Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Misi 27 Hari Yura

Misi 27 Hari Yura

Yura Anindita menolak keras perjodohan dari orang tuanya. Ia pun memulai misi nekat untuk mencari calon suami pilihannya sendiri dalam waktu 27 hari, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Di tengah tekanan waktu, dua pria berbeda hadir dalam hidupnya: sosok dari masa lalu dan pria baru yang memikat hatinya. Akankah Yura berhasil menemukan pendamping hidup yang tepat untuk membatalkan perjodohan tersebut, atau justru misinya akan berakhir dengan kegagalan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Antara percaya dan tidak tapi aku yakin semua orang pasti mengalaminya. Mungkin salah satu dari kalian juga pernah seperti ini.

Ada kalanya, semakin kita berniat melupakan seseorang, semakin kita ingin mengambil langkah untuk menjauh dari orang itu, entah kenapa dia justru malah sering muncul. Seolah mereka punya radar sekaligus misi untuk menggagalkan semua upaya yang kita lakukan.

Yups, tampaknya hal itu juga yang sedang aku alami sekarang. Tapi tentu saja Langit bukan berniat menggagalkan upayaku. Pasti ada hal lain yang membuat dia akhirnya menemuiku. But what?

--------

"Kamu mau kemana?" Kehadiran cowok bertubuh jangkung, berkulit sawo matang, dengan pakaian rapi kini berdiri di hadapanku. Menghentikan langkahku dan Indy.

Tentu saja dia bukan orang asing bagiku. Aku terlalu mengenalnya, sangat mengenalnya hingga akhirnya aku juga yang kepayahan melupakannya. Mengesalkan sekali. Yups ... dia Langit.

"Bukan urusan kamu!!" jawabku ketus dan beranjak pergi. Tapi langkahku tertahan karena Langit kini menarik pergelangan tanganku dan menggenggamnya cukup erat.

No ... sangat erat hingga aku merasa kesakitan sekarang.

"Tunggu. Aku perlu bicara sama kamu," pinta Langit yang tentu saja tak akan aku turuti. Untuk apa lagi aku bicara dengan orang yang tak menghargai perasaanku sama sekali.

"Nggak bisa." Aku menepis tangan Langit yang sedari tadi menggenggam erat pergelangan tanganku.

"Aku perlu bicara sama kamu," ucap Langit lagi kembali meraih pergelangan tanganku. Kali ini rasanya dia menggenggamnya jauh lebih erat dari sebelumnya.

"Langit udahlah. Kalau Yura bilang nggak bisa itu artinya nggak bisa. Jangan maksa deh." Indy yang sedari tadi diam menjadi penonton mulai angkat bicara agar Langit segera enyah dari hadapanku. Tak lupa dia juga menepis tangan Langit dariku.

Langit diam sejenak dan menatap marah pada Indy. Tatapan yang aku definisikan sebagai peringatan pada Indy agar diam dan tidak ikut campur. Dan sepertinya ... dia cukup sukses mengunci mulut Indy. Sahabatku tak lagi mengoceh.

"Yura please. Aku harus bicara sama kamu," pintanya lagi dengan tatapan yang sedikit melunak.

Tatapan teduh yang dulu selalu membuat hati ini rindu untuk melihatnya lagi dan lagi. Tatapan yang sekarang kembali membuat dada ini terasa sesak. Gugup.

Dan ... wait, stop it Yura, kamu tidak boleh luluh segampang itu lagi. Ingat upaya kamu untuk melupakan manusia yang satu ini. Ingat Yura ... Ingat.

"Mau bicara apa?" tanyaku masih dengan nada ketus, sambil membuang pandanganku ke arah jendela.

Ya ... aku tak akan bersikap lembut lagi dengannya. Aku tak ingin perasaan itu kembali hadir di tengah-tengah kami hanya karena tatapan teduhnya itu. Aku tak ingin kembali larut dalam perasaan sayang yang kini hanya berjalan secara sepihak.

Ya ... aku akui, aku masih punya secuil perasaan sayang untuk laki-laki ini. Ingat ... hanya secuil dan aku tak ingin itu menjadi besar hanya karena hal begini. Tidak.

