
MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
Bab 2
“Iya.”
“Tapi ... bukankah harusnya kamu itu ....”
“Kenapa kamu terkejut sekali? Apa kamu sudah membayangkan yang tidak-tidak tentang aku?” tanya wanita itu.
Zio seperti terpaku. Karena yang ada di hadapannya saat ini bukanlah wanita tua dan jelek seperti dalam benaknya. Wanita di depannya justru sangat cantik dan masih muda.
Wanita cantik dengan dress hitam yang seksi itu berjalan semakin dekat ke arah Zio. Tatapannya begitu erotis dan menggoda.
“Perkenalkan, aku Evelyn!”
Zio masih tak mengedip menatapnya. Ia terdiam dengan lidah yang kelu.
“Hallo! apa kamu mendengar aku?” Evelyn melambaikan tangan di depan wajah Zio yang mulutnya terbuka.
“Eh, i-iya. Aku ... Zio. Zionathan.” Zio mengulurkan tangan, ia mendadak gugup.
Evelyn tersenyum dan berkata. “Ya, aku kan sudah tau nama kamu.”
“Jadi gimana, kamu bersedia melakukannya denganku?” Evelyn tanpa ragu mengalungkan tangannya di leher Zio.
Zio merinding sendiri merasakan sentuhan itu. Degup jantungnya berdetak lebih cepat. Wanita di hadapannya sungguh sangat cantik dan menggoda.
“Bagaimana dengan bayarannya?” Zio berusaha tetap pada kewarasannya. Terlebih pada tujuannya untuk mendapatkan uang malam ini.
Wanita bernama Evelyn itu tersenyum manis dan berkata, “Aku hampir lupa. Kalau kita belum membuat kesepakatan baru. Aku terlanjur terpana melihat kamu sedekat ini, Zio.”
Zio pun tersenyum tipis. Sudut bibirnya pun terlihat bergetar.
“Apa yang biasanya kamu lakukan pertama kali dengan pacarmu di kamar seperti ini?” Evelyn kembali bersuara. Melontarkan pertanyaan yang agak aneh menurut Zio.
“Aku tidak pernah melakukannya. Dan, aku tidak punya pacar.” Zio berujar serius dan lugas.
Evelyn mengangkat kedua alis. Sedetik berikutnya ia tertawa lepas. “Sungguh? Kamu tidak pernah melakukannya?”
Zio hanya mengangguk kecil dan terus menatap lurus wanita cantik di depannya itu.
“Kamu polos sekali. Tapi wajahmu terkesan seperti pemain kelas kakap. Mau aku ajari cara bermainnya?” Evelyn kembali meledeknya. Namun, bukan tanpa alasan dia mengatakan hal itu. Karena memang wajah Zio terlihat sangat tampan dan menggoda, hanya saja Zio bukan lelaki liar seperti yang Evelyn bayangkan.
Sial. Aku dikatai player. Zio menggerutu sendiri dalam hati. “Iya. Para gadis memang sering mengatakan itu padaku. Tapi aku juga tidak terlalu bodoh soal itu!”
“Wow. Sudah aku duga, fans wanitamu pasti banyak. Aku senang sekali karena sudah mendapatkan kesempatan besar ini untuk bisa menikmati malam bersamamu, Zio.” Evelyn tersenyum sensual.
Zio pun tersenyum manis dan berkata, “Aku juga tidak menyangka, ternyata kamu lebih muda dan cantik dari yang aku bayangkan.”
“Jangan katakan kalau kamu membayangkan aku seperti tante-tante girang kesepian?” kekeh Evelyn, membuat Zio pun menunduk dan menyembunyikan tawanya.
“Dugaanmu benar. Karena … informasi yang aku dapatkan memang begitu.” Zio tertawa getir.
“Oh ya? Apa kamu sudah memasang peraturan dalam bermain nanti?” tanya Evelyn sembari berjalan menuju meja dan menuangkan sebuah wine.
“Peraturan? Aku malah baru tahu kalau harus membuat peraturan.” Zio mengernyitkan dahi.
Evelyn meneguk segelas wine dan tersenyum lebar menatap betapa lugunya lelaki yang ia pesan malam ini.
“Baiklah. Kalau kamu tidak punya peraturan, biar aku saja yang memberimu peraturan. Malam ini, aku tidak ingin menggunakan pengaman apa pun!” seru Evelyn dengan serius.
Zio mengangkat wajah dan menatap serius pada Evelyn. “Bagaimana jika kamu hamil?”
Evelyn tertawa kecil. “Pikiranmu cukup jauh juga ya, handsome!”
“Karena tugasku hanya malam ini saja. Aku tidak mau meninggalkan jejak apa pun!” balas Zio. Itu membuat Evelyn malah semakin tertarik padanya.
Evelyn kembali melangkah ke arah Zio yang masih mematung di dekat jendela kaca besar, yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota dari lantai 5 hotel berbintang itu. Evelyn memberikan wine dalam gelas untuk dinikmati juga oleh Zio.
“Kamu sangat membutuhkan uang bukan?” tanya Evelyn yang bersandar santai di sofa dekat jendela.
Zio menatap minuman merah dalam gelasnya. Ekspresinya datar dan teringat dengan masalah hidupnya.
“Ya. Jadi, bagaimana dengan bayarannya? Kita belum membahas hal itu.”
“Berapa yang sedang kamu butuhkan?” tanya Evelyn dengan santai.
Zio terdiam. Apa harus dia mengatakan jumlah yang sedang ia butuhkan? tentu saja sangat banyak. Hatinya mendadak resah, cemas kalau saja permintaannya tak dapat dikabulkan. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya.
“Lima belas ribu dollar.” Zio menatap jauh dan kosong. Ia benar-benar sudah pasrah dan lelah. Pantas saja para penagih hutang itu gencar sekali mengejarnya, karena hutang yang harus dibayarkan cukup besar. Hutangnya setara dengan hampir tiga ratus juta rupiah.
Sebenarnya jumlah segitu adalah akumulasi dari seluruh kebutuhan yang mendesak hidupnya. Hutang sang ayah, hutang pada atasan, juga biaya pengobatan ibunya di rumah sakit. Sekaligus biaya untuknya melanjutkan kuliah yang tinggal setahap lagi.
“Woah. Itu hampir 10 kali lipat dari imbalanmu malam ini. Harga yang sangat mahal untuk aku bayar. Tapi, apakah lelaki seperti kamu layak untuk mendapatkan sebanyak itu?” tantang Evelyn.
“Aku bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan.” Zio berujar santai tapi serius. Baginya sudah menyetujui hal ini saja berarti ia sudah berani mengambil resiko yang lebih jauh. Soal harga diri itu di nomor sekian. Yang penting harga yang akan ia terima bisa segera menyelesaikan problematika hidupnya.
Evelyn tersenyum tipis dan menatap lamat pria tampan itu. Ekspresinya mendadak iba. Lalu ia berjalan dan semakin dekat dengan Zio. “Aku bisa membayarmu lebih dari yang kamu butuhkan. Asalkan satu syarat ini dapat kamu penuhi dengan baik. Yaitu, hamili aku!”
Zio menoleh cepat dan sangat terkejut mendengarnya. Dia malah merasa salah mendengar. Suatu hal yang aneh menurutnya. Atau, wanita ini gila?
Next ...
Anda Mungkin Juga Suka





