
Monster Heart
Bab 2
“Kau tidak apa-apa?” tanya Devon khawatir. Ia menyelipkan glock 17-nya di sabuk ikat pinggang. Iris hitam pria itu meneliti wajah Alianna, yang merah disana-sini. “Kau sampai berkelahi dengan dia?” tanya Devon sedikit terperanjat.
Alianna mengibaskan tangannya seraya menggeleng, dan hendak memeriksa tubuh Pria Bertudung itu namun dicegah Devon.
“Biar anak buahku yang urus mayat itu. Kau pergilah duluan, obati lukamu dulu sebelum ke kantor,”perintah Devon.
“Hei, lupakan lukaku, ini cuma luka gores,” tukas Alianna. “Ada kemungkinan bahwa dia itu Si Pembunuh Berantai,” Alianna menunjuk mayat pria bertudung dengan dagunya.
“Ya, semua hal yang terjadi di kota ini disangkut-pautkan dengan nama itu. Tapi, belum tentu itu dia.” Devon menghela nafas lelah. “Sudahlah obati saja lukamu dan cepat pergi dari sini.”
Alianna mendecak sebal. Devon mengernyit mendengar sambil mengatur nada suaranya agar tidak meninggi. Susah memang, berhadapan dengan gadis cantik keras kepala ini.
“Alianna, situasi disini terlalu berbahaya, tidakkah kau belajar dari pengalamanmu selama ini?” Devon melirik gadis itu sebelum beranjak meneliti tubuh Raymond yang babak-belur dengan wajah prihatin. “Kau menghajar dia juga?”
Alianna menjawab dengan ketus, “Kau tahu pasti aku tidak mungkin hanya menghajarnya saja jika aku punya kesempatan.”
Devon menghela nafas gusar dan berbalik menatap Alianna, “Baiklah, hentikan nada merajuk itu, apa maumu sekarang?”
Gadis itu langsung tersenyum sumringah, “Apa aku boleh mendapat laporan hasil otopsinya duluan?” Ia menunjuk tubuh pria bertudung, yang tergeletak pingsan dibelakangnya.
Devon mendesah pasrah dan mengangguk ringan, disusul seringai kemenangan di wajah cantik Alianna. Devon pasti betah berlama-lama menatap wajah cantik itu, jika berada di situasi yang berbeda,
atau di garis takdir yang berbeda juga.
“Kalau begitu, aku foto Si Bedebah itu dulu sebentar,” ucap Alianna. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Kemudian gadis berambut hitam panjang itu, beberapa kali mengambil gambar Raymond yang tersungkur dalam keadaan babak belur dengan wajah puas.
“Aku boleh ikut melihat proses interograsi?” tanya Alianna lagi, sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jaket denimnya.
“Kau ini banyak mau ya?” sindir Devon.
“Ayolah, kau khan sahabatku yang paaaaaaaaaling baik.”
Mendengar nada suara Alianna seperti itu, mata Devon menyipit, “Pilih salah satu saja, ikut interograsi atau dapat hasil otopsi?” tawar Devon.
“Ku bantu dapatkan info lengkap, soal pembunuh berantai atau laporan bukti keterlibatan oknum kepolisian atas kasus Raymond?” Alianna balik menawar, sambil mengerlingkan mata.
Helaan nafas Devon makin berat. “Ini bukan negosiasi, Alianna”
Mulut gadis itu mencibir, sembari mengendikkan bahu, pura-pura acuh. “Jelas ini negosiasi, kau yang lebih dulu menawarkan hal serupa.”
“Menyebalkan, terserah kau sajalah.” rutuk Devon yang kemudian mengeluarkan ponsel untuk menghubungi anak buahnya.
Alianna terkekeh geli dan segera berlalu dari sana.
Hari mulai beranjak subuh ketika Alianna sampai di kantor Mabes Polri. Berbekal smartphone dan tripod usang milik Denzel, ia segera membuat live streaming, dan meliput secara langsung penangkapan Raymond Subrata. Pria itu adalah seorang pengusaha muda sekaligus anak anggota DPR. Diduga ia telah melakukan pelecehan terhadap artis cilik dibawah umur.
Tak lama setelah liputan live-streaming dilakukan, banyak wartawan berita dari stasiun TV nasional, bahkan wartawan infotaiment datang ke Mabes Polri untuk ikut meliput berita penangkapan tersebut. Divisi Humas Mabes Polri terpaksa melakukan konferensi pers saat itu juga.
Karena begitu sibuk meliput, Alianna mengabaikan telepon masuk dari Devon. Namun Alianna tidak ambil pusing, karena berdasarkan konferensi pers tersebut, Raymond dijadwalkan menjalani proses interograsi besok siang. Alianna hanya perlu mendatangi Devon besok, dan menanyakan perihal teleponnya barusan.
Untuk sekarang, ia harus update artikel berita terlebih dahulu untuk di-posting kedalam blog berita miliknya, Suara Bumi Indonesia.
Blog berita tersebut termasuk blog berita dengan trafik pengunjung tertinggi di Indonesia hingga mengalahkan situs berita konvensional yang sudah ada. Banyak pihak yang ingin membeli blog tersebut dengan harga tinggi. Bahkan pihak pemerintah pun juga menawarkan harga yang amat fantastis.
