Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menjadi Ibu Susu

Menjadi Ibu Susu

Viona, seorang wanita yang terjebak dalam dunia prostitusi dengan nama panggung Ros, mendapati hidupnya berubah drastis secara tidak terduga. Ia mengemban tanggung jawab sebagai ibu susu bagi bayi piatu bernama Melati. Di tengah tugas barunya itu, Viona dihadapkan pada tantangan emosional yang sulit. Ia harus berjuang menjalankan perannya dengan profesional sembari berusaha keras menahan perasaan yang mulai tumbuh terhadap ayah kandung Melati.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rosmala atau biasa dipanggil Viona pamit ke kamar mandi.

"Sorry Jek, gua ke belakang dulu y," katanya sambil berpura-pura menutup dadanya yang basah oleh asi dengan tissu.

Kojek mengganguk sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah teman semasa putih abu-abunya itu.

****

Di lain tempat di sebuah minimalis seorang bayi masih dengan sedihnya menangis kencang, "oeekk...ooeekk..," bayi Melati menangis kencang hingga wajahnya memerah. Riswan dengan sigap bangun dari tidurnya begitu juga dengan Bik Momo.

"Ya Allah nak, kenapa?" tanya Riswan kebingungan sambil mengangkat bayi Melati dari boxnya.

Bik Momo dengan sigap menghangatkan asi yang disimpan di freezer lalu memberikannya kepada Riswan. Tidak lama berselang, bayi Melati pun tertidur pulas di pangkuan ayahnya.

"Bik, tidur aja deh biar saya yang menjaga Melati," kata Riswan

"Bener Pak, ga papa?" tanya Bik Momo ragu.

"Iya saya ga papa, Melati juga sudah tidur," jawab Riswan sambil memperhatikan wajah Melati yang sangat mirip dengan ibunya.

Mata Riswan kembali berkaca-kaca. Lintasan kisah semasa almarhum istrinya masih ada, mengisi ruang kosong pikirannya. Ah, betapa ia merindukan Annisa, almarhum istrinya. Sambil meletakkan Melati berbaring terlungkup di dadanya. Riswan pun ikut memejamkan mata. Mencoba menikmati takdir yang sudah Allah gariskan padanya.

****

Sabtu pagi, Bik Momo asik memandikan bayi Melati di dalam bak mandi bayi bewarna merah muda. Sedangkan Riswan tengah menikmati nasi goreng dan secangkir teh hangat ditemani gadgetnya.

Trriiing...trriing...

Suara panggilan dari ponsel Riswan berbunyi. Lelaki itu menyipitkan kedua matanya untuk melihat siapakah yang sudah meneleponnya pagi-pagi seperti ini.

Cello

"Hallo bro, wahh pa kabar nih? tumben kontak gue."

"Sehat dong gue, makanya gue telpon lu."

"Nanti malam ngopi yuk, di club Ferrari yang waktu itu."

"Wah, sorry bro bayi gue ga bisa ditinggal."

"Ah payah lo! sebentar doang, kita bukan ke area party kok, kita ngopi-ngopi aja di coffeshopnya"

"Gak bakalan dah, gue sodorin lu ke ciwi-ciwi seksi di sana. Hehehehe..."

Riswan diam sejenak, "Hhmm... sepertinya aku memang perlu refreshing sedikit ngumpul sama teman," bisik Riswan dalam hati.

"Oke deh tapi ga lama ya bro, bayi gua masih suka nangis tengah malam."

"Iyaa gua janji dah jam 12 udah selesai. "

Hari sabtu seperti ini Riswan main dengan bayi Melati, karena waktu bangunnya lebih banyak di malam hari dari pada siang hari. Bayi Melati sering tidur di siang sampai sore hari, bahkan sampai magrib tiba.

****

"Yaahh...lumayan deh tiga kantong," gumam Viona sambil merapikan kancing kemejanya. Asi yang sudah ia tampung, ia masukkan ke dalam plastik hitam. Lalu mengambil tas selempang berukuran sedang miliknya, memasukkan kantong tersebut ke dalamnya.

