
Misteri Obat Dalam Minumanku
Bab 3
Aku harus menemuinya sekarang, tega sekali dia melakukan hal itu. Aku meraih tas tangan memasukkan ponsel ke sana lalu dengan tergesa ke luar kamar. Menuruni tangga hingga aku nyaris terpeleset kalau saja tidak ada tangan yang menyambar aku akan berguling sampai ke dasar tangga.
Mahendra!
Dia melepaskan kedua bahu setelah aku berdiri dengan benar. Bisa kurasakan wajahku memanas tapi dia tetap sama, datar tanpa ekspresi.
"Terima kasih,"desisku lalu melanjutkan langkah menuruni tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku tidak langsung ke luar, ada orang tua yang selalu menanti untuk kukunjungi.
Kamarnya terletak tidak jauh dari tangga, aku mendorong pintu, kemudian bau khas obat-obatan menguat.
Aku mendekat di tepi tempat tidur wanita itu kotersenyum, dia ibu mertuaku, mamanya Mahendra. Dia kena penyakit kanker tulang, hidup dengan bantuan alat-alat kesehatan. Tubuh itu ringkih hanya tinggal kulit pembalut tulang dan anak durhaka itu justru menghendaki dia mati lebih cepat.
"Ahen sibuk lagi ya?"bisiknya parau.
Aku mengangguk seperti yang biasa kulakukan, berbohong agar hati orang tua ini tidak sedih mengetahui bahwa anaknya tidak peduli.
"Kamu baik-baik saja? Apakah Ahen sudah menerima kamu?"
"Aku baik-baik saja, Ma," jawabku menyentuh tangan kurus itu.
"Mama sangat berharap suatu saat kalian akan menjadi pasangan yang salin mencintai. Ahen memang keras kepala, tapi lama-lama dia akan luluh."
Aku mengangguk, tak tahu juga harus bicara seperti apa, setiap berkunjung tiap hari Mama mertua selalu membicarakan ini. Memang terdengar membosankan, tapi inilah yang diharapkan semua orang tua di dunia ini. Melihat anaknya bahagia dengan pilihannya sendiri.
Mama tidak tahu, atau bahkan takkan pernah tahu, Mahendra atau tepatnya kami punya rencana dan kesepakatan sendiri dari pernikahan ini, pernikahan yang terjadi akibat perjodohan kemudian di atas perjanjian.
Dia punya kekasih, begitu juga aku. Kami berdua punya rencana masing-masing dalam menjalani hidup setelah pernikahan ini usai.
Menurutku para orang tua terkadang bersikap egois, dengan memaksakan kehendak agar anak mau mengikuti perkataan mereka dengan ancaman atau alasan sehingga anak tak memiliki pilihan sendiri.
Mama dan ibuku adalah sahabat lama, seperti yang terjadi di banyak kalangan yang satu miskin dan satu kaya dan mereka menjodohkan anak-anaknya. Aku tak bisa menceritakan bagaimana marahnya Mahendra kala itu, kalau saja dia tidak sedikit kasihan pada ibunya yang di kursi roda mungkin dia sudah memporak-porandakan acara makan malam kala itu. Bahkan setelah malam tadi, tidak ada yang berubah di antara kami.
Setelah cukup lama mendengar cerita Mama aku pamit, aku harus menyelesaikan masalah ink dengan Ratna, aku harus tahu kenapa dia begitu jahat.
Aku melangkah cepat melewati pintu tapi langkahku terhenti melihat siapa yang duduk santai di ruang tamu.
Dahlia, pacarnya Mahendra.
Kuhela napas yang mendadak sesak, bukan karena dia ada di sini tapi karena ini melanggar perjanjian yang telah kami sepakati, tidak boleh ada kekasih Mahendra atau kekasihku datang ke rumah ini.
"Ayuni,"sapanya ceria, aku yang hendak lewat begitu saja segera berhenti, bagaimanapun kami tidak punya masalah sebelumnya, bisa saja dia tidak tahu perjanjian ini. Ini hanya antara aku dan Mahendra. Tentu saja dia bebas sana ke luar masuk rumah ini, Mama mertuaku tak mengetahui hal ini.
"Hai,"balasku kaku.
"Kamu mau kemana?" Dia bertanya dengan nada ramah.
"Aku mau ke luar, aku pergi dulu."
"Eits, tunggu!"
Langkahku kembali terhenti dan Dahlia mendekat, dia menatapku agak lama itu membuatku tak nyaman.
"Siapa yang memberikanmu tanda bercinta, Ayuni? Apakah Mahendra?"
"Apa?" Aku tersentak.
"Lihat ada beberapa tanda di lehermu." Dia ingin menyibak rambutku yang tergerai tapi aku berusaha menghindar.
"Sepertinya percintaan kalian begitu panas,"tuduhnya dengan nada cemburu.
Aku menelan ludah dan menggeleng, kenapa aku bisa lupa dengan tanda sialan ini?
"Tentu saja sangat panas, aku kenal ketika seseorang tidak mampu menahan diri aehingga dia nyaris menggigit." Aku tersentak mendengar suara yang muncul dari belakang dan langsung memeluk Dahlia, menatap tepat di mataku.
Mukaku memerah, lidahku kelu, tentu saja gilanya semalam langsung membayang di ingatanku menimbulkan getaran yang nyaris kukenal.
"Kau tahu?" Dahlia terdengar terkejut.
"Pasti dengan pacarnyalah, dengan siapa lagi?"
Aku menghela napas rasanya tak sanggup menahan malu, bahkan Dimas tak pernah memaksa ingin menciumku.
"Wow, sepertinya pacarnya luar biasa juga." Kini suara Dahlia tak lagi normal, tangannya sudah bergerak menyentuh pipi Ahen yang ditumbuhi jambang halus.
Aku seakan meraskan pipi itu menggesek di pipiku, perasaan tak suka menggeliat tapi aku menemukan tatap mematikan Ahen, dia benar-benar telah melupakan kejadian tadi malam.
"Aku pergi." Aku melangkah panjang menuju pintu.
"Eh, kalau boleh tahu kalian melakukannya di mana?" Masih terdengar sayup teriakan Dahlia
Anda Mungkin Juga Suka





