
Mr Cool On My Bed
Bab 3
"Halo apa ini benar nomor Thomas?" tanya Alina di balik telepon genggamnya.
"Siapa ini?" tanya Thomas.
"Kak, aku Alina."
Thomas mengernyitkan dahinya setelah tau siapa yang menghubungi ponselnya dan akan memutuskan hubungan teleponnya.
"Kak please jangan di matiin dulu, tolong aku kak."
"Telepon Damkar atau Polisi aja buat minta tolong bukan ke aku."
"Astaga Kak, masa sampai ke Damkar sama Polisi sih untuk minta bantuan. Selama masih ada Kak Thomas minta bantuan ke kakak aja ya, please..."
Thomas tanpa basa-basi memutuskan hubungan komunikasi mereka. Alina sangat kesal pria dingin itu mematikan komunikasi mereka, tapi dia tak mau menyerah dan kembali lagi menghubungi ponsel pria itu. Dia akan terus meneror ponsel Thomas sampai laki-laki akan mengangkat teleponnya.
"Kamu mau apa lagi sih!" Thomas membentak Alina dan berharap adik ipar Erika berhenti mengganggunya.
"Tolong aku, Kak," ujar Alina manja.
"Aku gak mau menolongmu! Apa kamu itu gak tau malu ya, jangan ganggu aku lagi." Thomas berkata kasar agar Alina menyerah mendekatinya.
Awalnya Alina sakit hati dengan bentakan Thomas, tapi dia bukan Alina namanya kalau menyerah begitu saja. Semakin Thomas menolaknya, semakin membuatnya tertantang untuk menaklukan pria dingin sedingin kulkas itu.
"Aku mohon tolong aku, Kak." Suara Alina bergetar menahan tangis.
Thomas menghela napasnya. Dia jadi tak tega dengan Alina. "Kamu kenapa?"
Alina tersenyum dibalik telepon. Dia hanya berpura-pura sedih. "Mobil aku tiba-tiba mati."
"Telepon bengkel aja."
Alina jadi bingung sendiri harus mencari alasan apa lagi sekarang ditambah Thomas kembali menutup teleponnya.
"Dasar Mr Cool-kas sialan! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Kamu harus jadi milikku, Thomas Sapo tahu eeh Saputra. Semangat Alina!" Alina memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Tanpa menyerah Alina kembali berkali-kali menghubungi Thomas dan sesuai dengan yang sudah dia prediksi pria itu akhirnya mengangkat teleponnya.
"Apa lagi?" tanya Thomas kesal.
"Aku takut Kak," ucap Alina dengan suara sangat menyedihkan.
"Takut kenapa lagi?"
"Kak tolong aku kak hiks... hiks... kak aku takut sendirian di sini kak hiks." Alina berpura pura menangis.
"Hubungi Alden sana, jangan ganggu aku lagi!" Dan Thomas kembali memutuskan komunikasi mereka.
Thomas menggelengkan kepalanya sendiri dengan tingkah laku adik ipar Erika, tapi di saat bersamaan dia juga tersenyum. Kelakuan Alina ini persis seperti yang dulu pernah Erika lakukan saat berusaha menarik perhatiannya.
Alina sangat kesal rencananya malah gagal. Bukannya Thomas menolongnya, tapi laki-laki itu malah tidak memperdulikannya.
"Sial air mata gue ini berharga. Sekali menetes bisa keluar mutiara loh," ucapnya kesal.
Alina menghubungi Erik untuk menceritakan kejadian ini dan meminta saran dari laki-laki itu.
"Rik rencana gue gagal nih," ujar Alin pada Erik.
"Emang rencana lo apa?" tanya Erik penasaran.
Alina kemudian menceritakan semua rencananya yang gagal dengan sangat kesal.
Gelak tawa terdengar dari sebrang telepon.
"Lo sih kebanyakan nonton sinetron dah ini jadilah otak lo penuh dengan sinetronisasi begitu dah hahaha." Erik mendengarkan rencana Alin yang baginya receh dan sinetron banget.
