
Misteri Masalembo (Crash Landing)
Bab 3
Enam bulan kemudian setelah kecelakaan pesawat Hercules Lockheed C-130
Tanggal 31 Desember: pukul 23:00 malam
*****
Ruang tunggu keberangkatan pesawat di malam pergantian tahun itu terlihat begitu padat. Lihatlah...., antrean di meja chek-in keberangkatan begitu panjang penuh sesak. Penumpang pesawat membludak, penjualan tiket on-line meledak-ledak. Maskapai penerbangan kaya mendadak, pilot dan pramugari dapat tambahan rezaki lumayan banyak. Memang...., kalau rezeki dari Yang Kuasa itu sudah datang, pasti tak ada yang doyan mengelak.
Hiruk-pikuk, lalu-lalang ratusan orang penumpang di ruang tunggu keberangkatan sangat terasa amburadulnya sejak sore tadi. Semua sibuk bertanya ke sana kemari. Keberangkatan banyak yang delay.....? Tapi itu kan suatu hal yang sudah biasa terjadi. Calon penumpang terlihat adu urat leher dengan petugas ground bandara karena tak pastinya jam keberangkatan pesawat.....? Ah...., kayaknya itu juga sesuatu hal yang sudah biasa.
Namun...., ternyata ada juga sesuatu yang tak biasa terjadi di malam pergantian tahun itu. Suara teriakan marah-marah seorang wanita tak kalah sengitnya juga terdengar di antara hiruk-pikuk suasana ruang tunggu keberangkatan pesawat di malam itu. “Hei playboy korengan..! kamu dengar ya baik-baik kata-kata saya..!” Suara judes seorang wanita terdengar bergema dari salah pojok ruang tunggu.
“Kamu itu yang nggak tahu diri.....! kamu itu yang egois tak punya perasaan..! kamu memang playboy cap kodok..!” Begitu aksen wanita itu mencak-mencak melalui handphone barunya berwarna merah jambu. Begitu bengis terdengar, melebihi bengisnya teriakan seorang ibu tiri.
Lisa nama wanita yang lagi marah-marah itu. Gadis keturunan perancis alias “peranakan cina sunda“ salah seorang calon penumpang pesawat Airbus A320 dengan nomor penerbangan XZ-1949 yang akan berangkat menuju Biak pukul 23:45. Tak peduli baginya penumpang lain yang berada di sekitar sana. Tiga menit lamanya dia mencak-mencak, entah mengapa suara Lisa tiba-tiba saja macet tersendat di kerongkongan. Matanya yang genit tak sengaja tersangkut pada seorang perwira muda berpakaian dinas kemiliteran yang tepat duduk di depannya.
Pemuda yang dilirik oleh Lisa itu sedari asyik saja membaca. Padahal dia itu adalah seorang tentara, bukan seorang mahasiswa, apalagi pasca sarjana. Begitu tampan dan terlihat berwibawanya dia. Pangkatnya saja kapten, terlihat jelas dari tanda tiga garis strip kuning yang melekat di kedua bahunya. Dia itu ternyata seorang perwira penerbang, bahkan pilot termuda lagi yang menyandang pangkat kapten di kesatuannya. Adam namanya, mulai bulan januari nanti, perwira muda itu mendapat tugas baru selama beberapa bulan di Papua.
Puas memandang perwira pemuda itu, bibir Lisa yang bergincu kembali beringas. “Hei enak saja kamu ya..!” Teriak Lisa lagi melaui handphonenya. Mencak-mencak gadis anak orang kaya itu ternyata masih berlanjut.
“Kamu itu yang selingkuh dengan dia kok malah aku yang kamu suruh harus minta maaf....., emang nya kamu itu siapa..! seorang pangeran haah......? benar-benar memalukan tak tahu diri kamu..! petantang petenteng hanya jual tampang....! padahal kamu itu pengangguran, kamu jangang bohong....! aku sudah tahu semuanya....!” Sorak Lisa semakin beringas. Handphone kemudian dia matikan seketika.