Namun Alianna tidak mau menjualnya. Jika tujuannya hanya uang, tentu penghasilan dari iklan, sponsor bahkan donasi dari masyarakat sudah lebih dari cukup untuk menutupi biaya operasional blog juga kebutuhan pibadi Alianna.
Darimana lagi Suara Bumi Indonesia bisa mempunyai gedung mungil sendiri serta sanggup membiayai tujuh pekerjanya setiap bulan? Bahkan Alianna sanggup membeli mobil Mustang impiannya.
Media massa adalah indikator kepercayaan rakyat terhadap lembaga yang menaungi mereka. Jika Suara Bumi Indonesia dijual, maka tidak akan ada lagi media massa yang terpercaya. Kebebasan pers terbelenggu dan hanya akan dijadikan alat promosi atau bahkan propaganda bagi golongan tertentu.
Alianna tentu sangat mengingat perjuangan dirinya dan Denzel, saat merintis blog berita tersebut. Berkat Denzel, yang begitu mencintai dunia jurnalistik, mengajak Alianna bergabung dengannya untuk membuat situs berita independen. Denzel mencurahkan semua cita-cita, asa dan harapan pada blog ini. Denzel mengabdikan seluruh hidupnya untuk menuntut transparansi lembaga hukum yang selama ini menjadi polemik dalam negeri.
Karena dedikasi itulah, Alianna jatuh cinta padanya dan mereka bertunangan.
Semua berjalan dengan nyaris sempurna. Alianna bekerja sebagai penulis artikel berita dan Denzel sebagai pengumpul informasi. Lalu Denzel juga mengajak Devon yang waktu itu masih sebagai polisi berpangkat rendah. Mereka bertiga bekerja sama menyelidiki kasus-kasus penting.
Semua kasus yang diangkat Denzel menjadi viral di masyarakat. Masyarakat menuntut sekaligus mengawal segala proses penyelidikan kasus-kasus viral tersebut. Sehingga pihak kepolisian bekerja lebih cepat untuk memproses kasus tersebut hingga ke pengadilan. Pihak Kejaksaan pun juga tidak bisa sembarangan memberi hukuman karena kinerja mereka akan tersorot oleh media yang di saksikan langsung oleh masyarakat.
Sejak saat itulah, Suara Bumi Indonesia menjadi situs berita paling terpercaya. Terlebih ketika mereka bertiga menelusuri kasus Nirmala, artis cilik yang mengaku telah dilecehkan oleh seorang pengusaha muda yang punya pengaruh cukup kuat. Pengusaha tersebut ialah Raymond Subrata yang juga anak dari anggota DPR, Rendi Subrata yang sedang menjabat.
Dengan berita penangkapan Raymond, rakyat tentunya kelak, menuntut transparansi penyelidikan kasus ini. Pihak Pemerintah merasa nama lembaganya tercoreng dan tentu akan berusaha memperbaiki situasi. Pihak kepolisian tentu wajib menjaga nama baik lembaganya, bukan?
Setelah apa yang terjadi, Alianna bersyukur bahwa perjuangan Denzel untuk mengusut Raymond hingga mendapat hukuman yang setimpal, akan segera terwujud. Hasil penelusuran yang Denzel lakukan membuktikan, bahwa kasus pelecehan yang dilakukan Raymond ini hanyalah kasus pembuka kecil menuju kasus yang jauh lebih besar.
Alianna hanya butuh kesabaran dan waktu lebih banyak untuk mengungkap itu semua, satu demi satu.
Alianna berjalan menuju tempat parkir yang tidak jauh dari gedung Mabes Polri. Ketika ingin membuka pintu mobil, ponsel Alianna tiba-tiba berbunyi. Sambil merutuk pelan setelah melihat layar ponsel, Alianna menjawab teleponnya dengan nada jengkel dan sedikit merajuk.
“Tadi kau menyuruhku untuk cepat pulang begitu selesai liputan,” bibir berwarna cherry milik Alianna mengerucut, “sekarang mau menyuruh apalagi?”
“Kau dimana?” tanya Devon diseberang telepon.
Alianna dapat mendengar nada suara khawatir berlebihan dari Devon yang membuat gadis itu merasa jengkel. Ia mencibir sambil mengeluarkan kunci mobil.
“Di parkiran, mau pulang,” jawab Alianna malas.
“Kembali ke kantor Mabes sekarang,” perintah Devon.
Alianna bersungut-sungut kesal. “Ada apa sih?”
“Sudah jangan banyak tanya, kembali ke kantor sekarang!” bentak Devon panik.
Alianna ingin balas memaki Devon akan tetapi tiba-tiba lidahnya kelu. Netra coklat terangnya mendapati sesosok pria berjaket hitam berjalan mendekat. Darah Alianna seakan mendesir ketika ia melihat siapa dibalik hoodie tersebut.
Si Pembunuh Berantai.
Sorot mata Si Pembunuh Berantai menatap Alianna seakan sedang ingin mempermainkan mangsanya sebelum menyantapnya hidup-hidup.
Bagaimana bisa orang itu belum mati?
Anda Mungkin Juga Suka