Seperti biasa, sebelum sampai di Ferrari, Viona menyempatkan mengantar asinya ke Bank asi. Viona sangat senang karena bisa sedikit memberi manfaat bagi orang lain. Membayangkan asinya diminum bayi orang lain saja dia sudah sangat senang. Paling tidak, jika ia saat ini kotor, tetapi masih bisa melakukan hal baik untuk orang lain. Senyum sumringah Viona terbit begitu keluar dari bank asi. Kembali ia masuk ke dalam taksi untuk membawanya ke klub Ferrari.

"Vio!" panggil Kojek setengah berteriak dari depan pintu masuk. Karena masih sore, keadaan klub jadi masih sepi. Hanya satu dua orang saja yang menikmati minuman di dalamnya.

"Iya, ada apa?" sahut Vio tanpa menoleh. Ia masih asik mengelap gelas-gelas bir lalu menyimpannya kembali ke etalase.

"Selama Daren cuti ke kampung, lo aja yang gantiin dia di coffeshop ya?" pinta Kojek yang sudah duduk di depan Viona.

"Seriuus nih, beneran boleh?" tanya Viona kegirangan dengan wajah berbinar. Sudah lama sebenarnya ia ingin berada di balik kasir coffeshop. Akhirnya kesampaian.

"Kapan?" tanya Viona tak sabar. Bahkan tangannya menggoyangkan tubuh Kojek tak sabar.

"Ntar, lebaran haji. Iya sekarang dong Rosmalaaa..."

"Hihihihi..." Viona terkekeh.

"Iyaa, udah cepat sana coffeshop lagi rame," ujar Kojek sambil berlalu.

Viona masuk ke coffeshop langsung berdiri di bagian kasir. Dia sangat senang berada di sini karena suasananya beda dari club party. Di sini suasana lebih rileks. Ada suara gemericik air kolam ikan di samping mini bar, dengan alunan musik slow.

"Ahh..benar-benar nyaman," gumam Viona sambil menikmati pemandangan para tamu yang sedang asik berbincang.

Riswan dan Cello masuk ke dalam coffeshop, lalu memesan beberapa minuman. Mereka banyak bertukar cerita. Terutama Riswan yang menceritakan kegundahan mengurus anak semata wayangnya semenjak istrinya meninggal.

"Saran gue sih kenapa ga lo kawin lagi aja bro," kata Cello.

"Ah payah lu, kayak ibu gue juga, nyuruh kawin mulu," Riswan bersungut kesal.

"Ya, dari pada lu pusing sendiri. Selain lu ibadah,  anak lu juga ada yang ngurusin. Nah, lu sendiri kan enak, malam-malam ada yang dipeluk, " seloroh Cello sambil berkedip ke arah Riswan.

Mereka tertawa lepas sambil terus ngobrol. Tanpa menyadari bahwa dari arah kasir,  Viona kini tengah memperhatikan Cello dan juga Riswan.

"Lelaki baik-baik mah keliatan dari senyumnya juga, bagai melihat surga. Nah, kalau lelaki bre****k senyumnya aja bagaikan pintu neraka yang baru saja terbuka. Hihihihi..." Viona terus saja bergumam sambil menahan senyum.

Tanpa terasa air susu Viona kembali merembes pada kemeja ketat yang Viona kenakan. Dan di saat bersamaan pula, Riswan hendak menanyakan bill minuman mereka.

Mata Riswan dan Viona bertemu. Viona tersenyum ramah.

"Meja berapa Om?" tanya Viona masih memperlihatkan senyum manisnya pada Riswan. Sedangkan lelaki iti kini sudah menunduk malu.

"Eh...anu..., itu meja sebelas," jawab Riswan sedikit gugup. Apalagi pemandanhan dada basah di sana membuat kepala Riswan sedikit berkunang-kunang. Lelaki itu seperti pernah melihat Viona sebelumnya. Tapi di mana?