Mendengar celotehan seseorang, pemuda bernama Adam yang duduk tepat di depan Lisa itu mengarahkan penglihatannya ke arah gadis itu. Lisa yang sedari tadi memang mencuri pandang berakting pura-pura malu. Kedua bola mata Lisa yang genit kembali beraksi. Seragam yang dikenakan oleh pemuda itu dia perhatikan, termasuk atribut kemiliteran yang Lisa sendiri tak sebegitu paham apa itu artinya. Namun dia yakin pemuda itu adalah pasti seorang Perwira. “...andai saja dia..., oh begitu tampan dan bersahajanya...” Gumam Lisa dengan tatapan lugu.
Sayang sekali, tatapan Lisa yang genit pada perwira itu hanya berlangsung sesaat. Ada panggilan masuk, handphone Lisa kembali berdering. Gadis itu kesal, belum puas lagi tatapan matanya yang genit itu beraksi, namun dirinya kini sudah terusik lagi, seketika itu juga handphonenya itu langsung dia matikan. Beberapa detik kemudian, lagi-lagi handphone Lisa berdering, kali ini panggilan itu dia jawab, tapi dengan makian.
Amarah Lisa memuncak, dia langsung membentak membentak dengan mencak-mencak. “Hei, sudah ya.....! aku sudah muak dengan kamu.....! dasar lelaki pengangguran....., kamu memang playboy cap kodok, playboy murahan....!” Handphone itu dia pencet, langsung mati seketika.
Handphone nya kembali berdering. “Masa bodo.!” Jawab Lisa singkat, sesingkat-singkatnya. Hanya dua kata, handphone itu langsung dia matikan. Satu detik kemudian, handphone itu berdering lagi.
“Hei.! playboy murahan cap kodok....! dengarin aku baik-baik ya, kita berdua putus mulai hari ini, mulai jam ini, dan detik ini juga, pokoknya detik ini juga putus, titik....!” Power handphone dia pencet habis-habisan, langsung mati deh, dan tak mungkin lagi berdering.
Begitulah aksen Lisa, gadis tinggi behenol yang mengenakan baju warna ungu bergambar hello kitty itu kalau lagi marah melalui handphone, seram tapi menggelikan. Padahal, penumpang lain yang berada di dekatnya mendengar semua apa yang dia katakan. Namun, mungkin saja karena kesal yang memuncak, hingga wanita cantik itu pun tak peduli apa kata orang-orang yang ada di sekelilingnya.
“Masa bodoh..!” Begitu mungkin pikirnya.
Hi.., hi.., hi..., ternyata Lisa lagi perang sengit dengan seseorang, tapi perang tanpa senjata. Musuhnya adalah ‘play boy cap kodok’ seperti apa yang dia sebut-sebut di handphone tadi, dan orang itu tak lain adalah cowok nya sendiri yang sering kepergok selingkuh di caffe pojok.
Pemuda yang bernama Adam itu tak lagi memperhatikan Lisa yang doyan marah-marah. Padahal gadis cantik dengan lekuk tubuh yang aduhai itu sudah begitu perfect nya beraksi untuk memancing perhatian. Sejenak Lisa masih berdiri di sana sembari mencuri pandang, namun pemuda itu semakin tak menghiraukan. Dia bahkan kembali membolak-balik bukunya asyik dengan bacaan. Mengetahui pemuda itu tak lagi memperhatikan dirinya, Lisa gadis mempesona anak orang kaya itu pun akhirnya cepat-cepat berlalu dari sana.
*****
Malam terakhir bulan Desember merangkak mendekati larut. Jarum jam menunjukkan pukul 11.07 malam, menit-menit menghampiri pergantian tahun semakin mendekat. Sampai saat itu, ruang tunggu keberangkatan pesawat di bandara sepertinya masih enggan merayap senyap.
