Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Miracle (Our Magic shop)

Miracle (Our Magic shop)

Dalam kisah ini, aku hanyalah seorang manusia biasa yang sedang berjuang melawan kebimbangan hidup yang mendalam. Di balik keseharianku, tersimpan sebuah kehampaan besar akibat kurangnya kasih sayang yang kuterima. Perjalanan ini menggambarkan pencarian jati diri dan kehangatan emosional di tengah keraguan yang terus menyelimuti hati. Sebuah narasi tentang kerentanan jiwa yang merindukan perhatian dan ketulusan dalam dunia yang terasa begitu dingin.
Bab
Bagikan

Bab 2

Awhh...badanku rasanya remuk, semuanya sakit. Tapi aku tidak menangis. Apa karna sudah terbiasa? Aku tertawa sembari menatap ke langit-langit kamarku. Atau lebih tepatnya gudang. Aku tidak mengerti kenapa mereka melahirkan ku jika mereka tidak menginginkan ku, kenapa mereka tidak membuang ku saja atau membunuh ku?. Rasanya seperti aku tidak punya apa-apa lagi, selain kewarasan yang masih mencoba untuk menetap atau aku yang memaksa nya untuk menetap?.

Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menutup mataku, mencoba untuk tidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini. Beberapa saat kemudian aku terlelap dengan nyaman.

Mataku terbuka, menampakkan pemandangan pantai yang indah. Angin nya terasa begitu sejuk dan hangat secara bersamaan, suara ombak laut terdengar begitu merdu di telinga ku. Sepi dan nyaman menjadi satu. Semuanya baik-baik saja pada awalnya hingga sesaat kemudian pemandangan itu berubah. Aku menatap sekitar dan hanya menemukan kegelapan yang begitu pekat, tak ada cahaya sedikitpun. Dari kejauhan terdengar suara makian dan tawa, lalu berubah menjadi teriakan dan jeritan.

Aku terbangun dengan keringat dingin dan nafas yang memburu sesaat setelah teriakan dan jeritan itu terdengar sangat memekakkan telinga.

"Hanya mimpi....", Tapi kenapa semuanya terasa sangat nyata. Bahkan teriakan dan jeritan itu terasa begitu asli. Ternyata selain tidak bisa hidup tenang aku juga tidak bisa tidur dengan tenang. Aku mengusap wajahku dengan kasar, lalu melihat jam di ponsel. Jam 5 pagi, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ahh, aku juga baru sadar kalau aku belum makan apa-apa dari tadi pagi. Aku tak bisa makan karena uang ku di rebut oleh para bajingan bangsat itu. Hhhh..... sekarang aku harus kelaparan sampai besok.

Dirumah tidak mungkin ada makanan, karena mereka selalu menghabiskan nya atau sengaja tidak memberikan nya padaku. Mengatakan bahwa uang mereka tidak cukup untuk membeli makan untuk tiga orang. Tapi tak apa, lagipula aku lebih suka mencari uang untukku sendiri daripada harus meminta pada orang yang sama sekali tak menganggap ku ada.

Hari mulai bersinar, tapi matahari belum muncul. Aku bergegas keluar dari kamar, dan membersihkan seluruh rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, dan lainnya. Rumah ini terasa begitu sesak, padahal ini cukup luas untuk ditinggali beberapa orang. Apa karena suasana rumah sangat tidak bagus makanya terasa seperti itu? Ahh aku tidak tau, tapi yang jelas tidak akan ada yang mau masuk kerumah ini atau bahkan membelinya menurutku.

"Hei, apa kau punya uang?", Aku hanya menatap datar kearahnya. Dia pasti ingin membeli botol alkohol lagi.

"Aku bertanya padamu bangsat, bukan ingin beradu tatap denganmu", dia menjambak rambutku dan menampar ku berkali-kali.

"Aku tak punya uang", jawabanku membuat nya marah dan malah menendangku hingga aku jatuh tersungkur. Masih belum puas, dia menendang dan memukulkan salah satu botol alkohol yang ada di meja ke kepala ku.

