
Misi 27 Hari Yura
Bab 2
Kita tak akan bisa memilih kapan sebuah masalah datang pada kehidupan kita. Kita juga tak bisa memilih masalah seperti apa yang akan kita hadapi. Mudahkah atau begitu rumit untuk di selesaikan.
Apapun itu, kita hanya punya dua pilihan pasti. Menghadapi masalah itu dan berusaha mencari titik penyelesaiannya seperti seorang ksatria.
Atau ... malah lari terbirit-birit dari masalah itu, seperti tikus kecil ketakutan lantaran di buru seekor kucing jalanan.
Dan aku?
Apa aku masuk dalam kategori yang kedua karena melarikan diri dari masalah yang aku hadapi?
Mungkin ya, tapi jelas aku bukan seperti tikus kecil yang sedang di buru dan ketakutan, aku lebih senang menyebutnya seperti seekor tikus yang sedang berusaha mencari sarang baru lalu hidup tenang di sana.
--------------
Melupakan Langit, mungkin hal yang mudah bagiku. Tapi melupakan kenangan-kenangan bersama Langit, aku termasuk orang yang payah. Entahlah, mungkin aku yang terlalu mencintainya, atau aku terlalu bodoh karena sudah begitu mempercayainya.
Untuk sejenak wajah Langit kembali melintas dalam benakku. Menyebalkan sekali.
"Mama, capek-capek masak bukan buat di liatin Yuraaaa," tegur Mama sambal menepuk pundakku. Menyadarkanku dari lamunan yang tidak begitu penting tadi.
"Maaf, Ma," sesalku dengan senyum hambar, berusaha menyembunyikan kegalauanku dari Mama.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Mama usai meneguk sedikit air putih dari gelasnya. Beliau sudah selesai dengan makan malamnya.
Aku menggeleng pelan, "Nggak kok Ma. Lagi capek aja," elakku dan kemudian kembali melanjutkan makan.
"Bagaimana kerjaan kamu, Yura? Lancar?" Papa yang sedari tadi diam mulai buka suara. Semoga saja tak akan ada pembahasan tentang Langit malam ini.
"Alhamdulillah lancar kok, Pa," sahutku sambal meraih gelas lalu meneguk isinya perlahan.
"Lalu bagaimana dengan Langit, kapan dia akan melamar kamu?"
Harapanku sirna, Papa akhirnya membahas soal langit. Pertanyaannya sukses membuatku tersedak.
Apa yang harus aku katakan pada Papa dan Mama. Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya sekarang? Bagaimana aku menjelaskannya kalau antara aku dan Langit sudah tidak ada apa-apa lagi.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Mama dengan wajah cemas.
"Nggak kok, Ma. Nggak apa-apa."
"Nggak baik loh pacaran lama-lama," ujar Papa lagi setelah menyudahi makannya.
"Iya, Pa. Yura tahu. Tapi kalau untuk nikah sekarang apa nggak terlalu buru-buru?" Aku mencoba sebisa mungkin untuk mengelak pembahasan yang seperti ini. Apalagi sekarang statusku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.
"Kamu ngomong apa sih? Buru-buru apanya? Kalian sudah sama-sama dewasa. Usia kamu hampir 27, Yura Anindita. Mau nunggu sampai kapan kamu baru mau menikah?" Mama terdengar semakin mendesakku.
"Iya, Mama kamu benar. Lagipula nggak baik, terlalu banyak membuang waktu dengan pacaran begitu." Papa seolah tak mau ketinggalan menimpali.
"A-aku mau aja Ma, Pa, nikah secepatnya. Tapi aku sama Langit ... ," kata-kataku tertahan di ujung lidah.
Jika aku jujur Papa akan sangat marah. Pasalnya Langit pernah berjanji akan menikahiku saat hubungan ini berjalan satu tahun. Tapi pada kenyataannya hubungan itu malah kandas di tengah jalan.
Aku tahu betul, Papa tak pernah bisa mentolerir itu. Beliau benci sekali dengan orang yang ingkar janji. Papa pasti akan sangat marah, bukan hanya pada Langit tapi juga padaku.
"Kamu sama Langit kenapa? Belum siap?" Papa terlihat sangat penasaran. "Atau ... kalian lagi berantem?"
Aku diam. Aku mulai kelimpungan untuk mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan Papa barusan. Haruskah aku jujur sekarang? Atau lebih baik aku merahasiakannya dulu. Setidaknya, sampai aku benar-benar siap menceritakan semuanya.
Aku menundukkan kepalaku kian dalam. Sumpah aku tak berani menatap kedua pasang mata yang sedang menyorotku sekarang menanti jawaban dariku.
"Yura, lihat Papa. Sebenarnya ada apa antara kamu sama Langit?" tanya Papa sekali lagi dengan nada lebih tegas kali ini.
Setelah sepersekian detik, aku memberanikan diri untuk menatap kedua orang tuaku, "Aku sama Langit, udah selesai Ma, Pa," jawabku dengan perasaan gugup namun sedikit lega juga. Lega karena akhirnya aku tak perlu berbohong lagi perihal Langit.
