Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Misteri Desa Purnama

Misteri Desa Purnama

Demi melepas penat dari dunia perkuliahan, Aldi memilih berlibur ke Desa Purnama yang tenang. Namun, kedatangannya justru memicu bangkitnya kekuatan supranatural tersembunyi dalam dirinya. Di tengah suasana desa yang terpencil, Aldi terjebak dalam serangkaian peristiwa mistis yang mencekam dan sulit dinalar. Mampukah ia bertahan menghadapi teror gaib tersebut, ataukah liburan impiannya akan berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku begitu berdebar. Namun, semua itu sirna ketika perempuan tua itu tersenyum dan menggandeng tanganku.

"Oh, iya Nak Aldi. Silahkan masuk! Bibi sudah menunggu Nak Aldi dari tadi."

Aku bergegas melangkah masuk, perasaaanku semakin tak karuan saat terlalu lama berada di teras rumah. Setelah aku memasuki rumah paman, perasaan diikuti seseorang tadi seketika menghilang.

"Duduk dulu, Nak!" ucap nenek tua tadi, "Kenalkan, saya Bi Sari. Saya yang merawat rumah ini selama Suwarno tidak ada."

"Iya, Bi. Aldi sudah dengar dari paman."

Bi Sari tersenyum, beliau lantas menyuruhku duduk di kursi berbahan kayu yang berada di ruang tamu.

"Silahkan duduk, Nak Aldi."

"Rumah Bibi ada di belakang rumah ini. Kalau Nak Aldi membutuhkan sesuatu, panggil saja Bibi."

"Baik, Bi. Terimakasih," jawabku ramah.

"Tunggu disini, jangan kemana-mana, Bibi panggil si Mbah dulu ya, sekalian Bibi ambilkan minum." Ucap Bi Sari padaku yang terlihat sudah sangat lelah.

Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat rumah tua seperti museum peninggalan jaman dulu yang masih dihuni.

Mataku tak bisa berhenti berkeliling, menatap satu persatu dengan jeli. Perabotan antik yang sangat terawat, disimpan dengan rapi di lemari berbahan kayu jati yang kokoh. Tak ada satu pun yang terlewat dari pandanganku, termasuk lukisan jaman dulu yang masih terlihat seperti baru.

Saat itu, mataku tertuju pada sebuah lukisan yang menggantung di atas meja panjang berisi bunga yang berwarna merah menyala. Lukisan seorang gadis muda yang cantik, matanya bersinar seperti memandang ke arahku. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku, rasanya aku telah ditarik untuk melihat lukisan itu dari dekat.

'Wusshhh ...' Tiba- tiba angin bertiup ke arahku. Aku memejamkan mataku segera, berharap angin itu tak memasuki kedua mataku.

Saat aku membuka mata, betapa terkejutnya aku yang tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap dan sepi.

"Di mana aku?" gumamku.

Aku melihat sekelilingku, hanya ada pohon-pohon karet yang tinggi menjulang, seperti sebuah perkebunan.

Aku semakin tak mengerti, kenapa aku berada di tempat ini, apa aku sedang bermimpi?

Dari jauh, aku seperti mendengar suara tawa dari seorang gadis. Tawa yang terdengar seperti sedang bersenda gurau. Seketika aku merasa lega, ternyata ada orang lain selain aku di sini. Aku segera mencari sumber suara itu, berharap semoga benar-benar ada yang orang di sana.

Aku berjalan di antara semak-semak belukar, mencari arah sumber suara itu. Saat tawa itu sudah mulai terdengar semakin dekat, tawa itu berubah menjadi tangisan yang sangat pilu.

Aku berhenti, bulu kudukku berdiri. Di kegelapan hutan yang rindang, aku telah mendengar suara tawa yang telah berubah menjadi tangisan. Di mana aku sebenarnya? Aku sangat takut, perasaanku tak karuan. Aku segera berbalik arah dan berlari menjauh.

Tiba-tiba, sosok gadis dengan rambut panjang menjuntai telah berada di hadapanku. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, dia melambaikan tangan yang pucat itu ke arahku.

Sayup-sayup aku mendengar dia berkata dengan pelan, "Aldi ...."

***

Tak!

Aku tersadar dari lamunanku. Tiba-tiba bahuku terasa sakit, seperti ada yang memukulku berulang kali. Aku melihat sekelilingku. Di sana sudah ada Bi Sari dan seorang kakek tua.