"Dasar anak nggak guna, tau numpang doang! Mati aja lo sana!", Sesaat setelah dia pergi, setetes warna pekat terlihat di lantai, ohh kepalaku berdarah. Aku menyentuh nya kepalaku yang terluka, tersenyum tipis. Kemudian bangkit kembali untuk membereskan kekacauan yang dia buat tadi.

Setelah selesai, aku pergi kekamar mandi. Aku masih harus sekolah, dan lulus baru aku bisa pergi dari sini. Aku menatap pantulan wajahku di cermin, terlihat seperti mayat hidup. Tidak ada apapun selain kekosongan yang terlihat dan juga bekas-bekas lebam dan luka-luka baru. Aku terlihat menjijikkan.

Sekolah berjalan seperti biasanya. Hanya saja ada yang aneh hari ini. Aku merasa seperti ada yang mengintip ku sedari tadi.

"Keluar", sesosok laki-laki tinggi keluar dari balik pohon. Dia menunduk takut, dan terus memperbaiki kacamata hitamnya yang melorot. Tumben sekali ada orang yang datang ke taman belakang, biasanya tidak ada yang suka datang kesini karena ada aku.

"A.....aa.....aakuu.....eum....aa...akuuu", dia berucap dengan gagap. Dia terlihat begitu gelisah dengan terus memainkan jari-jari panjangnya.

"Bicara yang jelas!"

"B-boleh aku berteman denganmu!!", Ucapnya dengan cepat. Lelucon macam apa ini? Apa para bajingan itu menyuruh nya memprank diriku, lagi? mereka suka sekali melakukan hal ini, dan menjadikan diriku sebagai barang taruhannya. Mereka pernah menyuruh seorang pangeran sekolah begitulah mereka menyebut nya, untuk menjadikan ku sebagai kekasih nya. Tentu saja aku menerimanya, karena mengira dia tulus padaku. Tapi seminggu kemudian kulihat dia berjalan bersama wanita populer lainnya di sekolah ini dan ternyata dia hanya mempermainkan ku saja.

Dan mereka juga berkali-kali menyuruh orang lain untuk dekat dengan ku, mencari tahu kelemahan ku, dan lalu mempermalukan ku di hadapan seluruh sekolah.

Aku menatapnya yang terus saja gelisah, sungguh meski aku mati rasa bukan berarti aku kehilangan rasa kasihan. Dia mungkin sama seperti ku, atau seperti anak-anak lain yang di bully di sekolah ini. Tapi setelah nya murid-murid bullyan itu dapat bergabung dengan klub populer di sekolah yang di ketuai oleh Hyerin dan pacarnya Mike. Mereka bisa masuk tentunya setelah di suruh melakukan sesuatu yang menjijikkan menurut ku. Seperti ini contohnya. Kalau sudah bisa masuk ke klub itu maka mereka akan di anggap yang paling beruntung. Iya beruntung menjadi seorang penjilat, sungguh mereka semua sangat berbakat.

Aku kembali fokus dengan buku novel bacaan ku. Tak peduli dengan dia yang sangat gelisah disana. "Pergi dari hadapan ku", ucapku penuh penekanan. Tapi bukannya pergi dia malah mendekat dan duduk di samping ku. dia terlihat masih sangat gelisah saat duduk di sampingku.

"P-pantas saja kau suka disini, ternyata disini sangat menenangkan", apa selama ini dia suka mengintipku?, Terdengar seperti pedofil. Tapi kenapa harus aku?

"Eoh? Kakak cantik, kenapa ada disini?", Aku menoleh ke arah kiri dimana suara cempreng itu datang. Anak kecil yang kemarin. Kenapa dia ada disini?. Dia memiringkan kepalanya, terlihat bingung dengan sosok makhluk yang berada di samping ku mungkin.

"Pacar kakak?", Tanyanya dengan polos. Aku menggeleng kan kepala ku dengan pelan, dan dia kembali tersenyum dengan manis. Berjalan pelan kearah ku dan tanpa basa-basi dia langsung duduk di pangkuan ku.

Ada apa dengan orang-orang hari ini?

