancar."jawab Luna.
"Amin. Terimakasih."balas Bram.
Meletakkan sendok makannya, Bram berkata, "Saya berangkat dulu, ya. Hati-hati di rumah."
"Jika ada apa-apa, hubungi saja."sambung Bram berpesan.
"Dan, jaga calon anak kita baik-baik."lanjutnya memaksakan tersenyum.
"Pasti, mas. Hati-hati di jalan, ya."
"Siap."jawabnya Bram bangkit dari duduknya.
Mencium kening Luna sebentar, agar sandiwaranya tidak ketahuan. Pura-pura baik, agar Luna tidak curiga padanya.
Pergi dari rumah, Bram mengendarai kencang mobilnya ke tempat tujuan. Berharap, semoga aja Khanza masih ada di sana.
***
Di pemakaman. Ketegangan terjadi,......
"Apa karena ini kamu menghindar dan bahkan tidak memasak untukku?"
Suara serak nan dalam seorang pria yang sangat dikenali Khanza terdengar dibelakangnya. Masih diam, Khanza ingin mendengar kata-kata apalagi yang akan diucapkan.
"Apa kamu masih marah?"
"Apa penjelasanku kemarin tidak kamu dengar dengan baik?"tanya Bram bertubi.
"Jawab, dan jelaskan padaku?!"perintah Bram tegas sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Pandangan lurus ke depan dengan rahang yang sedikit mengeras, membuat Khanza takut setelah tadi sempat melirik Bram sekilas.
"Khanza?"panggil Bram.
"Mas?"balas Khanza menoleh.
"Bicaralah padaku!"perintah Bram sedikit dingin.
"Jujur, Khanza masih kecewa."
"Khanza gak terima dengan perbuatan poligami ini, mas."jawabnya sedikit bergetar.
"Khanza,- ?"
"Tolong jangan paksa Khanza untuk bisa langsung menerima kenyataan ini, mas. Khanza gak bisa!"ucap Khanza memotong ucapan Bram.
Mata elang Bram seketika mengarah pada Khanza yang masih bersimpuh di depan makam ibunya.
"Khanza!"
***
Bersambung,....
Anda Mungkin Juga Suka