"Bicara aja sekarang. Aku nggak punya banyak waktu," sambungku lagi dengan tatapan sinis.

"Nggak di sini, kita ke rooptop," sahut Langit lagi yang mulai memancing emosiku.

"Apa bedanya rooftop sama di sini. Toh ... apa yang mau kamu omongin topiknya tetap sama kan?" Aku mulai jengkel dengan semua permintaanya. Ayolah ... aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku tak akan pernah ke rooftop itu lagi.

Kali ini Langit tak menjawab. Ia justru menggenggam erat pergelangan tanganku dan menyeretku paksa mengikutinya. Tindakannya begitu tiba-tiba hingga tanpa sadar aku menjatuhkan kotak yang sejak tadi aku bawa dan sukses membuat isinya berserakan di lantai.

Indy yang melihat aku dibawa pergi tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Langit. Indy jelas sudah tahu kalau Langit akan mengamuk jika dia ikut campur.

***

"Lepasin!!" pintaku sambil menepis tangan Langit, saat kami telah tiba di rooftop.

Semilir angin dan hangatnya mentari pagi langsung menyapa kami, saat kami tiba di sana. Tapi kehangatan itu justru tak berefek pada hatiku yang saat ini sedang dilanda emosi akibat perlakuan Langit yang seenaknya.

Langit berjalan menjauh dariku dan berhenti di ujung rooftop. Tatapannya mengarah jauh ke langit luas. Aku hanya diam memperhatikannya sambil mengusap pergelangan tanganku yang masih terasa sakit karena ulahnya.

Sebuah tanda tanya besar mengambang dibenakku. Bagiku tak ada lagi hal penting yang harus dibicarakan dengannya pasca putus.

Bagiku, saat dia bilang hubungan ini telah selesai maka saat itu pula cerita kami berakhir.

Cukup lama rasanya aku menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Apa sebenarnya mau pria ini? Menyeretku secara paksa hingga ke sini dengan alasan ingin bicara.

Tapi setelah di sini Ia hanya diam dan membiarkanku menunggu tanpa kejelasan dengan beragam dugaan yang ada dibenakku.

"Masih belum mau bicara juga?" tanyaku yang mulai kehilangan kesabaran.

"Kalau gitu aku permisi." Aku membalikkan badan dan ingin bergegas pergi meninggalkan tempat ini.

"Tunggu!!" serunya mulai bersuara dan sukses menghentikan langkahku.

Walau aku tak membalikkan badan, aku bisa mendengar dengan sangat jelas suara langkah kaki Langit yang kini berjalan mendekat ke arahku. Dekat dan semakin dekat, hingga aku tersentak saat Ia kembali menarik tanganku memaksaku membalikkan badan.

Dan benar saja, kini Ia berada tepat di hadapanku. Jarak kami mungkin hanya berkisar 30 senti. Ia menatapku dengan tatapan khasnya, teduh dan menyejukkan hatiku yang sempat panas.

Jantungku Kembali berdetak tak beraturan. Nafasku sesak. Yura sadarlah. Jangan biarkan diri kamu jatuh cinta lagi pada Langit.

Wake up Yura ... sadarlah. Luka yang dia ciptakan saja masih belum sembuh. Batinku menjerit tak karuan.

Aku mundur beberapa langkah dari Langit, sambil kembali menepis tangannya dari pergelangan tanganku.

Aku melemparkan pandanganku jauh ke langit luas walau harus dihadang oleh bias sinar matahari. Sungguh, itu jauh lebih baik daripada aku harus beradu pandang dengan langit yang berwujud manusia itu. Itu malah lebih menyakitkan bagiku.

"Kamu sebenarnya mau bicara apa?" tanyaku dengan nada dingin. Tak ingin larut dengan suasana yang tadi nyaris membuatku jatuh padanya lagi.

"Kalau kamu memutuskan keluar dari kantor hanya karena ingin menjauh dari aku. Lebih baik kamu batalkan niat kamu." Ucap Langit membuka topik pembicaraan yang sedari tadi aku tunggu.

