
Mermaid For The CEO
Bab 2
Suara dentingan gelas beradu terdengar dalam ruangan Johnny. Saat ini pria itu tengah bersama Thea merayakan kepergian Cassie dengan segelas sampanye. Bibir Thea menyunggingkan senyuman lebar. Sudah lama dia ingin menyingkirkan Cassie. Dan sekarang dia mendapatkan kesempatan itu. Perasaannya sungguh sangat bahagia.
Setelah menyesap cairan kuning bening itu, mereka meletakkan gelas itu di atas meja. Johnny mengalihkan perhatiannya pada wanita bertubuh molek di sampingnya. Tangannya terulur menyentuh leher jenjang Thea. Bergerak turun menuju bahu wanita itu. Gerakan yang lembut membuat Thea memejamkan matanya. Nafasnya sedikit tersengal saat gairah menyerbu dirinya.
“Apa kamu sungguh tidak merasa sedih sudah kehilangan model seperti Cassie, Johnny sayang?” tanya Thea tanpa membuka matanya.
“Untuk apa aku sedih pada model yang tidak berarti seperti Cassie. Lagipula aku memilikimu. Kamu tidak akan meninggalkan aku, ‘kan?”
Thea membuka matanya. Kedua tangannya melingkar di leher Johnny. “Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Bukankah ini alasan kita bersama sekarang, Sayangku? Kita saling mencintai.”
Johnny mendorong tubuh Thea hingga wanita itu terbaring di atas sofa yang lebar itu. “Kamu benar. Kita saling mencintai. Karena itu aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayangku.”
“Johnny, apakah menurutmu membuang Cassie ke pelelangan ilegal tidak akan membuat dia kembali?” Thea masih cemas jika saja model yang menjadi saingannya bisa kembali lagi ke dunia hiburan dan mengacaukan karirnya.
Pria itu memilin beberapa helai rambut Thea di jari telunjuknya. “Itu tidak mungkin terjadi, Thea. Apa kamu tidak tahu apa yang terjadi pada seorang wanita yang dijual di pelelangan ilegal?”
Thea menggelengkan kepalanya. “Karena aku belum pernah ke pelelangan ilegal, jadi aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dijual ke sana.”
“Wanita yang akan dijual ke sana hanya akan dibeli oleh orang-orang yang menginginkan wanita itu untuk menjadi budak seksnya. Karena itu ketika Cassie menjadi budak seks seseorang, dia tidak akan memiliki muka untuk tampil di dunia hiburan lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Sayangku. Aku akan membuatmu bersinar lebih dari sekarang.”
Bibir Thea menyunggingkan senyuman. “Kamu yang terbaik, Johnny. Aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Sayangku. Dan sekarang biarkan aku menikmati tubuhmu. Aku merindukan tubuh indahmu ini.” Jari telunjuk Johnny menyusuri tulang selangka gadis itu hingga turun menuju belahan dada Thea yang indah.
Tubuh Thea bergetar karena tindakan sang kekasih. Dia bahkan tak mampu menahan desahan yang keluar dari mulutnya.
“Aku juga merindukanmu, Johnny. Puaskan aku, Sayangku.” Ucap Thea dengan nada yang sangat menggoda.
Kedua sudut bibir Johnny terangkat membentuk senyuman lebar. “Dengan senang hati, Thea. Aku akan memuaskan tubuh dan hasratmu. Mendesahlah yang keras, Sayangku.”
Johnny menunduk untuk menyatukan bibir mereka. Tidak peduli apapun yang terjadi sebelumnya, mereka menikmati sisa malam itu dengan percintaan panas di ruang kantornya.
***
“Hmm..” Cassie mengerang saat merasakan tubuhnya tidak nyaman. Tidak hanya merasakan panas menjalar di tubuhnya, tapi dia seperti merasa sedang dibakar di atas tungku yang mendidih.
Perlahan Cassie membuka matanya. Dia melihat jendela mobil yang melaju melintasi kota Burbank, California. Wanita dengan kulit putih pucat itu berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun kepalanya terasa begitu sakit membuat Cassie menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut. Seperti ada berbagai batu dilempar ke kepalanya.
“Kamu baik-baik saja, Belleza mia?”
Suara itu membuat Cassie menoleh. Dia bisa melihat seorang pria tampan duduk di sampingnya. Rambut segelap langit malam itu tersisir rapi membingkai wajahnya berbentuk diamond. Juga ada cambang tipis di sekitar mulutnya yang membuat pria itu terlihat semakin macho.
Selama ini Cassie terlalu dibutakan oleh Johnny sehingga sekarang untuk pertama kalinya wanita itu merasa pria yang duduk di sampingnya berkali lipat lebih tampan dari pria brengsek yang telah menjualnya.
“Kamu siapa?” tanya Isabelle lemah.
“Kau tidak ingat aku?” Suara pria itu begitu dalam tapi menenangkan.
Cassie tidak bisa mengingatnya. Dia terlalu terganggu dengan reaksi tubuhnya.
“Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu. Apakah pendingin ruangannya mati, Tuan? Mengapa rasanya panas di sini?” Cassie melepaskan jas Reynard yang disampirkan di kedua bahunya.
Tubuh Reynard menegang. Bahkan pria itu mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Cassie. Karena pria itu yakin dirinya tidak akan bisa menahan dirinya jika dia menyentuh wanita itu sedikit saja.
“Tahanlah, Belleza mia. Sebentar lagi kita akan sampai di rumahku. Jonas, lebih cepat mengemudinya.” Perintah Reynard.
“Baik, Tuan Wycliff.” Jonas menganggukkan kepalanya dan mempercepat laju mobil itu.