"Seratus ribu rupiah, pas," kata Viona memberitahu jumlah tagihan yang harus dibayar Riswan.

Saat  mengambil uang seratus ribuan dari dalam dompetnya. Mata Riswan kembali  menatap dada Vio yang basah, baik kanan dan kirinya,  Riswan pura-pura membuang pandangan lalu menunduk kembali sambil menelan salivanya. Wajahnya pun kini merah tak berani melihat.

Sadar akan mata lelaki di depannya uang salah tingkah karena kemeja coklatnya yang basah di bagian dada, spontan Viona nyengir kuda ke arah Riswan.

"Hayo...matanya lihat apa, Om? "Viona menggoda Riswan.

"Saya sedang menyusui, Om. Makanya basah dadanya," terang Vioa sambil nyengir kuda. Sedangkan Riswan sudah salah tingkah sendiri.

"Ohh, iyaa Mbak. Maaf saya lancang," ucap Riswan sambil memberikam senyum tipisnya.

"Its oke, terimakasih sudah mampir di coffe shop kami, ditunggu kedatangan selanjutnya," ucap Viona ramah sambil meyerahkan struk pembayaran kepada Riswan.

"Ahh..., iya sama-sama," sahut Riswan sambil berlalu, namun baru tiga langkah dia berbalik ke arah Viona lagi.

"Kita pernah ketemu di Bank asi'kan?" selidik Riswan sambil memperhatikan wanita di depannya ini.

"Mmmhh saya tak yakin, mungkin om salah orang," jawab Viona yang ikut memperhatikan Riswan dengan tegas.

"Ohh gitu yaa, maaf deh kalau gitu, terimakasih," ucap Riswan sambil keluar dari coffe shop. Kakinya melangkah menuju parkiran, di mana Cello sudah menunggu di dalam mobilnya.

Dalam perjalanan pulang, Riswan menceritakan perihal Viona yang tadi dia temui kepada Cello. Dia sangat yakin Viona wanita yang sama dengan yang ia temui saat di bank asi.

"Sebentar kita cari info, gue kenal baik sama Kojek yang punya Ferrari. Gue telpon dia sekarang," ucap Cello antusias

"Hallo bro, Cello nih." 

"Mau tanya kasir lu yang namanya Viona bisa dibooking ngobrol ga?"

"Kalau ngobrol mah bisa bro, kalau buat nginep ga bisa sorry. Baru lahiran dia, tetapi bayinya meninngal. So...jadi dia tidak bisa melayani zomblo akut kayak lo hahahaha..."

"Hahahaha...jujur bener lu, Jek. Ya udah gue tunggu kabar lo yaa, temen gue butuh temen ngobrol doang sih, sukur-sukur dilamar jadi istri."

"Gimana?" tanya Riswan tak sabar.

"Dia rupanya baru lahiran bro, cuma bayinya meninggal itu sih kata Kojek," terang Cello.

"Oh...pantesan asinya keluar terus, karena tidak ada bayinya ya," gumam Riswan dengan polosnya.

"Bisa jadi," sahut Cello.

"Trus maksud lo, lo mau jadi bayinya gitu? Hahahaha..."

Bbuuggh!

Riswan meninju lengan Cello yang sudah asal bicara.

"Aaau... sakit, Ris." sebelah tangan Cello memegang kemudi, sebelahnya lagi mengusap pundaknya yang sakit.

"Belom apa-apa udah dapat rezeki nomplok nih," colek Cello, menggoda Riswan yang kini memutar bola mata malasnya.

"Siapa yang suruh pesen dia buat nemenin gua ngobrol?" tanya Riswan sedikit kesal.

"Lha, gue inisiatiflah,"  jawab Cello polos sambil nyengir.