"Kakak lukanya sudah sembuh?", Dia menangkup wajahku. Menolehkan kepalanya ke sana kemari, memastikan lebam dan luka ku kemarin mungkin. Matanya melebar saat melihat luka yang ku dapat tadi pagi. laki-laki di samping ku juga terlihat penasaran.

"Apa kakak berkelahi lagi?, Kenapa kakak suka sekali berkelahi padahal kakak perempuan", Dia berucap. Matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis. Bagaimana ini, aku tidak tau caranya menenangkan orang apalagi anak kecil. Laki-laki tadi juga malah pergi tanpa berkata sepatah katapun.

tbc

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
8.9
Sepuluh tahun mengabdi dalam bayang-bayang, pengorbanan istri Daffa Prawirodirdjo hancur saat melihat suaminya pamer kebahagiaan dengan Leni, cinta lamanya. Puncaknya, Daffa tega menelantarkan Bintang yang terluka di hari ulang tahunnya demi membela putri Leni. Muak dengan pengkhianatan itu, sang istri membawa Bintang pergi dan memulai hidup baru sebagai seniman sukses. Saat Daffa kembali memohon ampun tiga tahun kemudian, pintu maaf telah tertutup selamanya.
Sampul Novel Akibat Cinta Semalam dengan CEO
9.7
Pasca mutasi ke kantor pusat, Jeanne terjerat skandal satu malam dengan CEO barunya tepat saat ia masih terikat hubungan asmara. Nasib malang kian memuncak ketika terungkap bahwa bos tersebut adalah Alan Rasya Purnama, sepupu dari mantan kekasihnya sendiri. Kini, Jeanne terjebak dalam situasi pelik karena Alan mendadak sangat terobsesi untuk menguasai seluruh aspek hidupnya, mulai dari raga hingga jiwanya, tanpa memberikan celah untuk Jeanne melarikan diri.
Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Bonekamu
8.3
Ariana terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Daniel Aldrigham demi wasiat ayahnya yang sakit. Daniel ternyata memiliki kekasih gelap, sementara ayah mertuanya sengaja memanfaatkan Ariana sebagai alat untuk memisahkan mereka. Di tengah pengkhianatan dan manipulasi keluarga kaya ini, Ariana harus memilih: menjadi boneka penurut atau berbalik melawan demi harga dirinya. Akankah ia berhasil menaklukkan hati Daniel yang dingin, atau justru hancur dalam permainan ini?
Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus
8.3
Kisah ini dirancang khusus bagi para pembaca yang pernah menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Namun, mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis pun tetap dipersilakan untuk menyelami alur ceritanya. Siapa yang tahu jika setelah membaca narasi ini, akan muncul sebuah perspektif baru atau perubahan minat terhadap lawan jenis. Nikmati jalinan romansa modern yang penuh gairah di tengah dunia mafia kampus yang menantang dan sangat memikat.
Sampul Novel Pengasuh Putraku Ternyata Ibu Kandungnya
8.2
Demi kesembuhan ibunya, Aera Jung Jun terpaksa menjadi ibu pengganti bagi putra Myung Dae Hyun saat baru berusia tujuh belas tahun. Keputusan berat ini diambilnya atas desakan Tuan Besar Hyun yang menjanjikan biaya pengobatan. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Aera melamar sebagai pengasuh anak di kediaman Dae Hyun. Tanpa disadari, bocah yang ia rawat adalah darah dagingnya sendiri. Akankah rahasia masa lalu ini terungkap di tengah romansa mereka?
Sampul Novel Pertama dan Terakhir
9.4
Nafchi hanyalah siswa SMA biasa yang menyimpan kenangan masa lalu tentang seorang gadis berambut abu-abu. Dahulu mereka adalah teman sekelas saat SMP, namun situasi internal memaksa keduanya untuk berpisah. Takdir mempertemukan mereka kembali di bangku SMA, tetapi gadis itu kini sama sekali tidak mengenali Nafchi. Di tengah perubahan ini, Nafchi berjuang keras untuk memulihkan ingatan sang gadis. Akankah usahanya membuahkan hasil yang manis?