Penerbangan banyak yang tertunda di malam pergantian tahun itu. Lalu lintas di udara katanya lagi pada macet. Padahal juga...., tak ada ‘traffic light’ lampu merahnya di atas sana, apalagi yang namanya razia gabungan atau operasi zebra, tentu saja itu tak pernah ada. Jam keberangkatan pesawat dengan nomor penerbangan XZ 1949 dengan tujuan Biak belum juga ada kepastiannya. Menunggu pun mulai bosan, belum tahu entah sampai kapan
Sebahagian dari penumpang mengisi waktu dengan permainan game seru di beberapa pojok ruangan. Penumpang yang sempat ngorok dalam ruang tunggu juga ada. Yang bengong lalu-lalang tak tentu arah banyak juga. Kalau yang berduit seperti orang-orang berdasi lebih memilih nongkrong di ruangan excecutive yang tentu saja harganya selangit.
Beberapa orang lelaki ‘sejati’ lebih memilih bersemedi dengan sabar di smoking area yang sempit. Walaupun dipenuhi asap rokok memedihkan mata, namun mereka tetap duduk dengan tenang sembari menikmati hisap demi hisap lintingan tembakau beracun yang sudah digulung rapi oleh tangan-tangan cekatan di pabriknya.
******
Salah seorang penumpang yang berada dalam ruangan tunggu keberangkatan pesawat di saat malam pergantian tahun itu adalah Adam. Seorang perwira muda usia dua puluh tujuh tahun yang doyan membaca. Hiruk-pikuk lalu-lalang ratusan orang penumpang yang semakin merajalela dia dalam ruangan tunggu itu seolah-olah tak mengusik pendengarannya. Pilot termuda dengan pangkat kapten di angkatan udara itu lebih memilih menunggu sambil membaca.
Baru saja beberapa menit perwira muda bernama Adam itu melanjutkan bacaannya, tiba-tiba saja dia kembali di usik oleh suara seorang wanita berbicara dalam bahasa Inggris.
“Excuse me sir, is this seat occupied.?” ..........maaf ya tuan, apakah kursi ini sedang kosong.........? Suara seorang wanita tiba-tiba saja menyerobot masuk ke telinga Adam. Seketika itu juga dia berhenti membaca.
Sepasang kaki wanita mengenakan rok panjang dilihatnya tepat berdiri di depannya. Adam kemudian menengadahkan kepalanya ke atas, ternyata sepasang kaki itu adalah milik seorang wanita eropa yang sangat sempurna kecantikannya. Kedua bola mata wanita itu berwarna biru keabu-abuan. Luar biasa...., begitu memukau terlihat. Beberapa saat, kedua tatapan mereka saling bertubrukan satu sama lain, dan seketika itu juga di antara mereka berdua kaget saling menatap. Wanita itu senyap tak bersuara, padahal tadi itu dia ingin duduk di kursi yang kosong tepat berada di samping Adam.
Begitu cantiknya wajah wanita eropa itu. Juga...., begitu luar biasa tak ada duanya. Lihat saja, kedua bola matanya yang biru begitu memukau, hingga membuat Adam seolah-olah tak sanggup melepaskan tatapannya. Wanita itu juga tak kalah kagumnya melihat Adam, seorang pemuda berpakaian seragam yang begitu bersahaja. Hingga dalam waktu beberapa saat, tatapan mereka berdua masih saja melekat dengan erat walaupun tanpa perekat.
Cukup lama di antara mereka berdua saling tatap mata seolah-olah terpukau dengan pandangan masing-masing yang begitu mempesona. Bahkan juga..., di antara mereka saling membisu tak sanggup mengedipkan mata, seakan-akan tengah berada di alam bawah sadar mereka. Adu tatap di antara mereka akhirnya terhenti di saat panggilan boarding naik pesawat terdengar dari pengeras suara. Suara berisik kasak-kusuk puluhan orang penumpang yang berhamburan dari duduknya membuat kedua anak manusia berlainan lain jenis itu terbangun dari alam bawah sadar mereka.