"Nak Aldi tidak apa-apa? Bibi sudah bilang, jangan ke mana-mana!" ucap Bi Sari yang terlihat khawatir.

Aku merasa heran, apa yang terjadi sebenarnya? Seingatku, terakhir kali aku sedang melihat sebuah lukisan gadis muda, lalu aku tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap. Dan sekarang aku telah kembali berada di rumah ini.

"Nak Aldi, saya Mbah Atmojo, panggil saja Mbah Atmo," ucap Mbah Atmo yang menatapku dalam.

"Sekarang pasti Nak Aldi sangat kebingungan. Minumlah dulu," pinta Mbah Atmo padaku. Segelas air putih diberikan Bi Sari padaku. Dengan wajah yang masih terlihat kebingungan, aku terus mengingat kejadian tadi.

Mbah Atmo berkata lagi padaku, "Tidak usah bingung begitu. Nanti juga Nak Aldi paham."

Aku semakin merasa bingung, sepertinya ada sesuatu yang belum aku ketahui tentang rumah ini dari paman. Tapi, apa?

Mbah Atmo beranjak dari duduknya, beliau menyuruh Bi Sari segera membawaku ke kamar yang telah sengaja disiapkan untukku.

Rumah ini memiliki dua bangunan inti yang dipisahkan oleh sebuah taman kecil. Terdapat berbagai tanaman hias yang sengaja disimpan untuk mempercantik suasana taman. Kebetulan, kamarku berada di bangunan kedua. Jadi, aku harus melewati taman yang memisahkan kedua bangunan itu.

Setelah sampai di depan kamar baruku, aku sudah disuguhi pemandangan yang asri dengan jendela menghadap ke sebuah perkebunan milik warga. Kulihat Bi Sari langsung merapikan tempat tidurku.

Karena masih penasaran, aku terus bertanya pada Bi Sari, "Maaf, Bi. Kalau boleh tahu, tadi itu lukisan siapa ya?"

Bi Sari tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. "Itu lukisan anak Bibi, namanya Bulan. Dia sudah meninggal 10 tahun lalu," jawab Bi Sari lirih.

Air mata Bi Sari jatuh seketika, terlihat tatapan rindu terpancar dari kedua matanya yang telah memiliki kantung mata yang dalam. Kemudian Bi Sari mulai bercerita padaku seraya melipat beberapa handuk yang menggantung di dinding kamarku.

Dari ceritanya, aku mengetahui bahwa sepuluh tahun lalu Bulan tiba-tiba mengalami sakit yang misterius. Badannya sering kali menggigil tanpa ada penyebab. Saat malam tiba, Bulan sering berteriak-teriak seperti memanggil nama seseorang. Dia banyak melamun saat itu, kata Bi Sari.

Kejadian itu bermula saat Bulan berusia tujuh belas tahun. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita dan ceria. Para pemuda di desa ini saling memperebutkan untuk mendapatkan Bulan.

Banyak dari mereka datang ke rumah untuk meminang Bulan yang saat itu masih belia. Bulan masih senang bermain dengan teman-teman sebayanya. Jadi, Bi Sari tak menyuruh Bulan untuk segera menikah.

Tapi, kebahagian Bulan berhenti setelah seorang pria datang ke rumah Bi Sari untuk meminang putri semata wayangnya. Tentu saja, Bi Sari dan Mbah Atmo meminta pendapat Bulan terlebih dahulu. Masih dengan pendiriannya, Bulan tak ingin cepat-cepat menikah. Bulan bilang, dia masih ingin bermain bersama teman sebayanya.

Penolakan Bulan rupanya telah membuat pria itu merasa sakit hati. Entah apa yang diperbuat pria itu, Bulan mengalami sakit yang misterius setelah kejadian itu. Sehingga setahun setelahnya, Bulan meninggal dalam keadaan sakit yang masih belum diketahui oleh dokter sekali pun.

Setelah mendengar cerita Bi Sari, aku merasakan bulu kudukku berdiri. Aku merasa iba sekaligus merasa takut. Rupanya di desa ini masih ada orang yang melakukan perbuatan keji seperti itu. Bi Sari bilang, dia tidak ingin berprasangka buruk. Tapi, pria itu terus muncul di mimpi Bi Sari seperti petunjuk atas doa-doa yang Bi Sari panjatkan untuk almarhumah Bulan.

