
Misteri Reagan Harvest
Bab 2
Reagan tersenyum samar. Karena cukup lama tangannya melayang di udara tapi diabaikan, ia kembali menarik tangannya lalu berdeham. Ini pertama kali baginya diabaikan oleh seorang perempuan. Jika biasanya para mahasiswi akan berbondong-bondong minta berkenalan dengan mahasiswa yang paling top di kampus itu, Clare justru mengabaikannya.
"Kurang ajar sekali kau. Ketua ingin berkenalan, kau malah mengabaikannya," kata si wakil yang bernama panggilan Luke.
Clare sama sekali tidak merasa takut. Ia terus berdiri dan menatap wajah mereka dengan tatapan tanpa ekspresi.
Reagan kembali tersenyum sambil menatap Luke. "Kalian lanjutkan saja, gadis ini biar aku yang urus. Kau, ikut aku," katanya kepada Clare.
Gadis itu pun menurut dan mengekor di belakang Reagan. Sedangkan Luke yang bertugas menyampaikan pengumuman akhirnya melanjutkan kembali kegiatan bersama sekertaris yang kini masih menatap Reagan dan Clare dengan tatapan cemburu.
"Bisa dijelaskan kenapa kau terlambat?" tanya Reagan begitu langkahnya terhenti di bawah pohon kecil di area kampus. Ia mengajak Clare sedikit menjauh dari anggota lain, agar bisa melanjutkan niatnya.
"Maaf, Kak, aku terlambat bangun."
Reagan terkejut. "Terlambat bangun? Memangnya kau tidak punya jam di rumah?"
Clare menunduk salah. "Maaf, Kak, tapi aku lupa memasang alarm."
Reagan nyaris tertawa. Entah kenapa ia merasa Clare adalah mahasiswi terlucu yang pernah dilihatnya. Dan ini pertama kali baginya merasa nyaman dalam berinteraksi dengan siswa baru. "Karena sesuai aturan bagi siapa yang terlambat akan mendapat hukuman, kau mau kan mengelilingi kampus sebanyak seratus kali?"
Zet!
"Apa, seratus kali?" Clare terkejut. Dengan cepat ia menatap Reagan sambil melotot, "Kenapa tidak sekalian saja Anda memberiku racun biar mati di sini."
"Tapi itulah aturannya. Lagi pula kau kan hanya berjalan, aku tidak akan menyuruhmu lari."
Clare menoleh ke arah lain di mana teman-temannya sedang mendapat arahan dari Luke.
"Agatha?" panggil Reagan.
Gadis itu menoleh. "Iya?"
"Bagaimana, kau siap menjalani hukumannya?"
Dalam hati Clare bertanya-tanya. "Apakah dia sengaja mengajakku ke sini untuk memberikan ganjaran ini? Kenapa aku merasa ragu soal aturan itu, ya?"
Reagan berdeham. "Baiklah, kalau kau tidak mau seratus kali, aku akan___"
"Iya, aku mau!"
Reagan tersenyum. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Pergilah sebelum mereka menambah lagi hukumanmu."
Clare tak berkata apa-apa. Dengan cepat ia berbalik dan mulai menjalani hukumannya. Sedangkan Reagan yang masih berdiri di posisinya terus menatap Clare dengan pandangan sayu.
"Agatha ... nama yang cantik, sama seperti orangnya."
***
Dengan napas terengah-engah Clare akhirnya selesai menjalani hukumannya. Tak ingin mendapat hukuman lagi yang lebih berat, Clare mencari Reagan yang merupakan ketua panita untuk melaporkan bahwa hukumannya sudah selesai. Namun saat ia hendak mendekati lapangan kampus, tiba-tiba sosok dari belakang menariknya.
Zet!
Dilihatnya wajah gadis cantik yang tadi meneriakinya di lapangan. Gadis itu adalah sekertaris panitia di kegiatan tersebut. "Maaf, Kak ... ada apa, ya?" tanya Clare sopan.
Gadis yang bernama Chloe itu menatap sadis. "Aku hanya ingin memperingatkan, jangan pernah kau dekati Reagan, ya?"
Karena tubuhnya lebih tinggi dari Chloe, Clare sedikit menunduk dan berkata, "Mendekati? Siapa yang mendekati dia? Aku kan hanya menuruti perintah dan menjalani hukumannya."
"Aku tidak peduli. Kalau sampai aku melihatmu bersama Reagan lagi, lihat saja ...." Dengan wajah kusut dan merah Chloe meninggalkan Clare sendirian.
Clare merasa bingung. Tapi karena perutnya sudah lapar dan tenggorokannya kering, ia segera bergerak untuk mencari Reagan. Setelah beberapa menit mencari-cari, ia akhirnya menemukan Reagan.
Zet!
Dilihatnya Chloe sedang berdiri sambil menggandeng lengan Reagan. "Oh, pantas saja dia cemburu. Ternyata itu pacarnya," Clare tak peduli. Dengan langkah cepat ia mendekati para senior-senior itu lalu berkata, "Permisi, Ketua. Hukumanku sudah selesai."
Reagan yang terkejut karena Clare tiba-tiba muncul segera melepaskan tangan Chloe dan menjauhinya.
Chloe kesal. Dengan posisi berdiri di belakang Reagan ia menatap Clare dengan pandangan sinis.
"Baiklah," kata Reagan lalu melirik jam tangan, "Karena tadi kau tidak mengikuti kegiatan di lapangan, sekarang kau bersihkan semua sampah-sampah itu dan buang ke tempatnya."
Clare terkejut. Ia menatap ke arah lapangan di mana ada sampah-sampah kertas yang berhamburan.