Papa tak berkomentar, Ia hanya diam sambal menggeleng-gelengkan kepala. Diamnya Papa, adalah tanda kalau dia benar-benar sedang kecewa sekarang. Kecewanya tentu bukan pada Langit saja tapi juga aku.
Aku adalah orang yang keukeuh meyakinkannya kalau Langit adalah yang terbaik, hingga pada akhirnya penilaianku sendiri itu salah.
Sementara itu, Mama hanya bisa menghela nafas panjang. Dari awal hubunganku dengan Langit, Mamalah yang menaruh harapan paling besar pada Langit untuk segera menikahiku. Tapi pada akhirnya aku terpaksa membuat kedua orang tuaku menelan pil pahit kekecewaan malam itu.
Maafin Yura Ma, Pa.
***
Keesokan harinya dikantor, aku sedang mengemasi barang-barang yang harus aku bawa keluar dari kantor. Jujur saja, ada perasaan yang begitu menggangguku saat ini.
Harusnya aku bahagia, karena hari ini adalah waktuku untuk meninggalkan semua kenangan itu. Tapi yang terjadi malah kebimbangan yang sedang berkecamuk di dalam dadaku.
Pembicaraan antara aku, Papa dan Mama kemarin malam sungguh mengganggu pikiranku.
"Ra, Kamu kenapa?" tanya Indy, yang memang sejak tadi turut membantuku mengemasi ruangan kantor yang harus aku tinggalkan untuk di tempati karyawan baru nanti.
Aku menghela nafas panjang, "Mama sama Papa udah tahu soal aku dan Langit."
"Bagus donk. Itu artinya kamu nggak perlu pusing mikirin cara nutupin kenyataan kalau kamu sama Langit itu udah selesai. Udah bubar." Indy tampak bersemangat sekali menanggapi ucapanku. Tampaknya dia juga sama leganya seperti aku kemarin malam, Tapi ... bukan itu masalahnya.
"Masalahnya ... mereka bakal ngejodohin aku sama anak temennya. Katanya, mereka nggak mau aku salah pilih lagi," ucapku mulai memaparkan isi pembicaraan kami tadi malam.
"Ya bagus donk. Itu artinya mereka sayang sama kamu, Ra. Yakin deh, pilihan orang tua kamu nggak akan salah."
"Tapi aku nggak mau di jodohin. Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi, Indy."
"Iya ... iya aku ngerti. Tapi nggak ada salahnya kan kamu coba buat jalanin. Siapa tahu salah satu anak dari temen Papa kamu itu memang jodohnya kamu. Bisa aja kan?"
Indy benar. Tak ada salahnya untuk dicoba menjalaninya. Tapi ... dijodohin? Hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas dalam pikiranku sama sekali. Bahkan dalam mimpipun tidak.
"Anyway, kamu yakin mau pergi dari sini?" tanya Indy sembari memegang pundakku dengan wajah penuh harap agar aku membatalkan niatku.
"Mau sampai kapan kamu nanyain itu terus, Ndy? Ratusan kali? Ribuan kali? Atau jutaan kali? Itu nggak akan mengubah keputusan aku. Lagian pengajuan resign aku udah di acc kok sama Pak Anton," sahutku dengan nada penuh keyakinan. Yakin kalau aku tak akan berubah pikiran.
"Tapi ... Ra, jadi seorang reporterkan impian kamu dari lama. Sayang bangetkan kalau kamu tinggalin."
See ... lagi-lagi Indy mencoba menahan kepergianku. Dia memang tidak mudah menyerah. Tapi apa dia lupa betapa batunya sahabatnya ini? Aku tak akan semudah itu berubah pikiran, apalagi mengubah keputusan yang sudah sangat aku yakini.
"Jadi reporter memang impian aku, dan itu sudah terwujud. Sekarang waktunya, aku mengejar impian aku yang lainnya, Ndy," sahutku sambil tersenyum ringan. Sementara tanganku masih sibuk merapikan meja yang harus aku tinggalkan.
"Emangnya, apa lagi impian besar Yura Anindita kali ini?" tanya Indy terlihat begitu penasaran.
"One day, kamu akan tahu dengan sendirinya," jawabku santai sambil berjalan keluar ruangan dengan membawa kotak kecil yang berisi barang-barang milikku.
"Yuraaa, jangan sok misterius gitu deh," celoteh Indy dan kini berjalan beriringan denganku.
Aku hanya tersenyum menanggapi Indy. Aku memang sengaja merahasiakannya karena bagiku, soal impian yang belum terwujud tak begitu perlu di ketahui oleh semua orang.
"Kamu mau kemana?" Kehadiran cowok bertubuh jangkung, berkulit sawo matang, dengan pakaian rapi kini berdiri di hadapanku. Menghentikan langkahku dan Indy.
Huft...kenapa dia harus muncul lagi sih?
***
Anda Mungkin Juga Suka