***

Pagi hari, udara masih terasa dingin. Aku membuka setengah pintu jendela kamarku. Burung berkicau riang, matahari mulai menunjukkan cahaya yang membuat udara perlahan mulai terasa hangat.

Aku keluar dari kamar melewati taman untuk menuju ke dapur. Perutku rasanya sangat lapar setelah menempuh perjalanan panjang tadi malam.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah sosok melewatiku dari belakang. Segera kutengok dengan perasaaan takut. Tapi, tak kutemukan apa-apa di sana.

Aku terus berjalan, sudut mataku menangkap keberadaan sosok itu. Rupanya, dia terus memperhatikanku dari jauh. Kupercepat langkahku menuju dapur, mungkin di sana ada Bi Sari atau Mbah Atmo, pikirku.

Rupanya, di rumah ini sudah tidak ada seorang pun. Bi Sari telah meninggalkan sepucuk surat di atas meja makan yang ternyata sudah tersedia sarapan untukku.

[ Nak, Aldi. Bibi dan Si Mbah sudah pergi ke ladang.Bibi sudah siapkan sarapan untuk Nak Aldi. Kalau Nak Aldi butuh sesuatu, Bibi sudah menyuruh Nur untuk mambantu Nak Aldi. ] begitu isi surat dari Bi Sari.

"Nur? Siapa itu?" gumamku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dunia Lain Di Balik Pintu
8.7
Astrid Ratchett, siswi antisosial yang sering dirundung, terobsesi dengan novel fantasi Richard Mcgrory. Suatu hari, ia menemukan pintu rahasia di balik lemari menuju dunia yang persis seperti buku favoritnya. Di sana, Astrid menjadi sosok cantik dan terhormat. Namun, ia terkejut saat bertemu mendiang sahabatnya yang kini jadi pangeran. Saat ancaman keluarga jahat muncul, Astrid harus berjuang menyelamatkan negeri itu sambil mengungkap kebenaran di balik dunia misterius ini.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel King Cat and The Lovely Librarian
8.5
Raja Edward Forester dari Centurion Land berubah menjadi kucing oranye akibat kutukan penyihir Amaraca dan terlempar ke masa depan. Stefany, seorang pustakawati di Houston, menemukannya dalam kondisi lemah dan merawatnya. Keajaiban muncul saat mereka bisa berkomunikasi lewat telepati. Meski Edward harus kembali ke masa lalu demi menyelamatkan rakyatnya dari penyihir jahat, ia mulai mencintai Stefany. Akankah ia pulang atau tetap tinggal di masa kini?
Sampul Novel Mantra Cinta
8.7
Hidup Tasya hancur saat Ravi, tunangannya, berselingkuh tiga hari sebelum pernikahan mereka. Sebulan mengurung diri dalam duka, Tasya menemukan akun misterius @yourwitch di Twitter yang menawarkan jasa kutukan. Iseng, ia meminta agar mantan kekasihnya itu menjadi impoten. Tak disangka, Ravi muncul di apartemennya dengan wajah memelas dan penuh ketakutan. Ia bersimpuh memohon maaf sambil mengaku bahwa dirinya kini kehilangan kejantanan akibat karma yang tak terduga.
Sampul Novel Misteri nyai Ratu Blorong
8.8
Legenda pesugihan dari laut selatan Jawa sering kali dianggap sekadar dongeng tidur. Namun, sosok Nyi Ratu Blorong sang siluman ular sebenarnya nyata dan melampaui mitos mistis belaka. Meski tak kasat mata, entitas simbol kekayaan ini tetap setia mendampingi para sekutunya hingga saat ini. Di tengah kehidupan masyarakat milenial yang modern, eksistensi gaibnya masih bertahan kuat tanpa sepenuhnya disadari oleh manusia yang hidup berdampingan dengannya.
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun aku bersabar menghadapi Marco, Alpha yang dingin dan selalu beralasan menjagaku yang rapuh. Di hari jadi kami, ia justru pergi demi serigala betina lain bernama Sarah. Marco meninggalkan aku sendirian di jalanan gelap saat badai demi mengejar cinta sejatinya. Di titik kehancuran itu, muncul sosok Alpha misterius dengan kekuatan luar biasa. Tatapan peraknya mengunci mataku, lalu ia mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.