
Monster Heart
Bab 3
Alianna mundur perlahan sambil menggenggam ponsel yang masih menempel ditelinganya. Ia dapat mendengar Devon memanggilnya berkali-kali dari ujung telepon. Si Pria Bertudung menodongkan senjata api mengisyaratkan agar Alianna menjawab telepon tersebut.
Alianna dibuat merinding, tertusuk aura dingin pria itu. Namun, bukan Alianna kalau tidak nekat.
Alianna sontak melempar ponselnya tepat ke wajah si pria bertudung hingga membuat lelaki itu mengejutkannya, dia memaki memegangi hidung yang tertutup masker hitam. Alianna langsung melarikan diri menjauhi pria itu. Sayang kaki Alianna jauh lebih pendek dibanding kaki Si Pria Bertudung yang mengejarnya dengan mudah.
Alianna tertangkap dan meronta berupaya melepaskan diri akan tetapi dia kalah kuat. Gadis itu digendong layaknya karung beras dan berjalan menuju mobil. Alianna kemudian didudukkan di kursi pengemudi dengan kepala ditodong pistol.
“Jika Anda berani kabur lagi, saya tidak segan menghabisi nyawa anda, mengerti?” suara bariton milik si Pria Bertudung itu membuat kulit Alianna meremang. Alianna hanya menjawab dengan tatapan sinis.
Si Pria Bertudung kemudian memasangkan sabuk pengaman Alianna sebelum ia beranjak ke kursi penumpang disebelah jok kemudi. Alianna mengernyit bingung namun mengabaikan perlakuan tersebut dengan menganggapnya sebagai pria aneh.
“Dasar psikopat gila, mau menghabisi nyawa orang lain tapi masih sempat memasang sabuk pengaman pada calon korbannya.” rutuk Alianna dalam hati.
“Jalan!” perintah lelaki itu seraya menoyor kepala Alianna dengan moncong pistol.
Alianna terbelalak setengah tak percaya karena sikap kurang ajar yang dilakukan penyanderanya itu. Sambil memungut sisa-sisa kesabaran di hati, Alianna bertanya, “Mau kemana?”
“Keluar dari sini, apalagi?” kata pria itu santai. Kontras sekali dengan perilaku mengintimidasi yang ia lakukan.
Alianna langsung merasa bahwa urat dikepalanya tiba-tiba mencuat keluar. Apakah semua psikopat gila bertingkah menyebalkan seperti ini?
Alianna menggenggam kemudi erat-erat sebelum menyalakan mobil dan menyetir keluar kantor Mabes Polri. Mereka berdua diam membisu begitu sedan Mustang-nya membelah jalanan ibukota.
“Kita keluar kota,” ucap si pria bertudung. “Belok situ.” perintahnya seraya menunjuk belokan yang mengarah ke jalan tol.
Alianna menurut dan membelokkan mobilnya kearah yang diperintahkan. Mereka berkendara selama tiga jam tanpa bicara. Kemudian mereka berhenti disebuah perkebunan sepi yang hanya ada mereka berdua disana. Alianna seketika merasakan firasat buruk.
“Mau apa kita kesini?”tanya Alianna sambil melirik pria di sebelahnya.
“Menurut anda?” pria itu malah balik bertanya. Alianna dapat dengan jelas mendengar nada suara lelaki tersebut seakan sedang mempermainkan dirinya.
“Kau pikir aku cenayang? Tukang ramal? Mana aku tahu?!” bentak Alianna. “Jika kau ingin menghabisiku, Devon akan memburumu sampai ke lubang neraka.” sambungnya ketus.
“Oh, jadi kekasih anda bernama Devon?” Si Pria Bertudung itu tertawa.
Alianna mengernyit bingung. Darimana si bedebah ini punya pikiran seperti itu? Devon bukan kekasihnya.
“Devon bukan kekasihku, sok tahu,” jawab Alianna jengkel.
Si Pria Bertudung kembali tertawa sambil menggeleng pelan, sebelum menyuruh Alianna keluar dari mobil dengan menodongkan pistol lagi. Pria itu memberi israyat kepada Alianna untuk berjalan duluan masuk ke dalam perkebunan sawit.
Alianna menurut bahkan sambil mengangkat kedua tangannya, “Untuk apa kau menangkapku?” Ia berjalan maju sambil mengawasi langkah kakinya agar tidak tersangkut belukar.
“Karena Anda menggagalkan rencana saya dan Anda harus membereskannya sekarang juga, Nona Alianna,” jawab pria itu.
Alianna sedikit kaget, “darimana kau tahu namaku?”
“Situs berita milik Anda.”
“Oh, aku tidak menyangka orang macam kau mau membaca situs beritaku,” komentar Alianna sinis.
“Apa alasan anda memberi saya julukan seperti itu?” tanya pria itu datar.
“Hah, julukan apa?” tanya Alianna heran.
Alianna dapat mendengar helaan nafas gusar yang ditahan sebelum pria dibelakangnya menjawab, “Psikopat Pengecut.”