See ... dia menemuiku bukan karena dia masih memiliki perasaan yang sama atau ingin meminta maaf, lantaran sudah mematahkan hatiku. Sampai kapanpun sepertinya dia hanya akan memikirkan dirinya sendiri saja.

"Apapun alasan aku keluar dari pekerjaan ini, itu bukan urusan kamu. Mau tetap bertahan di sini atau pergi, itu sepenuhnya jadi hak aku Langit. Bukan kamu," jawabku dengan tatapan kesal. Aku benci saat dia bersikap seolah-olah peduli padahal sebenarnya tidak. Fake ....

"Come on, Ra, jangan kekanak-kanakkan kayak gitu. Kamu tahu siapa orang yang paling disalahkan sama Pak Anton atas pengunduran diri kamu? Aku. Aku ... Yura," ungkap Langit yang semakin memperkuat dugaanku.

Ya ... kepeduliannya kali ini memang hanya karena dia tak ingin namanya jelek di mata Pak Anton. Atasan kami di kantor.

"Lalu, apa peduliku?" tanyaku tak mau ambil pusing. Masa' bodoh dengannya sekarang.

"Dasar egois. Ya kamu batalinlah rencana kamu. Supaya Pak Anton tahu, kalau aku bisa mempertahankan karyawan kebanggaannya yang memutuskan berhenti dari pekerjaan cuma karena aku putusin," kata Langit dengan super PDnya.

Aku memandanginya dengan tatapan tak percaya. Serius, tanganku mulai gatal ingin mendaratkan sebuah tamparan kepipinya, saat dia mengatakan kalau aku egois.

Tapi niat itu ku urungkan karena aku pikir tak ada gunanya. Itu hanya akan membuatku semakin terlihat kekanak-kanakkan dimatanya. Dalam situasi seperti ini aku harus lebih tenang.

"Egois? Ya, masa' bodoh dengan penilaian kamu ke aku sekarang. Yang pasti aku nggak akan mengubah keputusan aku," ujarku dengan nada penuh keyakinan.

" .... "

"Dan satu hal lagi, aku keluar dari sini itu bukan semata-mata karena kamu Langit. Kamu itu cuma jadi alasan kesekian berhentinya aku dari sini. Jadi ... jangan kepedean."

Langit masih diam. Dia hanya memandangiku dengan tatapan tak terbaca. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya sekarang, yang jelas aku tidak boleh lengah. Aku tidak boleh luluh lagi dengan pesonanya.

Aku menghembuskan nafas kasar setelah cukup lama menunggu Langit bicara lagi. Tapi yang ditunggu malah betah membisu.

"Udah selesai kan? Udah nggak ada hal yang perlu dibicarakan lagi kan? Kalau gitu aku pergi."

Aku melangkah menjauh meninggalkan Langit, tapi sedetik kemudian ucapannya kembali menghentikan langkahku.

"Kalau kamu nggak mau batalin niat kamu demi aku, seenggaknya lakuin itu demi Mama," seru Langit spontan membuatku bingung.

Dari dulu, setiap Langit bicara soal Mamanya, hatiku selalu luluh. Kemarahan yang meluap-luap bagai lava panas sekalipun bisa tiba-tiba berubah menjadi sedingin gletser di kutub utara.

Mungkin terdengar lebay, but ya ... aku selalu kalah jika hal itu berkaitan dengan orang tua. Terlebih lagi ini soal Mamanya Langit.

Aku tahu betul, Langit hanya hidup bersama Mamanya. Papanya sudah meninggal sejak Langit berusia 6 tahun. Dunia Langit semakin tidak baik-baik saja setelah Mamanya di vonis mengidap kanker otak 7 bulan lalu.

"Pak Anton tahu betul masalah apa yang terjadi antara kita. Dan kalau aku nggak berhasil ngebujuk kamu, beliau bakal mecat aku," ungkap Langit sambil berjalan mendekat ke arahku lalu kemudian berdiri persis di hadapanku.

"Dan kalau aku dipecat, dengan cara apa aku harus dapetin uang buat pengobatan Mama?"sambungnya lagi kian menatapku dalam.

