
MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
Bab 3
“Ha-hamili kamu? Apa maksudnya?” Zio terheran.
“Ya. Aku mau malam ini kita mulai melakukannya. Aku bisa memberimu berkali-kali lipat dari yang kamu butuhkan, asalkan kamu bisa membuat aku hamil!” Ekspresi wajah Evelyn terlihat sangat serius.
Zio menelan ludah, masih tak habis pikir dengan permintaan Evelyn padanya.
“Oh my god. Aku akan menghamilimu, tapi setelah itu bagaimana kelanjutannya? Ah, maksudku, punya anak itu bukan hal yang mudah. Apa kamu akan meminta pertanggung jawaban juga dariku atau bagaimana?” Zio tampak tegang.
“Itu akan menjadi urusanku. Sekarang katakan, apa kamu bersedia menghamiliku?” tanya Evelyn dengan tatapan lurus.
“Kalau kamu ingin hamil, kenapa tidak menikah saja? Untuk apa malah membayar lelaki seperti aku?” Zio mulai menganalisis. Ia tidak mau dijebak atau bahkan dipermainkan.
Evelyn masih terlihat santai tapi serius. Dia melangkah menuju pembaringan dan duduk di sana sambil melipat kaki jenjangnya, hingga memperlihatkan bagian paha yang tampak putih dan mulus.
“Lakukan sekarang. Atau aku akan berubah pikiran karena kamu terlalu banyak tanya dan berpikir!” kata Evelyn yang tampaknya tak senang jika Zio terlalu banyak mempertimbangkan.
“Tapi ....” Zio jadi bingung sendiri. Di lain sisi ia sedang membutuhkan, di sisi yang lain ia takut malah akan dipermainkan.
‘Tapi wanita itu kan kaya raya, untuk apa aku takut dipermainkan olehnya, harusnya kalau aku berhasil mewujudkan keinginannya aku bisa memeras dia lebih banyak!’
“Kamu mau atau tidak, Zio? Jangan membuatku menunggu terlalu lama!” Evelyn semakin serius.
“Ba-baiklah. Aku ... akan melakukannya!” Zio menarik napas dalam dan membunuh segala rasa gugup dan gelisahnya.
Menatap baik-baik wanita cantik yang sudah bersiap di atas pembaringan bertabur kelopak mawar itu. Sangat cantik dan manis. Hasrat Zio mengatakan sangat disayangkan jika ia melewatkan kesempatan yang indah ini.
Harusnya Zio senang, karena malam ini ia akan meniduri wanita cantik dan masih muda, bukan wanita tua dan peot seperti yang ia takutkan. Ini akan menjadi pengalaman pertama yang sangat mengesankan.
Evelyn tersenyum puas dan mengulurkan satu tangan pada Zio. Pria itu melangkah seraya melepas kancing kemeja yang masih menempel. Zio pun memasang senyuman erotis khas miliknya jika tengah menebar pesona.
“Tapi, apakah kamu memiliki penyakit berbahaya?” Mendadak Zio merasa takut. Itu membuat Evelyn memutar bola mata.
“Kamu terlalu banyak bicara! Memangnya aku akan tidur dengan sembarang orang!” Evelyn berdecak lidah.
“Maaf.”
“Kemarilah. Jangan buat aku berubah pikiran!” Evelyn mengulurkan tangan.
Zio pun mendekat. Rasanya ada yang aura yang berbeda jika menatap Evelyn. Namun, entah apa, Zio tidak mengerti. Kecantikan Evelyn seperti mengalihkan dunianya.
Tangan mereka saling bertaut saat ini. Tubuh keduanya semakin dekat seiring gejolak hasrat yang meningkat. Rasanya ini bukan sedang menjual diri atau membeli jasa pemuas nafsu, melainkan seperti kedua insan yang dimabuk cinta dan siap memantik api gairah.
Evelyn menjelajah wajah tampan Zio, membelainya dengan lembut hingga pria itu menggeliat dan mengecup telapak tangannya.
Ada sengatan yang menjalar cepat ke tubuh mereka. Seperti dua insan yang baru pertama kali saling menjamah.
“Kamu tampan sekali. Anak-anakku nanti pasti akan seperti dirimu.” Evelyn tersenyum. Kata-kata itu seolah ucapan seorang istri pada suaminya. Zio melihat embun di mata Evelyn.
Zio tersentuh mendengarnya. “Aku akan berikan anak yang banyak padamu.” Dia tersenyum penuh percaya diri. Spontan mengatakan demikian.
Beberapa detik berikutnya, Zio menghempaskan seluruh pakaiannya ke lantai. Menyisakan tubuhnya yang atletis dan seksi untuk diberikan pada Evelyn.
Wanita cantik itu membulatkan matanya saat melihat kebanggaan sang pria yang berdiri tegak dan menantang. Ukurannya cukup menggiurkan sesuai ekspektasi Evelyn.
“Apa kamu suka dengan milikku ini, hem?” Zio mengusap-usap bagian intinya seolah memamerkannya pada Evelyn.
Evelyn tersenyum lebar dan menarik tubuh Zio sehingga mereka saling menempel saat ini.
Bibir mereka saling bertaut. Berawal dengan gerakan perlahan lalu kini menjadi lumatan dan lidah mereka saling bertemu untuk terus bermain lincah satu sama lain. Hawa panas mulai dirasakan keduanya.
“Bantu aku lepaskan ini semua!” Evelyn melepas dress hitamnya dibantu oleh Zio.
Pria itu pun menelan ludah lagi saat dapat melihat dengan jelas dan dekat bagaimana indahnya kemolekan tubuh Evelyn. Dada bulat dan menantang itu membuat Zio tak sabar ingin melahapnya.
“Ayo, puaskan aku!” Evelyn mendesah merdu sembari telentang di bawah kungkungan Zio.
Permainan panas mereka sudah dimulai dan berjalan mulus. Zio dengan penuh gairah melahap gundakan bulat milik Evelyn yang sangat kencang dan kenyal. Sementara satu tangan wanita itu pun tanpa ragu bermain di bagian kebanggaan milik Zio.
Beberapa menit berlalu, hingga tiba keduanya sudah sama-sama tak bisa menahan lagi. Zio membuka kaki Evelyn untuk memberikan akses pada dirinya. Lalu dengan perlahan Zio mengarahkan dan menyatukan miliknya ke dalam milik Evelyn seiring rengkuhan yang semakin intens mereka rasakan.
Zio dapat merasakan penyatuan untuk pertama kalinya. Ini sangat nikmat baginya.
“Kenapa enak sekali rasanya. Milikmu masih sangat sempit. Apa kamu masih perawan?” Zio meracau karena saking nikmatnya. Dalam pikirannya, harusnya wanita seperti Evelyn sudah sering melakukan itu dan mungkin miliknya akan lebih longgar dan tak senikmat yang saat ini ia rasakan.
‘Aneh. Dia tampak meringis kesakitan. Harusnya dia sudah terbiasa dengan ini semua. Tapi … aku malah seperti memperawani seorang gadis.’ Zio hanya bisa berkomentar dalam hati.
Next...
Anda Mungkin Juga Suka