"Apaan sih Rik! Lo kok gitu sih bukannya bersimpatik ke gue," ucap Alina kesal.
"Nih dengerin rencana gue yang sudah master dalam hal bersilat lidah."
"Buset dah canggih bener lidah lo bisa silat, lidah lo dari perguruan mana?" mulut Erik menganga saat mendengarkan perkataan Alina.
"Lin, lo sehat kan? Sumpah omongan lo bener bener super polos dan lugu." Erik menggelengkan kepalanya saat mengomentari omongan Alina.
"Aah, diam lo berisik amat kayak emak-emak sibuk ngerumpi sambil kasih makan anaknya di keliling kompleks perumahan deh," sahut Alin dengan ketus.
"Jiaah, lo kate gue emak-emak berdaster apa, denger ya gue tuh bukan emak-emak berdaster, tapi berpiyama." Erik tak mau kalah dari Alina.
"Heh penting ga sih bahas beginian, unfaedah banget sih lo." Alin mulai kesal pada Erik yang tidak to the point menjelaskan rencananya malah muter muter kesana kesini.
"Lah lo sendiri yang mulai, yaa nih gue bilangin rencana gue supaya bang Thomas bisa ngelirik boneka kayak lo."
"Aduuh makasih banget Rik udah bilang kalo gue kayak boneka."
"Boneka santet maksudnya."
"Eriiiiik kurang ajar lo, gue bilangin kak Erika lo!! Gue bilangin mama Ella lo, lo liat aja."
"Akh, gak asyik lo main lapor nyokap sama sister gue. Yaa udah, sini gue kasih tau rencana yang sempurna." Erik menjelaskan rencananya pada Alina.
Walau Erik dan Alina bertengkar tapi mereka selalu bersama, saling bercanda, bertengkar, tapi saling membantu. Alina tak sabar menunggu besok dengan segala rencana yang Erik ceritakan padanya dan berharap rencana tersebut berhasil.
***
Keesokan harinya
Thomas datang di salah satu kafe tempat dia janjian dengan Erik. Thomas melihat Erik melambaikan tangannya dan menghampiri Erik.
"Hai Rik, Ada apa manggil gw," sapa Thomas.
"Gue kangen sama lo, Bang "
"Haha alay lo."
Erik dan Thomas ngobrol sambil bercanda tak lama Alina datang dengan senyuman sumringah di wajahnya.
"Hai Lin lo ada disini juga?" Erik berpura-pura terkejut bisa bertemu dengan Alina di sana.
"Gue juga kaget ada lo disini Rik, eeh ada kak Thomas... Hai kak kita bertemu lagi? Kita sering banget loh bertemu apakah ini pertanda?" ujar Alina dengan pura-pura memikirkan sesuatu.
"Kenapa lagi-lagi gue harus ketemu sama lo ya Lin." Thomas melihat curiga pada Erik. Dia mengenal Erik yang suka jahilnya di atas rata-rata, Alden saja pernah dikerjai saat akan melamar Erika.
"Mungkin kah ini pertanda kalau kalian sebenarnya berjodoh bang," jawab Erik dengan santai. Thomas hanya bisa diam, melihat Erik dengan tatapan tajam.
Alina akhirnya duduk bersama dengan mereka, bercanda dan saling tukar cerita. Alin melihat Thomas begitu berbeda dengan senyuman dan canda tawa. Dia biasanya melihat wajah Thomas yang selalu datar tanpa ekspresi, tapi sekarang berbeda dia semakin tergila-gila pada Thomas.
Tanpa terasa hari semakin larut dan sudah menunjukan waktu jam 10 malam.
"Bang, gue balik duluan yaa, ada janjian sama orang nih." Erik pergi begitu saja meninggalkan Alina dan Thomas berdua di kafe tersebut.
Suasana mendadak menjadi canggung, Alina tanpa Erik bingung harus memulai pembicaraan apa dengan Thomas.