Wanita itu ragu-ragu untuk berkata, karena dia tak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di samping Adam. Di sana memang tergeletak sebuah tas ransel tempur yang cukup berat milik Adam. Pemuda itu menganggukkan kepala, dia paham apa yang dimaksud oleh wanita itu. “Oh yes mam, I know that.” ........oh iya bu, saya tahu itu....... Ucap Adam. Pemuda itu langsung berdiri mengemas barang bawaannya.
Ransel tempur miliknya itu dia pindahkan dari kursi. Tak sengaja, Adam melihat ada sisa makanan yang ditinggalkan oleh penumpang lain dengan begitu saja di sana, begitu jorokk kelihatannya. Tak pakai tunggu lama, pemuda itu langsung merogoh tisu dari tas ransel miliknya. Sebelum wanita itu duduk, dia bersihkan terlebih dahulu kotoran yang ada di sana.
“Sir, it doesn’t need, let me do it.” .........tuan, tak usah repot-repot dibersihkan, biar saja saya yang lakukan........ Pinta wanita itu.
“No... problem mam.” .........tak masalah bu........ Adam langsung menyahut. Sepertinya dia tak memedulikan, Adam tetap saja membersihkan kursi itu hingga tak bersisa lagi kotoran di sana, lalu dia mempersilakan wanita itu duduk.
“Oh. thanks a lot Sir.” ........oh terima kasih banyak tuan....... Ucapan terima kasih wanita itu tersembur dari kedua bibirnya yang mungil,
“Don’t mention it.” ........sama-sama........ Adam mengembangkan kedua tangannya
Wanita itu hanya tersenyum mendengar. Sembari duduk menempelkan pantatnya di kursi yang tak empuk, sepasang bola matanya yang biru masih terus mengarah pada pemuda itu. Adam dilihatnya kembali melanjutkan bacaannya. Sebuah buku dengan judul “Electromagnetic Induction” setebal 240 halaman di bolak-balik oleh pemuda itu. Memang jarang sekali ditemukan seorang tentara yang hobi baca buku, apalagi buku itu mengenai ilmu sains dan teknologi.
Ingrid Rose, nama bule itu juga tak kalah sengitnya membaca. Sebuah buku dengan ratusan halaman jumlahnya kemudian dia buka dan dia baca. Keduanya kemudian senyap tanpa suara, tak juga saling tatap mata.
Penglihatan pemuda itu tiba-tiba terpeleset pada sesuatu di saat dia tengah asyik-asyiknya membaca. Dilihatnya sebuah boarding pass tak sengaja tergeletak di atas lantai tepat di samping kakinya, sepertinya baru saja tercecer dari lipatan buku wanita itu. Adam membungkukkan badan, boarding pass itu kemudian dipungutnya.
“Sorry mam.!” ........maaf bu....... Sapa Adam. Dia memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mam’ karena tak tahu siapa namanya.
“But I think this boarding pass is yours?” ........tapi saya rasa ini adalah boarding pas milik anda....... Adam memperlihatkan boarding pass yang ada di tangannya.
“Oh my boarding pass.?” ........boarding pass saya........? Wanita itu menyipitkan mata mengerutkan jidatnya.
“Yes mam, it is dropped from your book.” .......ya bu, saya lihat tadi terjatuh dari buku anda..... Tunjuk Adam ke arah buku.
“Oh thanks a lot sir.” .......oh terima kasih banyak tuan...... Bule itu melayangkan senyumannya sembari menerima.
“My pleasure.” .......dengan senang hati....... Adam membalasnya.
Saat bording pass dia berikan, sepintas lalu Adam melihat buku yang dibaca oleh wanita itu. Terlihat cukup tebal, buku itu dalam bahasa Jerman. Sepertinya buku itu seputaran ilmu Astrofisika yang membahas tentang benda-benda di angkasa. Adam menebak wanita itu pasti berkebangsaan Jerman.
