
Menyukai Dosen karena Truth or Dare Gila
Bab 3
Malam itu, Raina duduk termenung di kamarnya. Buku Pride and Prejudice tergeletak di meja, tapi pikirannya jauh dari cerita yang baru saja ia baca. Ia memutar kembali percakapannya dengan Pak Andra di perpustakaan. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu-sesuatu yang membuatnya merasa seperti tengah berjalan di atas garis tipis antara keberhasilan dan kehancuran.
"Apa aku benar-benar melakukan ini cuma untuk permainan?" gumamnya pelan.
Siska, yang sedang duduk di lantai sambil menonton serial drama, menoleh. "Apa yang kamu omongin, Rai? Jangan bilang kamu mulai baper."
"Enggak kok," bantah Raina cepat. Tapi nada suaranya tidak meyakinkan, bahkan untuk dirinya sendiri.
Siska mendengus. "Serius deh, ini cuma game. Jangan terlalu bawa perasaan. Kalau sampai baper, kamu sendiri yang bakal repot."
Raina mengangguk, tapi hatinya masih bimbang.
Pertemuan Tak Terduga
Keesokan harinya, Raina sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara familiar memanggil namanya.
"Raina!"
Ia menoleh dan melihat Andra berdiri di dekat taman kampus, dengan ekspresi serius seperti biasa. Raina mengerutkan kening. Tidak biasanya pria itu memanggilnya di luar kelas.
"Ya, Pak? Ada apa?" tanyanya sambil mendekat.
Andra menghela napas. "Saya mau bicara sebentar. Ada waktu?"
Raina mengangguk, meski rasa gugup mulai menjalar. Mereka duduk di salah satu bangku taman, dan Raina memperhatikan bagaimana Andra tampak sedikit canggung, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat.
"Apa kamu benar-benar suka membaca novel klasik, atau itu hanya alasan untuk mendekati saya?" tanyanya tiba-tiba.
Raina terkejut mendengar pertanyaan itu. "Kenapa Bapak berpikir begitu?"
Andra menatapnya tajam. "Karena kamu bukan tipe mahasiswa yang biasa saya lihat membaca hal seperti itu. Kamu lebih suka tertawa dengan teman-temanmu dan membuat keributan di kelas."
Raina terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tidak membuatnya terlihat salah. "Awalnya mungkin cuma alasan, Pak. Tapi setelah saya mulai membaca, saya benar-benar tertarik. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari cerita seperti itu."
Andra mengamati wajahnya dengan seksama, seolah mencari tanda kebohongan. Namun, akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau begitu, saya sarankan kamu membaca To Kill a Mockingbird setelah ini. Itu salah satu favorit saya."
Raina tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya akan mencarinya."
Strategi Baru
Setelah percakapan itu, Raina merasa sedikit lega. Ia berhasil menghindari kecurigaan Andra, setidaknya untuk sementara. Namun, ia tahu bahwa ia harus lebih berhati-hati ke depannya.
Malamnya, ia kembali berdiskusi dengan Siska dan Maya.
"Dia mulai curiga," kata Raina sambil menggigit kukunya.
"Ya ampun, Rai, kamu harus lebih pintar. Jangan terlalu obvious," kata Maya sambil melirik Siska.
Siska mengangguk. "Kamu harus main lebih halus. Jangan terlalu sering mendekatinya, biar dia nggak merasa terganggu. Tapi saat kamu mendekat, pastikan ada alasan kuat."
Raina mengangguk, mencatat dalam pikirannya. "Baiklah. Aku akan mulai dengan buku yang dia rekomendasikan. Kalau dia melihat aku benar-benar serius, mungkin dia akan lebih terbuka."
Pendekatan Berbeda
Selama beberapa minggu berikutnya, Raina mulai mengikuti saran Siska dan Maya. Ia tidak lagi terlalu sering muncul di depan Andra, tapi setiap kali mereka bertemu, ia selalu membawa bahan diskusi yang menarik.
"Pak, saya sudah selesai baca To Kill a Mockingbird," kata Raina suatu hari di akhir kelas.
Andra menatapnya dengan sedikit terkejut. "Benarkah? Bagaimana menurutmu?"
Raina tersenyum. "Saya suka sekali karakter Atticus Finch. Dia benar-benar contoh orang yang punya integritas tinggi."
Andra mengangguk, tampak terkesan. "Saya senang mendengar itu. Kebanyakan orang hanya fokus pada cerita utama, tapi kamu memperhatikan detail yang lebih dalam."
Raina merasa dadanya menghangat mendengar pujian itu. Ia tahu usahanya mulai membuahkan hasil.
Rintangan Baru
Namun, perjalanan Raina tidak selalu mulus. Suatu hari, ia mendengar gosip di kantin tentang Andra.
"Kamu tahu nggak? Pak Andra itu sebenarnya sudah tunangan," bisik seorang mahasiswa kepada temannya.
Raina yang duduk di meja sebelah hampir tersedak mendengar itu. Ia mencoba menenangkan dirinya, lalu berpura-pura tidak peduli.
"Serius? Kok aku nggak pernah dengar?" tanya temannya.
"Iya, katanya tunangannya kerja di luar kota. Makanya mereka jarang kelihatan bareng."
Raina merasa dunianya runtuh. Jika gosip itu benar, maka semua usahanya akan sia-sia. Namun, ia menolak menyerah begitu saja.
Malam itu, ia menceritakan semuanya kepada Siska dan Maya.
"Kalau dia benar-benar tunangan, apa aku harus berhenti?" tanya Raina dengan suara bergetar.
Maya menghela napas. "Rai, kamu harus pikirin ini baik-baik. Kalau kamu terus maju, kamu bisa terluka."
"Tapi aku sudah sejauh ini," bantah Raina. "Aku nggak bisa mundur sekarang."
Siska menggenggam tangan Raina. "Kalau kamu yakin, kami akan mendukungmu. Tapi kamu harus siap menghadapi konsekuensinya."
Raina mengangguk. "Aku akan cari tahu kebenarannya. Kalau dia benar-benar tunangan, aku akan berhenti. Tapi kalau tidak, aku akan terus berjuang."
Pencarian Jawaban
Raina mulai mencari cara untuk menggali lebih banyak informasi tentang kehidupan pribadi Andra. Ia bertanya kepada teman-teman sekelasnya, mencoba mendengar gosip di lingkungan kampus, bahkan diam-diam mengikuti Andra pulang beberapa kali.
Hingga suatu hari, ia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan rumah Andra. Wanita itu terlihat berbicara akrab dengan pria itu, bahkan sempat tertawa bersama.
Raina merasa hatinya mencelos. Apakah itu tunangannya? Atau hanya teman biasa?
Namun, sebelum ia sempat menarik kesimpulan, wanita itu tiba-tiba berbalik dan pergi. Andra tampak memandangi punggungnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu masuk ke rumahnya tanpa mengatakan apa-apa.
Raina tahu bahwa ia harus mencari tahu lebih banyak. Tapi bagaimana caranya?
Anda Mungkin Juga Suka