Cassie yang tak mampu menahan rasa panas di tubuhnya, merangkak mendekati pria itu. Dengan berani wanita itu melompat di pangkuan Renard. Cassie mendaratkan bibirnya di atas bibir Reynard. Menciumnya dengan kerakusan yang tak pernah dilakukannya.
Reynard memegang kedua bahu Cassie dan mendorong wanita itu untuk melepaskan ciumannya. “Apa kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan, Belleza mia?”
“Aku tahu. Aku baru saja menciummu.”
“Menciumku? Benar-benar sangat buruk. Aku akan mengajarimu bagaimana berciuman yang sebenarnya. Jonas sebaiknya kamu tidak melihat ke belakang.” Ancam Reynard.
Jonas menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak akan, Tuan Wycliff. Aku tidak mendengarkan atau melihat apapun di belakang.”
Setelah puas mendengar jawaban Jonas, tangan Reynard meraih tengkuk Cassie. “Kamu akan merasakan ciuman yang sebenarnya, Belleza mia.”
Reynard menarik tengkuk wanita itu dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan apa yang Cassie lakukan. Reynard tidak hanya mendaratkan bibirnya, tapi dia juga melumat bibir wanita itu dengan begitu lembut. Kemudian lidahnya membelai bibir Cassie membuat tubuh wanita itu bergetar merasakannya. Hingga akhirnya Cassie membuka mulutnya membiarkan lidah Reynard menyusup ke dalam. Lidah mereka saling bertaut membuat ciuman itu semakin dalam.
Cassie mengerang ketika tangan Reynard menangkup payudaranya dan meremasnya lembut. Tubuhnya bergetar bereaksi dengan sentuhan tangan Reynard. Membuat tubuhnya semakin panas dan ingin meledak. Kedua tangan Cassie menyentuh kerah kemeja pria itu sebelum akhirnya berhenti di kancing kemeja pria itu. Namun saat tangannya hendak membuka kancing teratas, Reynard menahan tangan wanita itu.
“Kamu harus bersabar, Belleza mia. Kamu akan memiliki kesempatan untuk membukanya setelah kita sampai di kamarku.”
Cassie mengerang protes. Tapi kemudian terdengar suara Jonas terbatuk sehingga menghentikan kegiatan pemanasan mereka.
“Maaf, Tuan Wycliff. Tapi kita sudah sampai.” Ucap Jonas berusaha untuk tidak melihat ke belakang.
“Terimakasih, Jonas. Sampai jumpa besok.”
Reynard mengambil jas miliknya dan menyampirkannya kembali ke bahu Cassie. Pria itu keluar dari mobil dengan menggendong Cassie di kedua tangannya. Dia berjalan menuju mansion besar milik pria itu. Cassie memperhatikan beberapa pelayan yang menunduk saat melihat kedatangan Reynard.
“Tuan, apakah kamu memiliki air?” tanya Cassie mendongak untuk mengagumi wajah tampan Reynard.
“Aku akan menyuruh pelayan membawakan air minum.”
Cassie menggelengkan kepalanya. “Bukan air minum, Tuan. Maksudku air dalam jumlah yang banyak. Seperti kolam renang, danau atau apapun.”
“Apa kamu terlalu haus, Belleza mia?” Reynard memicingkan matanya menatap mata hijau Cassie yang indah.
“Aku memerlukan air bukan untuk minum, Tuan. Tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan panas di tubuhku. Kumohon, Tuan. Aku membutuhkan air.” Suara Cassie terdengar putus asa.
“Aku akan membawamu ke kolam renang.”
“Bisakah kamu mengusir semua orang agar tidak mendekati kolam renang, Tuan?” pinta Cassie kembali.
“Bukankah kamu terlalu banyak meminta, Belleza mia.”
“Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membalas kebaikanmu, Tuan.” Janji Cassie.
Langkah Reynard terhenti. Pria itu menunduk melihat wanita dalam gendongannya yang menatapnya penuh harap.
“Jangan pernah mengatakan hal seperti itu pada pria lain, Belleza mia. Kamu hanya boleh mengatakan kalimat seperti itu padaku.”
Cassie menganggukkan kepalanya. “Aku berjanji tidak akan mengatakan kalimat itu pada pria lain.”
Bibir Reynard menyunggingkan senyuman puas. Dia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya berdiri bersama beberapa pelayan lain.
“Kepala pelayan Clarence, tutup semua pintu dan jendela yang mengarah ke kolam renang. Dan jangan biarkan siapapun masuk area kolam renang. Atau bahkan mengintipnya. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang melanggar perintahku.” Ucap Reynard dengan begitu tegas.
Pria dengan setelan hitam itu menganggukkan kepalanya. “Baik, Tuan Wycliff.”
Reynard kembali melanjutkan langkahnya menuju area kolam renang yang berada di belakang rumah. Kolam renang tertutup itu sangatlah besar. Bahkan ada jacuzzi berbentuk lingkaran yang ada di dekat kolam renang. Setelah kepala pelayan Clarence menjalankan perintahnya, Reynard mulai menendang lepas sepatunya sebelum akhirnya berjalan menuju kolam renang. Dia bisa merasakan Cassie bergerak gelisah di atas tangannya. Bahkan Reynard mendengar erangan wanita itu.
“Bertahanlah, Belleza mia.” Reynard perlahan menuruni tangga masuk dalam kolam renang. Membiarkan air membasahi celananya. Hingga langkahnya berhenti saat setengah tubuhnya terendam air. Namun saat melihat wanita itu ada sesuatu yang membuat pria itu terkejut.
***
Anda Mungkin Juga Suka