“Aahh~ jadi ternyata kau si Psikopat Pengecut itu? Yang senang membunuh orang yang tidak bersalah?” balasnya pedas.
Alianna berhenti melangkah ketika merasakan moncong pistol menempel di belakang kepalanya. Gadis itu mulai menatap ke sekeliling kebun sawit yang sepi. Ia akui bahwa si pria bertudung cukup jeli mencari tempat tersembunyi saat ingin menghabisi nyawa orang lain tanpa gangguan.
“Itu karena aku tidak tahu siapa namamu. Terus terang aku ingin memberimu julukan lain. Akan tetapi, aku tidak dapat menemukan nama yang pas kecuali psikopat pengecut,” sindir Alianna.
“Cukup,” pria tersebut makin menekankan pucuk senjata api ke belakang kepala Alianna.
“Atau kau mau julukan baru? Monster misalnya? Kau khan tidak mempan ditembak,” Alianna setengah mengejek.
“Berbalik,” perintah si pria tanpa menggubris perkataan Alianna.
Alianna langsung waspada kemudian berbalik perlahan dan merasakan pucuk pistol yang dingin menempel pada keningnya. Ia kini dapat melihat wajah pria bertudung itu dengan sangat jelas berkat cahaya matahari pagi yang menerobos masuk ke sela-sela dedaunan pohon sawit.
Sama saat Alianna melihat pria ini pertama kali di belakang gedung bar, lelaki dihadapannya ini memang tampan, bahkan terlalu tampan untuk ukuran seorang pembunuh berantai. Ia tidak memakai maskernya lagi, sehingga Alianna dapat melihat dengan jelas hidung mancung, rahang kokoh dan dagu belah milik pria tersebut.
Hanya saja mata biru laut dipadu dengan alis tebal hitam itu menyorotkan kekosongan yang teramat dalam. Hampir bisa dibilang tidak ada ekspresi sama sekali.
Perpaduan yang mengerikan.
Pria itu menyodorkan ponsel yang Alianna lempar padanya saat mereka bertemu di halaman parkir Mabes Polri, subuh tadi. Alianna melihat ponsel tersebut dengan alis bertaut.
“Apa maksudnya ini?” Alianna heran dan menatap pria dihadapannya dengan tatapan menyelidik.
“Telepon Devon untuk bawa Raymond ke tempat yang aku suruh sebagai ganti nyawamu.”
Alianna mencibir sambil melipat tangan kedepan dadanya walau dengan pucuk pistol yang masih menempel dikepala.”Pantas saja kau tidak menghabisiku dari tadi.”
“Siapa yang bilang saya mau menghabisi anda?” Pria itu menyeringai sambil matanya menyusuri tubuh Alianna dengan sorot mata kurang ajar.
“Oh ya? Apa yang akan kau lakukan?” tantang Alianna.
Alianna sengaja memancing amarah pria ini. Ia harus bisa membuat pria itu supaya bertindak gegabah agar bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk menyelamatkan diri.
Pria itu dengan gusar membuang ponsel serta senjatanya dan mendorong tubuh Alianna sampai jatuh ke tanah. Dengan kasar pria tersebut menindih tubuh Alianna dan mencekal kedua tangannya di atas kepala gadis itu. Alianna meronta, namun sorot matanya sama sekali tidak memancarkan rasa takut.
“Untuk seorang gadis bawel, Anda termasuk gadis pemberani. Anda tidak hanya sekedar bicara omong kosong. Itu membuat saya sedikit bergairah.” ucap pria itu dengan nada suara yang entah kenapa malah membuat detak jantung Alianna berdegup aneh.
Saat itu juga Alianna menganggap bahwa perubahan adrenalinnya itu karena ia sekarang sedang merasa terancam.
Alianna kembali meronta, “Dasar monster!”
Si Pria Bertudung terkekeh geli, “Benar sekali, saya memang monster yang akan datang sebagai mimpi buruk Anda,“ kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Alianna sembari berbisik, “dan saya pastikan nanti Anda tidak akan melupakan nama saya.”
Netra biru laut nan indah itu menatap Alianna dengan tatapan yang sulit diterka, “Damian. Jadikan nama itu sebagai mimpi buruk Anda setiap malam.” ucap pria tersebut.
Menyeramkan. Seringai pria yang sedang menindihnya teramat menyeramkan. Tatapan kosong tanpa ekspresi dibalut dengan seringaian haus darah membuat siapa saja akan ketakutan melihatnya.
Namun kali ini, Alianna juga balas menyeringai.
Seketika tubuh Damian terlempar keatas lalu terbanting ke tanah. Damian terkejut setengah mati sembari menatap bingung ke sekeliling berupaya mencari hal yang membuatnya terlontar menjauhi tubuh Alianna. Tak lama tubuh Damian melayang di udara tanpa ada alat atau apapun yang menopang tubuh lelaki itu. Dibawah sana, Alianna menatapnya sambil mencibir dan tersenyum sinis.
“Apa yang kau bilang tadi? Mimpi buruk?” ejek gadis itu.
Anda Mungkin Juga Suka





