
Merebut Hati Mantan Istri Kembali
Bab 3
Faktanya, Jaya memperalat Devina untuk memenangkan proyek-proyek pekerjaannya atas persetujuan keluarga Salam, sementara Devina memperalat Jaya untuk melarikan diri dari keluarga Salam. Mungkin pernikahan mereka berdua hanyalah sebatas hubungan saling memberi dan saling menerima.
Devina yang sedang gusar tidak melihat seseorang bergegas menghampirinya dan menyambar tasnya, sampai akhirnya dia tersadar. Devina tercengang dengan aksi kejahatan yang melintas tepat di depan matanya, tetapi dengan cepat dia bereaksi mengejar perampok itu melalui jalan-jalan yang ramai!
"Hentikan pria itu! Dia merampas tasku!" teriak Devina, berharap ada seseorang yang akan menolongnya. Terlepas dari apa yang dia kenakan, baru kali ini di dalam hidupnya Devina mengejar seorang perampok. Sayangnya, Devina lupa satu ciri khas penting tentang tempat ini. Di sini, orang-orang individualistis dan tidak berperasaan. Jadi, tidak ada yang mau repot-repot datang untuk menolongnya. Beberapa orang bahkan hanya menyiulinya saja.
"Hei! Berhenti!" Devina berteriak. Napasnya terengah-engah saat dia berbelok ke tepi dalam pengejarannya. Jalan ini jauh lebih sepi dibanding dengan jalan yang dia lalui beberapa saat lalu, dan lebih sedikit orang yang lewat. Dia berpikir, 'Sepertinya hari ini adalah hari di mana aku kehilangan tasku dan semua isinya.'
Saat hendak menyerah dalam pengejarannya, sebuah mobil balap merah meluncur melewati Devina dengan ban panasnya dan melintas dengan akurat untuk menghentikan pencuri itu agar tidak kabur. Pencuri yang berlari untuk menghindar itu jatuh ke tanah dengan keras.
Devina mungkin terlihat seperti kuda yang kelelahan, tetapi dia bergegas melepas sepatu hak desainernya dan menghampiri pencuri itu telanjang kaki. Devina merampas tasnya kembali dan melemparnya ke samping. Kemudian Devina menginjak perampok yang sedang kesakitan itu sekeras yang dia bisa. Devina berkata, "Beraninya kamu mencuri tasku!"
Devina sangat marah saat ini. Dia meraih sepatu hak tingginya dan membenturkannya dengan keras ke kepala pencuri itu. Ketika selesai memukuli pencuri itu, dia berdiri tegak dan terengah-engah. Dia tiba-tiba teringat dengan pengemudi yang sudah menolongnya pada saat kesulitan tadi. Dia berpikir bahwa dia harus berterima kasih pada pengemudi itu atas kebaikannya.
Devina mendongakkan kepalanya, dan segera dikejutkan oleh sepasang mata tampan yang berseri-seri ke arahnya. Pria itu tersenyum menatapnya sambil bersandar di mobil. Matanya lembut, dan rahang maskulinnya memiliki garis bentuk yang paling sempurna. Bahkan wanita cantik seperti Devina tidak dapat dibandingkan dengan pesona luar biasa pria ini.
"Ah, terima kasih atas pertolonganmu," ucap Devina. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa lagi selain mengungkapkan rasa terima kasihnya saat berdiri tegak dengan memegang sepatu hak tingginya dan melirik pria menarik yang ada di hadapannya.
"Sama-sama, cantik. Aku tidak akan mengambil pujian untuk itu karena ini semua adalah kegigihanmu mengalahkan pencuri ini," jawab pria itu. Lalu pria itu mengambil tas di tanah dan menyerahkannya kepada Devina. Melihat sepatu di tangan Devina, pria itu menyeringai mengejek, "Kamu tidak tahu bagaimana cara merawat dirimu sendiri, ya?"
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan kasihan, kemudian dia mengambil sepasang sepatu hak dari tangan Devina. Pria itu berjongkok dengan satu lutut dan dengan lembut membersihkan solnya sebelum menyelipkan sepatu kembali ke kaki Devina. Kemudian dia mengulangi kesopanan yang sama dengan kaki yang satunya, dan gerakannya tampak begitu mulia dan fasih seolah-olah dia sedang mendandani kakinya sendiri.
Devina ketakutan oleh tindakan insting pria itu dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Dia merasa seperti hewan peliharaan di tangan Jaya, tetapi pria ini membuatnya merasa seperti mangsa. Jauh di dalam lubuk hatinya, Devina berada dalam kepanikan yang histeris saat tindakan sopan itu terjadi. Ini adalah pertama kalinya dia bersikap seperti ini di depan orang asing.
"Kamu…"
Sayangnya, Devina menyerah pada kegelisahannya yang menyiksa. Dia tidak tahu siapa pria ini dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dengan cepat Devina meraih tasnya, menggigit bibir bawahnya yang montok, dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu, tetapi entah bagaimana dia tidak bisa. Kakinya seperti tertanam di tanah, dan dia tidak bisa menggerakkan satu otot pun.
Anda Mungkin Juga Suka