"Kali aja dia mau jadi ibu susu buat bayi lu, ngobrol-ngobrollah dikit. Jadi dia kerja sama lo, tapi buat nyusui anak lo. Bukan nyusuin lo," ucap Cello kembali menggoda Riswan.

Sepanjang perjalanan pulang, Riswan banyak terdiam memikirkan perkataan Cello, hingga tidak terasa sampailah mereka di halaman depan rumah Riswan.

Oek..oeekk..

Suara bayi Melati menangis dengan kencang. Sampai terdengar ke depan. Bergegas Riswan  turun dari mobil Cello sambil mengucapkan terimakasih.

"Bro...!" teriak Cello, sebelum Riswan masuk ke dalam pagar rumahnya. Riswan berbalik memperhatikan Cello. "Ada apa?"

"Udah gue kirim nomor kontak Viona ya," ucap Cello sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riswan.

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 66 Kali, Aku Tak Lagi Mencintaimu
8.9
Setelah enam puluh enam kali melamar, Vincent akhirnya mendapatkan cinta sang istri pada percobaan berikutnya. Menandai awal pernikahan, sang istri menyiapkan enam puluh enam kartu pengampunan untuk setiap kesalahannya. Namun selama enam tahun, Vincent terus menghamburkan kartu-kartu tersebut demi membela teman masa kecilnya. Ketika jatah kartu kini hampir habis setelah kartu ke-enam puluh empat digunakan, Vincent baru menyadari ada perubahan dingin yang tidak biasa dari istrinya.
Sampul Novel Aktor Idola Dan Author Barbar
8.4
Erick Adrian merupakan aktor ternama yang memiliki karier cemerlang dan kekasih seorang model cantik. Meski bergelimang harta, ia merasa resah dengan citranya sebagai bintang film dewasa. Hidupnya berubah saat ia terlibat konflik dengan penulis novel bernama Kaemila. Sebuah kecelakaan tragis yang menyebabkan Kaemila lumpuh dan hilang ingatan memaksa Erick untuk bertanggung jawab melalui pernikahan. Akankah Kaemila pulih dan sanggup menerima Erick sebagai suaminya?
Sampul Novel Aku Bukan Boneka
9.1
Dituduh berselingkuh oleh ibunya sendiri, protagonis novel modern Aku Bukan Boneka berniat menyelidiki kebenaran demi melindungi haknya. Namun, sang ibu justru mengacaukan pameran seni yang ia persiapkan selama tiga tahun. Dengan kejam, ibunya merusak lukisan berharga miliaran dan mempermalukannya di depan publik demi memaksanya bercerai. Di balik topeng nasihat baik itu, terungkap rencana busuk untuk menjodohkannya dengan duda paruh baya demi keuntungan sepihak.
Sampul Novel Aku Menikah Dengan Seorang Miliarder Berkondisi Vegetatif?!
7.9
Valerie dijebak oleh kekasih dan adiknya hingga terjebak dalam skandal semalam dengan pria misterius. Fitnah perselingkuhan membuatnya dibuang, lalu dipaksa ayah kandungnya menikahi miliarder yang sedang koma demi kepentingan keluarga. Valerie bangkit melawan ketidakadilan dan memutus semua ikatan masa lalunya. Saat sang suami akhirnya sadar dan mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban, Valerie memilih untuk pergi demi memulai hidup yang baru tanpa beban.
Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Sampul Novel Fanboy Romantis
8.5
Fayrin adalah aktris sempurna di depan kamera, namun sosok aslinya sangat angkuh dan jauh dari citra dewi yang ia sandang. Kiky sangat menyadari tabiat buruk di balik layar tersebut hingga ia merasa muak. Namun, semakin mengenal sisi kelam Fayrin, kebencian Kiky justru berubah menjadi getaran cinta yang mendalam. Kini, ia bertekad menembus batasan dunia mereka demi mendapatkan hati sang artis, meski tahu betapa sulitnya menyatukan dua realitas yang berbeda.