"Setelah membersihkan itu kau boleh istirahat," kata Reagan lagi.
Luke menahan tawa. Sedangkan Chloe yang tadi menatap sinis, kini tersenyum lebar karena Clare mendapat hukuman lagi.
Dengan terpaksa Clare segera menjauh dan menjalankan tugasnya. "Kalau bukan anak baru, kalian pikir aku mau melakukan ini, hah? Aku bisa saja melaporkan kalian kepada papiku. Tapi sayangnya aku tidak seperti itu."
Reagan yang masih di posisi sama kini duduk sambil menatap Clare. Ia merasa apa yang dilihatnya saat ini adalah pemandangan yang paling indah dalam hidupnya.
"Hei!" Suara perempuan dari arah belakang mengejutkan mereka bertiga.
Chloe yang lebih dulu menoleh segera tersenyum dan menyapanya. "Bendahara, kenapa tadi tidak ada?"
Gadis berambut hitam panjang itu tersenyum sambil melirik ke arah Clare. "Tadi ada urusan sedikit dengan ibuku, makanya aku terlambat datang. Anak baru, ya?"
"Iya," balas Luke, "Dia datang terlambat, jadi ketua memberikannya hukuman. Dia baru saja mengelilingi lapangan seratus kali dan sekarang disuruh membersihkan lapangan."
Chloe tertawa mengejek.
Gadis yang merupakan bendahara dan bernama Ansley itu menatap serius ke arah lapangan. "Sepertinya aku mengenalnya."
Mendengar perkataan Ansley membuat Reagan terkejut. Ia menatap gadis itu dan berkata, "Namanya Agatha, kau mengenalnya?"
"Iya, sepertinya aku mengenalnya. Sebentar, aku akan menghampirinya. Aku penasaran, karena sepertinya aku sangat mengenalnya."
Chloe yang berdiri di samping Reagan melirik ke arahnya. "Sepertinya kau sangat mengingat nama gadis itu," katanya dengan nada kesal.
Reagan tak menjawab. Ia hanya melirik Chloe kemudian kembali menatap Clare dan Ansley.
"Sepertinya benar, Ansley mengenalinya," kata Luke yang kebetulan melihat kedua wanita itu berinteraksi.
Reagan tersenyum lalu berdiri. "Luke, ayo kita pergi."
Chloe terkejut. "Kalian mau ke mana? Aku ikut!"
"Suruh dia diam di situ, Luke," kata Reagan.
Pemuda itu menurut kemudian mencegah Chloe. "Kata ketua kau tidak usah ikut."
"Kenapa? Aku kan panitia juga."
"Sebaiknya kau turuti saja perintah ketua. Kau tahu kan apa yang akan dia lakukan kalau kau melanggarnya?"
Chloe mengendus. Dengan terpaksa ia pun diam sambil menatap Luke yang kini berlari mengejar Reagan. "Aku tidak akan menyerah, Reagan. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu."
***
"Akhirnya," kata Clare setelah selesai membersihkan lapangan. Ia segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke toilet untuk mencuci tangan.
"Clare!"
Suara perempuan dari belakang mengejutkannya. "Kak, Ansley."
Gadis itu tertawa. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Clare. Panggil Ansley saja."
Clare melirik ke arah pintu. "Jangan, kau kan seniorku. Apalagi aku masih anak baru. Yang ada teman-teman panitiamu akan menghukumku, jika tahu aku memanggilmu seperti itu."
Ansley tersenyum. "Setelah kegiatan ini kau tidak usah terlalu menggubris mereka. Apalagi Chloe, dia memang sedikit jahat kalau ada perempuan yang mendekati Reagan."
Clare tampak berpikir. "Chloe? Maksudmu yang sekertaris itu?"
"Iya. Dia sangat menyukai Reagan, tapi Reagan terus menolaknya."
"Oh, aku pikir mereka berpacaran."
Ansley menggeleng. "Tidak, hanya saja dia selalu bersikap seolah-olah mereka sedang berpacaran. Dia sengaja melakukan itu, agar tidak ada yang mendekati Reagan."
Clare tak menjawab. Ia hanya membuka keran air lalu membilas tangannya.
Ansley menatapnya. "Apa kau menyebutkan nama tengahmu kepada Reagan?"
Clare meraih tisu dari tempatnya. "Iya, tadi pagi sebelum memberiku hukuman dia menanyakan namaku. Jadi karena Agatha adalah nama sekolahku aku menyebutkannya seperti itu."
Ansley tersenyum. "Seandainya dia tahu kau anak pemilik kampus ini, pasti dia tidak akan berani menghukummu seperti tadi."
Mata Clare membulat. "Kau tidak memberitahukan hal itu kepada mereka, kan?"
"Tidak. Lagi pula kalau mereka tahu justru lebih bagus, bukan?"
"Kumohon, Ansley, jangan sampai ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Aku ingin mereka mengenalku sebagai mahasiswi biasa di kampus ini, oke?"
"Kenapa? Bukankah lebih bagus kalau mereka tahu latar belakangmu? Itu akan membuatmu populer di kampus ini, Clare."
"Tidak! Aku tidak mau, Ansley, aku tidak mau mereka tahu. Aku tidak mau mereka mendekatiku hanya karena aku anak siapa."
Gadis itu tersenyum sayang. "Baiklah. Jadi yang tahu ini hanyalah aku?"
"Dan sampai ada lagi yang tahu selain dirimu, berarti kaulah yang memberitahukannya, Ansley."
Mereka berdua pun tertawa hingga memenuhi ruangan.
Bersambung___
Anda Mungkin Juga Suka