"Mau pulang jam berapa Lin?" tanya Thomas.
"Sekarang sih kak tapi aku tadi gak bawa mobil." Alin tadi datang bersama Erik dan memang sudah rencana Erik agar Thomas mengantarkan Alin pulang agar hubungan mereka jadi lebih dekat.
"Lalu kamu pulang baik apa?"
"Mungkin taksi."
"Ooh yaa udah." Thomas langsung pergi dari meja setelah membayar semuanya.
Alina tertegun tak percaya, betapa tega nya Thomas meninggalkannya sendirian di kafe tersebut. Dia berjalan keluar kafe dengan menundukkan kepalanya merasa sangat sedih biarlah dia dibilang terlalu terbawa suasana, tapi memang sekarang dia lagi kecewa.
Brugh. Alina memegang kepalanya yang terasa sakit saat menabrak dada seorang pria sampai terjatuh.
"Maaf aku ga sengaja," ujar Alin lalu berdiri tanpa melihat siapa yang dia tabrak. Dia melanjutkan jalannya sendiri di trotoar tak memperdulikan keadaan sekitar terus berjalan sampai kelelahan dan tak sanggup lagi berjalan. Dia kemudian berjongkok memeluk dengkulnya sendiri lalu menangis.
"Sudah capek kan jalannya, ayo berdiri aku antar kan pulang tak baik seorang gadis cantik berjalan sendirian dimalam hari."
Alina mengerjapkan matanya, apa dia tak salah dengar lalu menengadahkan kepalanya. "Kak Thomas." Dia menatap tak percaya.
"Ayo berdiri aku antar kamu pulang," ucap Thomas tak tega menatap Alina.
"Kakak kok di sini? Apa kakak menguntitku?" Mulut Alina menganga. Dia tak percaya Thomas mengikutinya sepanjang jalan.
Thomas menutup matanya. Dia memang sengaja mengikuti Alina yang berjalan tanpa arah. Mana mungkin dia meninggalkan gadis berusia 18 tahun itu berjalan sendirian di malam hari.
"Tutup mulutmu nanti masuk nyamuk," ucap Thomas.
Alina langsung menutup mulutnya dan mencoba berdiri, tapi kakinya terasa kram. Dia meringis merasakan kakinya yang sakit.
"Ayo naik kepunggungku." Thomas berjongkok di depan Alina memutar badannya sehingga punggungnya di hadapan gadis itu. Alina sangat senang Thomas mau menggendongnya.
"Tapi aku berat kak," ucap Alin dengan malu-malu, tapi sebenarnya dia sangat bahagia.
"Naik ga nih atau aku pergi aja deh kalo gitu." Thomas akan berdiri. Alina langsung menarik baju Thomas membuat laki-laki itu limbung dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk.
"Aduuh pantatku." Thomas mengelus pantatnya.
"Mamamaafkan aku kak." Alina menjadi tak enak sendiri.
Thomas kembali ke posisinya berjongkok dengan punggungnya menghadap Alina. Alin lalu naik keatas punggung Thomas, Thomas menggendongnya dibelakang menuju parkiran mobil di kafe yang tadi mereka makan bersama.
Sepenjang perjalanan yang singkat itu mereka hanya diam, tapi senyum ceria terukir di bibir Alina, Thomas ternyata memperdulikannya dan tidak meninggalkannya. Begitu juga dengan Thomas, dia tersenyum kecil saat menggendong Alina. Dia merasakan ada desiran aneh di dalam hatinya.
Alina tersenyum sendiri mengingat kenangan manisnya 4 tahun yang lalu bersama Thomas. Walau hanya hal kecil seperti itu tapi mampu membuat Alin tak dapat melupakan Thomas sampai sekarang.
Walau dia sudah berpisah dari Thomas, tapi lelaki itu selalu ada dalam ingatannya.
Anda Mungkin Juga Suka