*****
Sebuah panggilan boarding untuk naik pesawat kembali terdengar dari pengeras suara, wanita itu bangkit dari duduknya. Puluhan orang penumpang langsung bubar berebutan antre menuju pintu keberangkatan. Ribut suara kasak-kusuk yang terdengar mengalahkan volume suara dari pengeras suara. Wanita itu ragu-ragu apakah itu juga penerbangan untuknya, dia tak bisa mendengar dengan jelas nomor penerbangan yang disebutkan dari pengeras suara. Kedua bola matanya kini kembali tertuju pada Adam yang duduk di sampingnya.
“Ah excuse me sir.” ........oh maaf tuan......... Sapa bule itu begitu sopan. Pemuda itu berhenti membaca, dia juga bahkan menutup bukunya.
“Yes mam.” .....ya bu..... Adam juga menjawab dengan sopan.
“I’m really sorry, but actually I don’t want to disturb you.“ .......maaf sekali, sebenarnya saya tak ingin mengganggu anda........ Sebuah kalimat yang begitu sopan tersembur dari mulut wanita itu.
“It’s okay mam..! what can I do for you mam..?” .........oh, itu tak masalah bu, ada yang bisa saya bantu bu........ Adam membalasnya juga dengan kalimat yang lebih sopan.
“But do you know what flight number is that..?” .........ngomong-ngomong, apakah anda tahu nomor penerbangan itu........? Wanita itu menunjuk ke sekumpulan penumpang yang bergerombolan dalam antrean panjang.
“I’m not so sure mam.” .........saya tak begitu yakin......... Adam ikut memperhatikan. Dia juga tak begitu yakin dengan nomor penerbangan pesawat yang sedang boarding sekarang.
“But let me check it for you.” .........tapi biar saya cari tahu terlebih dahulu........
Pemuda itu kemudian berdiri, pandangannya berkeliling. Kedua bola matanya kemudian terhenti pada salah satu layar monitor yang ada dalam ruangan.
“Oh mam, the are leaving for Manado, can you see that.?” ........oh ya bu, mereka akan berangkat ke Manado, coba anda lihat ke sana........ Tunjuk Adam pada sebuah layar monitor yang tersembunyi di balik tiang beton penyangga bangunan. Wanita itu menyipitkan mata ikut melongok ke arah sana.
“Oh yeah I see that, I thought that’s mine, anyway thanks a lot.” ........oh ya, saya lihat itu, ternyata bukan penerbangan saya, walau bagaimanapun terima kasih ya........ Wanita bule itu menganggukkan kepalanya.
“It’s no problem mam.” ........oh itu tak masalah bu........ Adam menampakkan senyumannya.
Sedari, ada sesuatu yang mengusik pikiran wanita itu. Sepertinya dia kurang berkenan karena terus menerus dipanggil ‘mam’ oleh Adam. Sebelum wanita itu kembali duduk, dia meminta sesuatu agar jangan lagi disebut ‘mam.’
“Please don’t call me mam, I’ve just twenty one, I’m still very young you know.?” ..........tolong jangan panggil saya ibu, umur saya baru 21 tahun, anda tahu kan, saya masih begitu muda.........? Ucap wanita itu juga menampakkan senyumannya.
________________________________________________
(......Wow..! Ternyata wanita itu tak mau dipanggil ibu, umurnya saja baru 21 tahun, sangat muda sekali, cantik lagi, kedua bola matanya saja biru warnanya.....)
_______________________________________________
“Oh yeah, sorry mam.” .........oh, ya bu, saya juga minta maaf...... Adam keceplosan bicara, dia masih saja memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mam’
Wanita itu semakin mengembangkan senyumannya mendengar kata ‘mam’ yang masih saja terlontar dari mulut Adam.
“Sir, just call me Ingrid.” ........tuan, panggil saja saya Ingrid....... Pinta wanita itu masih memperlihatkan senyumannya.
*****
Anda Mungkin Juga Suka