Kata-kata Langit kali ini sungguh membuat hatiku tersentuh. Walau Ia tak bisa sedikitpun menghargai perasaanku, setidaknya dia punya sedikit nilai lebih karena rasa sayang pada Mamanya yang begitu besar.

"Demi Mama, aku mohon batalin rencana kamu, Ra,"pinta Langit mengiba.

Kudapati mata Langit kini mulai berkaca-kaca. Rasa ibaku seketika muncul ke permukaan. Aku tak mungkin membiarkan Langit dipecat hanya gara-gara keegoisanku. Itu sama saja aku membahayakan kesehatan Mamanya.

Tapi ... jika aku tetap berada di sini, bagaimana aku bisa melupakan semuanya?

"Kamu juga sayangkan sama Mama?"tanya Langit seraya meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya erat. Ia memperlakukan aku seolah-olah aku masih kekasihnya. Aku tahu ini hanya taktik Langit agar aku mau mengabulkan permintaannya. Hmm ... dasar menyebalkan.

"Ya ... aku juga sayang sama Tante Anggi. Mama kamu. Tapi ... bukan berarti aku mau memenuhi permintaan kamu," jawabku masih keukeuh dengan keputusan yang sudah kubuat.

"Ra, kamu nggak kasihan sama Mama?"

Kali ini, aku tak ingin menjawab pertanyaan Langit. Aku menatapnya sebentar lalu beranjak pergi begitu saja. Masa' bodoh dengannya yang mungkin sedang mengumpat kesal di belakangku.

Hmm siapa bilang, aku tak merasa kasihan dengan Mamanya? Malah jika boleh, aku akan membantu pengobatan Tante Anggi. Aku sengaja menolak permintaannya karena aku yakin ada cara lain agar aku bisa tetap pergi dari sini tanpa harus menyulitkan siapapun.

Ya ... pasti ada.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Yang Terbuang
9.7
Farhan tumbuh besar tanpa mengenal orang tuanya dan hanya diasuh sang nenek. Setelah neneknya wafat, ia merantau ke Jakarta demi bertahan hidup sekaligus mencari keberadaan ayahnya yang misterius. Tak disangka, Farhan bekerja sebagai sopir bagi seorang wanita cantik yang merupakan ibu tirinya. Tanpa menyadari ikatan keluarga tersebut, sebuah insiden terjadi di antara mereka hingga memicu kehamilan. Kini, rahasia besar membayangi hubungan rumit mereka di masa depan.
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel Dendam Sang Pewaris Genius
9.7
Yuvina kembali ke keluarganya sebagai pewaris sah yang terabaikan. Meski telah menyerahkan identitas dan karyanya demi saudari angkatnya, ia justru dibalas dengan pengabaian. Kecewa, Yuvina memutus ikatan emosional dan bangkit sebagai sosok jenius. Kini ia menguasai bela diri, medis, desain, serta delapan bahasa. Dengan kekuatan barunya, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun di keluarga itu meremehkannya lagi. Dendam sang pewaris kini dimulai.
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Akeno Taoka, anggota Yakuza dari klan Barakujaga, menyamar menjadi guru SMA di Tatsuno demi misi rahasia. Targetnya adalah Reina Akinara, putri pemimpin klan musuh, Tuan Kudesai. Akeno bertekad menjadikan Reina alat balas dendam atas kematian orang tuanya yang dibunuh secara licik. Namun, sebuah fakta mengejutkan mengenai identitas asli Reina terungkap di tengah rencana tersebut. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau justru ia akan luluh oleh pesona Reina?
Sampul Novel Pendekar Kristal Naga
7.9
Gandar Maitreya adalah keturunan klan Naga yang terdampar di pesisir Kepulauan Malaka. Kini, ia menjadi incaran para pemburu bayaran yang haus kekuasaan. Mereka mengincar ingatan Gandar mengenai Kristal Naga, artefak legendaris yang mampu menobatkan pemiliknya menjadi raja di Dunia Manusia, Naga, dan Iblis. Di tengah pelarian yang berbahaya, Gandar harus mengungkap jati dirinya serta memulihkan ingatannya demi menghadapi kepungan musuh yang terus mengintai nyawanya.